
Waktu terus bergulir. Hari berganti, minggu pun berlalu. Genap satu bulan, Renata terbaring lemah di ruang perawatan khusus dengan banyak alat bantu medis menempel di tubuhnya.
Sebenarnya, tim dokter sudah menyerah dan memasrahkan semua keputusan di tangan keluarga pasien, tetapi mamanya Renata menolak ide sang suami yang ingin merelakan saja sang putri agar Renata tak lagi merasakan penderitaan.
"Tidak, Pa. Mama tidak setuju!" tolak wanita paruh baya tersebut.
"Rena pasti segera sadar, Pa. Anak kita pasti sembuh!" lanjutnya dengan kemarahan yang terpendam.
"Tapi, Ma. Mama dengar sendiri 'kan, keterangan dari dokter kemarin." Pak Santoso menatap sang istri, memohon pengertian.
"Harapan untuk Rena bisa kembali sadar dan bisa pulih seperti sediakala itu sangatlah tipis, Ma. Dan kalaupun Rena bisa sembuh, kemungkinan dia akan mengalami cacat fisik," lanjutnya dengan menahan sesak di dada.
Ya, akibat percobaan bunuh diri yang dia lakukan, Renata mengalami komplikasi yang cukup serius. Tekanan darahnya sangat tinggi dan jantungnya tidak berfungsi dengan baik, akibat tusukan benda tajam di dada bagian kiri yang sengaja diarahkan Renata ke bagian jantung.
Sejenak, keheningan menyapa ruang apartemen, tempat kedua orang tua Renata menginap. Apartemen mewah yang terletak di dekat rumah sakit.
"Mama harus bertemu dengan Arman, Pa," ucap wanita paruh baya tersebut, mengurai keheningan.
"Buat apa lagi, Ma?" tanya Pak Santoso. "Bukankah sudah jelas semua keterangan dari orang-orang suruhan papa, bahwa memang putri kita yang bersalah, Ma," lanjutnya dengan tatapan tak mengerti.
Setelah beberapa hari Renata dirawat di rumah sakit terbaik di Singapura, Pak Santoso mendapatkan laporan dari mata-matanya, mengenai hubungan Renata dan dokter kandungan yang dulu bekerja di rumah sakit miliknya.
"Mama tetap belum bisa terima, Pa. Mama harus bertemu langsung dengan Arman dan wanita itu!" kekeuh sang istri.
"Terserah Mama sajalah," balas Pak Santoso, pasrah.
"Besok, mama akan terbang ke tanah air, untuk menemui Arman dan meminta penjelasan darinya," pungkas mamanya Renata yang tak lagi bisa dibantah oleh Pak Santoso.
Laki-laki paruh baya tersebut hanya bisa menghela napas panjang, berharap sang istri segera diberikan kesadaran agar bisa menerima semua dengan lapang dada.
Mengikhlaskan kepergian sang putri, dengan melepaskan semua alat medis yang menempel di tubuh Renata agar putri mereka itu segera terbebas dari rasa sakit.
'Sejujurnya, aku pun ingin segera menemui Dokter Arman, tetapi bukan untuk menuntut dia, melainkan untuk meminta maaf padanya atas segala sikapku selama ini dan juga meminta maaf atas nama Renata,' gumam Pak Santoso dalam hati.
Ya, semenjak mendapatkan laporan dari anak buahnya, Pak Santoso menyesali perbuatannya pada Dokter Arman dan berjanji dalam hati akan meminta maaf pada mantan kekasih Renata tersebut.
'Cinta Rena pada Dokter Arman yang hanya didasari nafsu dan ambisi, telah membutakan mata hatinya. Sehingga Rena mengabaikan apa kata hati nuraninya dan lebih menuruti nafsu semata.' Pak Santoso menghela napas panjang, untuk mengurai rasa sesak di dada.
'Dan kecintaanku pada putriku yang terlalu besar serta senantiasa memanjakan Rena, justru malah menghancurkan putriku sendiri.'
__ADS_1
'Maafkan papa, Rena. Maafkan kami, yang dulu selalu memanjakanmu.' Pak Santoso menatap langit-langit ruangan yang cukup luas tersebut dengan tatapan hampa.
*****
Di kediaman Dokter Arman. Keceriaan Asa yang sedang bermain bersama Dika dan bundanya di ruang keluarga, mengundang Dokter Arman yang sedang berada di ruang kerja untuk bergabung bersama orang-orang yang dia sayangi.
"Ayah, sini!" seru Asa begitu melihat sang ayah baru saja keluar dari ruang kerjanya.
Dokter Arman tersenyum pada mereka semua dan kemudian segera duduk di samping sang istri.
"Sudah selesai, Mas?" tanya Julia, penuh perhatian.
"Kurang sedikit, Sayang. Mas lanjut nanti," balas Dokter Arman yang langsung melingkarkan tangan di bahu sang istri.
Ya, hubungan Dokter Arman dan sang istri terlihat semakin romantis. Dokter Arman senantiasa menunjukkan perhatian dan cintanya yang begitu besar pada Julia, istri yang tetap merawatnya dengan tulus ketika dirinya sakit meskipun luka yang ditorehkan oleh Dokter Arman di hati sang istri begitu dalam.
Melihat keromantisan sang putra pada Julia, membuat Bu Ratna merasa bahagia dan tenang ketika harus meninggalkan kediaman Dokter Arman untuk kembali ke rumah anaknya yang lain.
Sehingga wanita berusia senja tersebut, memutuskan untuk segera kembali ke rumah putri pertamanya, tepatnya seminggu yang lalu.
"Asa. Ayo, kita main berdua." Melihat kakak iparnya datang, Dika kemudian mengajak Asa untuk melanjutkan permainannya hanya berdua saja.
"Kenapa enggak dirampungkan sekalian, Mas? Sudah ngantuk?" tanya Julia seraya melirik jam di dinding yang kini menunjuk angka delapan malam.
"Mas dengar kalian sedang bermain kartu sambil bercanda, makanya mas pengin gabung," balas Dokter Arman seraya tersenyum, sementara tangan kanannya yang melingkari punggung sang istri, membelai pipi kanan Julia.
"Mas, ada Dika dan Asa," bisik Julia.
"Kalau kamu malu, kita ke kamar." Dokter Arman mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum menggoda sang istri.
"Kamu sudah selesai, kan, datang bulannya?" tanya Dokter Arman dengan berbisik, membuat Julia berdebar.
Hal inilah yang ditakutkan dan sekaligus dinantikan oleh Julia. Malam pertama yang sesungguhnya dari pernikahannya dengan Dokter Arman.
Seminggu yang lalu, luka Dokter Arman benar-benar dinyatakan sembuh dan suaminya itu meminta kerelaan Julia untuk menjadi istri yang seutuhnya.
Julia yang sudah siap lahir dan batin, tiba-tiba kedatangan tamu bulanan. Sehingga mereka harus rela menunda keinginan tersebut sampai seminggu lamanya.
"Su-sudah, Mas," balas Julia, gugup.
__ADS_1
Dokter Arman tersenyum lega.
"Tapi, Juli antar Asa ke kamarnya dulu, ya," ijin Julia yang ingin memastikan gadis kecil yang dia sayangi itu tidur dengan nyaman.
"Biar mas yang menidurkan Asa, Sayang. Kamu bersiaplah," pinta Dokter Arman seraya melabuhkan ciuman di pipi kiri sang istri.
Dika yang mencuri dengar obrolan sang kakak, berinisiatif menyudahi permainan sebelum kakak iparnya meminta.
"Asa, Om Dika ngantuk. Om ke kamar dulu, ya," pamit Dika sambil mengusap puncak kepala sang keponakan.
"Asa juga buruan bobok, biar besok enggak kesiangan bangunnya," suruh Dika sebelum berlalu.
"Siap, Om," balas Asa yang kemudian ikut beranjak.
"Mas, Mbak. Dika ke kamar dulu, ya," pamit Dika, remaja tanggung tersebut kemudian segera berlalu menuju kamarnya.
"Asa ditemani bobok sama ayah, ya. Bunda masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," ucap Dokter Arman.
"Baik, Ayah, tapi Asa mau cium Bunda dulu." Asa kemudian menghampiri Julia yang masih duduk.
Gadis kecil itu kemudian mencium pipi kanan dan pipi kiri Julia.
"Sudah, Sayang. Nanti ayah enggak kebagian," goda Dokter Arman membuat Asa cemberut, sementara Julia tersipu.
"Ayah enggak boleh cium Bunda terus, kasihan Bunda Uli nanti pipinya luka," protes Asa.
"Luka? Cuma cium, masak luka? Ayah 'kan enggak gigit." Dokter Arman mengerutkan dahi.
"Pipi Ayah 'kan, kasar," balas Asa seraya meraba pipinya sendiri.
Dokter Arman ikutan meraba wajahnya yang memang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar, yang membuat ayah Asa terlihat semakin tampan.
Suami Julia itu kemudian terkekeh. "Memang kasar, Sayang, tapi Bunda suka yang seperti ini," ucap Dokter Arman seraya mengedipkan sebelah mata pada sang istri.
"Segera persiapkan dirimu, Sayang," pinta Dokter Arman berbisik.
"Ayo, Sayang, kita bobok," ajak Dokter Arman kemudian, pada sang putri.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1