Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Polos Sekali Istriku


__ADS_3

Hari berganti, keluarga kecil tersebut terlihat semakin bahagia. Dokter Arman senantiasa menunjukkan perhatian serta kasih sayangnya yang tulus pada Julia, tetapi Julia masih saja belum percaya sepenuhnya.


Ya, Julia masih menjaga jarak aman dengan laki-laki yang telah menikahinya tersebut, meskipun wanita cantik itu tidak menunjukkan secara terang-terangan karena menghargai permintaan mama mertuanya sebelum beliau meninggalkan kediaman Dokter Arman.


Seperti malam ini, sepulangnya mereka berdua dari meninjau lokasi tempat akan dibukanya klinik persalinan atas saran sang mama dan didanai oleh mamanya untuk menunjukkan keseriusan laki-laki tersebut, bahwa dia benar-benar sudah memutuskan hubungan dengan Renata, Dokter Arman yang tiba-tiba memeluk Julia dari belakang, tangannya ditepis pelan oleh sang istri.


"Maaf, Mas. Badan Juli lengket, Juli mau mandi dulu," elak Julia, beralasan. Padahal sore tadi, sebelum mereka berangkat untuk ke lokasi, wanita muda tersebut telah mandi dan sepanjang perjalanan di dalam mobil, suhu di kabin mobil pun cukup dingin.


Dokter Arman menghela napas panjang, laki-laki itu pun dapat memaklumi penolakan Julia. "Iya, mandilah air hangat agar kamu tidak sakit," pesannya, penuh perhatian.


Membuat Julia merasa bersalah, tetapi buru-buru wanita cantik itu menepis perasaannya agar tidak menjadi bumerang baginya nanti. 'Tidak, aku tidak mau gegabah. Aku harus pastikan dulu, bahwa Mas Arman telah benar-benar berubah,' batin Julia sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Dokter Arman kemudian mengambil segelas air putih yang telah disiapkan oleh sang istri dan membawanya menuju sofa. Dia teguk habis air dalam gelas tersebut, hingga tanpa sisa setetes pun. Laki-laki matang tersebut memejamkan mata dan menyandarkan punggung pada sandaran sofa.


'Aku tahu, pasti sangat sulit bagi kamu untuk bisa mempercayaiku, Juli. Aku akan terus berjuang dan membuktikan padamu bahwa hanya ada kamu di hatiku meski aku tak pernah mengungkapkannya.'


'Entahlah, aku seperti tak memiliki keberanian untuk berterus terang mengenai perasaanku ini padamu, Juli. Mungkin, karena egoku atau mungkin karena sudah terlanjur banyak rasa sakit yang aku berikan padamu, hingga aku tak memiliki nyali untuk mengakui isi hatiku sendiri di hadapanmu.' Kembali laki-laki itu menghela napas panjang.


'Aku ingin, kamu mengetahuinya sendiri dan bisa merasakan perubahanku dengan perhatian dan kasih sayang yang aku berikan. Tak perduli seberapa lama aku harus menunggu, aku rela, Sayang." Dokter Arman memijat dahinya perlahan.


"Mas, apa Mas sakit?" tanya Julia yang tiba-tiba sudah berada di sisi Dokter Arman.


"Eh, Sayang. Kamu sudah selesai?" tanya Dokter Arman, membuka mata dan menoleh ke arah Julia.


"Sudah. Mas mau mandi atau hanya ganti baju, saja?" balas dan tanya Julia.

__ADS_1


"Aku juga mau mandi seperti kamu, Sayang. Masak kami harum, sedangkan aku bau asem," balas Dokter Arman seraya tersenyum.


"Mas masih harum, kok," ucap Julia, jujur.


Dari tempatnya berdiri, wanita muda tersebut dapat mencium aroma wangi sang suami yang selalu memakai parfum mahal setelah mandi tersebut, parfum yang aroma wanginya bertahan hingga seharian penuh.


Dokter Arman tersenyum senang, mendengar kata-kata sang istri. "Masak, sih?" tanyanya, pura-pura tak percaya sambil berdiri.


Laki-laki itu mencium sendiri aroma ketiaknya yang memang masih harum. "Coba kalau dari dekat gini, masih harum, enggak?" tanya Dokter Arman, meminta Julia untuk mencium bagian pangkal lengannya.


Reflek, Julia menuruti permintaan sang suami. Bagai terhipnotis, wanita muda itu membaui aroma wangi suaminya, dari bagian pangkal lengan yang hanya sedikit dibuka dengan tangan Dokter Arman berada di pinggang, kemudian dada bidang suaminya dan berakhir di leher, membuat bulu-bulu laki-laki dewasa tersebut, meremang.


"Kamu menggodaku, Sayang," bisik Dokter Arman dengan jakun naik turun karena tiba-tiba hasratnya datang di saat yang tidak tepat.


Melihat sang istri ketakutan, laki-laki yang sudah sangat berpengalaman dalam hal bercinta itu, tersenyum. "Jangan takut, Sayang. Aku tidak akan memaksamu," ucapnya.


"Tidurlah kalau sudah mengantuk. Aku akan bersih-bersih dulu, setelah itu ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum aku mundur dari rumah sakit," titahnya, pada Julia.


Julia mengangguk. Wanita muda itu kemudian menuju meja rias, untuk membersihkan wajahnya.


Ya, Dokter Arman juga memanjakan Julia dengan membelikan istrinya tersebut kosmetik perawatan wajah. Dokter Arman juga merekomendasikan istrinya untuk melakukan perawatan kulit, di klinik kecantikan milik temannya.


Kini, wajah Julia menjadi semakin bersih dan bersinar, bahkan wajah glowing Renata pun kalah bersinar jika dibanding Julia yang memang usianya masih sangat muda.


Tepat di saat Julia menyelesaikan perawatan sederhana untuk kulit wajahnya, Dokter Arman keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk sebatas pinggang.

__ADS_1


Laki-laki dewasa tersebut mandi dengan cepat dan tak ingin menuntaskan hasrat dengan bermain sendiri, seperti awal-awal dirinya mencoba membuka hati untuk Julia dan menjauhi Renata.


Entahlah, keinginan seperti itu sirna kala dirinya mengingat Julia. Tak ada nafsu seperti dulu ketika dirinya dan Renata masih bersama.


Mungkin karena cinta laki-laki tersebut yang benar-benar tulus pada Julia, hingga Dokter Arman dapat meredam hasrat itu dengan sendirinya dan bersabar menunggu hingga tiba suatu saat nanti Julia siap menerima kehadirannya sebagai suami.


"Belum tidur, Sayang?" tanya Dokter Arman seraya mendekati sang istri. "Nungguin aku, ya?' lanjutnya bertanya, seraya tersenyum menggoda.


Membuat Julia menjadi salah tingkah. " Eng-enggak, kok. Juli juga baru selesai memakai cream malam," balas Julia, gugup.


"Ini baju Mas, sudah Juli siapkan," ucap Julia kemudian, mengalihkan topik pembicaraan.


"Enggak pengin membantu memakaikannya, Sayang?" Kembali laki-laki dewasa itu menggoda istrinya yang masih polos.


Julia menggeleng. "Tidak, Mas. Lain kali, mungkin," balas Julia seraya bergegas menuju ranjang dan kemudian segera membaringkan tubuh di sisi paling kiri.


Julia segera meletakkan guling di tengah-tengah ranjang sebagai pembatas dan kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher. Kebiasaannya selama ini jika hendak tidur karena khawatir, Dokter Arman akan kembali mencuri kecupan padanya.


Dokter Arman tertawa dalam hati. "Polos sekali istriku, tapi ini menyenangkan."


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...


Yang dukung Dokter Arman tetap bersatu dengan Julia, tunyuk hidung 😄😄🤭


Jangan lupa, kembang gula dan kopinya ya, Best 😍

__ADS_1


__ADS_2