Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Aku Mau Menikah Denganmu, Arman


__ADS_3

Julia segera beranjak dan mengembalikan gelas bekas minum ke tempat semula, setelah mencucinya di 𝘸𝘒𝘴𝘡𝘒𝘧𝘦𝘭.


'Tidur lagi aja, deh,' Julia bergegas melangkah hendak kembali ke kamar. Namun, langkah ibu sambung Asa tersebut terhenti, ketika terdengar pintu kamar dibuka dari luar.


"Bunda!" seru Asa yang langsung menghambur ke arah Julia.


Gadis yang telah dinikahi oleh Dokter Arman tersebut, terpaku di tempatnya dan tak langsung menyambut Asa. 'Apa Dokter Arman pergi untuk menjemput Asa dan memberikan kejutan ini?' Julia mengedarkan pandangan ke arah pintu, tetapi dia tak menemukan siapa-siapa.


"Sayang, kamu ke sini sama siapa?" tanya Julia yang kemudian berlutut dan memeluk gadis kecil tersebut.


"Asa ke sini di jemput Ayah, ya? Terus, ayahnya kemana, Sayang?" cecar Julia setelah melerai pelukannya.


"Memangnya, Arman kemana?" Suara Bu Ratna yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, membuat Julia menoleh ke arah sumber suara.


"Eh, Ibu," sapa Julia, gugup. Gadis cantik itu kemudian menghampiri ibu mertuanya dan menyalami Bu Ratna dengan takdzim.


"Ibu dan Asa mau menyusul kemari, kok, enggak kabar-kabar dulu?" tanya Julia dengan dahi berkerut dalam.


"Suami kamu kemana, Julia?" cecar Bu Ratna, yang mengabaikan pertanyaan menantunya tersebut.


"Em ... itu, Bu. Tadi Dokter ...."


Bu Ratna mengisyaratkan dengan tangan, memotong ucapan Julia. Wanita berusia senja itu kemudian mengambil ponsel dari dalam tas jinjing dan segera menghubungi sang putra.


"Halo, Arman! Dimana kamu?" tanya Bu Ratna setelah beberapa kali menelepon, panggilannya baru diterima oleh Dokter Arman yang sedang bersenang-senang dengan sang kekasih.


"Tentu saja Arman sedang di kamar, Ma. Memangnya, mau dimana lagi?" balas Dokter Arman di seberang telepon, tanpa rasa curiga.


"Di kamar? Di kamar siapa, Arman? Mama dan Asa ada di kamar kamu sekarang dan hanya ada Julia di sini!" desak Bu Ratna yang terdengar sangat geram.


"Oh, itu, Ma. Arman, Arman baru saja keluar karena ada teman-teman yang tiba-tiba ngajak ketemuan," kilah Dokter Arman, gugup.

__ADS_1


"Kebetulan mereka sedang ada acara di hotel ini, Ma. 'Kan enggak enak kalau Arman tolak, Ma," lanjutnya, mencoba meyakinkan sang mama.


"Kenapa keluar tak mengajak istrimu?" cecar Bu Ratna yang terdengar kecewa dengan kelakuan sang putra, yang telah mengabaikan istrinya di malam pertama mereka.


"Tadi Arman buru-buru, Ma, dan Juli juga kelihatannya sangat lelah, makanya Arman keluar sendiri dan membiarkan dia untuk beristirahat."


"Ini sudah hampir jam sepuluh, Arman. Kenapa kamu belum pulang juga?" tanya Bu Ratna, seraya melihat arloji di pergelangan tangan kanannya.


"Balik ke kamar sekarang, Arman!" titahnya kemudian yang langsung mematikan ponsel, tanpa memberikan kesempatan pada Dokter Arman untuk berbicara lagi.


"Sejak jam berapa, Arman keluar, Julia?" tanya Bu Ratna, setelah wanita berusia senja tersebut mendudukkan diri di sofa tanpa menunggu disuruh oleh Julia.


Julia nampak bingung harus menjawab bagaimana? Jika dia berkata jujur, gadis itu khawatir akan dipersalahkan oleh Dokter Arman dan jika dia tidak jujur, Julia tak biasa berbohong dan khawatir akan ketahuan oleh Bu Ratna.


"Belum lama, kok, Ma. Sepertinya, Dokter Arman keluar sewaktu Juli tidur tadi," balas Julia yang akhirnya berbohong, setelah ibu sambung Asa tersebut mendudukkan gadis kecil tersebut di sofa.


Julia pun kemudian ikut duduk di sana dan mengajak orang ibu mertua dan juga putri kecil Dokter Arman bercanda, agar Bu Ratna melupakan kejadian barusan.


Sementara di kamar Renata. Usai menerima telepon dari sang mama, Dokter Arman buru-buru beringsut dari pembaringan.


"Puaskan aku dulu, Sayang. Lagi tanggung, nih," pinta Renata, dengan tatapan sayu karena ketika Bu Ratna menelepon barusan, mereka berdua sedang bercumbu untuk lanjut permainan yang kedua.


"Nanti lagi ya, Ta. Aku janji akan mencari alasan agar bisa kembali kemari," bujuk Dokter Arman sambil mencium sekilas kening sang kekasih.


Laki-laki bertubuh kekar itu hendak beranjak, tetapi Renata sigap menarik tangan Dokter Arman, hingga dokter tampan tersebut jatuh kembali ke pelukan kekasihnya.


Renata yang sudah sangat berhasrat, langsung bangun dan menindih tubuh berotot laki-laki yang selalu dapat memberinya kepuasan lebih tersebut.


Wanita seksi itu segera memacu tubuhnya di atas tubuh sang kekasih yang masih polos, untuk menuntaskan hasrat yang terlanjur memuncak hingga ke ubun-ubun.


Dokter Arman hanya bisa pasrah menikmati setiap goyangan tubuh Renata yang terlihat indah, dengan dua gunung wanita itu yang ikut menari mengikuti gerak tubuhnya.

__ADS_1


Kembali suara-suara seksi memenuhi ruangan tersebut, hingga beberapa saat lamannya. Tepat lima belas menit setelah Renata menggoyang tubuh Dokter Arman, keduanya terkulai lemas setelah mendapatkan kenikmatan secara bersama-sama.


"Geser, Ta. Aku harus segera kembali ke kamar," pinta Dokter Arman, sedetik kemudian.


"Bentar, Sayang. Aku masih lemas," tolak Renata yang tak ingin kekasihnya pergi meninggalkan dirinya sendirian di kamar mewah yang sudah dia sewa, untuk bersenang-senang dengan sang kekasih.


"Ta, ada mama di sana. Aku enggak mau kalau mama sampai curiga, Ta," bujuk Dokter Arman.


"Hah ... ada-ada aja, sih, wanita tua itu! Orang anaknya lagi bulan madu malah di datangi!" gerutu Renata sambil menjatuhkan tubuhnya ke samping. Wanita itu kemudian menarik selimut tebal dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut yang lembut tersebut.


"Jangan gitu, Ta! Jangan pernah salahkan mamaku!" Dokter Arman menatap tak suka pada Renata yang mengatai mamanya sebagai wanita tua.


Laki-laki matang itu kemudian segera beranjak. "Andai saja kamu mau aku nikahi, Ta. Kita pasti bisa sama-sama terus tanpa ada yang mengganggu," lanjut Dokter Arman setelah berdiri di samping tempat tidur, seraya menatap Renata.


Renata hanya mendengkus kesal, dia kemudian berbalik memunggungi Dokter Arman dan mencoba untuk memejamkan mata.


Dokter Arman hanya bisa mengedikkan bahu dan kemudian segera berlalu menuju kamar mandi, untuk membersihkan sisa percintaannya dengan sang kekasih.


Setelah mengenakan pakaiannya kembali dan memastikan semua rapi seperti ketika keluar dari kamar pengantinnya tadi, Dokter Arman kemudian mendekati Renata yang terbaring.


"Ta, Sayang ... aku balik ke sana dulu, ya," pamitnya dengan lembut di telinga Renata. Dokter Arman kemudian mencium pipi kekasihnya tersebut.


Baru saja laki-laki gagah itu hendak berlalu, terdengar suara Renata memanggil namanya. "Arman, tunggu!" Wanita itu kemudian beringsut dan menyandarkan tubuhnya pada 𝘩𝘦𝘒π˜₯ 𝘣𝘰𝘒𝘳π˜₯ ranjang mewah tersebut.


"Aku mau menikah denganmu, Arman, tetapi ada syaratnya," ucap Renata seraya tersenyum penuh arti.


"Apa, Ta? Katakanlah," pinta Dokter Arman dengan tidak sabar.


"Aku enggak mau kita satu rumah bersama anak dan juga ibumu, bagaimana?"


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2