Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Kamu Tidak Bisa Mengancamku, Arman!


__ADS_3

"Jika Dokter mau menikahi putri saya, maka rumah sakit ini akan saya serahkan sepenuhnya pada Dokter," sergah Pak Santoso, memotong perkataan Dokter Arman.


"Dokter tidak perlu lagi melanjutkan pembangunan klinik kecil yang pasti tidak sesuai dengan harapan Dokter, bukan?' Pak Santoso menatap penuh harap pada Dokter Arman.


Mendengar perkataan Pak Santoso, Julia perlahan beringsut hendak menjauh. Dia takut, akan kembali terluka ketika mendengar jawaban sang suami yang nantinya akan menyakiti hatinya. Hati yang telah mulai tumbuh rasa cinta di sana.


"Tetaplah di sini, Sayang." Suara Dokter Arman, mengurungkan langkah Julia dan dengan perasaan berdebar menunggu apa kiranya yang akan dikatakan oleh suaminya kepada pasangan ayah dan anak tersebut.


Dokter Arman tak langsung menjawab, dia malah meraih ponsel dari samping bantal dan kemudian mengutak-atik ponselnya sebentar.


"Maaf, Pak Santoso. Kemarin, Anda telah berjanji kepada saya, bahwa Anda sendiri yang akan memastikan kalau Renata tidak akan lagi datang kepada saya dan mengganggu rumah tangga kami," ucap Dokter Arman seraya menggenggam erat tangan sang istri.


"Anda salah jika menganggap bahwa Anda bisa membeli saya dengan sebuah rumah sakit. Bahkan, jika seisi bumi ini Anda berikan kepada saya, saya tetap akan mempertahankan istri saya karena saya mencintai Julia," lanjut Dokter Arman dengan menegaskan kalimat terakhir, seraya melirik tajam Renata.


Mendengar perkataan suaminya, Julia menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. 'Benarkah ini? Mas Arman menolak sebuah rumah sakit besar, padahal menurut ibu, itu adalah keinginannya dari dulu dan itu semua, itu semua karena aku?' Netra wanita cantik itu berkaca-kaca.


"Itu tidak benar, Arman! Kamu tidak pernah mencintainya! Kamu hanya memanfaatkan dia, untuk mengasuh putrimu!" seru Renata yang tidak terima Dokter Arman mengatakan bahwa laki-laki yang masih dia inginkan itu mencintai Julia.


"Dulu aku memang bodoh, Ta. Aku tak bisa melihat permata indah di hadapanku, tetapi sekarang aku telah menyadari kekeliruanku dan aku bersumpah, aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga!" balas Dokter Arman, tegas.


Renata masih hendak berbicara, tetapi sang papa melarang dengan isyarat tangannya.


"Dokter, kami sudah meminta Dokter dengan cara baik-baik. Saya mohon, turuti keinginan putri saya karena dia mengancam akan bunuh diri, jika dia tidak bisa memiliki Dokter," pinta Pak Santoso, penuh harap.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak bisa!" tegas Dokter Arman, menolak.


"Jika Dokter menolak, Anda tahu 'kan, Dok, apa yang bisa saya lakukan untuk klinik Anda nanti," ancam Pak Santoso, dengan penuh penekanan.


Dokter Arman memejamkan mata, kepalanya terasa berdenyut, pening. Sedetik kemudian, dia membuka mata kembali.


Sementara Renata tersenyum seringai karena dia tahu pasti bahwa sang papa pasti akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya, termasuk menggunakan kekuasaan yang dimiliki oleh Pak Santoso.


Hanya dengan satu memo, maka klinik Dokter Arman tidak akan pernah turun perijinannya dan otomatis, Dokter Arman takkan pernah bisa membuka klinik yang telah dibangun dan hampir selesai pembangunannya tersebut.


"Pak Santoso yang terhormat. Saya tahu Anda memiliki kekuasaan yang tak terbatas, kekuasaan yang takkan mungkin saya lawan," ucap Dokter Arman setelah menghela napas panjang berkali-kali.


Dokter Arman tahu pasti, yang dia hadapi saat ini bukanlah orang sembarangan. Selain memiliki modal besar, keluarga Pak Santoso juga merupakan orang yang sangat berpengaruh di negeri ini.


Pak Santoso terkekeh pelan. "Jangan konyol, Dokter. Jangan pertaruhkan kredibilitas Anda dan juga keluarga Anda untuk melawan saya." Direktur utama rumah sakit terbesar itu menatap Dokter Arman dengan tatapan mengintimidasi.


Lagi-lagi Dokter Arman menghela napas berat. Dia sadar betul, salah langkah sedikit saja, bukan hanya dirinya, tetapi istri, anak dan keluarganya yang lain takkan lagi memiliki masa depan.


"Pak Santoso yang terhormat. Saya memang tidak memiliki kekuasaan untuk melawan Anda, tetapi saya memiliki bukti kuat untuk menyeret putri Bapak ke dalam penjara yang dingin," ancam Dokter Arman.


"Hahaha ...." Tawa Pak Santoso, pecah dan memenuhi ruangan besar tersebut.


"Apa Anda pikir, Suster Maria, orang kepercayaan Anda itu akan mau menjadi saksi untuk membela Anda, Dokter?" tanya Pak Santoso dengan tatapan remeh.

__ADS_1


"Dengan rupiah, suara kebenaran Suster miskin itu akan terbungkam!" lanjutnya dengan sinis.


Renata yang masih berdiri di samping sang papa, tersenyum penuh kemenangan.


Sementara Julia nampak gelisah. Wanita cantik itu takut, hal yang buruk akan terjadi pada suaminya. Keringat dingin bahkan sudah membasahi tangan Julia yang masih berada dalam genggaman sang suami.


Menyadari kekhawatiran istrinya, Dokter Arman menepuk punggung tangan Julia dan menatap sang istri dengan tatapan penuh kasih. "Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," ucap Dokter Arman, pelan.


Menyaksikan itu semua, membuat Renata mencebik. Wanita ambisius itu nampak tidak suka Dokter Arman bersikap lembut pada Julia.


"Saya telah menghubungi seseorang dan merekam pembicaraan kita ini, Pak Santoso." Dokter Arman menatap tajam pemilik rumah sakit tersebut dengan tersenyum. Senyuman yang sulit diartikan.


"Dan Anda tahu bukan, bagaimana kekuatan sosial media? Hanya dengan sekali klik, maka seluruh dunia akan tahu kebejatan Anda dan putri Anda yang telah menyalah gunakan kekuasaan untuk mengancam orang lain, demi mewujudkan ambisi kalian!" Dokter Arman menunjukkan ponselnya yang sedang dalam mode menelepon.


Renata mengepalkan tangan dan sedetik kemudian wanita seksi itu beringsut, dia rebut ponsel Dokter Arman dan kemudian membantingnya dengan kuat ke lantai.


Ponsel tersebut langsung pecah dan hancur berkeping-keping.


Tak cukup sampai disitu, Renata juga mengambil sim card dan chip penyimpanan data, dan kemudian merusaknya agar tak ada lagi bukti yang dimiliki oleh Dokter Arman.


"Tak ada lagi yang tersisa, Arman. Kamu tidak bisa mengancamku, Arman!" Renata tersenyum penuh kelegaan.


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2