Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Demi Mama dan Putriku


__ADS_3

"Baik, Arman." Bu Ratna mengisyaratkan dengan tangan, memotong pembicaraan sang putra.


"Silahkan berbuat sesuka hatimu! Mulai sekarang, kita hidup masing-masing! Mama akan bawa Asa, Julia dan adiknya pergi jauh dari rumah kamu! Jangan pernah menyesali keputusan kamu dan jangan pernah kamu cari Asa, juga Julia!" ancam Bu Ratna.


"Ma ...." Suara Dokter Arman tercekat di tenggorokan. Laki-laki matang itu menatap sang ibu dan Renata bergantian. Dia seperti orang yang kebingungan, harus memilih siapa?


Bu Ratna hendak berlalu, buru-buru ayah satu anak tersebut memegang tangan sang mama. "Ma, please ... beri Arman kesempatan sebentar untuk berbicara dengan Renata," pintanya, penuh harap.


Bu Ratna menghela napas panjang. Sejujurnya, wanita berusia senja tersebut sudah sangat muak dengan Renata. Namun, demi menghargai keinginan sang putra, Bu Ratna bersedia memberikan sedikit waktu untuk Dokter Arman.


"Satu menit! Mama enggak bisa lama-lama berdiri di sini!" tegas Bu Ratna.


Putra bungsu Bu Ratna tersebut kemudian mencium punggung tangan wanita yang sangat dia hormati. "Terimakasih, Ma," ucapnya.


Ya, meskipun perilaku Dokter Arman menyimpang dan tidak dapat dibenarkan, tetapi dokter kandungan tersebut sangat menghormati sang ibu dan begitu menyayangi putri semata wayangnya.


"Buruan!" seru Bu Ratna dengan tidak sabar.


Dokter Arman kemudian mendekati sang kekasih yang masih mengenakan gaun seksinya. "Ta, aku ulangi permintaanku untuk yang terakhir kali. Maukah kamu menikah denganku dan hidup bersama Ibu serta putriku?"


Lagi-lagi, wanita seksi tersebutmenolak permintaan Dokter Arman yang ingin menikahinya. "Seperti yang aku katakan semalam, Arman. Aku mau menikah denganmu, tetapi kita akan tinggal hanya berdua saja," tegas Renata.


Dokter Arman menarik napas dalam-dalam, mengisi penuh rongga paru-parunya dengan udara segar pagi hari yang tersedia bebas dan sedetik kemudian membuangnya kasar. Kembali laki-laki tersebut harus menelan kekecewaan, entah untuk yang keberapa kalinya atas penolakan Renata.


Bodoh! Ya, Dokter Arman pun menyadari bahwa dirinya adalah laki-laki yang bodoh, yang dibutakan oleh cinta. Namun, dia tak dapat menolak perasaannya terhadap Renata.


Berulangkali dia mencoba untuk menjauh, tetapi nyatanya dia selalu gagal dan kembali jatuh ke dalam pelukan cinta pertamanya tersebut. Entah magnet apa yang dimiliki oleh Renata, hati Dokter Arman seolah tak dapat berpaling dari wanita seksi tersebut.


"Cepat, Arman!" Suara Bu Ratna, membuyarkan lamunan Dokter Arman.


"Baiklah, Ta. Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, maka hubungan kita ini, benar-benar sudah tidak dapat dilanjutkan kembali," ucap Dokter Arman dengan sangat berat.


"Cih!" Renata berdecih. "Laki-laki penakut! Selalu bersembunyi di ketiak mamanya!" cibirnya.


"Oke! Tidak masalah, Arman! Akan aku lihat, seberapa kuat kamu menjauh dariku!" Renata tersenyum 𝘴𝘮𝘪𝘳𝘬.

__ADS_1


Dokter Arman memejamkan mata, mencoba untuk menguatkan hati atas keputusan yang telah dia ambil. 'Aku pasti bisa! Demi Asa dan Mama!'


"Ehemm...." Suara dehaman Bu Ratna, membuat Dokter Arman beranjak.


"Oke, Ta. Akan aku buktikan!" pungkas Dokter Arman yang kemudian segera berlalu mengikuti langkah sang mama.


Meninggalkan Renata seorang diri yang mengepalkan tangan, geram. "Aku tidak akan tinggal diam, Arman!"


*****


Di dalam kamar hotel yang disewa oleh Bu Ratna untuk bulan madu sang putra dan Julia.


Wanita cantik yang tadi langsung masuk kembali ke dalam kamar dan tak ingin mengetahui apa yang terjadi hingga membuat Bu Ratna berteriak, dikejutkan dengan kembalinya Asa ke dalam kamar.


"Bunda!" seru Asa yang langsung menghampiri Julia di kamar dan memeluk bundanya.


"Kenapa, Sayang? Ada apa, hem?" tanya Julia, dengan lembut. Ibu sambung Asa tersebut membalas pelukan sang putri dan


mengusap puncak kepala Asa dengan penuh kasih.


"Nenek tidak marah, Sayang. Nenek pasti cuma mengingatkan ayah," ucap Julia, mencoba menenangkan gadis kecil putri dari suaminya itu.


"Tidak, Bunda. Asa dengar sendiri, tadi nenek memarahi ayah," kekeuh gadis kecil tersebut.


Julia melepaskan pelukan dan kemudian mengangkat tubuh kecil Asa dan memangkunya. Wanita muda tersebut duduk di kursi meja rias dan menghadap ke cermin besar.


Dia tatap netra bening Asa, melalui pantulan cermin tersebut.


"Kalau nenek marah, mungkin ayah melakukan kesalahan, Sayang. Tapi, sudahlah ... Asa jangan sedih, ya. Nenek pasti enggak akan lama, kok, marah sama ayah. Nenek 'kan sayang sama ayah dan Asa." Julia masih mencoba menenangkan putrinya tersebut.


Istri Dokter Arman itu tersenyum pada anak kecil yang dipangkunya, sambil tangannya tak berhenti mengelus surai hitam nan lembut milik Asa.


"Iya, Bunda. Asa tahu, nenek sayang banget sama ayah, sama Asa, juga sama Bunda," balas Asa. "Asa juga sayang sama ayah, sama nenek dan sama Bunda," lanjutnya seraya mendongak, menatap Julia.


"Bunda sayang enggak sama kami?" tanya Asa kemudian.

__ADS_1


Julia terdiam sejenak. "Bunda sayang, kok, sama Asa. Bunda juga sayang sama nenek," balas Julia.


"Kalau sama ayah?" kejar Asa.


Julia tersenyum. "Sayang juga, Asa. Kenapa, sih, kamu tanya seperti itu, Nak?" Julia mencubit pelan pipi Asa.


'Tapi rasa sayang bunda ke ayahnya Asa, sebatas atasan dan bawahan, Nak,' batin Julia.


"Karena Asa mau, ayah sama bunda sama-sama terus," balas Asa, dengan tatapan penuh harap.


"Aamiin." Suara Bu Ratna yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar, mengalihkan perhatian Julia dan Asa. Ibu dan anak sambung itu kemudian menoleh ke arah sumber suara.


"Ayah! Ayah tetap sama Bunda Uli, kan? Bukan sama Aunty Tata?" cecar Asa yang langsung menghambur ke arah sang ayah, yang berjalan di belakang Bu Ratna.


"Iya, Nak. Kita akan sama-sama," balas Dokter Arman seraya mengangkat tubuh sang putri dan menciumi Asa dengan penuh kasih.


Julia terpaku, mendengar perkataan Dokter Arman. Wanita muda itu masih tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


'Semudah itu? Apa karena mama mengancam Dokter Arman?' batin Julia, bertanya-tanya.


"Kemasi barang-barang kalian, kita pulang sama-sama!" titah Bu Ratna, mengurai lamunan Julia.


"Ma, katanya kami di sini sampai beberapa ...."


"Di rumah saja, Arman! Mama lebih tenang kalau kalian berdua menghabiskan waktu di rumah!" sergah Bu Ratna, memotong ucapan Dokter Arman.


"Ayo, Asa! Kita tunggu Ayah dan Bunda di lobby," ajak Bu Ratna seraya menggandeng tangan sang cucu yang sudah turun dari gendongan ayahnya.


Sepeninggal Bu Ratna dan Asa, Julia masih terdiam di tempatnya semula. Begitu pula dengan Dokter Arman.


Keheningan menyapa kamar tidur mewah tersebut.


"Kamu jangan merasa senang dulu, Julia. Aku tetap belum bisa menerima kamu sebagai istriku yang seutuhnya. Aku lakukan semua ini, hanya demi mama dan putriku." tegas Dokter Arman, mengurai keheningan.


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2