Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Penonton Adegan Live


__ADS_3

Waktu terus bergulir. Pembangunan klinik untuk ibu dan anak yang akan dijadikan tempat oleh Dokter Arman untuk mendedikasikan diri dan mengaplikasikan ilmu serta kemampuannya, sudah mencapai sembilan puluh persen.


Sementara menunggu klinik rampung dibangun, Dokter Arman masih bekerja di rumah sakit milik keluarga Renata. Hubungan dokter kandungan dan putri pemilik rumah sakit yang saat ini telah menduduki posisi sebagai wakil direktur tersebut, semakin jauh.


Dokter Arman memang sengaja menjaga jarak dengan Renata, bukan hanya menjaga jarak, suami Julia tersebut juga berusaha untuk menghindar, hingga hal itu membuat Renata semakin geram.


"Kamu bisa bekerja, enggak, sih! Aku sudah lama menanti kabar, tapi kamu tidak juga bergerak!" hardik Renata pada seseorang di ujung telepon.


"Maaf, Nona. Wanita itu selalu dikelilingi oleh teman laki-lakinya jika di kampus. Dia juga tidak pernah pulang sendiri, kalau tidak dijemput oleh sopir, pasti oleh suaminya," balas preman yang menjadi suruhan Renata untuk mencelakai Julia.


"Bodoh! Percuma aku kasih kamu depe besar, tapi hingga sekarang belum juga ada hasilnya!" teriak Renata, dengan wajah memerah menahan amarah.


"Aku tidak mau mendengar apapun lagi alasan dari kamu! Siang ini juga, pastikan bahwa wanita kampungan itu akan menderita seumur hidupnya!" pungkas Renata yang langsung menutup telepon secara sepihak.


Wanita ambisius tersebut menggeram, marah. Dia kepalkan tangan kanannya dengan sempurna dan kemudian meninju udara bebas dengan sekuat tenaga.


"Sialan! Wanita itu benar-benar telah main guna-guna, hingga Arman tak lagi mau melirikku!" geram Renata sambil menendang kursi yang ada di hadapannya.


"Aw, sakit!" Wanita yang selalu berpenampilan seksi tersebut, mengaduh karena tendangannya cukup keras, hingga kakinya sendiri yang kesakitan.


"Ck! Apalagi yang harus aku lakukan untuk mendapatkan Arman?" Renata berpikir keras, sambil mondar-mandir di ruangannya yang luas.


Suara ketukan pintu, mengurai keseriusan Renata.


"Masuk!" titahnya pada orang yang berada di luar.


"Selamat siang, Bu. Dokter Arman mau menghadap ibu," ucap salah seorang stafnya dengan penuh hormat.

__ADS_1


"Oh ya, suruh Dokter Arman masuk saja dan kamu pergilah!" titahnya dengan menyimpan perasaan bahagia.


Renata mengira, mantan kekasihnya itu datang untuk dirinya.


"Selamat siang, Bu Renata," sapa Dokter Arman, formal. Di belakang laki-laki berwajah tegas tersebut, mengekor suster Maria yang memang diminta khusus oleh Dokter Arman untuk menemaninya menemui Renata.


Renata mengerutkan dahi. "Kamu, kenapa ikut kemari?" tanyanya sinis pada suster yang membantu di ruang praktek Dokter Arman.


"Saya yang meminta Suster Maria untuk menemani," sahut Dokter Arman, membalas pertanyaan Renata.


Sementara suster yang bersembunyi di balik punggung tegap Dokter Arman, menunduk takut.


"Silahkan duduk, Dokter," ucap Renata kemudian, merendahkan suara dan terpaksa ikut bersikap formal.


"Ada apa, Dokter Arman menemui saya? tanya Renata, sesaat setelah Dokter Arman duduk. Sedangkan Suster Maria tetap berdiri, di samping sang dokter.


Wanita berseragam biru muda tersebut segera memberikan berkas milik Dokter Arman, yang dia bawa dalam sebuah map plastik tebal.


Dokter Arman kemudian menyimpan berkas tersebut di atas meja, di hadapan Renata. "Saya tadi sudah menemui Pak Dirut dan beliau menyuruh saya agar menemui Bu Renata, untuk menyerahkan laporan pekerjaan saya sekaligus surat pengunduran diri saya dari rumah sakit ini," terang Dokter Arman, panjang lebar tanpa jeda.


Ya, semalam Dokter Arman telah mengambil keputusan untuk segera mundur dari rumah sakit tempatnya bekerja selama ini, meskipun klinik yang dia bangun belum siap untuk ditempati.


Dokter Arman berniat untuk membantu Julia dalam mengerjakan skripsi dan bersama-sama mengasuh Asa, untuk menunjukkan keseriusannya pada sang istri, bahwa dirinya telah benar-benar berubah.


Apa yang disampaikan oleh Dokter, membuat Renata yang serius mendengarkan, melongo tak percaya.


"Me-mengundurkan diri?" tanyanya, menegaskan apa yang dia dengar barusan.

__ADS_1


Dokter Arman mengangguk pasti. "Benar," balasnya singkat.


Renata menggeleng-gelengkan kepala, masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar dari mulut Dokter Arman.


Mimpi yang dia rajut bersama Dokter Arman, kembali melintas dengan jelas. Mereka berdua berdua telah sepakat, akan membuat rumah sakit besar ini lebih besar lagi dan lebih berjaya di masa yang akan datang.


"Tidak, Arman. Tidak mungkin," ucap Renata dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kamu sudah berjanji padaku Arman, kita akan sama-sama terus dan aku sangat yakin, bahwa kita adalah partner yang terbaik," lanjutnya.


Putri pemilik rumah sakit itu kemudian bangkit dan bergerak ke arah Dokter Arman. Renata melewati seraya menyenggol kasar Suster Maria, agar Suster tersebut menyingkir dan memberinya jalan.


Tanpa Dokter Arman duga, Renata langsung duduk di pangkuan mantan kekasihnya tersebut.


"Apa-apaan kamu, Ta!" seru Dokter Arman yang langsung beranjak, tetapi kedua tangan Renata berhasil melingkar di lehernya hingga tubuh semampai Renata ikut bangkit, mengikuti pergerakan Dokter Arman.


"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dan dimiliki oleh wanita kampungan itu, Arman!" tegas Renata dengan jarak yang sangat dekat.


"Kamu tentu masih ingat 'kan, dengan kamar itu," ucap Renata seraya menunjuk sebuah kamar di sudut ruangannya yang luas.


Ya, meskipun posisi Renata saat ini sudah meningkat menjadi wakil direktur, tetapi wanita itu tetap menempati ruangan lamanya.


Ruangan yang penuh dengan kenangan karena di ruangan inilah, dirinya dan Dokter sering menghabiskan waktu istirahat untuk bersenang-senang.


"Ayo, aku akan mengajarimu cara untuk mengingat kenangan indah kita dan melupakan pengasuh itu!" Renata yang sudah dirasuki oleh nafsu sehingga memiliki kekuatan besar tersebut memaksa Dokter Arman untuk menuju ke kamar.


"Hai, kamu! Keluarlah atau kamu mau menjadi penonton adegan live kami!" hardik Renata, melotot tajam ke arah Suster Maria. Hingga membuat wanita berseragam rumah sakit tersebut, menciut nyalinya dan langsung keluar.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...


__ADS_2