
Julia terbangun, ketika merasa ada yang mengganggu tidurnya. Wanita cantik itu beringsut dan kemudian duduk sambil bersandar pada sandaran sofa.
Netranya yang memicing untuk menyesuaikan dengan cahaya dari lampu kamar yang terang, mencoba melihat ke arah jam yang menggantung di dinding.
"Jam berapa ini?" gumam Julia, bertanya pada diri sendiri.
"Jam tiga dini hari," balas Dokter Arman yang terdengar begitu dekat, membuat Julia terkejut dan kemudian menoleh ke samping.
Rupanya, dokter Arman yang terbangun dan tidak mendapati Julia di sampingnya, segera beringsut dan kemudian mencari keberadaan Julia.
Dokter Arman langsung membangunkan Julia tanpa bersuara dan hanya menyimpan selimut tebal di atas tubuh wanita yang telah sah menjadi istrinya itu dengan asal agar Julia terbangun dan pindah kembali ke ranjang.
"Dok, Anda sudah bangun?" tanya Julia dengan mengerutkan dahi. Sebab, seingat Julia, laki-laki yang telah menjadi suaminya tersebut tadi tidur dengan sangat lelap.
"Kenapa pindah tidur di sini, hem?" tanya Dokter Arman, yang mengabaikan pertanyaan Julia.
Julia terdiam, wanita muda yang masih terlihat mengantuk itu nampak bingung harus menjawab bagaimana.
"Aku tanya sama kamu, Julia. Kenapa kamu pindah ke sofa? Bagaimana kalau tiba-tiba mama datang lagi dan mendapati kamu tidur di sini?" Dokter Arman menatap Julia dengan intens.
"Kamu tidur enggak pakai selimut lagi, bagaimana kalau kamu sakit? Pasti mama akan menyalahkan aku, Julia!" lanjut laki-laki dewasa yang sudah menjadi suami Julia tersebut, dengan sedikit meninggikan suara.
Bukan, Dokter Arman memarahi Julia yang tidur di sofa dan tanpa selimut, bukan karena khawatir pada istrinya itu, tetapi karena ayahnya Asa tersebut khawatir akan mendapatkan omelan dari sang mama.
"Kenapa, Julia?" ulang Dokter Arman, kembali.
__ADS_1
Ya, Julia yang tidak bisa tidur karena merasa tidak nyaman dipeluk oleh laki-laki yang tidak tulus menerima kehadiran dirinya sebagai bagian dari keluarga kecil Dokter Arman, berhasil menyingkirkan tangan kekar dokter kandungan tersebut yang melingkari tubuh rampingnya tanpa membuat ayah satu anak yang tidur dengan sangat lelap tersebut, terbangun.
Julia kemudian pindah ke sofa dan tidur dengan meringkuk di sofa single, yang berada di sudut kamar. Ibu sambung Asa tersebut hanya membawa bantal tanpa selimut, sebab hanya ada satu selimut di sana dan sudah dipakai oleh Dokter Arman yang tadi ikut masuk ke dalam selimut ketika tiba-tiba Bu Ratna dan Asa mengecek ke dalam kamar mereka berdua.
"Maaf, Dok. Saya, em ... saya tidak bisa tidur tadi dan bergerak-gerak terus, makanya saya pindah ke sini karena takut mengganggu tidur Dokter yang lelap," balas Julia, yang terpaksa berbohong.
"Apa kamu tidak nyaman, tidur berdekatan denganku?" tanya Dokter Arman dengan begitu bodohnya.
Tentu saja Julia tidak akan nyaman, tidur dengan laki-laki yang tidak mencintai dan menyayangi dirinya. Laki-laki yang hanya memanfaatkan Julia untuk memuluskan kesenangannya semata.
Julia menatap sekilas pada laki-laki tampan tersebut dan sedetik kemudian segera mengalihkan pandangannya.
"Kamu jangan khawatir, Julia. Aku tidak akan berbuat macam-macam," lanjut Dokter Arman, yakin.
Tak mau berdebat di saat dirinya sangat mengantuk seperti ini, Julia lebih memilih untuk segera mengikuti langkah Dokter Arman menuju ranjang agar dia bisa melanjutkan tidur secepatnya.
Wanita cantik itu mengambil posisi seperti tadi, menempati tepi ranjang dan memunggungi Dokter Arman, membuat laki-laki dewasa itu geleng-geleng kepala.
"Takut banget, sih, kamu sama aku," ucap Dokter Arman yang juga sudah memposisikan diri. Laki-laki berahang tegas tersebut menyimpan guling di tengah-tengah di antara dirinya dan Julia.
Tak ada sahutan dari Julia. Rupanya, wanita muda tersebut telah kembali terlelap dan menyelami alam mimpinya.
"Cepat banget tidurnya," gumam Dokter Arman.
Baru saja hendak memejamkan mata, terdengar ponsel laki-laki matang tersebut berdering.
__ADS_1
Buru-buru Dokter Arman meraih ponselnya yang berada di atas nakas dan kemudian menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menelepon karena dia sudah sangat hafal dengan dering khusus itu.
Dering telepon yang cukup nyaring tersebut, membangunkan tidur Julia, tetapi wanita muda itu tetap pura-pura tidur dan tidak bergerak.
"Halo, Sayang," sapa Dokter Arman dengan memelankan suaranya.
"Arman! Keterlaluan kamu! Kamu enak-enakan tidur di sana sama gadis kampungan itu, sementara kamu biarkan aku di sini sendirian!" omel Renata yang terdengar sangat marah.
"Ta, tadi aku 'kan sudah mengatakannya, Sayang, kalau aku terpaksa karena ada mama," ucap Dokter Arman, yang dapat di dengar Julia.
"Aku tidak mau tahu, Arman! Ke kamarku sekarang!" pinta Renata, memaksa. "Kalau tidak, aku yang akan mendatangi kamar kamu!" ancamnya.
"Iya-iya, Sayang. Aku ke sana sekarang," balas laki-laki matang tersebut, seraya beringsut.
Dokter Arman berganti pakaian dan kemudian segera berlalu meninggalkan Julia seorang diri, tanpa berpamitan pada istrinya tersebut.
Julia menghela napas panjang, perasaan wanita cantik itu antara lega, sekaligus sedih. 'Dia bahkan pergi begitu saja tanpa pamit dan tak memperdulikan aku.' batin Julia.
Wanita muda itu merasa lega karena bisa tidur dengan bebas dan nyenyak, tanpa khawatir terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan antara dirinya dengan Dokter Arman.
Sekaligus bersedih, jika mengingat betapa tak berdayanya Julia yang harus menjalani pernikahan yang penuh dengan sandiwara.
'Kenapa aku harus terjebak dalam pernikahan palsu seperti ini?'
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...
__ADS_1