Hanya Sekadar Pengasuh

Hanya Sekadar Pengasuh
Semua Tak Lagi Sama


__ADS_3

Waktu terus bergulir. Siang menghilang dan digantikan oleh kegelapan malam. Tanpa terasa, lima hari telah berlalu dari kejadian penusukan yang dialami oleh Dokter Arman.


Perawatan terbaik yang didapatkan oleh Dokter Arman atas rekomendasi langsung dari Pak Santoso, pemilik rumah sakit tempat Dokter Arman bekerja dan sekaligus tempatnya dirawat saat ini. Serta keberadaan orang-orang yang menyayangi Dokter Arman dan memberikan perhatian yang besar terhadap ayah Asa tersebut, membuat dokter kandungan itu cepat pulih dari luka operasi bekas tusukan pisau tajam yang dilakukan oleh Renata.


Selama itu pula, sang istri, Julia, dengan setia menemani Dokter Arman. Begitu pula dengan Bu Ratna yang langsung terbang di hari berikutnya ketika mendapatkan kabar dari sang menantu bahwa putra bungsunya harus dirawat di rumah sakit.


Bu Ratna juga memutuskan untuk kembali tinggal bersama keluarga kecil Dokter Arman dan menemani sang cucu, sampai Dokter Arman dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah.


"Ibu pulang dulu ya, Nak Juli. Besok siang, ibu akan bawa anak-anak kembali ke sini," pamit Bu Ratna.


Dika dan Asa kemudian salim pada Dokter Arman dan juga Julia.


Kini di ruang perawatan tersebut hanya tinggal sepasang suami-istri yang semakin hari terlihat semakin mesra itu, setelah Bu Ratna mengajak pulang Asa dan Dika karena hari telah berganti malam.


Ya, setiap hari sepulang sekolah, Bu Ratna mengajak Asa dan Dika untuk menjenguk Dokter Arman di rumah sakit.


Tujuan Bu Ratna, agar putra bungsunya itu merasa diperhatikan oleh orang-orang yang menyayangi Dokter Arman sehingga bisa mempercepat proses penyembuhan Ayah Asa tersebut karena support system terbaik adalah dari keluarga terdekat.


"Apa yang mas rasakan sekarang?" tanya Julia setelah dokter jaga dan perawat keluar, bersama dengan Bu Ratna, Dika, dan Asa barusan.


"Sudah lebih baik, Sayang, tetapi untuk melakukan itu sepertinya belum bisa," balas Dokter Arman seraya tersenyum menggoda istrinya.


"Mas ... kenapa, sih, selalu itu yang dibahas." Julia cemberut dengan pipi yang merah merona.


"Habisnya aku pengin, Sayang, tetapi maaf, aku belum bisa," balas Dokter Arman, sambil menarik tangan Julia agar duduk di sampingnya.


Dokter Arman saat ini sedang dalam posisi setengah duduk, sambil menyandarkan punggung pada bantal. Luka di pinggangnya sudah mulai mengering sehingga dia sudah bisa duduk, meski dengan posisi seperti itu.

__ADS_1


Dokter kandungan tersebut juga belum diperbolehkan untuk banyak bergerak, apalagi mengangkat beban berat, agar bekas jahitan tidak membuka yang dapat membuat lukanya kembali basah.


"Rasanya, waktu berlalu begitu lama, Sayang. Aku sudah tidak sabar, ingin segera pulang," ucap Dokter Arman seraya mengelus surai hitam sang istri.


"Aku ingin memanjakan kamu, Sayang. Bukan seperti ini, malah kamu yang memanjakan aku," lanjutnya penuh penyesalan.


"Mas, jangan bicara seperti itu. Kejadian ini 'kan, bukan maunya Mas juga," balas Julia yang tak ingin suaminya bersedih.


"Aku merasa, menjadi laki-laki yang tidak berguna, Sayang. Aku lemah, aku tidak bisa membahagiakan kamu," ucap Dokter Arman kembali, yang masih diliputi rasa bersalah pada Julia. Penyesalan Dokter Arman seolah tiada berujung.


Julia menggeleng. "Tidak, Mas. Dengan sikap Mas yang seperti ini saja, aku sudah sangat senang, Mas. Mas bisa menerima kehadiranku di sisi Mas, menjadi ibunya Asa yang seutuhnya," balas Julia seraya menggenggam erat tangan sang suami.


Julia kemudian menciumi punggung tangan yang kini tak lagi terpasang jarum infus tersebut, membuat Dokter Arman menjadi semakin bersalah pada istri cantiknya.


"Julia," panggil Dokter Arman. Laki-laki berwajah tegas tersebut kemudian menarik pinggang Julia dan menuntunnya agar lebih mendekat. "Sini, peluk," lanjutnya seraya membuka kedua tangan.


Dokter Arman tak dapat berkata-kata, yang bisa dia lakukan hanyalah menciumi puncak kepala sang istri bertubi-tubi, dengan netra yang berkaca-kaca.


'Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu. Aku takut kehilangan kamu, Sayang.' Ingin Dokter Arman dapat mengungkapkan semua isi hatinya, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


Hingga beberapa saat berlalu, mereka berdua masih dengan posisi yang sama. Saling memeluk, dengan jantung yang sama-sama berdebar kencang.


Suara ketukan pintu yang kemudian diikuti dengan dibukanya pintu dari luar, mengurai kemesraan mereka berdua, ketika pemilik rumah sakit beserta putri kesayangannya, masuk ke ruang rawat Dokter Arman.


Ini bukan kunjungan yang pertama Pak Santoso karena sudah dua kali, direktur utama rumah sakit ini mengunjungi Dokter Arman untuk meminta maaf atas kesalahan Renata sekaligus untuk meminta Dokter Arman agar tidak memperpanjang masalah hingga ke pihak yang berwajib.


Atas persetujuan Julia, Dokter Arman memenuhi keinginan Pak Santoso. Dengan syarat, asalkan ayah Renata tersebut berani menjamin bahwa putrinya tidak akan lagi mengganggu Dokter Arman dan keluarganya.

__ADS_1


Saat itu, Pak Santoso menyanggupi dan akan memberikan Dokter Arman uang ganti rugi atas tindakan Renata terhadap dokter kandungan terbaik di rumah sakit tersebut.


"Selamat malam, Dokter Arman," sapa Pak Santoso, seraya menyalami Dokter Arman dan juga Julia.


Sementara Renata yang mengekor di belakang sang papa hanya tersenyum pada Dokter Arman dan sama sekali tidak melirik pada Julia yang kini telah berdiri di samping bed pasien.


"Saya datang kemari bersama putri saya, Dok. Dia ingin meminta maaf pada Dokter," ucap Pak Santoso seraya meraih pundak sang putri dan memeluknya.


"Iya, Arman. Maafkan atas kekhilafanku saat itu," ucap Renata.


"Arman, aku benar-benar mencintaimu. Aku tak bisa jika harus jauh dari kamu, Arman," lanjutnya dengan netra berkaca-kaca.


Dokter Arman menghela napas panjang.


"Aku mau, kita bisa kembali seperti dulu Arman. Kembali seperti rencana kita semula," rajuk Renata.


"Tak masalah, jika kamu masih bersama dia." Renata melirik tajam pada Julia yang masih berdiri mematung tanpa bersuara.


"Tetapi, mari kita wujudkan mimpi kita, Arman," lanjut Renata, memaksa.


Dokter Arman menggeleng. "Semua tak lagi sama, Ta. Aku bukan ...."


"Jika Dokter mau menikahi putri saya, maka rumah sakit ini akan saya serahkan sepenuhnya pada Dokter," sergah Pak Santoso, memotong perkataan Dokter Arman.


"Dokter tidak perlu lagi melanjutkan pembangunan klinik kecil yang pasti tidak sesuai dengan harapan Dokter, bukan?' Pak Santoso menatap penuh harap pada Dokter Arman.


🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2