
"Yang mana ya, Dok?" balas Julia, bertanya. "Permintaan Dokter 'kan, banyak sekali," lanjutnya.
"Pernikahan kita ini, hanya di atas kertas. Tugas Julia hanya sebagai pengasuh Asa. Berpura-pura mesra di hadapan orang lain ...." perkataan Julia menggantung di udara.
"Jangan campuri urusanku!" potong Dokter Arman, sebelum Julia menyelesaikan kalimatnya. "Aku juga tidak akan mencampuri urusanmu!" lanjutnya dengan tegas.
Julia hanya bisa mengangguk, pasrah. Gadis yang telah sah menjadi istri Dokter Arman itu hanya bisa menekan perasaan dan menekan rasa sakit di hatinya.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, dokter satu anak tersebut segera melajukan kendaraannya keluar dari pintu gerbang yang menjulang tinggi, menyusuri jalan raya beraspal untuk menuju ke hotel yang telah disiapkan oleh sang mama.
Sepanjang perjalanan yang akan memakan waktu sekitar tiga puluh menit itu, tak ada satupun yang membuka suara.
Tatapan Dokter Arman fokus ke depan, ke jalanan yang padat merayap. Sementara Julia menoleh ke sisi kiri, memperhatikan lalu lalang kendaraan bermotor yang saling berebut untuk menjadi yang terdepan.
'Sampai kapan aku akan menjalani kehidupan pernikahan yang seperti ini?' batin Julia, bertanya. Tatapan gadis itu menjadi sendu dan wajah cantik tersebut, bergelayut mendung hitam.
Tepat di perempatan jalan, mobil Dokter Arman berhenti karena lampu menyala merah. Mobil itu berhenti tepat di samping kanan pengendara sepeda motor. Pemandangan indah di sampingnya itu pun membuat Julia merasa iri.
Di jok belakang, duduk seorang wanita yang dengan mesra memeluk pria yang mengemudikan motor. Meski sepeda motor yang mereka naiki adalah sepeda motor butut, tetapi mereka berdua terlihat begitu menikmati hidupnya. Mereka saling bercanda dan tertawa bersama.
'Aku tak pernah memimpikan kehidupan mewa seperti ini, aku hanya ingin kehidupan yang sederhana tetapi bahagia seperti itu,' bisik Julia dalam hati. Tanpa sadar, netra Julia berkaca-kaca dan sedetik kemudian bulir bening jatuh membasahi pipinya. Gadis cantik tersebut menangis dalam diam.
Buru-buru Julia menyeka air matanya agar laki-laki yang duduk di sampingnya tak mengetahui, bahwa dia menangis.
"Kenapa, Juli? Apa kamu menyesal, menikah denganku?" tanya Dokter Arman dengan begitu bodohnya.
Ya, ternyata laki-laki matang itu sadari tadi mencuri-curi pandang pada Julia melalui kaca spion di depannya yang sengaja dia arahkan agar dapat melihat wajah istri yang baru saja dinikahinya.
Bukan apa-apa, Dokter Arman hanya ingin tahu seperti apa ekspresi wajah Julia ketika diajak berbulan madu ke hotel.
Pertanyaan Dokter Arman, sukses membuat Julia terkejut. Dia tak menyangka, kalau ternyata laki-laki yang tengah fokus mengemudi itu mengetahui bahwa dirinya menangis.
__ADS_1
Julia menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Dokter Arman. "Apa saat itu saya memiliki pilihan, Dokter?" balasnya dengan pertanyaan.
Dokter Arman terdiam, mendapat jawaban seperti itu dari Julia. Rahang laki-laki berwajah tegas tersebut, mengeras karena amarah mendengar jawaban Julia yang balik bertanya.
"Kamu pikir, aku juga memiliki pilihan, Julia? Kita sama, sama-sama korban dari keinginan mamaku dan juga putriku. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kamulah satu-satunya korban dalam pernikahan ini!" Dokter Arman sekilas menoleh dan menatap tajam pada Julia.
Julia tak mampu lagi berkata-kata, dadanya terasa sesak.
Selanjutnya tak ada lagi obrolan di antara mereka berdua, hingga mobil mewah tersebut memasuki area parkir hotel.
Dokter Arman segera turun dan langsung berjalan melenggang masuk ke dalam lobi hotel, tanpa menunggu Julia yang berjalan lambat sambil menyeret koper.
Julia hanya bisa menghela napas berkali-kali, mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dokter Arman.
'Sabar, Juli. Kamu pasti bisa melewati semua ini.' Gadis itu mencoba menguatkan hatinya sendiri.
"Lama banget, sih, jalannya!" hardik Dokter Arman yang telah menunggu Julia di depan 𝘭𝘪𝘧𝘵, setelah laki-laki itu mendapatkan kartu akses masuk ke kamarnya.
'Maaf,' ucap Julia dengan singkat. Gadis berkebaya pengantin tersebut segera mengikuti Dokter Arman yang masuk ke dalam 𝘭𝘪𝘧𝘵.
Ayah satu anak tersebut menekan tombol lantai tertinggi dan sedetik kemudian, kotak besi tersebut perlahan naik membawa mereka berdua menuju lantai yang dituju.
Hanya hitungan menit, 𝘭𝘪𝘧𝘵 berhenti dan pintunya terbuka. "Buruan!" titah Dokter Arman tanpa menoleh ke arah Julia.
Laki-laki bertubuh tinggi tegap tersebut bergegas keluar, tanpa ingin membantu Julia membawakan koper. Laki-laki itu terus berjalan menuju ujung koridor, dimana kamar mereka berdua berada.
Kamar kelas 𝘱𝘳𝘦𝘴𝘪𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘢𝘭 𝘴𝘶𝘪𝘵𝘦 𝘳𝘰𝘰𝘮, yang sengaja dipilihkan oleh Bu Ratna sebagai hadiah pernikahan untuk sang putra dan Julia, gadis baik yang disayangi oleh cucu kesayangannya.
Setelah membuka pintu dengan kartu akses di tangan, Dokter Arman bergegas masuk ke dalam yang diikuti oleh Julia yang berjalan dengan terseok-seok karena sandal high heels yang dia kenakan serta kain batik yang sempit, yang menghambat langkah ibu sambung Asa tersebut.
"Bawa kopernya ke dalam dan buruan mandi!" titah Dokter Arman sambil berjalan masuk menuju kamar.
__ADS_1
Waktu telah menjelang maghrib ketika mereka sampai di dalam kamar hotel yang terlihat serba mewah dengan dominasi warna putih, warna yang melambangkan kesucian dan kemurnian.
Ya, itulah harapan Bu Ratna yang menginginkan pernikahan sang putra didasari atas cinta yang suci dan murni.
Terdapat ruang tamu yang terpisah dengan kamar utama, ada juga mini pantry yang berada di samping ruang tamu.
Ukuran kamar yang luas dan di tengah-tengah terdapat ranjang 𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘻𝘦 dengan sprei satin berwarna putih dan bertabur bunga mawar dengan hiasan angsa putih berbentuk hati, layaknya ranjang pengantin.
"Indah sekali," gumam Julia. Gadis itu terpaku melihat pemandangan di depan mata.
Jika biasanya gadis itu hanya dapat melihat isi kamar mewah sebuah hotel dari film yang dia tonton, kini semua benar-benar nyata dan dapat dia rasakan sendiri.
"Buruan mandi, gantian! Aku tunggu di balkon!" Suara tinggi Dokter Arman, membuyarkan lamunan Julia.
Bergegas, gadis yang saat ini telah resmi menyandang predikat sebagai istri tersebut melangkah manuju kamar mandi yang juga tak kalah mewah. Namun, Julia tak ingin berlama-lama di dalam sana karena tak ingin membuat Dokter Arman kembali marah.
Julia segera mengenakan pakaian, yang dia bawa masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama kemudian dia keluar dan segera memanggil Dokter Arman.
"Dok, saya sudah selesai."
Laki-laki berwajah dingin itu melewati Julia yang masih berdiri di ambang pintu yang menuju balkon tanpa kata dan berjalan dengan cepat, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Julia duduk di sebuah kursi rotan, yang berada di balkon dan tak tahu apa yang harus dia lakukan.
Gadis cantik itu termenung seraya menatap deretan gedung-gedung yang menjulang tinggi, yang berada di sekitar hotel tempat mereka menginap.
Saking asyiknya melamun, Julia sampai tak menyadari bahwa Dokter Arman telah berdiri di sampingnya dengan pakaian rapi dan aromanya sangat wangi.
"Aku mau keluar. Kalau kamu ngantuk dan lelah, tidur saja dulu karena malam ini aku tidur di kamar lain."
Deg ...
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...