
Wanita muda yang sudah sah menjadi istri Dokter Arman itu mengurungkan langkah, ketika tangannya tiba-tiba di pegang oleh laki-laki yang telah menikahinya. Julia kemudian memutar leher, menoleh ke arah laki-laki dewasa yang telah menjadi suaminya dengan dahi berkerut dalam.
"Istirahat saja di kamar kita," titah Dokter Arman seraya menatap dalam netra Julia untuk beberapa saat, membuat wanita muda itu menjadi salah tingkah.
"Baik, Dok. Maaf, tapi lepaskan tangan saya," pinta Julia, gugup.
Dokter Arman tersenyum tipis dan kemudian segera melepaskan tangan Julia. "Ayo, kita ke kamar," ajak suami Julia tersebut.
Ibu sambung Asa itu hanya bisa mengangguk dan kemudian mengekor langkah sang suami seraya menyeret koper, menuju ke kamar utama yang sekarang sudah menjadi kamar mereka berdua.
"Selamat datang di kamar kita, Julia," ucap Dokter Arman, setelah membuka pintu kamarnya.
"Hem, sepertinya ada yang baru di sini," gumam ayah satu anak tersebut seraya berjalan menuju ke sebuah almari pakaian yang baru saja dia lihat di dalam kamarnya dan kemudian membuka almari tersebut.
"Rupanya, mama sudah memindahkan semua pakaian kamu di sini, Julia," ucap Dokter Arman kemudian seraya menunjuk almari yang telah dia buka, almari pakaian yang berisi baju-baju wanita yang tergantung rapi.
Julia mendekat, dahinya berkerut dalam. Wanita muda itu kemudian menggeleng, kala tidak mendapati bajunya di sana. Hanya ada gaun-gaun seksi yang bagus, yang pasti harganya sangat mahal menurut Julia, yang tergantung rapi di dalam almari pakaian tersebut.
"Bukan, Dok, itu bukan milik saya. Saya tidak memiliki pakaian seperti itu," sangkal Julia.
Dokter Arman mengerutkan dahi, laki-laki matang itu kemudian membuka pintu yang sebelah. "Kalau yang ini?"
Julia mengamati pakaian yang bertumpuk rapi di dalam almari tersebut. "Iya, Dok. Ini punya saya," balasnya yang mengenali pakaian-pakaian sederhana dan tertutup, miliknya.
"Itu artinya, mama sudah menyiapkan semua yang di sini untukmu, Julia." Laki-laki itu kemudian menutup kembali pintu almari tersebut dan berjalan menuju ranjang berukuran besar, dengan kasur empuk yang ditutup 𝘣𝘢𝘥 𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 motif bunga-bunga kecil yang cantik.
Sementara Julia hanya bisa mematung di depan almari dan bingung harus melakukan apa?
__ADS_1
"Rapikan nanti saja pakaian yang ada di dalam koper, sekarang istirahatlah," pinta Dokter Arman. "Aku lelah dan ngantuk sekali, Julia. Aku mau tidur," lanjutnya seraya merebahkan diri di atas kasur empuk.
Ya, tentu saja laki-laki yang telah menikahi Julia tersebut kelelahan dan ngantuk berat karena semalam dia begadang melakukan olahraga malam bersama sang kekasih di kamar kekasihnya itu, hingga pagi menjelang.
Julia menghela napas panjang dan kemudian berjalan menuju sofa. Baru saja wanita muda tersebut hendak duduk, namanya di panggil oleh Dokter Arman.
"Juli, istirahatlah di sini," pinta Dokter Arman seraya menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Julia tertegun, dia masih terdiam dan nampak kebingungan, haruskah menuruti keinginan laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam, Juli. Aku hanya ingin ngobrol denganmu," lanjut Dokter Arman seraya mengangkat sedikit kepala, menatap ke arah Julia yang masih terdiam di sofa.
"I-iya, Dok." Julia terpaksa mendekat, wanita muda itu kemudian duduk di tepi ranjang dan mengambil jarak yang paling jauh dengan suaminya.
Laki-laki dewasa yang berprofesi sebagai dokter kandungan tersebut, tersenyum samar. Entah apa yang ada di otaknya saat ini.
"Istirahatlah, Juli," pintanya dengan nada bicaranya yang selalu ramah sejak tadi.
"Maaf, Dok. Semalam tidur saya sangat nyenyak, jadi saya belum butuh beristirahat sekarang. Sebaiknya, saya ke belakang saja untuk menyusul Asa." Julia segera beranjak.
"Biarkan Asa bermain sama bibi, Juli. Kamu temani saja aku di sini," kekeuh Dokter Arman.
Mau tak mau, Julia menuruti keinginan laki-laki yang telah menikahinya tersebut. 'Enggak ada salahnya kali, aku menuruti keinginannya. Yang penting, dia tidak berbuat macam-macam,' pikir Julia.
'Memangnya, apa yang terjadi di hotel tadi, ya? Kenapa tiba-tiba, sikap Dokter Arman menjadi ramah padaku? Apa, mama yang menyuruh dan menekan putranya ini?' Julia bertanya-tanya dalam hati.
"Bagaimana dengan kuliah kamu, Juli?" tanya Dokter Arman seraya menoleh ke samping, menatap Julia yang berbaring sambil mendekap guling di dada.
__ADS_1
Suara berat laki-laki yang bertanya di sebelahnya, membuyarkan lamunan Julia.
"Eh ... iya, Dok. Minggu depan, mulai urus administrasinya," balas Julia, gugup.
"Berarti, sudah mau aktif masuk kampus?" lanjut Dokter Arman, bertanya.
"Iya, Dok. Anda tidak keberatan, kan?" Julia menoleh ke samping, ke arah laki-laki yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan Dokter Arman membuat Julia membeku.
Buru-buru, Julia mengalihkan pandangan ke arah lain. Memindai ruangan yang berukuran luas, dengan berbagai perabotan mahal yang hampir memenuhi kamar utama tersebut.
Satu ranjang berukuran jumbo, sofa single berukuran besar, dua almari pakaian yang memiliki tiga pintu, satu almari kaca yang khusus di pakai untuk menyimpan aksesoris milik Dokter Arman, satu meja rias yang terbuat dari kayu jati kuno berukir, dan jam dinding mewah yang menempel di salah satu sisi dinding.
Julia juga kemudian menatap ke langit-langit kamar tersebut. Langit-langit kamar yang berplafon dengan desain artistik, terlihat cantik dan sangat bersih. Berbeda jauh dengan langit-langit di kamar Julia, di rumahnya sana.
Beratap asbes langsung dengan warna yang sudah udang dan ada beberapa lobang di sana, hingga ketika hujan deras mengguyur, kamar Julia bocor di sana-sini.
"Tentu saja saya tidak keberatan, Juli. Bukankah itu sudah bagian dari kesepakatan kita? Dan aku tidak akan pernah melarang kamu untuk meraih mimpimu, Juli," balas Dokter Arman, dengan bijak.
Julia kembali menoleh mendengar jawaban Dokter Arman. "Terimakasih, Dok." Wanita muda tersebut tersenyum tulus pada suaminya.
Obrolan di antara keduanya pun terus berlanjut, suasana sudah semakin mencair meski mereka berdua tetap sama-sama berbicara dengan formal.
Dokter Arman nampak enjoy ngobrol dengan Julia yang nyambung jika diajak berbicara banyak hal. Begitu pula dengan Julia yang sudah tidak canggung lagi bercengkrama dengan laki-laki yang dulu selalu bersikap dingin dan sinis terhadap dirinya.
"Dok, silahkan jika Anda mau beristirahat. Saya mau bantu bibi menyiapkan makan siang," pamit Julia setelah cukup lama mereka berdua bercengkrama dengan hangat dan Julia dapat melihat, bahwa suaminya itu sudah sangat mengantuk.
"Hem." Dokter Arman yang mulai memejamkan mata hanya menggumam, tetapi tangannya langsung menarik tangan Julia, mencegah agar wanita muda yang telah menjadi istrinya tersebut tidak pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Tetap di sini, Juli."
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...