
"Segera persiapkan dirimu, Sayang," pinta Dokter Arman berbisik.
"Ayo, Sayang, kita bobok," ajak Dokter Arman kemudian, pada sang putri.
Laki-laki dewasa itu menggandeng tangan kecil sang putri, menuju kamar Asa.
Setelah Asa dan sang ayah berlalu, Julia pun bergegas menuju kamar.
Wanita cantik tersebut membuka almari pakaian dan tatapannya terpaku pada gaun malam seksi yang dulu telah disiapkan sang mama mertua, tetapi belum pernah sekalipun dia kenakan.
"Apa aku pakai gaun ini saja, ya," gumam Julia seraya mengambil gaun tersebut dari gantungan baju.
"Demi menyenangkan suami, tak apalah sesekali memakai gaun yang kurang bahan ini." Julia tersenyum seorang diri dan kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Tak berapa lama, Julia sudah keluar dengan mengenakan gaun tipis dengan belahan dada yang lebar. Wanita cantik tersebut kemudian merias sedikit wajah dan memakai wangi-wangian yang aromanya disukai sang suami.
Julia mematut diri sebentar di depan cermin dan kemudian mendudukkan diri di tepi pembaringan, menunggu suaminya.
Untuk mengusir kegugupan, wanita cantik tersebut mengambil ponsel di atas nakas dan membuka-buka artikel mengenai hubungan suami istri.
Fokus membaca artikel, Julia sampai tak menyadari kehadiran sang suami yang sempat terpaku ketika membuka pintu kamar dan mendapati pemandangan indah di dalam kamarnya.
Dokter Arman menelan saliva. Jakunnya turun naik, dadanya berdebar dan darahnya bergejolak, sesuatu miliknya di bawah sana pun mulai menggeliat bangun.
Perlahan, dokter tampan tersebut mendekati sang istri dan kemudian mencium puncak kepala Julia dengan penuh rasa sayang.
"Kamu cantik sekali, Sayang," puji Dokter Arman, membuat Julia tersipu malu.
"Aku bersih-bersih dulu, ya," pamit Dokter Arman yang juga ingin tampil maksimal, begitu melihat istrinya begitu cantik dan juga wangi.
Julia kemudian mengambilkan piyama untuk sang suami dan menyimpan di atas ranjang.
Tak berapa lama, Dokter Arman keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk yang dililitkan sebatas pinggang.
Meski ini bukan pemandangan pertama, tapi entah mengapa malam ini suaminya itu terlihat beda di mata Julia.
__ADS_1
'Mas Arman seksi sekali,' batin Julia, menelan saliva.
Ya, mungkin karena baru kali ini Julia berani memperhatikan sang suami hingga pemandangan tersebut nampak berbeda. Sebab, biasanya Julia akan langsung membuang pandangan ke arah lain, ketika melihat sang suami sedang keluar dari kamar mandi dengan keadaan seperti itu dan dia akan langsung keluar dari kamar.
"Ada apa, Sayang?" tanya Dokter Arman seraya berjalan mendekat.
Aroma wangi sabun mandi menguar memenuhi rongga penciuman Julia, ketika suaminya terus melangkah maju mendekatinya.
"Em-Mas, pakai baju dulu. Nanti Mas bisa masuk angin," saran Julia, gugup, karena jarak sang suami dan dirinya semakin dekat.
Dokter Arman tersenyum lebar. "Buat apa pakai baju, Sayang, jika nantinya dilepas juga."
Laki-laki yang bertelanjang dada tersebut semakin merangsek maju, membuat Julia terus mundur hingga kakinya menyentuh ranjang.
"Em ... Mas," ucap Julia, terbata.
Dokter Arman tiba-tiba menjauh, membuat Julia bernapas dengan lega. Namun, itu hanya sedetik saja karena selanjutnya lampu utama padam dan berganti dengan lampu tidur yang remang-remang, membuat wanita cantik tersebut semakin gugup.
Dokter Arman kembali mendekati sang istri dan menatap Julia dengan tatapan penuh damba, membuat Julia berdebar.
"A-apa harus sekarang, Mas?" tanya Julia, yang diliputi kegugupan.
Untuk beberapa saat, keduanya saling terdiam. Dokter Arman yang sedang memeluk sang istri, sambil membelai surai hitam sang istri dengan penuh kasih, mencoba untuk mengusir kegugupan istrinya.
Sesekali diciumnya puncak kepala Julia, hingga membuat wanita cantik yang berada dalam dekapannya terlena.
Julia yang awalnya canggung dan belum berani memeluk balik tubuh sang suami, kini mulai berani memeluk Dokter Arman. Dia tenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan tangan lembutnya mulai meraba punggung suaminya, dengan mesra.
Dokter Arman berdebar, seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta. Napasnya mulai memburu, dan adik kecilnya kembali terbangun.
"Sayang," panggil Dokter Arman dengan tatapan berkabut.
Julia mendongak, menatap sang suami.
Sejenak, kedua netra mereka saling bertaut dalam.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Sayang," ucap Dokter Arman, pelan. Membuat Julia, semakin berdebar.
"Cup." Sebuah kecupan mendarat di kening Julia. Sejenak, berhenti di sana. Kecupan tersebut kemudian turun ke hidung mancung sang istri dan berakhir di bibir tipis istrinya.
Ciuman yang awalnya lembut dan penuh kasih, perlahan memanas seiring terbalasnya ciuman Dokter Arman.
Laki-laki yang sudah sangat berpengalaman tersebut kemudian menuntun istrinya dengan penuh kesabaran dan kelembutan, membuat Julia semakin dimabuk kepayang.
*****
Jam weker yang berbunyi dengan nyaring di atas nakas, membangunkan Julia dari tidur lelapnya karena kecapekan setelah semalam dirinya berhasil menjadi istri yang seutuhnya untuk sang suami.
"Sayang, mau kemana?" tanya Dokter Arman yang ikut terbangun karena pergerakan sang istri yang semalam tertidur di lengannya.
"Juli harus cepat-cepat mandi dan segera menyiapkan sarapan untuk Asa dan Dika, Mas," balas Julia hendak beringsut.
"Nanti saja, Yang. Aku khawatir kamu kesakitan kalau berjalan. Biar aku telepon bibi, agar pagi ini dia yang menyiapkan sarapan untuk mereka," cegah Dokter Arman penuh perhatian.
Laki-laki matang itu kemudian mengambil ponsel dari atas nakas, mematikan wekernya dan segera menghubungi bibi asisten.
"Tapi Juli harus tetap keluar dan menemani mereka sarapan, Mas. Kalau Julia terus di dalam kamar, nanti Dika dan Asa khawatir," rajuk Julia, setelah sang suami menutup teleponnya.
"Baiklah," balas Dokter Arman yang akhirnya menuruti keinginan sang istri.
"Ayo, aku gendong." Tanpa menunggu persetujuan Julia, laki-laki tampan tersebut langsung membopong tubuh sang istri dan membawanya ke kamar mandi.
"Mas, Juli bisa mandi sendiri. Mas tunggu saja di luar," pinta Julia ketika melihat sang suami ikut melepaskan piyama yang dini hari tadi baru dikenakan setelah mereka kelelahan bercin*ta.
"Ijinkan aku memanjakan kamu, Sayang, selagi aku mampu melakukannya," ucap Dokter Arman, membuat Julia tiba-tiba menjadi sendu.
"Kenapa Mas berbicara seperti itu?" protes Julia.
Dokter Arman tersenyum dan kemudian mencium pipi sang istri dengan rasa sayang. "Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu menjadi sedih. Aku sayang kamu, Juli, dan aku ingin melakukan semua yang terbaik untukmu. Untuk Asa dan juga adik-adiknya kelak."
Julia reflek memeluk sang suami yang sudah polos, membuat Dokter Arman kembali bergetar.
__ADS_1
"Sayang, jangan menggodaku. Ini waktu yang sangat sensitif, Yang," protes Dokter Arman dengan tatapan yang mulai dipenuhi kabut gairah.
🌹🌹🌹🌹🌹 bersambung ...