
"Jalan sambil jongkok keliling lapangan 3 kali putaran!" perintah laki-laki bertubuh tinggi dan atletis itu padaku.
Aku hanya menatapnya kesal. Mengapa ia sekejam ini padaku? Kami sudah saling kenal sejak masa kanak-kanak.
"Kenapa kau melihatku begitu?!" bentaknya kasar. "Aku memang ganteng sih ...," ucapnya menatap wajahku.
"Ish ...." Aku mencibir dan menaikkan sebelah alisku. Tanpa komando lagi kukerjakan apa yang cowok itu perintahkan. "M ... dimana kau?" gumamku.
********
Hari pertamaku di sekolah ini begitu menyebalkan. Sangat! Masa orientasi ini membuatku ingin mati saja rasanya. Para seniorku mempermalukan dan menjadikanku bulan-bulanan. Aku heran, padahal hampir dari semua orang itu mengenalku. Ya, aku. Aku Amy, adik dari Ketua Murid SMA Elang ini. Herannya lagi sejak pagi aku tak melihat sekilas pun kakakku itu. Aku hanya bertemu Jimmi, sahabatnya, tetangga kami yang tadi pagi menghukumku untuk berjalan jongkok. Jika tahu akan begini, aku tidak mau masuk sekolah ini.
"Hey, kau tak perlu memusuhiku!" Jimmi meneriakiku di rumahku sendiri.
"Ya, tentu saja karena hatiku seperti malaikat!" balasku berteriak.
"Apa dia juga begitu padamu, M?" tanya Jimmi pada kakakku yang sedang serius membaca buku.
Aku keluar membawa dua gelas limun dan duduk di samping M. Kakak hanya tersenyum dan menggeleng pada Jimmi.
"Eh ... Amy, kenapa hanya dua?" tanya M mengambil segelas limun itu.
"Jangan harap aku mau buatkan untukmu, ya!" Aku menatap Jimmi jengkel sementara dia malah tertawa.
"Wah ... kalau marah begini, adikmu cantik juga ya, M?"
M tertawa. Sementara aku makin sebal saja pada mereka berdua. Aku merenggut segelas limun. Kutenggak habis lalu menuju kamarku dan meninggalkan dua orang itu. Tapi aku masih bisa mendengar apa yang diucapkan kakakku.
"Dia membencimu, Jimm ...."
*********
Hari ini panas luar biasa. Orang-orang berceloteh. Katanya neraka bocor, kalau masak telur bisa langsung matang, seperti di gurun pasir dan banyak lagi. Anehnya banyak sekali anak yang berdiri berteriak-teriak di pinggir lapangan. Ada apa ya? Apa ada anak berkelahi?
Perlahan kulangkahkan kaki menuju gerombolan yang di dominasi oleh perempuan itu. Aku mencoba mengintip apa yang sedang terjadi dari balik bahu mereka. Ah! Terlalu banyak yang menghalangi.
Eh ... ternyata ada pertandingan basket. Tapi aku tak bisa melihat dengan jelas dari sini.
"Kyaa...! Kakak M keren banget!!!" teriak salah seorang gadis yang dikucir dua. Ikat rambut yang dipakainya berwarna emas dan kelihatan mencolok.
"Dia memang keren! Tapi Olie juga gak kalah ganteng!" Gadis berkacamata berkata pada si cewe bertali rambut emas.
"Aku yakin tim kak M yang menang!" ujar si tali rambut emas.
"Tidak! Olie yang menang!" teriak si kacamata. Beberapa kali ia menyingkirkan poni yang menutupi sebagian matanya itu.
"Kecilkan suara kalian!" bentak seorang cowok di depan kedua gadis itu. "Yang akan menang adalah tim M. Tentu saja. Ada M dan Jimmi di tim itu. Tim kelas satu hanya ada Zack. Itu sudah jelas," lanjut cowok itu mantap.
Aku menjauh dari mereka, mencoba mencari tempat yang lebih baik dari situ. Sial! Hampir semua tempat penuh. Sepertinya pertandingan sangat penting. Tapi apa untungnya buatku? Tidak ada. Jadi, setelah sekian lama aku mencari dan tak menemukan lokasi yang tepat, aku memutuskan untuk beranjak dan pulang sampai seseorang memanggilku.
"Amy!"
Aku menoleh dan ternyata itu M dan beberapa orang berseragam basket lainnya. Pertandingan usai? Berapa lama aku berkeliling lapangan mencari pinggirnya yang kosong tanpa orang berdesakkan?
M melemparkan tas dan seragamnya padaku. Itu adalah caranya meminta tolong. Tanpa meminta atau permisi terlebih dahulu. Aku menangkapnya dan menunggunya agar melewatiku. Aku memang suka berjalan di belakangnya. Entah kenapa. Mungkin karena aku merasa aman berada di balik bahunya.
Tak lama seseorang melempar baju seragam ke bahuku. Orang itu hanya nyengir. Jimmi. Orang itu memang senang mengerjai dan mengodaku dari dulu. Aku merengut tanpa menghentikan langkahku. Aku merasa ada beberapa orang yang berjalan di belakangku. Kubalikkan badan sejenak demi melihat siapa saja di belakang. Buru-buru kubalik badan kembali ke depan.
Benarkah itu? Ya ampun! Cowok itu ganteng banget. Ada dua cowok di belakangku. Zack si anak kepala desa dan satunya mungkin pangeran yang tersesat di desaku ini. Tampangnya rupawan, berkulit bersih, hidung mancung, mata jernih dan kupikir aku menyukainya.
Akhirnya kami berlima duduk di kantin. Sepertinya aku akan ditraktir, hehehe. Aku penasaran siapa pangeran yang duduk di depanku ini. Ya! Dia di depanku. Aku bisa bebas memandangi wajahnya yang rupawan itu.
"Hei ... namaku Amy," ucapku mengulurkan tangan pada si tampan itu. Ia tersenyum dan menyambut tanganku.
__ADS_1
"Olie," katanya.
Lalu hal yang sama kulakukan pada Zack. Aku tak yakin dia sudah tahu atau mengenalku. Aku jelas mengenalnya karena dia emang terkenal sebagai anak kepala desa yang ganteng bahkan sampai desa sebelah.
"Zacharia. Panggil saja Zack."
Aku tersenyum padanya.
"Hey! Kau tak kenalan denganku?" protes Jimmi.
"Aku sudah berkenalan denganmu sejak balita," ujarku.
"Itu ...." Jimmi gak menerusan kata-katanya. Ia malah menggaruk rambut emo-nya hingga makin berantakan.
"Jimm ... kapan kita makan?" tanya M.
"Baiklah ... silahkan pesan. Aku yang traktir," ucap Jimmi.
Yes! Teriakku dalam hati. Meskipun telah seringkali ditraktir Jimmi tapi hatiku selalu gembira mendengar kata itu keluar dari mulutnya.
"Kecuali kau!" Jimmi menunjukku.
Payah! Apa dia mau balas dendam? Kuremas-remas seragamnya, berharap agar robek dan ia menyesal.
"Aku, kan, tidak punya alasan mentraktirmu. Kau bukan anggota klub basket," lanjutnya.
"Apa kau pikir membawakan seragammu ini tidak perlu energi?" Kupelototi dia.
M, Zack dan si tampan Olie tertawa. Jimmi memajukan bibirnya. Kemudian dengan cuek menggaruk rambutnya.
"Yeah ... baiklah. Kau juga kutraktir," ucap Jimmi.
Aku tersenyum menang dan menjulurkan lidahku ke arah Jimmi yang duduk di sebelahku. Jimmi adalah anak yang beruntung terlahir di keluarga kaya. Ayahnya punya lahan pertanian yang luas. Di samping itu ayahnya juga adalah seorang pedagang yang sukses. Gak jarang dia selalu mentraktir aku dan M. Itu salah satu yang kusukai darinya. Tapi bukan hanya itu saja. Aku ini bukan teman yang hanya menilai dari materi. Biarpun sering menggodaku, aku tahu Jimmi sebenarnya anak baik. Dia setia kawan dan peduli pada teman-temannya. Biarpun dia kaya, dia gak pernah pamer atau pilih-pilih teman.
Akhirnya pesanan kami datang. Roti bakar dengan jus jambu. Yummy! Tak bosan kupesan makanan ini. Maka dengan lahap kuhabiskan saja dalam waktu singkat.
"Kau sama dengannya, ya ... soal kecepatan makan," tuding Jimmi padaku.
"Memang kenapa?" protesku. Bisa-bisa imejku jelek di hadapan Ollie.
"Tidak kok ...." jawab Jimmi.
"Aku selesai terakhir, ya?" Akhirnya Ollie berkata-kata juga. Sepertinya tipe pendiam.
"Baiklah ... kita pulang kalau begitu ...." M mengambil tasnya dan berdiri disusul kami berempat.
Kami berlima beranjak dari kantin. Di gerbang, Zack dan Olie berpisah dari kami. Ugh ... aku belum puas melihat Olie, tapi apa boleh buat. Aku meneruskan perjalanan pulang bersama M dan Jimmi.
§§§
Aku tertawa melihat wajah dua teman sekolahku, Lewis dan Sifa. Kami sedang mengerjakan tugas matematika. Lewis mengerutkan kening sambil mengembungkan pipinya sementara Sifa memonyongkan bibirnya sambil bersungut-sungut. Soal yang satu ini cukup sulit. Aku sendiri sudah lima kali mengerjakan dengan cara berbeda-beda, tapi selalu mentok.
"Hey ... aku udah pusing, nih," kata Lewis. Ia mencoret-coret hitungannya barusan.
"Aku nyerah, guys!" seru Sifa melemparkan bukunya ke rumput. Ya, kami belajar di depan rumahku, di bawah pohon ek yang lumayan besar.
Aku masuk rumah dan mencari kakak. Kudengar alunan musik rock dari kamarnya. Kencang sekali. Kakiku melangkah memasuki kamar itu. Kulihat M berbaring di sudut kasur dan ... ihhh! Aku menutup mata melihat satu cowok lagi yang tertidur di sebelah M. Ia bertelanjang dada dan hanya memakai celana selutut. Bisa-bisanya tidur dengan suara berisik seperti ini. Kumatikan musik itu.
M menggeliat dan bangun.
"Ada apa?" tanyanya.
"Bisakah kau membantuku menyelesaikan tugas matematika?" tanyaku agak takut. Khawatir M marah.
__ADS_1
"Kau beruntung, ada Jimm di sini," katanya seraya melirik Jimmi.
Aku menaikan alis kananku dan memasang ekspresi bingung. Apa hubungannya?
"Jimm ahli ilmu eksak. Bangunkan saja dia." M bangun dan mengambil tangan kiri Jimmi. Melihat jam berapa sekarang dari jam tangan hitam yang melilit di tangan Jimmi, kemudian berlalu keluar. "Aku mau mandi!" teriaknya.
Membangunkan Jimmi? Ish ... malas banget aku meminta bantuan padanya. Kulangkahkan kaki menjauhi tempat tidur. Baru sampai di depan pintu kamar, aku berbalik. Kuingat kata-kata Pak Anton, guru matematika. Dia bilang jika nilai tugas kali ini di bawah 70, maka kami diharuskan ikut jam tambahan matematika 8 jam seminggu. Mengingat itu sungguh membuat kebebasanku terancam. Lama sekali 8 jam? Aku bergidik. Kulirik Jimmi yang masih tidur. Perutnya turun-naik teratur seirama embusan napasnya.
Dengan langkah berat kudekati tubuhnya. Aku duduk di samping kasur. Di kamar M memang tak ada dipan. Hanya kasur yang beralaskan karpet.
"Jimm ... bangun!" ucapku. Ku dorong-dorong badannya dengan lengan kiriku sementara tangan kananku kujadikan tumpuan. Aku berjongkok menjauhi tubuhnya sedikit sambil terus ku goyang tubuhnya. "Hei ... Jimmi, bangun! Bangun, gak?!" kali ini aku agak berteriak.
Jimmi bergerak. Tubuhnya miring ke kanan, menabrak lengan kanan yang menjadi tumpuanku dan sukses mendaratkan tubuhku di perutnya.
"Sial ...!" desisku.
"Hei ... sedang apa kau? Bangun!" perintah Jimmi padaku.
Aku buru-buru bangun dan berdiri di samping tubuhnya. Jimmi menatapku dan nyengir. Akhirnya ia bangun dan memakai kaos hijau army yang ada di dekat kakiku.
"Amy ... warna hitam itu gak cocok buatmu." katanya membuatku bingung. Aku memperhatikan tubuhku. Aku tak memakai baju atau aksesoris hitam. Apa rambutku? OMG!!! Sial! Sial! Sial! Aku baru menyadarinya. Kurasa wajahku memanas. Dia pasti melihatnya tadi. Aku lupa kalau aku pakai rok sekolah.
"Bukan salahku, ya. Salahmu sendiri berdiri seperti itu." Jimmi sudah berdiri di hadapanku.
"Ehm ...." Aku berusaha menormalkan suaraku. Tenggorokanku tiba-tiba terasa kering.
"Aku ... mau minta tolong padamu." ucapku berusaha menyembunyikan rasa malu.
"Apa?" Jimmi mendekatkan wajahnya padaku.
Apa-apaan sih dia? Perasaanku tiba-tiba deg-degan. Aku mundur selangkah. Ia mengikuti langkahku.
"Tolong ... bantu aku ngerjain tugas matematika."
"Baiklah ...," ucap Jimmi yang dengan santainya meregangkan otot-otot tubuhnya.
Jimmi mengikutiku menuju halaman. Di sana Sifa dan Lewis sudah menunggu. Aku buru-buru duduk di samping Sifa.
"Hai ... manis. Namaku Jimmi," ucap Jimmi pada Sifa.
"Aku Sifa," ucap Sifa. Aku yakin Sifa merasa tersanjung dibilang manis. Buktinya ia tersipu.
"Hei, Lewis. Kapan kita main PS bareng lagi?" Jimmi nyengir.
"Yang jelas tidak sekarang. Lagipula kalau main denganmu aku sering kalah," ucap Lewis malas.
"Baiklah ... apa yang bisa kubantu?"
Lewis membuka buku dan mulai menunjukkan bagian mana saja yang tak kami mengerti. Jimmi mulai menjelaskan satu per satu. Ia menerangkan dengan detil. Yang dia katakan lebih mudah di cerna ketimbang penjelasan Pak Anton. M tidak salah. Jimmi memang jago. Eh ... M bilang dia jago ilmu eksak, berarti fisika dan kimia juga, ya? Aku terkikik dalam hati. Menyesal baru tahu keahlian manusia satu ini.
"Hati-hati di jalan, Manis," ucap Jimmi sambil mengedipkan mata pada Sifa yang pamit pulang. Sifa tersenyum malu lalu berbalik dan berjalan bersama Lewis menjauhi kami.
"Jangan coba-coba menggodanya, Jimm." kataku ketika punggung mereka telah tak terlihat.
"Memang kenapa? Dia manis, kok." Jimmi menyilangkan tangannya di dada.
Aku menatapnya kesal. Lalu kupukul kepalanya dengan buku yang ada di tanganku. Ia meringis.
"Kenapa sih kau?" tanyanya mengelus kepalanya.
Itu untuk kejadian di kamar tadi. Aku diam dan buru-buru masuk kamar.
Bersambung
__ADS_1
------
Hai, author di sini. Semoga cerita ini menghibur kalian. Jangan lupa add ke favorit agar segera mendapat info update chapter baru.