He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Who's Wrong?


__ADS_3

Di bawah pohon ek yang cukup besar itu, sebuah tikar tergelar. Seorang cowok yang tinggi dengan rambut undercut duduk dengan lutut ditekuk, begitu pula wajahnya. Wajah dengan hidung mancung dan mata cokelat kemerahan itu tampak tidak keruan. Memar ringan menghiasi sudut bibir serta pipinya.


"Aku beneran minta maaf, Jimm." M menghampiri cowok tinggi itu dan menyodorkan kotak P3K.


Jimmi tidak bereaksi. Ia masih shock dan tidak percaya karena M benar-benar menghajarnya.


"Kau marah? Hei, Jimm ...." M meletakkan kotak P3K di samping Jimmi. "Biar kuminta Amy mengobatimu."


Baru saja akan beranjak, tangan M ditarik Jimmi hingga cowok itu terjatuh. "Jangan!“ tolak Jimmi.


"Kenapa? Lukamu pasti cepat sembuh."


"Tak usah. Nanti malah makin parah lukanya."


"He?" M bengong sejenak. "Kok, bisa?"


"Bisa. Soalnya aku tidak bisa tidak menggodanya. Nanti dia bar-bar. Kau ingat gimana birunya tangan Lewis ketika di bus?" Jimmi membuka kotak P3K, mengeluarkan kapas, alkohol dan cairan iodine.


"Dasar, kau! Kalau begitu kuambilkan minum," M berdiri, cowok yang kini hampir botak itu tersenyum memamerkan lesung pipitnya.


Saat M memasuki beranda rumah, Amy keluar. Melihat kakak beradik itu berpapasan membuat Jimmi sadar kalau mereka memang mirip. Apalagi sekarang rambut keduanya sama-sama botak. M terlihat seperti Amy dan Amy terlihat seperti M. Yang membedakan hanya postur tubuh mereka saja. Amy hanya sebatas telinga M dan tubuhnya lebih mungil.


Kalau saja M adalah cewek, Jimmi tak akan ragu untuk menjadikan sahabatnya itu pacar. Tanpa sadar Jimmi tertawa sendiri, geli dengan pemikirannya yang gila barusan.


"Benar, kan, kau itu sinting, Jimm!" Amy tahu-tahu sudah duduk di samping Jimmi.


Jimmi berdeham untuk menetralkan perasaannya. Namun, melihat wajah Amy membuatnya tergelitik kembali.


"Kau ngetawain aku?" tanya Amy melihat Jimmi bersusah payah menahan tawa.


"Bukan. Gede rasa!" Tangan Jimmi kembali membersihkan wajahnya dengan alkohol. Karena tidak terlihat, yang Jimmi bersihkan malah bukanlah area luka.


Melihat memar di wajah sahabat kakaknya itu, Amy sedikit iba. Padahal Jimmi telah membantunya tapi malah mendapat hajaran M.


"Maaf, ya," kata Amy. "Kau jadi harus begini."


"Harusnya kau katakan saja dari awal pada M. Pasti wajah gantengku ini gak bakal terluka!" seru Jimmi sambil terus berusaha mencapai daerah lukanya yang terasa perih.


"Kau sendiri kenapa tidak berani bilang?"


Jimmi berpikir keras bagaimana untuk mengatakannya. Bahwa sebenarnya ia tidak memiliki kosa kata yang tepat untuk kejadian itu. Apalagi hal itu sangat sensitif bagi para cewek. Alih-alih menjawab, cowok itu malah memamerkan gigi-giginya dengan bibir yang melengkung.


Amy merebut kapas dari tangan Jimmi. "Bukan di situ yang luka," ucap Amy. "Sini biar aku bersihkan."


"Eh, tidak usah. Biar aku saja," tolak Jimmi.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kau membersihkan wajah? Lihat pipimu! Masih banyak tanahnya!" seru Amy. Kemudian ia mendaratkan kapas beralkohol pada pipi Jimmi yang perlahan merona. Namun Amy tidak memedulikan perubahan itu. Ia terus menyeka wajah Jimmi hingga ketika di bagian memar, ia sengaja menekannya keras-keras.


"Argh!!!" Jimmi menjauhkan wajahnya. "Sakit, tahu!"


"Tidak apa, biar cepat sembuh." Amy menuangkan obat luka di kapas kemudian bersiap menarik wajah Jimmi.


Cowok itu melompat mundur dengan sigap, "Gak. Terima kasih! Tidak usah." Jimmi lari menghindari Amy yang sepertinya berniat mengejarnya. Jimmi tahu kalau Amy sedang dalam mode balas dendam.


Kejar-kejaran sempat terjadi sampai seseorang datang dengan sebuah mobil kijang cokelat yang butut. Amy dan Jimmi berhenti dan dengan penasaran menanti siapa yang akan keluar mobil.


"Kalian berdua masih main kucing-kucingan, ya?"


Pintu mobil terbuka dan tampaklah seorang pria dengan janggut dan kumis lebat tengah tersenyum.


"Ayah!"


Bukan suara Amy atau Jimmi yang terdengar lebih dulu, tapi M yang buru-buru keluar rumah dan menghambur ayahnya. Amy menyusul kakaknya untuk memeluk sang ayah yang sudah lama tak pulang.


"Wah, ayah punya anak kembar sekarang," ucap pria bernama Jerome itu. Ditepuknya pundak anak-anaknya.


"Halo, Paman!" Jimmi melompat dan memeluk Jerome. "Bawa oleh-oleh apa?"


"Air laut khusus buatmu, Jimm," jawab Jerome sembari memamerkan sebuah toples berisi air yang agak keruh.


"Ah, Paman selalu begitu."


"Ini--"


Baru akan menjawab, M sudah menginjak kaki kiri Jimmi dan membungkam mulut sahabatnya itu.


"Dia jatuh ketika memanjat pohon, Ayah! Anak ini memang masih bandel," kata M buru-buru sebelum Jimmi menyelesaikan kalimatnya.


Jimmi mendelik pada M dan balik menginjak kaki M. "Ah, kebetulan Paman pulang," ucap Jimmi ketika berhasil menyingkirkan tangan M dari mulutnya. "Waktunya pas sekali."


"Memang ada apa?" tanya Jerome seraya berjalan ke bagasi mobil dan membukanya. Jimmi dan M menyusul untuk membantu mengangkut barang-barang dari dalamnya.


"Paman tahu? Calon menantu Paman ada di sini!" seru Jimmi yang langsung mendapat sikutan dari M.


"Oh, ya? Dimana?" tanya Jerome. Ia mengerutkan alis dan menjelajahi sekeliling dengan pandangannya.


"Di sini. Jimm bilang dia mau menikahi Amy." M menelengkan kepala pada Jimmi yang tengah memindahkan koper.


"Bohong!" teriak Jimmi dan Amy bersamaan. Keduanya menatap tajam M dengan wajah yang memerah. "Pacar M ada di sini!" Lagi-lagi Amy dan Jimmi kompak.


Pada saat itulah Weni keluar dengan beberapa buku di tangannya. Gadis itu tidak mengetahui apa yang terjadi. Ia sedikit malu karena semua orang kini menatapnya. Perlahan Weni mendekati M yang tengah menaruh kardus di beranda rumah.

__ADS_1


"A-aku pinjam buku yang ini," ucap Weni menunjukkan beberapa buku yang telah dipilihnya dari tumpukan buku koleksi Amy dan M sedari tadi.


"Itu maksudku," bisik Jimmi yang tengah berdiri dekat Jerome.


Jerome melirik Amy dan gadis itu mengangguk mengiyakan perkataan Jimmi.


"Sepertinya kutukan keluarga ini adalah para wanitanya pandai bela diri," gumam Jerome melihat Weni memakai baju karate. "Dia seniormu di klub?" tanya Jerome pada Amy.


Amy hanya mengangguk. Ia memang masuk klub belakangan dari Weni, tapi kemampuannya lebih baik. Kecuali kemampuan untuk mengontrol emosi.


"Jadi, dia teman dekatmu?" Jerome mendekati M dan Weni.


"Bisa dibilang gitu," ujar M malu-malu, membuat wajah Weni memerah seketika.


"A-aku mau pamit. Ini sudah terlalu sore," ucap Weni.


"Baiklah. Biar kuantar sampai jalan besar." M meraih topinya yang tergeletak di lantai kemudian pamit pada Jerome.


"Dia cantik, kan, Yah?" tanya Amy pada ayahnya ketika M dan Weni telah pergi.


"Ya. Kenapa? Kau cemburu padanya? Makanya bergegaslah cari pacar juga." Jerome terkekeh. Dielusnya kepala Amy pelan.


"Memang apa untungnya pacaran?" Mulut Amy mengerucut dengan wajah tertekuk.


"Tanya sama kakakmu. Memang, kau belum pacaran dengan Jimmi?" tanya Jerome. Matanya mengekor Jimmi yang tengah membawa tas besar ke dalam rumah. "Dia ganteng, kok. Anak yang baik juga. Sepertinya akan enak punya menantu seperti dia."


"Apa, sih, Ayah?" protes Amy. Telinganya terasa panas.


"Paman, aku pulang dulu, ya!" Jimmi berlari keluar rumah dan menghampiri Jerome, sementara Amy masuk ke dalam dan langsung masuk kamar begitu melihat cowok itu keluar.


"Kau gak makan di sini, Jimm?"


"Ah, enggak. Mungkin besok." Jimmi tersenyum kemudian mengambil tas yang masih tergeletak di tikar di bawah pohon ek. Setelahnya ia melangkah pulang.


Jerome memandangi pundak Jimmi hingga menghilang di kejauhan. "Mereka sudah besar," gumamnya seraya masuk ke dalam rumah.


Bersambung...


-----------


Halo, terima kasih banyak atas dukungan kalian semua untuk Lemon Love...


Jangan lupa add to favorite ya...


Ps: Lemon Love akan up setiap hari sampai akhir bulan. ^^

__ADS_1


Pastikan kalian gak ketinggalan, ya...


__ADS_2