He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Forgive Me


__ADS_3

Hari-hari begitu cepat berlalu bagi orang-orang yang tidak menantikan apapun di masa depan. Musim kemarau tahun ini Amy telah duduk di kelas XII. Hari-hari tidak pernah begitu singkat untuk gadis itu. Amy terus berjuang untuk mendapatkan nilai-nilai bagus di setiap mata pelajaran. Ia ingin menjadi seorang kriminolog dan tekadnya sudah bulat.


Amy menantikan hari-harinya kembali bersama kakaknya, juga bersama Jimmi. Sebenarnya itu bukan tujuan utamanya. Ia memang ingin kembali bersama dua orang yang disayanginya tetapi Amy cukup dewasa untuk menentukan prioritasnya. Gadis itu telah berjuang keras sepanjang semester untuk mencapai cita-citanya. Amy menantikan hari dimana ia bisa menebak motif seorang penjahat dengan tepat, atau menyusun kronologi sebuah kejahatan. Paling jelek ia bisa jadi seorang jurnalis yang meliput kejahatan.


"Am, kita belajar bersama lagi hari ini?“ tanya Lewis yang mendadak rajin belajar sejak naik kelas XII.


"Kayaknya gak bisa. Aku mau latihan karate," jawab Amy yang serius membaca buku sambil mengunyah keripik kentang dengan berisik.


"Kenapa kau gak berhenti aja? Kita sebentar lagi tidak diperbolehkan ikut klub apapun," ujar Lewis sembari mengambil keripik kentang Amy.


"Itu masalahnya. Sebelum kegiatan klub tidak diperbolehkan, aku mau ganti sabuk."


"Lagi?“ tanya Lewis heran.


Amy menutup buku dan menatap Lewis, kemudian ia mengangguk. "Ya. Aku mau sabuk hitam," ujarnya mantap.


"Kau jadi ambisius sekali, sih...."


"Tidak ada yang salah dengan itu, kan?“ Amy meraba kantong keripiknya. Kosong. Ia menoleh pada Lewis yang kedua tangannya telah dipenuhi keripik kentang. "Ck! Beli sendiri, dong, Lew!“ Kemudian ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebatang cokelat yang didapatkannya dari Zack. Cowok itu masih menjadi gudang tempat Amy mendapatkan cokelat-cokelat lezat.


Lewis hanya terkekeh kemudian ia melambaikan tangan dan pergi ke luar kelas.


"Am!“


Amy sudah tahu benar suara siapa itu. Ia melihat Zack yang sudah pasti duduk di bangku depan, tengah melihatnya dan sebentar lagi pasti meminta tolong.


"Tolong aku. Bantu bikin pidato akhir masa jabatan, ya?"


Nah, kan!


Amy memasukkan satu bar cokelat ke dalam mulutnya. Gadis itu menaikkan sebelah alis.


"Kau mau berapa cokelat?“ tanya Zack. Cowok itu paham kalau Amy lebih mudah disogok makanan manis.


Amy tidak menjawab. Ia mengunyah cokelatnya santai.


"Lima batang cokelat Silverking big size?“ Zack tidak melihat perubahan ekspresi dari teman sekelasnya itu. "Plus dua liter jus jambu."


Amy buru-buru menyalami Zack. "Deal," katanya.


Zack mengembuskan napas pelan. "Di perpustakaan umum, jam tiga?“


"Ah!" Amy menepuk jidat. "Hari ini gak bisa. Besok saja di rumahk—Larry." Amy hampir mengakui kalau rumah yang ditinggalinya sekarang itu adalah rumahnya.


"Oke." Zack berbalik kemudian ia merogoh sesuatu di tasnya. Dua batang cokelat ukuran besar diraihnya kemudian diserahkan pada Amy. "Itu uang mukanya," ujar Zack. Kemudian cowok itu pergi meninggalkan Amy.


"Trims." Amy menyeringai. Ia merapikan cokelat itu ke dalam tas kemudian kembali membaca buku seolah tidak ada yang terjadi.


*******


*Am, aku minta maaf. Aku dan M tidak bisa pulang liburan semester ini. Kami sedang mengerjakan proyek sains kampus dan itu tidak bisa kami tinggalkan begitu saja. Aku sangat menyesal. Semoga kau mengerti.


Yang merindukanmu,


Jimmi*


...


Amy melempar ponselnya ke kasur kemudian ia ikut melompat ke sana. Diraihnya guling yang tergeletak kemudian dipukulnya berkali-kali sampai isinya bertebaran. Gadis itu terengah-engah. Sekarang rasa kesalnya mulai mereda.


Di lemari belajarnya terpajang foto Amy bersama M dan Jimmi yang tengah mencium pipinya. Ia meraih foto itu dengan gusar.


"Jadi, proyek sains kalian lebih penting, he?" gumam Amy seraya mengguncang-guncang foto dengan bingkai kayu cokelat muda itu. "Kalian sudah janji akan pulang, kan?"


Amy melempar foto itu, lagi-lagi ke kasur. Ia tak sampai hati nemecahkan foto kenangan saat M dan Jimmi lulus itu.


"Aaarrrggghhh!!!“


Amy terduduk lemas di lantai yang beralaskan karpet. Kemudian perlahan ia memerosotkan diri untuk berbaring.


"Amy?! Kau tak apa?“ terdengar teriakan ibu Jimmi dari luar.


Amy refleks bangkit. Ia menyingkirkan guling beserta isinya yang amburadul ke samping ranjang. Tak lama terdengar ketukan di pintu.


"Amy, kau baik-baik saja?"


Amy merapikan rambut dan bajunya sebelum membuka pintu kamar. "Ya, kenapa, Bi?"


Mrs. Larry menatap Amy kemudian mengedarkan pandangan ke seantero kamar. "Kenapa kau berteriak?"


"Ah ... tadi kupikir ada kecoa di bawah meja belajar, ternyata bukan," jawab Amy dengan karangan fiksi buatannya.


"Oh, begitu. Bikin kaget saja."


"Maaf, Bi."


"Ya, sudah. Ayo lekas sarapan!“ ajak Mrs. Larry.


"Sebentar lagi, Bi. Aku belum membereskan buku-buku."


Mrs. Larry mengangguk kemudian ia pergi menuruni tangga menuju ruang makan.

__ADS_1


Amy segera membereskan kekacauan di kamarnya. Hampir saja ia ketahuan tengah mengamuk oleh Mrs. Larry. Kalau ibu dari Jimmi itu tahu, habis sudah ia. Amy bisa kena hukum untuk menggantikan Merry membersihkan rumah selama satu minggu. Amy pernah mendapat hukuman itu ketika ia merusak bunga-bunga kesayangan Mrs. Larry yang tumbuh di sekeliling gazebo. Untunglah kali ini ia bisa selamat.


*******


"Hei, angkat teleponnya!“ seru Zack ketika ponsel milik Amy bergetar untuk yang kesekian kalinya.


"Tidak usah." Amy mengambil ponsel kemudian mematikannya. "Kita lanjut!"


"Sepertinya itu telepon penting, Am. Kenapa kau tidak menjawabnya?“ tanya Lewis yang juga tengah belajar bersama Amy dan Zack di gazebo Mrs. Larry.


"Gak penting. Itu dari orang iseng." Amy melanjutkan telaahannya mengenai integrasi sosial.


Two in my heart ...


Zack buru-buru mengangkat teleponnya. Ia menjauh keluar dari gazebo. "Halo? Ya? Oh, aku sedang belajar bersamanya." Zack melirik Amy. "Oh, baiklah ...." Cowok yang mengenakan sweater hijau mint itu kemudian menghampiri Amy dan menyerahkan ponselnya.


"Dari siapa?" tanya Amy. Ia belum mau menerima ponsel Zack.


"Pacarmu."


Amy menerima ponsel Zack kemudian menekan tombol merah tanpa ragu.


"Hei! Kenapa dimatikan?“ tanya Zack yang kembali menerima ponselnya dari Amy.


"Kalau dia telepon lagi bilang aku sedang tidak mau diganggu."


"Whoaaa, apa ini? Kalian bertengkar?" Lewis menutup buku dan menghampiri Amy. Tak lama ponselnya bergetar juga.


"Halo?“ kata Lewis. "Ah, iya. Oke."


"Siapa?“ tanya Zack ingin tahu.


"Jimmi."


"Dia nanyain Amy?“ cecar Zack.


"Tidak."


"Dia mengingatkanku untuk online nanti malam. Kami mau main game online bareng."


Amy meradang mendengar ucapan Lewis. Rasanya kesal mengetahui Jimmi punya waktu untuk bermain game online. Bukankah ia dan kakaknya terlalu sibuk sampai tidak bisa pulang?


"Ini, Zack. Pidatomu sudah jadi." Amy menyerahkan sebuah flashdisk pada Zack. "Kita sudahi dulu sosiologinya, Lew. Aku ada urusan lain," ujar cewek berambut pendek itu seraya merapikan laptop dan buku-bukunya kemudian pergi meninggalkan Zack dan Lewis yang baru menyadari kalau situasi menjadi tidak enak.


*******


*Apa kau masih marah, Am?


Jimmi*


...


Amy menarik napas panjang. Entah itu email permintaan maaf ke berapa dari Jimmi. Setiap hari ia mendapatkan minimal satu surat elektronik darinya dengan inti yang sama. Setelah Amy mematikan telepon Jimmi dari ponsel Zack, cowok itu tidak pernah menghubunginya lagi.


"Hei, Amy. Bagaimana ciuman pertamamu? Bikin deg-degan, kan?“ tanya Val yang tengah mengangkat gelas jusnya di kantin sekolah.


Amy menyeruput jus jambu sampai habis. Hal yang seperti ini yang selalu berusaha ia hindari.


"Jangan malu-malu, ayolah! Ceritakan pada kami kapan kau melakukannya dengan Kak Jimmi?" desak Sifa.


Amy ingin lari segera dari tempatnya duduk. Memangnya ia pernah berciuman dengan sahabat kakaknya itu? Jimmi bahkan selalu menjaga jarak ketika mereka berkencan. Mana ada ciuman pertama!


Tunggu! Amy mengingat sesuatu, ketika bulan purnama dan ia berbohong pada M.


"Aku tidak ingat," kata Amy akhirnya.


"Ya, ampun! Anak ini! Seolah itu bukan hal penting saja!“ Val menggebrak meja, membuat perhatian orang tertuju padanya.


"Kurasa itu memang bukan hal penting." Amy bangkit kemudian meninggalkan dua sahabatnya di kantin.


*******


Amy tidak pernah lagi berusaha menghubungi Jimmi atau kakaknya. Gadis itu memang keras kepala. Sekali ia memutuskan untuk tidak mau tahu, maka ia akan melakukannya. Ia bahkan tidak lagi membaca email dari Jimmi lagi.


Buku-buku dan teman-temannya menjadi pelarian atas kekecewaannya. Amy bahkan sering nongkrong di perpustakaan umum sampai tempat itu tutup. Ia juga mulai sering menginap di tempat Val atau Sifa.


Rumah Larry adalah tempat terakhir yang ingin Amy kunjungi, terutama kamar yang ditinggalinya sekarang. Kamar itu mengingatkan Amy pada si pemilik aslinya. Apalagi barang-barang Jimmi masih utuh di tempatnya masing-masing.


Amy selalu merasa sesak setiap kali melihat itu semua. Ia sampai menyalahkan diri sendiri karena mempunyai perasaan yang tidak membahagiakan itu. Dan ia benci pada dirinya yang tidak bisa menghilangkan perasaan itu.


"Amy, kenapa kau jarang tidur di rumah akhir-akhir ini?“ tanya Mrs. Larry suatu kali ketika mereka sarapan bersama. "Apa ada hal yang membuatmu tak nyaman di sini?"


"Maaf, Bibi Magda. Aku hanya sedang ada tugas bersama saja. Kebetulan sampai larut jadi mau gak mau harus menginap," jawab Amy sebelum menggigit selembar roti.


"Ck! Jangan jadi seperti Jimmi!“ seru Mrs. Larry. "Tidur di rumah. Ajak saja temanmu itu yang menginap di sini."


Sejak saat itu, Amy memang tidak pernah tidur di rumah teman-temannya lagi. Namun, ia juga tidak tidur di kamar. Amy memilih untuk tidur di sofa ruang keluarga yang terletak di depan kamar. Gadis itu bersikeras tidak mau berlama-lama berada di kamar Jimmi.


*******


Satu semester hampir berlalu. Amy menjalani kehidupannya dengan menyibukkan diri dengan apapun. Apapun yang mencegahnya menghadapi kesendirian. Ia tidak pernah mengontak kakak dan pacarnya lagi. Ketika mereka mengontaknya pun, Amy masih mengabaikannya.

__ADS_1


"Am ...!“ Olie melambaikan tangan pada Amy yang tengah duduk di taman sekolah dengan sekotak jus jambu dan buku fiksi.


"Ada apa?“ tanya Amy heran. Tidak biasanya cowok super ganteng itu mencarinya.


"Mrs. Larry memanggilmu."


Dengan satu kalimat itu saja, Amy segera menemui orang yang menjadi walinya itu. Ia mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilakan.


"Hasil ujianmu bagus," ucap Mrs. Larry datar. "Sebenarnya ada hal yang harus kukatakan padamu. Hari ini jangan pulang terlambat. Kita bicara di rumah setelah makan malam."


"Eh? Di rumah?“


"Ya." Mrs. Larry merapatkan jemarinya di atas meja. "Hal ini terlalu panjang jika kita bahas di sini. Sebaiknya kita bicarakan di rumah."


Amy mengerutkan dahi. "Tentang apa itu, Ma'am?“


Agak ragu Mrs. Larry menjawab, "Tentang ... sekolah."


Amy tidak bersuara lagi. Ia kemudian undur diri dan kembali melanjutkan kegiatannya.


Sore ini sebenarnya Amy ingin menyambangi perpustakaan umum. Ada sebuah kegiatan rutin yang dilakukan oleh komunitas pecinta buku di sana. Tentu saja, Amy harus membatalkan niatnya.


Sepulang latihan karate, Amy pulang. Ia langsung menuju kamarnya yang berbeda di lantai atas. Dibukanya pintu kamar yang tidak tertutup rapat, membuat Amy yakin kalau Merry sedang membersihkan kamarnya.


Akan tetapi, yang ia temukan adalah dua orang cowok yang tengah tertidur tengkurap di kasurnya. Amy menjatuhkan tasnya. Diambilnya penggaris besi di meja belajar kemudian dipukulnya dua orang itu.


"Bangun! Jangan tidur di sini!" bentak Amy. Ia tahu persis siapa dua orng itu.


"Kami lelah, Am. Biarkan kami tidur dulu," ucap salah satu dari mereka.


"Banguuun!“ Amy memukul mereka lebih keras.


"Sakit, Am!“


"Pergi tidur di kamar bawah!“ usir Amy.


"Kuncinya tidak ada. Ibu belum pulang."


"Ck!" Amy melempar penggaris kembali ke meja belajar. "Suka-suka kalian lah!“


"Hei, kau tidak kangen kami, Am?“


Amy menatap wajah kakaknya dengan kesal. "Tidak!“ jawabnya jutek. Ia membuka lemari dan mengambil beberapa potong pakaian.


"Tapi aku kangen padamu!“ Jimmi membalik badan dan melihat Amy yang masih memakai seragam klub karate sekolah.


"Itu masalahmu, bukan masalahku!“ Gadis itu pun pergi dengan membanting pintu keras-keras.


"Lihat? Dia marah besar, M!“


"Dia marah padamu, bukan padaku."


"Yang benar saja. Dia juga kesal padamu!“


"Nanti juga dia baik lagi padaku."


Jimmi membuang napas. "Aku lupa bagaimana cara membuatnya baik kembali."


"Kali ini dia benar-benar marah," ujar M. Ia tahu kalau Amy juga marah padanya. "Harusnya begitu dia datang tadi, kita bangun dan langsung memeluknya, Jimm."


"Benar. Kalau begitu kita lakukan ketika dia kembali."


Saat pintu kamar kembali terbuka. M dan Jimmi bangkit dan berteriak, "Amy!“ Namun, gerakan mereka terhenti mengetahui bukan Amy yang datang.


"Kenapa kalian berdua di sini? Mana Amy?“ Mrs. Larry berdiri di depan pintu dengan mata melebar.


"Dia ...."


"Aku di sini, Bi!“ sahut Amy dari balik sofa. Ia telah mandi dan berganti baju.


"Kalian berdua, pergi dari kamar ini. Pakai kamarmu yang di bawah, Jimm!"


"Kuncinya?“


Mrs. Larry bergegas menuju kamarnya kemudian ia memberikan sebuah kunci pada anak bungsunya. "Kalian tidak boleh masuk kamar anak gadis sembarangan!“


Bersambung...


______________


*Hola Readers,


Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini pada He Is Not My Brother. Like, komen dan vote kalian sangat berarti besar bagi author*. ^^


Find me on:


Fb: Hi Gaez Itz Revka


Ig: @its_revka


Wp: @Revka09

__ADS_1


Storial: @Revka09


__ADS_2