He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Di Bus


__ADS_3

Bagaimana pun, sulit bagi Jimmi untuk menghindari Amy tanpa menghindari M. Sebab M selalu ada di dekat Amy, di luar sekolah pastinya. Karena itu ia memutuskan untuk mengurangi frekuensi berkunjung ke rumah M.


Perkataan Amy tempo hari membuat Jimmi tidak enak hati. Ia berpikir mungkin memang ia telah membebani Amy dengan perasaannya. Maka Jimmi bertekad untuk menjauhi Amy, sekalipun di dalam hati ia tidak mau.


Sore ini tidak ada latihan basket karena besok adalah pertandingan final LBN. SMA Elang vs SMA Naga, seperti dua tahun sebelumnya. Jimmi memutuskan untuk pergi ke tukang pangkas rambut dan mengubah gaya rambutnya. Ia butuh sesuatu yang baru. Terutama semangat baru.


"Mau model seperti apa?" tanya si tukang cukur langganan Jimmi yang rambutnya selalu berwarna-warni itu. "Yang biasa?"


"Jangan. Yang sedang tren seperti apa?"


"Oh, gimana kalau undercut?" Tukang cukur berambut biru itu menyerahkan sebuah katalog pada Jimmi. Ia membuka sebuah foto laki-laki dengan potongan rambut yang tipis di kedua sisi, sementara bagian tengah rambutnya tetap dibiarkan panjang dan disisir rapi ke arah kiri.



"Boleh," jawab Jimmi. "Yang bagus, ya ...."


"Oke. Tenang aja," ujar si tukang cukur dengan sedikit gemulai.


Helai demi helai rambut terjatuh. Si tukang cukur bekerja dengan cekatan. Barber shop ini memang memiliki reputasi yang bagus di daerah sini.


Ketika si tukang cukur selesai menyisir dan meminta Jimmi melihat hasilnya di cermin, Jimmi tersenyum cerah.


"Gak jelek," gumamnya.


"Ini sempurna, tahu? Lihat, kegantenganmu bertambah!"


Jimmi tertawa mendengar ucapan si tukang cukur. Ganteng atau tidak, rasanya ia tidak peduli. Ia hanya ingin sesuatu yang baru di dirinya.


Setelah membayar, Jimmi melangkah keluar dari barber shop itu. Kepalanya agak ringan sekarang. Sepertinya ia mulai bisa berpikir jernih. Ia pun memutuskan untuk pulang. Biasanya, ia akan segera pamer rambut baru pada M. Namun, kali ini ia harus menunggu sampai besok untuk melakukannya.


.


§§§


.


"Hei, Jagoan! Mau ikut wajib militer?" ledek sebuah suara.


Jimmi tersenyum. Ia menoleh dan mendapati sahabatnya telah berdiri di samping kursinya.


"Kalau itu bisa menyembuhkan patah hati, aku, sih, mau saja," jawab Jimmi. Dibukanya tas dan dikeluarkannya bolpen dan buku tulis.


M segera duduk di samping Jimmi. "I'm sorry, Jimm. I can't help you," ucap M menyesal.

__ADS_1


"Gak masalah. Aku gak apa-apa, M."


M menepuk pundak Jimmi kemudian mengguncangnya pelan. "Kau sampai memotong rambut. Seperti anak perempuan saja."


Jimmy hanya tersenyum kecut. "Bagaimana kabarnya?"


"Baik. Hanya sedikit uring-uringan. Apalagi saat pelatih bilang kalau tugasnya hanya sampai final hari ini saja."


"Jadi, dia akan datang pas pertandingan nanti?" tanya Jimmi. Ia memelankan gerakan tangannya yang tengah menggambar tokoh komik populer.


"Harusnya begitu. Sekalian pamitan."


"Oh, begitu."


Jimmi melanjutkan goresan tintanya. Namun, diam-diam ia senang karena hari ini bisa melihat Amy. Sepanjang hari itu terasa sangat panjang karena Jimmi menantikan bel pulang berdering. Ia terus-terusan melirik jam tangan dan jam dinding di depan kelas bergantian.


.


§§§


.


Hari ini, seperti setiap kali ada pertandingan resmi, Amy mempersiapkan semuanya. Mulai dari akomodasi, katering hingga perlengkapan para pemain. Semua sudah ia atur.


Sebuah bus kecil telah terparkir di depan sekolah. Tinggal menunggu para pemain datang. Sementara Amy masih sibuk menerima box yang berisi makanan dan air mineral bersama Pelatih Emil.


"Apakah semua sudah dicek ulang?" tanya Pelatih Emil ketika bel pelajaran terakhir berbunyi.


Amy mengangguk, "Sudah."


"Baiklah, kita sudah melakukan yang terbaik. Semoga anak-anak itu juga."


Amy mengangguk sekali lagi. Ia masuk ke dalam bus dan seperti biasa, duduk di bangku paling depan, sebelah jendela, dekat pintu masuk.


Satu per satu anggota tim basket berdatangan. Murid kelas X yang pertama terlihat. Disusul oleh beberapa tim inti.


"Hei, Am! Apa kabar?" tanya Zack saat memasuki bus.


"Aku baik-baik saja," jawab Amy.


"Oh, iya, sepertinya murid kelas XII akan keluar agak terlambat. Ada pengumuman penting bagi mereka," kata Zack sebelum ia masuk dan duduk di deretan kursi belakang.


Benar saja kata Zack, kelas XII datang lima belas menit kemudian. M dan Jimmi datang paling akhir.

__ADS_1


M memilih untuk duduk di dekat Zack, di belakang. Sementara Jimmi kebingungan karena semua kursi telah penuh, kecuali satu. Selain tim basket, anggota cheerleader dan beberapa supporter juga ikut sehingga bus kecil itu penuh.


"Jimm! Cepat duduk. Kita mau berangkat!" perintah Pelatih Emil.


Dengan berat, Jimmi duduk di kursi yang tersisa. Di sebelah Amy. Perasannya sangat canggung. Tapi untungnya, Amy sepertinya tidak menyadari keberadannya. Gadis itu terus menatap kaca jendela bus sedari tadi.


Jimmi berusaha untuk mengobrol dengan orang di seberangnya dan tidak memperhatikan gadis yang disukainya itu. Padahal, niat Jimmi sebenarnya adalah untuk memandang Amy dari kejauhan. Sekarang, dengan jarak sedekat ini, ia malah tidak bisa untuk memandang Amy.


"Permisi, boleh aku lewat?" kata Amy tiba-tiba.


Udara dingin menyelimuti Jimmi. Ia tidak berani memandang langsung gadis itu. Jimmi hanya mengangguk dan berkata, "Silakan." Ia melihat keterkejutan di wajah Amy sekilas. Bagaimana juga kegugupan cowok itu, ia tetap melirik adik M. Ketika gadis itu pergi untuk membagikan air mineral, Jimmi segera melihat berkeliling.


"Lew!" katanya meneriaki Lewis.


Dari gerak bibirnya, terbaca jelas kalau Lewis berkata, "Apa?"


Suasana gaduh membuat Jimmi terpaksa menghampiri Lewis yang duduk di deretan ke empat dari depan.


"Tukar tempat duduk denganku, ya?" bisik Jimmi.


"Aku gak mau di depan. Gak seru," tolak Lewis.


Jimmi akhirnya menghampiri semua orang yang dikenalnya tetapi semua menolak dengan alasan yang kurang lebih sama seperti yang Lewis katakan.


Harapan satu-satunya adalah M. Namun, Amy tengah berada dekat kursi M. Ia tak mungkin terang-terangan meminta tukar kursi jika Amy berada di situ.


Jimmi berusaha untuk memanggil M tetapi sahabatnya itu tidak memperhatikan keberadaannya. Hingga akhirnya Amy berbalik dengan kardus kosong dan bergegas menuju kursinya kembali.


Buru-buru Jimmi kembali duduk di depan dan bertingkah seolah-olah tidak ada apa-apa. Ketika akhirnya Amy telah duduk di sampingnya, suasana bus yang riuh mendadak sunyi bagi Jimmi. Keheningan itu terasa mencekan hingga ia tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.


Amy terus menatap jendela dan tidak memperhatikan keberadaan Jimmi, membuat cowok dengan potongan rambut baru itu diam-diam frustrasi.


Akhirnya sepanjang perjalanan, Jimmi mendengarkan musik dari earphone-nya dan berpura-pura tidur.


Bersambung


Hai readers,


Kalian boleh bayangin Jimmi kayak foto itu. He's sweet boy XD


*Terima kasih sudah membaca Lemon Love dari awal. Semoga kalian terhibur.


Jangan segan tekan tombol like dan beri kritik dan saran untuk author di kolom komentar, ya... 💕*

__ADS_1


__ADS_2