He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
He's Gorgeous


__ADS_3

Amy tidak ingin berbasa-basi dengan siapa pun hari ini. Hatinya masih kacau. Ia juga menganggap orang-orang di sekolah pasti mencapnya sebagai tukang rusuh. Padahal, rumor tentang perkelahian tempo hari di jembatan itu baru saja reda. Sekarang malah lebih parah. Ia menendang kakak kelasnya sendiri.


Hanya Zack yang menyapanya di bus itu. Sisanya? Mereka tidak peduli, kecuali M. Tentu saja, karena dia kakaknya satu-satunya.


Untuk menghibur diri, Amy melihat-lihat pemandangan di jalan. Memperhatikan tumbuhan apa saja yang tumbuh di tepian trotoar. Menghitung jumlah mobil yang berwarna hitam, putih, silver, dan merah.


Terdengar kurang kerjaan tetapi itu bisa membuat Amy lupa kalau dirinya tengah diskors. Dan ini hari terakhir ia bisa bersama tim basket sekolah. Sejujurnya itu agak menyakitkan baginya. Ia mulai terbiasa dengan ocehan-ocehan anak-anak basket. Juga teriakan-teriakan semangat mereka ketika berlatih. Atau ketika mereka menggoda para cheerleader.


Setelah hari ini, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya seusai sekolah. Amy merasakan kehampaan. Mungkin seperti inilah rasanya mau jadi pengangguran.


Tak apa, artinya banyak waktu untuk bermalasan. hibur Amy pada dirinya sendiri.


Ah, ini adalah waktu untuk membagikan air mineral. Mereka semua pasti haus.


Amy berdiri. "Permisi, boleh aku lewat?" ucapnya pada cowok yang duduk di sebelahnya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak tahu siapa yang duduk di sebelahnya.


"Silakan," jawab cowok itu.


Hampir saja Amy duduk kembali mendengar suara itu. Tidak yakin, ia melirik wajah si cowok yang berambut seperti seorang tentara itu.


Itu dia!


Disembunyikannya keterkejutan dari wajahnya. Amy berusaha lewat setenang mungkin dan segera mengambil dus berisi air mineral untuk dibagikan. Ia melakukannya sedikit terburu-buru hingga barisan tengah. Ia memperlambat gerakannya ketika berada di belakang.


"Am, cowok yang duduk denganmu itu siapa? Sepertinya aku baru lihat," ucap Olie ketika menerima botol air dari tangan Amy.


"Ah, dia Jimmi," jawab Amy singkat. Buru-buru ia bergerak ke barisan belakang ketika dilihatnya Olie akan berkata-kata lagi.


"Itu beneran Jimmi?" Olie naik ke kursinya, menghadap ke belakang dan bertumpu pada sandaran kursi. "Kapan dia potong rambut? Kok, aku baru lihat?"


"Aku gak tahu, Lie." Langkah Amy semakin cepat untuk sampai di barisan kursi paling belakang.


Orang terakhir yang Amy beri air mineral adalah kakaknya. Sengaja, agar ia bisa leluasa mengobrol dengan M.


"M, tukeran kursi, ya?" pinta Amy.


"Paling depan? Gak mau, ah! Kurang seru," jawab M. "Zack, kau mau duduk di depan?" tanya M pada Zack yang tengah meneguk airnya.


Zack menggeleng sambil melambaikan tangan.


"Ayolah," Amy melirik ke depan, "Kau gak bakal bosan. Di samping, kan, Jimmi."


M langsung berdiri dan memperhatikan kursi paling depan. Sepertinya itu memang kawan karibnya.

__ADS_1


"Tetap tidak mau. Lagipula, ini momen yang tepat untuk kalian berbaikan. Iya, kan?"


Amy hanya memutar bola mata. Dikembungkan pipinya sebelum dengan gontai kembali ke kursinya.


"Hei, Am!" M menahan langkah Amy dengan menarik lengannya. "He looks gorgeous, isn't he?"


"Ha?"


"Lihat saja sendiri," ujar M seraya melepaskan tangan adiknya untuk kembali ke depan.


Tidak ada kata permisi ketika Amy kembali duduk. Lidahnya tiba-tiba saja kelu ketika berada di dekat Jimmi. Ia langsung memalingkan wajah ke jendela dan berharap Jimmi tak akan mengatakan apapun.


Pemandangan di luar tidak terlalu menarik. Bus baru saja memasuki daerah hutan pinggir kota. Hanya ada pepohonan tinggi sepanjang jalan. Meski demikian, Amy setia memandangi pohon-pohon monoton itu.


Rupanya pepohonan hijau di sana membuat kaca memantulkan bayangan di belakang Amy. Mata gadis itu kini melihat Jimmi yang tengah memasang earphone di kedua telinganya. Sepertinya Jimmi memang tidak berniat untuk mengatakan apapun.


Baguslah!


Hatinya sedikit lega melihat cowok itu kini terpejam menikmati musiknya. Atau tidur? Entahlah. Yang jelas tanpa sadar Amy tidak mengalihkan pandangannya. Ia terus melihat Jimmi yang kini berambut sangat pendek. Kulit kepalanya bahkan terlihat diantara rambut pinggirnya yang dipapas tipis. Wajahnya lebih jelas terlihat sekarang, tidak seperti dulu ketika rambutnya bergaya emo.


Tidak dimungkiri, hati Amy menghangat melihat Jimmi yang sepertinya tengah terlelap. Sangat polos. Tidak tergambar tingkah usil dan nyeleneh yang biasa cowok itu lakukan dari wajah itu, membuat Amy diam-diam tersenyum. Ternyata kakaknya benar.


Namun begitu, terselip dalam benaknya sebuah pertanyaan yang sangat mengganggunya. Benarkah Jimmi menyayanginya? Pertanyaan itu bahkan membuatnya sulit tidur beberapa hari belakangan.


Amy ketakutan dengan jawaban dari pertanyaan itu. Baik ya atau pun tidak, jawaban dari pertanyaan itu membuat hidupnya berubah sekarang.


.


.


"Karena kita menang, besok kalian semua kutraktir!" seru Pelatih Emil ketika ia menerima piala dari Jimmi, si kapten basket. "Kau juga, Amy. Datang, ya, besok!" Pelatih Emil menepuk pundak Amy. "Anggap saja sekalian besok perpisahan."


Amy hanya mengangguk. Semua orang segera masuk ke bus kembali. Amy buru-buru naik. Ketika dilihatnya Lewis duduk sendiri, ia langsung menghampiri dan duduk di sebelahnya.


"Biarkan aku duduk di sini," bisik Amy.


"Silakan," ucap Lewis. Ia sebenarnya tahu alasan Amy duduk di sampingnya. Ketika Lewis duduk sebagai pemain cadangan, Amy telah menceritakan apa yang terjadi di bus. "Tapi jangan minta tukar kursi. Aku mau dekat jendela."


"Oke," ujar Amy sembari membentuk lingkaran dengan telunjuk dan jempol kanannya. Akhirnya ia bisa bernapas lega.


"Lewis, besok kau mau ikut makan bareng?"


"Jelas, dong! Kapan lagi ditraktir makan enak?"

__ADS_1


Harusnya Amy tak usah bertanya karena memang ia sudah tahu jawaban temannya yang berambut ikal itu.


"Sssttt, Am ...!" Lewis menyenggol bahu Amy. "Kalau jodoh emang gak kemana, ya?" bisiknya.


"Apaan?" tanya Amy bingung.


Lewis menelengkan kepala ke arah samping Amy. Barulah gadis itu mengerti apa maksud Lewis.


"Kenapa dia ada di situ?" tanya Amy berbisik pelan. Ia merapat ke arah Lewis.


"Kalau magnet, kan, seperti itu. Yang satu kemana, yang lain, ya, ikut ...," ucap Lewis dengan wajah menghadap jendela bus.


Amy mencubit lengan Lewis karena mendapat ejekan lagi dari cowok itu.


"Aw! Sakit, Am!" ucap Lewis cukup kencang hingga murid yang duduk dekat dengan mereka spontan menoleh.


Namun, alih-alih melepaskan cubitannya, Amy justru memperkuat capitan jarinya, membuat Lewis sontak melompat hingga cubitan itu terlepas.


"Emang gila, kau!" maki Lewis. Diusapnya lengannya yang memerah. "Sakit, Am!" Lewis kemudian bangkit dan berjalan menghampiri seseorang yang duduk di samping Amy.


"Hei, mau kemana?" tanya Amy menarik Lewis. Namun tenaga Lewis lebih kuat.


"Aku mohon, tukar tempat duduk, ya ...," mohon Lewis. "Aku gak kuat duduk dengannya. Lihat? Lenganku membiru, Jimm," lanjut Lewis.


Jimmi melirik Amy, membuat gadis itu berwajah masak. Setelahnya ia menggeleng pada Lewis.


"Kumohon, Jimm. Cewek satu itu galaknya keterlaluan! Aku ga kuat!" Lewis berlutut memohon-mohon.


Sebentuk senyum melengkung di bibir Jimmi. Ia kasihan pada Lewis. Sebagai orang yang sering diperdaya Amy--dijitak, dicubit, dijambak--Jimmi tahu benar rasanya. Hei, sudah lama ia tak merasakan hal itu!


"Please, Jimm. Tolong aku," kata Lewis lagi. Kali ini dengan wajah memelas yang sengaja ia ciptakan agar Jimmi mau bertukar kursi.


Akhirnya permohonan Lewis tidak sia-sia. Jimmi bangkit berdiri. Ia mengambil tasnya dari bagasi yang berada di langit-langit bus kemudian memindahkannya ke sebelah.


"Jangan buat aku melakukan ini lagi," ucap Jimmi ketika ia akhirnya duduk di sebelah Amy.


Amy mengepalkan tangan dan menyilangkannya di dada. Jimmi tahu Amy kesal. Namun entah kenapa, ia malah senang hingga diam-diam ia tersenyum sama seperti ketika dulu ia berhasil menjahili adik sahabatnya itu.


Bersambung...


--------


*Hai para pembaca,

__ADS_1


Author sangat berterima kasih karena kalian semua tetap mengikuti cerita ini.


Jangan lupa add to favorite, ya*!


__ADS_2