He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
The Days Alone


__ADS_3

*Hai, apa kabar?


Kemarin aku berhasil ganti sabuk. Sekarang aku sabuk ungu. Hebat, kan? Hehehe...


Kemarin aku kesal pada Val dan Sifa. Sekarang mereka juga sudah punya pacar. Hal-hal yang mereka bahas jadi tentang cowok melulu. Membuatku agak malas untuk berbicara dengan mereka.


Kau tahu yang mereka bahas apa? Ciuman pertama! Yeikz ...!!! Hal-hal seperti itu harusnya privasi dan tidak usah dibicarakan dengan orang lain, kan? :(


Ah, gimana dengan kuliahmu? Lancar? Sepertinya tidak usah kuragukan lagi. Pacarku ini jenius, kan?


Lalu bagaimana kabar kakak? Apa dia baik saja? Apa benar dia putus dengan Kak Wen? Ah, apa M tidak apa? Dia tidak pernah menghubungiku lagi sejak seminggu lalu. Jika ada apa-apa dengannya, bilang segera padaku, Jimm.


Terakhir, kalau ada waktu ... ayo video-call. Aku merindukanmu dan kakak.


Baik-baik di sana. Jangan goda cewek mana pun!


Love,


The one and only Amy*


...


Amy menekan tombol send. Kemudian ia menyimpan ponsel pintarnya kembali ke tas.


"Habis ngapain?“ tanya Zack seraya duduk di bangku depan. Sekarang Amy sekelas dengan Zack dan Val.


"Hanya kirim e-mail."


"Kau mau bantu proyek sekolah tidak?“ tanya Zack yang kini telah menjadi Ketua Murid. Masa jabatan Olie telah usai dan Zack adalah pemenang pemilihan KM berikutnya.


"Proyek apa?“


"Sekolah kita akan mengadakan lomba cerdas cermat antar sekolah dari SD sampai SMA. Kami kekurangan orang untuk jadi panitia, hehe ...." Zack terkekeh kecil.


"Kenapa kalau butuh tenaga, kalian menghubungiku? Ish!“


"Itu karena kau ada di deretan utama orang yang bisa diandalkan. Gimana? Kami butuh seksi konsumsi. Kasihan Sifa kalau dia sendirian mengurusnya."


Amy merengut sebal. Akan tetapi gadis itu kemudian mengiyakan permintaan Zack. "Oke. Selama tidak mengganggu jadwal karate."


"Terima kasih, Am. Nanti kubagi cokelat!“ seru Zack yang langsung pergi keluar kelas.


Amy mengembuskan napas pelan. Satu tahun belakangan ini ia memang selalu menyibukkan diri dengan beragam kegiatan. Selain karate, Amy ikut membantu manajemen klub basket, juga sering membantu Zack dengan kegiatan sekolah seperti yang ia setujui barusan.


Sejak M dan Jimmi pergi, Amy selalu kesepian di rumah besar Larry. Mrs. Larry sangat sibuk dan sering pulang larut. Ia seringnya hanya bersama asisten rumah tangga di rumah itu. Karenanya Amy berusaha mencari kegiatan di luar sebanyak mungkin. Ia bahkan selalu belajar di perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum daripada di rumah.


Dalam setahun ini, M dan Jimmi hanya pulang sekali ketika mereka libur semester. Ketika itu mereka bertiga kembali berkumpul dan bercanda secara langsung karena selama mereka berjauhan, mereka hanya bercanda di skype atau saluran telepon. Itu pun hanya beberapa menit.


Belakangan, dua cowok itu jarang menghubungi Amy. Sepertinya mereka sibuk dengan studinya. Sudah sebulan ini Amy tidak melihat wajah mereka berdua via sambungan langsung. Ketika dihubungi, mereka selalu tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Seminggu ini Amy telah berhenti menelepon mereka. Ia hanya mengirimkan surat melalui e-mail yang biasanya masih kedua cowok itu balas. Meskipun balasannya muncul setelah beberapa hari.


"Am, bisa kau periksa stok roti yang ada? Aku akan membagikan ini pada peserta," ujar Sifa. Ia terlihat menarik sebuah troli berisi tumpukan box berisi makanan.


Amy yang sedari tadi melihat layar ponselnya langsung mengangguk. Ia berdiri. Namun, pandangannya gelap. Ia menunduk sejenak, merasakan sensasi beban berat di kepalanya.


"Kau tak apa?“ Sifa menghampiri Amy dan memegang bahu gadis itu.


"Tidak apa-apa. Sepertinya aku kebanyakan duduk," ucap Amy meyakinkan Sifa. "Pergilah ... akan kuperiksa stoknya cukup atau tidak."


"Baik." Sifa segera pergi mendorong troli.


Amy melakukan apa yang Sifa perintahkan. Ia menghitung roti-roti lezat yang masih berada di pallet-nya.


"Celaka, sepertinya kurang." Gadis itu segera berlari menuju aula sekolah, menghampiri Zack dan Sifa yang tengah membagikan konsumsi pada semua peserta lomba yang telah hadir.


"Sif ... stoknya kurang," bisik Amy.


Sifa melebarkan mata. "Ah, sudah kuduga. Harusnya kita pesan lebih."


"Ada masalah apa?" tanya Zack.


Sifa menceritakan masalah sekaligus solusinya. Seseorang harus membeli beberapa lusin lagi roti. "Masalahnya," ucap Sifa, "kita tidak bisa membeli di toko ibuku. Hari ini ibu tidak buka toko dan hanya membuat pesanan untuk acara ini."


Zack tampak berpikir keras. Ia mencoba mengingat-ingat toko roti mana yang enak dan dekat dengan sekolah. "Oh, aku tahu! Roti Bear. Mereka ada di jalan melati, dekat toko ayah Jimmi."

__ADS_1


"Aku tidak tahu tempatnya," kata Sifa.


"Aku tahu. Biar aku yang ke sana. Pinjam sepedamu, Zack!“


"Baiklah. Kau boleh memakainya," kata Zack. "Kalau bisa kau harus cepat, Am!"


"Aku mengerti!" sahut Amy seraya pergi ke tempat parkiran sepeda.


Matahari begitu terik hari itu. Amy lupa mengenakan topi karena terburu-buru. Rambut hitamnya terbakar matahari. Menyisakan bau yang khas jika dicium. Dikayuhnya pedal sepeda cepat. Ia tidak ingin mengacaukan acara sekolah.


Melewati jalanan hitam beraspal di tengah matahari yang menyengat membuat penglihatan Amy sedikit meredup. Ada titik-titik hitam berkerumun membingkai penglihatan.


Ketika Amy melewati toko paman Paul, ia melihat Jimmi tengah melayani seorang pembeli. Mata Amy kian berat tetapi ia ingin memastikan kalau itu benar Jimmi, pacarnya. Bukannya semakin berdebar, jantung Amy malah semakin melemah melihat wajah tampan itu tersenyum padanya.


Saat Amy melihat kembali jalanan, ia tidak menyadari ada sebuah kendaraan yang tengah parkir melintang menghalangi jalan. Amy tidak sempat menghindar, ia merasakan benturan kemudian ia melayang. Hal terakhir yang diingatnya adalah aspal hitam dan roda sepeda yang berputar.


*******


Mrs. Larry hampir saja menjatuhkan telepon begitu mengetahui seorang muridnya kecelakaan dari pegawai toko. Wanita itu mengambil tasnya dan bergegas pamit pada kepala sekolah untuk meninggalkan acara sekolah. Tergopoh-gopoh ia menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Mrs. Larry menangis. Ia berharap murid yang kini tinggal bersamanya itu tidak apa-apa. Ia tidak akan bisa memaafkan diri sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada Amy.


"Dia tidak mengalami luka serius," jelas salah satu suster yang Mrs. Larry temui. "Dokter bilang keadaannya lemah karena tekanan darahnya rendah."


"Ah, terima kasih banyak, Sus." Mrs. Larry memegang dada mengembuskan napas lega. Ia bergegas menghampiri Amy yang berada di balik tirai. Wajah gadis itu terlihat pucat. Ada kassa menempel di dahi, lengan dan sikunya. Sebuah jarum infus terpasang di vena tangan kirinya.


Ibu Jimmi itu duduk di samping ranjang dan mengelus rambut Amy pelan. "Kalau M atau Jimmi tahu, mereka pasti akan langsung pulang. Kau tahu betapa mereka berdua sangat menyayangimu?" gumam Mrs. Larry. "Aku terkadang iri padamu. Anak bungsuku lebih peduli padamu daripada ibunya. Tapi aku mengerti. Kalian telah menghabiskan waktu bersama. Aku jarang ada di rumah dan anak itu selalu bersamamu dan kakakmu untuk mengusir kesepiannya. Apalagi ketika kakaknya sudah kuliah."


Mrs. Larry mendorong tubuhnya ke kursi, menyadari bahwa mungkin sekarang Amy lebih kesepian dari Jimmi dulu. "Maafkan bibi, Amy. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu." Mrs. Larry melirik jam tangannya. Ia bangkit dan mengeluarkan ponselnya untuk keluar sebentar mengabari pihak sekolah.


"Bi ...."


Mrs. Larry menoleh dan mendapati mata Amy terbuka. Ia menahan langkahnya.


"Jangan beritahu M atau Jimmi," ucap Amy dengan suara lemah.


Mrs. Larry mengelus jari Amy lembut. "Kalau itu maumu, bibi akan menurutinya. Tetapi bibi tetap akan memberitahu ayahmu."


Amy berkedip, berusaha mengangguk dengan gerakan lambat. Kepalanya masih terasa berat.


********


Ketika Amy membuka mata keesokan hari—masih di ranjang rumah sakit—ia melihat wajah kakaknya yang terlihat khawatir. Amy berpikir ia pasti masih bermimpi. Maka ia tersenyum kemudian ia memejamkan mata kembali.


Tidak lama kemudian para suster datang untuk membawakan obat-obatan untuk pasien di ruangan itu. Bau obat tercium oleh Amy. Ia kembali membuka mata dan mendapati M masih berada di sana berbicara dengan seorang suster yang tengah mengisi jarum suntiknya dengan cairan agak keruh.


"Kau sudah bangun?“ tanya M melihat Amy yang telah membuka mata.


"Kau ... di sini?“ Amy berusaha bangkit tetapi tiba-tiba kepalanya berdenyut dan pandangannya gelap.


"Hei, kau tidak boleh bangun dulu." M membantu adiknya kembali berbaring.


"Tahu dari siapa?“ tanya Amy setelah kepalanya kembali terasa ringan.


"Zack. Dia menulis status di media sosialnya sedang menjengukmu."


"Ck! Anak itu. Kau tak perlu pulang. Besok juga aku sembuh."


"Bibi Magda bilang kau tidak makan. Kenapa kau melakukan hal bodoh itu? Kau harus makan dengan benar jika tidak ingin membuat kakakmu ini khawatir."


Seorang petugas datang dan menghampiri M kemudian memberikan nampan berisi makanan. M membuka plastik warp yang melapisi wadah makanan-makanan itu kemudian menyuapi Amy.


"Aku hanya lupa sarapan," ucap Amy sebelum M menyuapinya.


"Bibi bilang beberapa hari ini makanmu sedikit."


"Bibi bahkan jarang ada di rumah. Bagaimana dia tahu?" ujar Amy.


"Merry yang bilang," ucap M menyebut nama asisten rumah tangga Mrs. Larry.


"Kau ... sendirian?“ tanya Amy. Sedikit berharap kalau ia juga akan melihat Jimmi.


M mengangguk. "Jimmi harus menyelesaikan tugasnya sebelum besok."

__ADS_1


"Oh." Kecewa merambat di hati Amy. Tetapi ia berusaha mengerti kalau ada hal-hal yang memang lebih penting untuk orang lain kerjakan. "Lalu tugasmu bagaimana? Kau tak punya tugas?“


M meletakkan sendok kemudian menggaruk kepalanya. "Ada," katanya, "tapi aku tidak bisa mengerjakannya sampai kulihat sendiri kau gak apa-apa."


"Maafkan aku, sudah membuatmu khawatir," ucap Amy.


"Aku hanya di sini sampai sore karena aku harus kembali lagi dengan cepat." M meletakkan nampan dan memutar knob di samping ranjang agar kepala Amy sedikit naik dari tubuhnya.


"Makasih."


M kembali menyuapkan makanan ke mulut adiknya.


"M ... kau baik-baik saja? Maksudku tentang Weni ...."


M tersenyum pada Amy kemudian mengacak poni adiknya. "Jangan khawatir. Itu adalah keputusan terbaik."


Ponsel M bergetar. Cowok itu melihat nama yang tertera di layar kemudian memperlihatkannya pada Amy. "Ini pacarmu." M menerima panggilan video call itu. "Hai, Jagoan! Apa tugasmu sudah selesai?“


"Aku tidak bisa tenang mengerjakannya! Mana Amy? Aku mau melihatnya!“


"Ngobrol lah dengannya. Aku mau cari sarapan dulu." M menyerahkan ponselnya kemudian pergi.


"Amy? Kau baik saja? Kenapa keningmu? Ibu bilang kau jatuh dari sepeda dan menabrak truk!“


Suara Jimmi terdengar cemas dari seberang.


Amy tidak tahu harus menjawab pertanyaan Jimmi darimana. Ia malah menikmati melihat wajah Jimmi yang acak-acakan. Sepertinya cowok itu tidak tidur semalaman.


"Aku baik-baik saja," ucap Amy.


"Katakan itu pada jarum infus yang terpasang padamu! Harusnya aku ikut M saja semalam.“


Amy tertawa kecil. Ia tahu persis cowok itu sedang mengkhawatirkannya. "Serius, Jimm. I'm okey."


"Kau bilang begitu biar aku tidak pulang, kan?“


Kenapa dia tahu isi kepalaku? batin Amy. "Aku ingin kau pulang, kok," ucap Amy, membuat Jimmi terpaku di seberang sana. "Ya, libur semester nanti aku ingin kau pulang."


"Kadang aku ragu apa kau pernah kangen aku? Sepertinya hidupmu selalu baik-baik saja sementara aku di sini setiap hari memikirkanmu sebelum tidur supaya kau muncul di mimpiku."


Mendengar kata-kata Jimmi, Amy tersenyum kecil. Mungkin ia memang terlihat biasa saja, tetapi ia juga selalu memikirkan cowok itu setiap ada kesempatan. "Bodoh! Aku—“


Layar ponsel M tiba-tiba menjadi hitam. Kening Amy berkerut, ia menekan tombol power tetapi layar itu tetap mati. "Baterainya habis," gumam Amy. Disimpannya ponsel M di meja sebelah ranjang.


Amy mengembuskan napas kasar. Sedikit kesal, Amy memajukan bibir dan memaki dalam hati. Padahal ia mau bilang pada Jimmi kalau ia juga merindukan cowok tinggi itu.


.


.


Bersambung...


______________


*Holla, Readers!


Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya.


Terima kasih untuk kalian semua yang telah membaca dan mengapresiasi karya saya ini.


Fyi, chapter 1-17 cerita ini saya tulis tahun 2012. Tahun ini saya memutuskan untuk melanjutkan dan menamatkannya.


Berkat kalian, sebentar lagi He Is Not My Brother akan memasuki chapter-chapter akhir.


Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak*~


Find me on:


Ig: @its_revka


Fb: Hi Gaez Itz Revka


Wp: @Revka09

__ADS_1


Storial: @Revka09


__ADS_2