He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
The Larry's


__ADS_3

Amy terlihat gelisah diruangan hijau itu. Baginya sungguh sangat menyebalkan berada di ruangan itu. Vas yang biasanya berisi bunga warna-warni itu kini hanya berisi air sisa rendaman bunga. Meja kayu itupun tampak begitu acak-acakan dan tak terurus, tidak seperti biasa.


Pintu terbuka dan nampaklah Mrs.Larry dengan blouse hitam dan rok yang juga hitam. Seperti berkabung saja. Matanya terlihat lelah dan memiliki kantung. Kacamatanya yang kotak tak mampu menyembunyikan lingkaran hitam di sekitar mata Mrs. Larry yang berwarna cokelat.


"Jadi, Amy, nilai Bahasamu menurun?"


"Sebenarnya, cuma turun 0,7 kok."


"Ehm, bulan lalu nilaimu 9,4 lalu terakhir hanya dapat 8,7. Kau bermasalah dengan bahasa?"


"Tidak."


"Lalu kenapa nilaimu berkurang? Apa kau tidak suka guru barumu?"


"Aku menyukai Mr. Andi."


"Baiklah ... kalau begitu, ceritakan padaku caramu belajar terakhir kali."


Amy terdiam sejenak. "Umm ... aku mengerjakan beberapa soal latihan sebelum ujian, juga mempelajari beberapa macam majas."


"Itu saja? Kenapa hanya majas?"


"Karena bab 4 memang membahas majas hiperbola, sarkasme, ameliorasi, personifikasi dan beberapa majas lain."


"Sepulang sekolah kau harus mampir di perpustakaan dan mempelajari bahasa selama satu jam, setiap hari."


"Apa? Aku bisa memperbaikinya bulan depan."


Mrs. Larry berdiri dan membuka pintu. "Tak ada tawar menawar, Nona. Kau sudah selesai. Silahkan kembali ke kelas."


Amy melangkah gontai menuju kelas. Wajahnya tertekuk. Ia mengutuk Jimmi yang menjadi penyebab dari semua hukuman yang harus ia jalankan dari Mrs. Larry seminggu terakhir ini, sejak Jimmi pulang.


Mrs. Larry mengira Amy dan M bersekutu dengan Jimmi. Mereka dianggap menyembunyikan Jimmi dengan sengaja di rumah mereka. Padahal Jimmi sendiri yang datang minggu sore itu. Seandainya Jimmi tidak menginap di rumahku, pikir Amy, tentu aku gak akan dituduh menyembunyikan anak badung itu.


"Sekarang lihat kita, M. Selalu jadi sasaran empuk Mrs. Larry. Aku gak betah lama-lama di sini," ucap Amy di perpustakaan, tepat setelah sekolah bubar.


"Mau bagaimana lagi? Nilai Biologiku anjlok." M mengambil sebuah buku tebal dari rak.


"Nilaimu anjlok?"


"Cuma dapat 6."


"Pantas saja kau dihukum. Bahasaku 8,7 tapi tetap saja aku dihukum. Padahal itu masih bagus." Amy meremas satu halaman buku yang ada di depannya.


"Sebenarnya Mrs. Larry juga menghukumku untuk lari 20 kali mengelilingi lapangan setiap pagi."


"Memang ada hubungannya dengan Biologi?"


M berhenti membaca bukunya, "Dia bilang permainanku di pertandingan basket terakhir tidak bagus, jadi aku harus menambah latihan fisik."


"Yang benar saja, dia menghukum kakak karena itu? Ish ... menyebalkan!" Amy memukul meja karena emosi.


"Hei ..., yang di sana! Jangan berisik!" sang penjaga perpustakaan menunjuk ke arah Amy dan M.


"Maaf ...," ucap Amy perlahan sambil menganggukkan kepala.


"Dasar ceroboh," ejek M.


"Ngomong-ngomong, Jimmi kemana? Karena dia aku harus mengepel dan menyikat wc serta harus berada di sini setiap hari."


"Sepertinya dia juga kena hukuman Mrs. Larry. Dia harus merawat kebun sekolah sampai akhir semester."


"Itu saja, kak?"


"Katanya uang saku Jimmi dikurangi sebulan ini."


"Hyaaa ... kita tidak akan dapat traktiran lagi kalau begitu?"


M hanya menaikkan alisnya sambil mengangkat bahu.

__ADS_1


"Sampai kapan kita akan kena hukuman terus?"


"Sampai kalian diam dan mulai mempelajari buku yang kalian pegang!"


Amy dan M sama-sama menoleh melihat orang yang barusan berbicara. Mrs. Larry! Mereka berdua langsung menunduk dan mulai memperhatikan kata demi kata yang ada di dalam buku itu.


.


§§§


.


"Sore ...."


"Hai, Jimm! Kau sudah bebas tugas?" tanya M agak terkejut melihat Jimmy datang. Seharusnya ia menjaga toko ayahnya sebagai salah satu hukuman karena pergi tempo hari.


"Ibu menyuruhku menjemput kalian."


"Untuk apa?"


"Kau dan Amy diundang untuk makan malam di rumah kami."


"Ha?" Amy dan M bertukar pandang.


"Yah, pokoknya begitulah ...."


"Begitu bagaimana? Kau tahu gak? Ibumu itu kejam pada kami. Dan itu gara-gara kau!" cecar Amy.


"Ya, karena itu dia mau minta maaf," ucap Jimmi. Nada penyesalan terdengar jelas dalam suaranya. "Aku juga minta maaf pada kalian berdua. Maaf sudah menyusahkan."


"Tidak apa. Kami akan datang."


"Kakak terlalu baik hati," protes Amy.


"Kau harus mencontohnya," gumam Jimmi.


"Menu malam ini ada sapi lada hitam dan makanan laut ... cumi-bakar," bisik Jimmi.


M menoleh pada Amy. Ia tahu Amy tak bisa menolak cumi bakar. Adiknya itu hanya mengerutkan kening seraya membalikkan badan untuk masuk ke dalam kamar.


"Baiklah. Aku terpaksa ikut!"


M dan Jimmi tersenyum melihat tingkah kekanakan Amy.


.


§§§


.


Malam itu Amy dan M datang ke rumah keluarga Jimmi dengan pakaian yang sangat sopan. Terlihat keraguan dari wajah keduanya saat memasuki halaman rumah yang cukup besar itu.


"Aku gak yakin akan masuk," ucap Amy.


"Ayolah, memang ada yang salah dengan rumahku?" Jimmi menarik lengan kedua kakak-beradik itu menuju ke dalam rumahnya.


Ruangan tamu membuat Amy dan M sedikit tercengang. Biarpun tak semegah rumah Ollie, tetap saja rumah ini mengesankan mereka. Biarpun jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari rumah mereka, M dan Amy hampir tidak pernah memasuki rumah ini sejak selesai direnovasi tiga bulan lalu. Malah Jimmi yang sering datang dan menginap di rumah sempit mereka.


"Kalau aku jadi kau, Jimm, aku gak bakal mau nginap di rumah orang. Aku pasti betah di rumah ini, " gumam Amy sembari melihat kursi-kursi empuk di ruangan ini.


Jimmi hanya tersenyum kecil. "Ikut aku."


M dan Amy mengikuti Jimmi yang melangkah di depan mereka menuju sebuah kamar di dekat tangga.


"Ini kamarmu?" tanya M setelah melihat poster Dexter yang dipasang miring di pintu kamar.


"Ya, ini kamar baruku."


Amy mendahului kakaknya masuk ke dalam. Kamar Jimmi luas. Bercat putih dengan beberapa poster tertempel di dinding bersama dengan tiga buah gitar. Sebuah lemari pakaian besar berada di sudut kamar. Ranjangnya empuk dan sebuah LCD terpasang di langit-langit kamarnya.

__ADS_1


"Keren!" teriak Amy.


"Tidak, kupikir rumah kalian jauh lebih keren."


"Kau pasti bercanda, Jimm." M melihat salah satu gitar yang terpasang di dinding. "Aku belum pernah lihat yang satu ini." M menunjuk sebuah gitar elektrik berwarna hitam metal dengan detil merah darah.


"Oh ... itu baru dibelikan Fohn bulan kemarin," jelas Jimmi.


"Apa layar LED itu menyala?" Amy membaringkan tubuhnya menatap langit kamar.


"Permisi, Anak-anak, makan malam sudah siap." Seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan berkacamata sudah berada di ambang pintu.


Amy buru-buru bangun dan berdiri. Lelaki itu hanya tersenyum manis melihat rambut Amy yang agak acak-acakan.


"Ayo, Ibu dan Ayah sudah menunggu!"


.


§§§


.


"M, Amy, kami meminta maaf karena selama ini Jimmi selalu merepotkan kalian."


"Kami tidak merasa direpotkan, kok, Mr. Larry," jawab M.


"Aku juga minta maaf pada kalian karena telah salah paham. Jimmi sudah menceritakan semuanya padaku. Maafkan dia, ya." Mrs. Larry mengambilkan M dan Amy sepotong daging sapi yang telah dimasak dengan lada hitam.


"Tidak apa-apa. Kami mengerti Anda khawatir," Amy tersenyum kecil saat ia melihat jus jambu merah di sisi piring.


"O, iya ... kapan ayah kalian pulang? Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dengannya." Mr. Larry memandang M dan Amy bergantian.


"Akhir tahun ini, ayah bilang paling lambat minggu terakhir bulan Desember. Begitu kan, kak?"


M hanya mengangguk kecil. Sebenarnya apa yang ingin mereka bicarakan dengan ayahnya. Tapi ia tak berani menanyakannya langsung pada orang tua Jimmi.


Makan malam berlanjut dengan beberapa obrolan ringan seputar dua keluarga itu. Menyisakan beberapa pertanyaan dibenak M.


.


§§§


.


Amy berjalan terburu-buru menuju kamar. Matanya sudah sangat berat. Namun M segera saja menarik tangan adiknya.


"Tunggu dulu, Amy ...."


"Ada apa, kak? Aku sudah sangat ngantuk."


"Kau tidak curiga dengan orang tua Jimmi?"


"Curiga apa? Mereka baik, kok. Kakaknya juga."


"Kira-kira apa yang mau mereka bicarakan dengan ayah?"


"Aku gak tahu, aku mau tidur. Hoaaamp ...."


"Ah ... kau ini. Ya, sudah ... tidurlah. Besok giliranmu menyiapkan makan."


Amy mengangguk dan menutup pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian ia sudah berada di alam mimpi.


Bersambung...


---------


Cerita ini akan up sesering mungkin.


Mohon dukungan kalian**~

__ADS_1


__ADS_2