
Amy menghentikan langkahnya. Ia membalik badan, mencabut kertas di mading kemudian kembali melangkah terburu-buru menuju kelasnya.
"Lewis! Ini pasti kerjaanmu, kan?" Amy mengasongkan kertas yang ia cabut tadi di mading. Di kertas itu tertulis nama-nama calon Ketua Murid dan nama Amy salah satunya.
Lewis menggeleng, "Aku tidak tahu, kupikir kau sendiri yang daftar."
"Apa? Kan sudah kubilang aku tak mau jadi KM!" Amy menaruh tangannya di pinggang.
"Bukan aku, swear!" ucap Lewis mengepalkan tangannya dan menyisakan jari tengah dan telunjuknya tetap berdiri.
"Aku yang mendaftarkanmu, Nona ...." Val mendekati Amy dan Lewis. Ia tak menghiraukan pandangan Amy yang seakan bersiap untuk mengunyahnya. "Take it easy, buddy."
"Apa-apaan kau ini, Val? Aku mau mengundurkan diri!"
"Eits ... mau kemana, Am?" Val menghalangi langkah Amy yang hendak pergi. "Amy, ini kesempatan bagus buatmu. Kau tahu? Jika kau jadi KM, cowok-cowok pasti akan lebih memperhatikanmu. Kau juga bisa kenal dengan cowok keren di sekolah lain."
"Apa pentingnya buatku?"
"Lewis, bantu aku, dong. Jangan diam saja!" Val berbisik menyenggol lengan Lewis.
Lewis hanya mengerutkan keningnya. Amy menyingkirkan tangan Val kemudian bergegas keluar.
"Kenapa tadi kau tak membantuku membujuk Amy?" Val menjitak kepala Lewis.
Cowok itu meringis pelan, "Dia itu keras kepala, bagaimanapun kita membujuknya gak akan berhasil, Val."
Val berdiri lalu mondar mandir di samping Lewis. Tangannya sekali-kali diletakkan di pinggang, sekali waktu di kepala dan dagunya.
"Memang kenapa kau bersikeras ingin Amy jadi KM?"
Val menghentikan langkahnya. Ia mendekati Lewis lalu berkata pelan, "Kita ini teman dekat Amy, kan?"
Lewis mengangguk.
"Nah ... pasti dia akan menyisakan posisi buat kita, kan?"
"Wah! Kau berniat KKN?" jerit Lewis.
Val spontan menutup mulut temannya itu, "Jangan keras-keras ... bodoh!"
"Kenapa tidak kau sendiri aja yang mendaftar kalau begitu? Kau kan bisa langsung jadi KM."
"Kalau aku punya kemampuan, aku sudah melakukannya. Kau ini gimana, sih." mata Val menangkap sosok Amy dibalik kaca.
Amy berjalan tergesa-gesa. Ia melihat Val dan Lewis bergantian. "Lewis, nanti sore ke rumahku, ya." katanya.
"Buat apa?"
"Bantu bikin visi-misi."
Val menjerit dan memeluk sahabatnya itu. Sekiranya Amy berubah pikiran dan mau mencalonkan diri menjadi KM menggantikan kakak laki-lakinya.
.
§§§
.
Bibir Val yang sedari siang melengkung ke atas berbalik 180 derajat ketika ia sampai di rumah Amy. Ternyata bukan Amy yang mencalonkan diri, Amy hanya membantu Zack agar lolos seleksi pemilihan KM. Sepanjang sore itu Val hanya duduk manyun di sudut ruangan.
"Eh ... Amy, kenapa kau mengundang cewek di pojok itu? Dari tadi dia cuma diam saja dan sama sekali gak membantu kita. Cuma nyempit-nyempitin ruang aja!" ujar Zack yang sedang menyalin konsep Lewis ke laptopnya.
"Heh ... dari awal memang aku tak berniat membantumu, tahu? Kalian menyebalkan!" Val berdiri dan langsung pulang begitu saja karena ia kecewa harapannya tidak jadi kenyataan.
"Kenapa dia?" Lewis memperhatikan kepergian Val.
"Nanti juga Val baik lagi, kau juga sih, Zack. Ucapanmu agak keterlaluan," ucap Amy yang disertai pukulan ringan di pundak Zack.
"Tapi aku gak salah," Zack mendengkus. Diambilnya sekaleng minuman di meja lalu ia buka. "Eh ..., aku mau tanya sesuatu padamu, Am."
Tanpa berpaling dari tumpukan kertas ditangannya Amy balik bertanya, "Apa?"
"Kenapa kau begitu baik mau membantuku?"
Amy terperanjat dengan pertanyaan Zack. Alasan sebenarnya ia membantu Zack adalah karena Olie juga ikut pemilihan KM. Ia tak mau Olie jadi KM. Entah kenapa, Amy jadi ingin mengalahkannya tapi ia tetap tak mau jadi KM. Begitu ia melihat nama Zack di bawah nama Olie, sebuah ide berkelebat di benaknya.
Membantu Zack mungkin satu-satunya jalan. Beberapa nama lain diyakini Amy tak akan bisa mengalahkan kharisma Olie di sekolah. Zack adalah saingan berat Olie dan lagi Amy kenal dekat dengan Zack. Tawaran Amy untuk membantu Zack pun tidak ditolak oleh cowok yang jago basket itu. Tapi, apa ia harus jujur pada Zack?
"Mmm ... karena ... ya, aku pikir kau bisa menggantikan kakakku dengan baik." jawab Amy pada akhirnya.
"Bukankah Olie dan Tata juga kemungkinan bisa?"
"Tidak! Maksudku ... instingku mengatakan kau yang terbaik."
"Eh, bagaimana kalau misinya seperti ini saja," Lewis tiba-tiba menyodorkan buku tulisnya pada Zack.
__ADS_1
"Meningkatkan kualitas ekskul, keagamaan dan sosial dengan memanfaatkan kegiatan intra dan ekstrakurikuler." Zack mengangguk.
"Gimana, Am?"
"Ya, aku setuju denganmu, Lewis."
"Yup! Besok akan kuserahkan pada Mrs. Larry. Thank's Lewis, Amy."
.
§§§
.
Zack berlari sepanjang koridor kelas, tak peduli kalau dia menabrak beberapa murid yang sedang berada di sana. Dia melihat kiri-kanan saat berada di depan sebuah kelas. Namun orang yang dicarinya tak ada.
"Kau tahu Amy kemana?" tanya Zack pada seorang murid laki-laki berambut cepak yang sedang membersihkan papan tulis.
"Mungkin ke kantin, atau ke kelas kakaknya."
Tanpa mengucapkan terimakasih, Zack berlalu. Ia kembali berlari sepanjang koridor. Sayangnya, ia tak menemukan Amy di kantin. Jadi dia berputar membalik arah kemudian menaiki tangga menuju deretan kelas XII yang berada di lantai dua. Kali ini usahanya tidak sia-sia. Zack melihat Amy sedang berbicara bersama M, Jimmi dan juga cewek yang waktu itu diam di pojokan. Tanpa menurunkan kecepatan Zack menubruk keempat murid itu dan tanpa menhiraukan sekliling ia memeluk Amy.
Amy yang dipeluk tiba-tiba di depan kakaknya tentu saja kaget. "Apa-apaan, sih?" Amy melepaskan pelukan Zack yang kencang itu dengan susah payah.
"Ma-maaf ... maafkan aku, Jimm." ucap Zack yang baru saja sadar bahwa ada Jimmi di belakangnya.
Jimmi menaikkan alisnya. Tidak tahu dengan maksud ucapan Zack barusan.
"Aku lolos, Amy!" teriak Zack. Membuat murid-murid lain menoleh padanya.
Amy menunduk dan memijat keningnya pelan. Diraihnya kertas yang Zack bawa. Senyumnya mengembang.
"Selamat, Zack!" Amy menjabat tangan Zack.
M, Val dan Jimmi hanya memandang Zack heran. M penasaran dan merebut kertas pengumuman itu dari tangan Amy.
"Wah ... kau lolos seleksi calon KM, Zack!" seru M seraya mengulurkan tangan pada Zack. Jimmi dan Val juga menyusul mengulurkan tangan menjabat tangan Zack.
.
§§§
.
"... dan memperbaiki serta meningkatkan kegiatan kesiswaan. Terima kasih."
"Bukankah itu buatanmu?" Jimmi menunjuk Amy yang sedang menyeruput segelas jus jambu merah dengan satu sedotan putih bengkok.
"Pidato Zack? Aku cuma bantu dia bikin naskah pidatonya, kok."
"Dia itu ... bikin naskah pidato saja harus minta bantuanmu. Gimana kalau dia jadi KM?"
"Aku yakin Zack akan menang!" seru Amy mantap.
"Tidak mungkin. Aku bertaruh untuk Olie."
Glek! Amy berhenti menyedot jusnya.
"Tidak ... tidak ... Zack yang akan menang."
"Mau taruhan? Aku dukung Olie. Kalau aku kalah, kau akan kutraktir."
"Eh?" Amy berpikir sejenak, memandang Jimmi yang sedang tersenyum tipis. "Kau jangan terlalu yakin. Zack yang akan jadi KM. Tapi, kalau aku salah ... umm, aku ... aku-apa, ya?" Amy kembali berpikir. Tak mungkin kalau dia menjanjikan seperti yang Jimmi janjikan jika ia kalah.
"Kau akan apa?" tanya Jimmi tak sabar.
"Terserahmu saja, deh. Lagipula aku yakin Zack menang."
"Baiklah ... jika Zack gak menang, kau harus mau makan malam denganku."
Uhukk...
Kali ini Amy benar-benar tersedak. Makan malam? Kalah atau menang dia akan ditraktir, kan? Tidak terlalu buruk juga makan malam dengan Jimmi.
"Baiklah ...." Amy kembali meraih gelasnya.
Jimmi hanya menaikkan sebelah alisnya. Dilihatnya M datang dengan sepiring roti bakar.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya M seraya meletakkan piring di meja, menarik bangku kemudian duduk di depan Jimmi. Ia melihat senyum penuh arti di bibir sahabatnya itu.
"Aku-nanti juga kau tahu, kok." jawab Jimmi mencolek roti bakar di piring M lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Eh ... kau tak ada kenyangnya, Jimm. Kau kan baru makan sepiring nasi dan semangkuk sup ayam."
Jimmi hanya menanggapi ocehan Amy dengan kekehan kecil.
__ADS_1
"Kapan pemilihan ketua KM?" tanya Amy pada kakaknya.
"Dua hari lagi," jawab M dengan mulut penuh.
"Hari ini kampanye terakhir."
"Berarti aku harus berkampanye habis-habisan hari ini."
"Tim sukses macam apa, kau ini? Masa gak tahu kalau hari ini hari terakhirmu mempromosikan Zack."
Amy mengacuhkan perkataan Jimmi. Ditenggaknya sisa jus kemudian begegas meninggalkan kantin. "Sampai nanti, ya ...!"
.
§§§
.
Val keluar dari toilet dan sedikit merapikan roknya. Ia menangkap sebuah kegaduhan dari lapangan saat hendak melaluinya. "Ada apa, ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Perlahan ia bergerak ke tengah lapangan. Terlihat Amy sedang berteriak mempromosikan Zack. Di sebelahnya Lewis tengah membagi-bagikan selebaran.
"Siapa yang harus kita pilih?" teriak Amy.
"Zack!" seru murid-murid di sekeliling Amy.
"Siapa yang akan jadi ketua kita?" Amy kembali berteriak seperti seorang pemimpin demonstran.
"Zack! Zack! Zack! We want Zack!" kembali masa itu berteriak.
Val menggelengkan kepalanya dan menjauh dari kerumunan. Ia berpikir dua sahabatnya itu sudah gila.
Karena perutnya berteriak, Val melangkah menuju kantin. Melihat Amy dan Lewis yang menurutnya mengerjakan sesuatu yang bodoh itu membuatnya lapar dan ingin menyantap semua makanan yang ada di daftar menu kantin sekolah.
Sesampainya di kantin, Val benar-benar memesan banyak makanan. Sepiring nasi goreng, roti bakar dan sup ayam sudah masuk ke perutnya, tak ketinggalan segelas jus alpukat juga.
Sesudah menghabiskan semuanya Val merasa kenyang luar biasa. Ia tak peduli harus menghabiskan semua uang yang ada di kantongnya sekarang. Ia puas.
"Perhatian!!!" seorang anak yang Val kenal naik ke salah satu meja kantin. Val mengenalnya sebagai teman Olie, tapi Val tidak tahu siapa nama anak kurus tinggi itu.
"Hari ini silahkan makan sepuasnya, Olie akan mentraktir kita semua!"
Seketika kantin bergemuruh oleh teriakan para murid yang ada di situ. Beberapa orang yang sedari tadi hanya menyedot minuman teh langsung memesan aneka makanan.
"Olie! Olie! Olie!"
Suasana jadi tidak tenang. Segera saja Val kembali ke kelas meninggalkan teman-temannya yang sekarang tidak jauh gila dengan Amy dan Lewis.
"Mereka sama saja," gumamnya pelan.
.
§§§
.
Seluruh siswa sore itu berkumpul di beberapa area untuk mendengar siaran langsung penghitungan suara pemilihan KM di radio sekolah. Beberapa berkumpul mengerubungi mading, beberapa mendengarkan di perpustakaan. Ada juga yang merapat di luar studio dan ruang guru. Amy, Lewis dan Val memilih mendengarkan penghitungan sambil makan di kantin.
"Satu lagi suara untuk Zack!"
Amy tersenyum mendengarnya. Sejauh ini nama Zack sering di sebut-sebut. Ia sangat yakin Zack akan mengalahkan yang lain, terutama Olie.
"Baiklah... ada dua kandidat dengan jumlah suara sama, 328 suara."
"Wow... mereka memimpin. Dan mereka adalah Olie Prinson dan Zacharia Johanson. Mengejutkan karena mereka ternyata satu kelas!"
"Apa?" Amy berdiri untuk menangkap lebih jelas suara penyiar itu.
"Oke ... ini saat yang dinantikan. Siapa yang akan menggantikan M menjadi KM? Di tanganku ada satu lagi yang belum dibacakan. Kita lihat apakah suara ini untuk Zack atau Olie atau mungkin untuk calon yang lain? Sayang sekali jika ini bukan untuk Zack ataupun Olie, maka akan diadakan voting ulang untuk dua kandidat yang sama-sama ganteng ini ...."
"Banyak omong!" desis Amy. Jelas sekali wajah Amy tegang. Tangannya yang mengepal terasa licin. Ia berkeringat.
"Dan ... ini dia teman-teman. Well, kita sudah dapat Ketua Murid yang baru!"
Amy semakin menguatkan kepalannya. Ia sampai menghiraukan perih yang ditimbulkan kuku-kukunya.
"Suara terakhir ini untuk Olie! Ya, Ketua Murid kita yang baru. Selamat Untuk Olie Prinson."
Amy lemas. Jantungnya yang sedari tadi dag-dig-dug seakan berhenti mendadak. Olie menang?
Rasanya dunia ini runtuh di depan matanya. Rasa kesal langsung menyelimuti hatinya. Dengan langkah tergesa Amy pergi meninggalkan segelas jus jambu merah kesukaannya yang masih utuh di meja.
Bersambung...
Terima kasih karena telah membaca Lemon Love sejauh ini....
__ADS_1
Mohon dukungan kalian ^.^
Silakan tinggalkan komentar apapun di bawah. :)