He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Gosip


__ADS_3

Begitu memasuki gerbang sekolah, Amy segera merasakan perbedaan dengan hari-hari biasa. Ia mendapati hampir setiap murid memperhatikannya--menatapnya--dan berbisik dengan sesama. Sebagian tersenyum, tertawa dan sebagian menekuk wajah ke arahnya, seolah Amy baru saja merebut sesuatu dari mereka.


Amy gugup mendapati orang-orang melihatnya, memperhatikan setiap langkahnya, mengekor ke arah jalan yang dilaluinya. Ia risih, berusaha tenang tapi akhirnya ia berjalan cepat--hampir berlari--agar segera sampai di kelasnya untuk menghirup udara bebas. Dan kaki Amy terantuk tangga saat menaikinya. Ia tentu jatuh jika seseorang tidak menahan badannya.


"Olie? Trim's ya," ucap Amy gugup campur malu begitu tahu Olie yang menangkap tubuhnya.


"Lain kali lebih hati-hati, ya."


"Oh ... iya! I-itu pasti. Terima kasih sekali lagi." Amy yakin wajahnya memerah dan itu pasti memalukan. "Maaf ... aku harus buru-buru. A-aku piket hari ini." Amy segera berlari menuju kelasnya yang sudah tak jauh lagi.


"Hey, Amy! Hati-hati!" teriakan Olie masih terdengar saat Amy hampir tiba di kelasnya.


"Fiuh ...." Amy menghela napas. Ia langsung duduk di kursinya. Ia hampir tidak menyadari beberapa murid perempuan memandangnya dengan sinis. Olie masih saja membuatnya lupa daratan.


"Ya ... ya ... aku juga heran. Apa yang menarik dari anak itu, sih?" Seorang murid berambut hitam lurus menaikkan volume suaranya.


Amy melirik sekilas dan menemukan meskipun tubuh mereka tidak menghadap lurus padanya, namun mata mereka jelas memperhatikannya.


"Mereka membicarakanku?" tanya Amy dalam hati. Amy mengerutkan kening. Perlahan ia mulai menyapu lantai dan memasang telinganya baik-baik. Namun ternyata Amy tidak perlu susah-susah menajamkan pendengarannya karena suara anak perempuan itu semakin nyaring, seolah ia memang menginginkan Amy mendengarnya.


"... bahkan kecantikannya standar," lanjut si rambut lurus. "Bukankah masih lebih cantik aku?" tanyanya. Teman-temannya mengangguk dan tertawa.


"Ya, Er. Kau tahu kan dia urakan, tidak lembut seperti kita," tambah seorang yang paling kurus di antara mereka.


"Kakaknya sih iya banget, kalau adiknya ...." Si rambut lurus menatap tajam Amy.


Amy buru-buru menyapu lantai dan membiarkannya tidak sebersih biasanya. ia tak terlalu peduli dengan tugas piketnya. Yang ia mau hanyalah keluar dari tatapan tidak mengenakkan dan tidak bersahabat dari teman-temannya. ia tahu teman-temannya sedang membicarakan dirinya, menyindirnya lebih tepatnya. Tapi karena apa? Amy sama sekali tidak merasa berbuat salah akhir-akhir ini.


Amy benar-benar bingung--dan kesal. Matanya terus mencari seseorang yang ia kenal baik dan berharap bisa terlepas dari tatapan orang-orang yang kini tengah menatapnya baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dan mata Amy akhirnya mendapati seseorang yang dikenalinya tengah berjalan di lorong kelas. tanpa dua kali berpikir, ia berjalan menghampirinya.


"Hei, Jimm!" sapanya. Sungguh Jimmi masuk ke dalam daftar orang yang dihindarinya sejak minggu kemarin.


Jimmi tersenyum melihat Amy berlari ke arahnya. Tidak biasanya gadis berambut hitam sebahu itu mau menghampirinya dengan wajah ceria.

__ADS_1


"Ada apa?"


Amy membuka mulutnya, tapi tak tahu apa yang harus ia katakan karena memang ia tak tahu harus berkata apa pada orang di hadapannya ini. Kata-kata yang sempat terpikir olehnya hilang begitu ia ingat peristiwa di restoran yang romantis.


"Umm ...," alih-alih berbicara, Amy memainkan jarinya di balik punggung.


Jimmi menatap Amy dan menunggu apa yang akan gadis itu ucapkan padanya. "Apa?" tanyanya.


"Kau mau ke kelas, kan?" suara Amy terdengar hampir gugup.


Jimmi hanya mengangguk.


"Baiklah ..., kita bareng. Aku mau menemui M," ucap Amy sebiasa mungkin.


Sebenarnya terlihat aneh di mata Jimmi hingga lelaki tinggi itu menatap Amy beberapa saat sebelum melangkah berputar menuju kelasnya.


"Ada urusan apa?"


Lagi-lagi Amy tidak tahu harus menjawab apa. Sial! maki Amy. "Itu ... ngg ... rahasia."


"Umm ... tidak begitu lama, kok. Hanya sebentar."


"Bagaimana kalau aku yang menyampaikannya?"


"Ish ... sudah kubilang ini rahasia."


"Baiklah ... jadi, malam minggu ini ada acara?"


"Eh?" Amy melirik Jimmi. "Iya."


"Huh? Acara apa? Bukankah kau selalu ada di rumah setiap malam minggu?"


"Memang ... tapi bukan berarti aku gak punya acara apapun, kan?"

__ADS_1


"Memang acara apa? Mmm, aku boleh ikut?"


"No! Acara ini cuma anak tingkat X yang boleh ikut," jawab Amy cepat. Sebenarnya tidak ada acara apapun. Ia hanya berkilah agar terhindar dari makhluk keren itu.


"Menyebalkan." Jimmi mencibir sementara Amy terlihat senang bisa menghindari cowok itu di malam minggu ini.


"Wah ... ternyata kabar itu benar, ya? Hai, Amy. Ketemu lagi." Olie tiba-tiba datang menghentikan perdebatan Amy dan Jimmi.


"Kabar apa?" Amy menoleh pada Jimmi yang hanya menggeleng.


"Kalian belum lihat mading, ya? tertulis jelas di sana, kok." Olie menunjuk sebuah papan pengumuman besar yang dilapisi kaca di sebelah barat. beberapa murid terlihat mengerumuni benda itu.


Penasaran dengan apa yang Olie katakan, Amy langsung berlari menuju mading yang disusul oleh Jimmi di belakangnya.


Saat beberapa langkah lagi menuju mading, Amy merasakan tatapan orang-orang itu. Tatapan yang bermacam-macam. Diterobosnya kerumunan itu hingga ia sampai di depan kaca dan ia mulai membaca berita yang tertulis satu persatu.


"Hey ..., itu kita!" seru Jimmi.


Amy buru-buru melihat sebuah foto yang Jimmi tunjuk. Fotonya dan Jimmi yang sedang berdansa di restoran tempo hari, beserta satu paragraf tulisan yang menurut Amy adalah omong kosong.


Kring.....


Bel tanda masuk berbunyi. Amy perlahan meninggalkan papan berkaca itu menuju kelasnya. Sekilas ia melihat Jimmi memandangi foto itu dengan senyum penuh.


"Menyebalkan ...!" gerutu Amy. "Siapa, sih, yang nyebarin gosip?"


Tiba-tiba saja hidup Amy tidak tenang. Semua orang mendadak seperti Zack, salah paham tentang hubungannya dengan Jimmi.


"Bisa gila aku!" ucap Amy hampir tak bersuara ketika memasuki ruang kelas.


**Bersambung...


----------

__ADS_1


*Hai... Ini author**...


Terima kasih karena sudah membaca Lemon Love sejauh ini 💕💕💕*


__ADS_2