He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Damnation revenge


__ADS_3

Iren menghela napas kasar. Ia masih tidak terima karena telah diskors. Padahal, harusnya hanya satu orang saja yang perlu dihukum. Kedongkolannya pada Amy bertambah ketika mendengar kabar dari temannya yang merupakan salah satu anggota cheerleader.


Teman Iren mengatakan bahwa sepanjang perjalanan menuju tempat pertandingan basket, Amy duduk berdua dengan Jimmi. Bisa-bisanya ketika diskors pun gadis itu masih menempel pada Jimmi. Bahkan, ketika acara makan, Pelatih Emil mengundang Amy. Hati Iren pun memanas. Ia tidak bisa menerima jika Amy masih lengket dengan Jimmi.


Maka hari pertama ia masuk sekolah lagi, Iren bersama Martha, temannya yang selalu dikuncir kuda, menunggu dengan sabar di toilet sekolah. Mereka tengah merencanakan sesuatu.


Ketika orang yang mereka tunggu datang dan menggunakan salah satu bilik toilet, Martha menumpahkan ember yang berisi air kotor dan beberapa benda lengket. Mereka terkikik diam-diam dan langsung pergi meninggalkan toilet.


.


§§§


.


Amy tidak percaya kalau kemarin adalah hari terakhirnya bersama tim basket sekolah. Ia telah dipecat. Ya, gara-gara ditendangnya perut Iren tempo hari.


Sekarang, beasiswanya pun terancam dicabut. Padahal, itu salah satu pencapaiannya yang paling baik. Hal yang bisa ia banggakan pada ayahnya. Jika beasiswa itu benar-benar dicabut, maka Amy sepertinya tidak akan punya muka untuk bertemu ayah. Dan berita buruk pun datang kemarin. M bilang ayah mereka akan pulang sabtu ini.


Amy mengatupkan kedua tangan ke wajahnya. Entah harus bagaimana. Ia harus bersiap menerima konsekuensi perbuatannya. Karena sungguh, Amy tidak menyesal telah melesatkan tendangannya.


"Are you okey?" tanya Sifa seraya duduk di samping Amy.


Hari ini adalah hari setelah tiga hari skors Amy berakhir. Setiap murid yang bertemu dengannya melihatnya dengan pandangan tidak biasa. Ini lebih kacau dari yang Amy kira. Ia merasa seperti seorang narapidana yang baru saja lepas dari sel tahanan.


"Ya, aku baik, Sif. Aku hanya perlu mencuci muka. Aku hanya mengantuk," ucap Amy seraya berdiri menuju toilet.


Ditinggalkannya Sifa yang masih duduk. Ia yakin temannya itu masih memperhatikannya sampai ia keluar pintu kelas.


Di luar, banyak murid yang lagi-lagi meliriknya, mencuri pandang padanya, kemudian membicarakannya dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.


Amy berusaha berjalan setenang mungkin, tidak terburu-buru. Ia tak mau menghindari hal-hal yang seperti itu--dibicarakan, diperhatikan dengan tatapan aneh.


Ketika akhirnya tiba di toilet, Amy langsung masuk ke salah satu bilik yang terbuka. Ia tidak ingin menggunakan toilet, ia hanya mau duduk dan merenung saja. Sepertinya, bilik toilet adalah satu-satunya tempat yang aman di sekolah ini. Ia bisa mengeluarkan ekspresi frustrasinya dengan bebas tanpa takut dilihat oleh siapa pun.


Namun, tiba-tiba sesuatu jatuh dari atas. Sebuah ember berisi air kotor dengan beberapa permen karet bekas dikunyah.


"Ugh!!!" erang Amy. Ia segera keluar bilik untuk melihat pekerjaan siapa itu. Sayangnya, tidak ada siapa pun. Ia hanya mendengar bunyi sepatu yang beradu dengan lantai. Ketika ia keluar pun, tidak ada orang yang terlihat.


Meradang, Amy kembali ke toilet dan memperhatikan keadaannya di cermin yang terpasang di atas wastafel. Bajunya kotor. Rambutnya basah, dengan hiasan permen karet dimana-mana. Bau busuk tercium dari sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Akan tetapi, alih-alih marah, Amy malah meneteskan air mata. Tubuhnya merosot ke lantai dan segera memeluk lututnya.


"Apa, sih, salahku?" gumamnya kesal. Ia marah, sangat marah pada siapa pun yang melakukan perbuatan yang tidak terpuji itu.


Dengan berurai air mata, Amy mencuci wajah dan rambutnya di wastafel. Kemudian ia memasuki bilik dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan selang kecil di samping wc.


Amy tidak berani keluar bilik hingga air tidak lagi menetes dari baju dan rambutnya. Beberapa murid bergantian menggunakan toilet dan mengeluh serta bertanya-tanya mengapa ada bau tidak sedap dan lantai kotor. Ia tahu kalau ini akan menjadi bahan gunjingan lagi.


Ketika bel istirahat berdering, Amy keluar dari toilet. Mengetahui murid-murid mulai keluar kelas satu per satu, Amy berlari menuju gerbang belakang sekolah. Ia tahu murid lain tengah--lagi-lagi--memperhatikannya. Ia tahu mereka saling berbisik dan bertanya-tanya. Tapi Amy tidak peduli.


Ketika suara-suara yang sudah tidak asing lagi memanggilnya pun, ia sama sekali tidak menoleh. Beberapa orang bahkan terjatuh karena terdorong olehnya.


Amy terus berlari dan berlari. Yang ia inginkan hanyalah keluar dari sekolah secepatnya. Ia ingin sendirian. Tanpa seorang pun yang bisa melihat atau mendengarnya.


Maka langkah kaki Amy tak terhentikan. Ia melewati jalanan yang tidak dipakai orang-orang melintas. Ia menyusuri lahan-lahan yang masih ditumbuhi pepohonan tinggi, kemudian menyeberangi jalan menuju ladang jagung yang pohonnya sudah siap panen.


Amy berlari tanpa henti, tidak mempedulikan betisnya yang tergores semak dan ranting atau rasa capek yang membuat napasnya tersengal-sengal. Gadis itu menerobos ladang jagung dengan brutal hingga kembali menyusuri sisa-sisa hutan yang masih ada di desa itu sampai ia menemukan sebuah sungai yang berbatu-batu.


Teriakan terdengar kencang dan berulang kali. Amarahnya terlampiaskan. Beban yang bergelayut di pundaknya menyingkir sedikit. Amy menangis sejadinya.


.


§§§


.


Ada yang bilang Amy pulang ketika istirahat dengan keadaan kacau. Sepertinya seseorang telah merisaknya lagi. M sangat khawatir mendapati Amy tidak ada di rumah. Adiknya itu bahkan pulang begitu saja dari sekolah tanpa membawa tas.


"Di sana juga gak ada, M," kata Lewis sedikit terengah. Ia dan Zack yang berniat main game bareng di rumah M malah berujung membantu M mencari Amy.


"Kalian berdua pulang saja, hari sudah sore," kata M. Ia merasa kasihan pada Zack dan Lewis.


"Tidak. Kau tidak boleh sendirian di hutan ini," tolak Zack yang segera diiyakan oleh Lewis.


"Tapi, kalian terlihat lelah." M bersandar pada sebuah pohon.


"Kau juga," ucap Lewis.


"Mungkin Amy sudah kembali, M. Ayo, kita cek dulu!" ajak Zack.

__ADS_1


"Kau benar, Zack. Ayo, kita kembali!"


Mereka bertiga kembali dari hutan. Suasana telah gelap karena matahari telah tenggelam sebelum mereka sampai di rumah M.


Rumah kecil itu sepi. Tidak ada satu lampu pun yang menyala. Jelas Amy belum pulang. Mereka akhirnya duduk di bangku yang ada di halaman rumah.


"Kalian pulang saja," ucap M.


"Tapi ...." Zack memotong ucapan M.


"Aku akan minta bantuan Jimmi. Jadi, kalian tidak usah khawatir."


"Apa tidak apa-apa seperti itu?" tanya Lewis. Ia sempat melihat Amy berlari sepanjang lorong kelas tadi pagi. Pakaiannya basah dan rambutnya sangat berantakan.


"Ya. Tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantuku, guys!“


"Anytime, friend," ungkap Zack.


Akhirnya M duduk sendiri ketika Lewis dan Zack menghilang di kejauhan. Ia benar-benar letih. Namun, kekhawatirannya mengalahkan apa pun. M segera beranjak menuju rumah Jimmi untuk meminta pertolongan. Ia bahkan lupa untuk sekadar meneguk air putih. Padahal, tenggorokannya terasa sangat kering.


Ketika itulah, ia melihat sesosok bayangan. Dari tingginya, M berharap kalau itu adalah adiknya. M tidak berani melangkah satu senti pun sampai dilihatnya sosok itu benar Amy.


"Am ... Amy!!!"


Amy buru-buru berlari dan menghambur kakaknya. Gadis itu tidak mengatakan apapun. Seluruh tubuhnya dingin seperti mayat.


"Kau baik saja?"


Tentu saja M tahu jawabannya tidak. Rambut adiknya kusut tidak karuan. Kulitnya dipenuhi memar ringan dan seragam sekolahnya kotor, sangat kotor. Dipeluknya erat adik satu-satunya itu dan diciumnya puncak kepala Amy berulang.


"Ayo, kita masuk!" M menggiring Amy untuk segera masuk. Ia tak hendak menanyakan hal apapun. Seperti biasa, ia akan menunggu hingga Amy mengatakan semuanya padanya.


Bersambung...


---------



*Hai readers,

__ADS_1


Kasihan Amy, ya? Ingat, ya, kita ga boleh melakukan perundangan dan perisakan. Oke*?


__ADS_2