He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Exhibition


__ADS_3

Akhir semester telah datang. Sebagai penutup, SMA Elang dan SMA Nuri bekerja sama untuk mengadakan pagelaran seni gabungan. Bertempat di SMA Nuri yang mewah dan luas. Daripada sekolah menengah, SMA Nuri lebih pantas menjadi perguruan tinggi karena luasnya sekolah dan fasilitas yang mumpuni. Padahal, murid di sana terbatas. Hanya seratus murid per tahun yang diterima di sana.


Amy dan M berangkat bersama Jimmi menuju SMA Nuri dengan mengendarai bus. Amy masih tidak mau mengakrabkan diri dengan Jimmi. Jadi, sepanjang perjalanan gadis itu lebih banyak diam.


Bus pagi hari sangat sesak dengan para pekerja yang bekerja di luar kota. SMA Nuri terletak di pinggir kota sehingga untuk ke sana harus menumpang bus antar kota.


Baik Amy, M maupun Jimmi tidak mendapatkan duduk. Mereka berdiri dengan penumpang yang terus naik. Halte ke halte penumpang semakin banyak.


M menarik Amy, membuat gadis itu kini berada di antara kakaknya dan Jimmi. Penumpang semakin berdesakan. Kedua cowok itu berusaha menahan desakan orang-orang agar Amy tidak terjepit.


Amy harusnya bersyukur memiliki dua bodyguard yang menjaganya dalam kondisi seperti ini. Namun, gadis itu sedang tidak fokus. Pikirannya terbang kemana-mana. Bahkan ketika mereka telah sampai tujuan, M harus menyeret adiknya itu agar ikut turun.


"Jangan melamun, Am!" seru M ketika mereka telah turun dari bus dan menepi di trotoar.


"Sepertinya dia masih ngantuk," ucap Jimmi. Mereka memang berangkat pukul enam. Lebih pagi satu jam dibandingkan dengan berangkat sekolah. Kalau tidak menjadi panitia, ketiganya tidak akan sudi berangkat pagi.


"Ah, maaf. Tadi aku gak fokus." Amy berjalan menuju arah yang salah dan langsung ditarik Jimmi.


"Mau kemana? Tempatnya di seberang sana!" Jimmi menunjuk sebuah bangunan dengan halaman yang sangat luas dan hijau.


"Terlalu berlebihan untuk gedung sekolah menengah," komentar M.


"Tapi ini bagus. Lebih bagus dari taman kota kita." Amy tercengang melihat halaman sekolah yang menyerupai taman itu. Pohon-pohonnya rindang. Jalanan setapak yang terbuat dari paving blok berwarna cerah menghiasi tanahnya yang bebas dari daun-daun kering. Rumputnya pun indah. Begitu hijau dan rapi dengan beberapa bunga morning glory di beberapa sudut yang terletak di dekat bangku taman yang sepertinya baru.


"Apa benar ini SMA?“ gumam Jimmi ketika mereka tiba di gerbang SMA Nuri yang begitu besar dengan pos sekuriti yang mirip kantor polisi.


Seorang sekuriti menghampiri dan menanyakan maksud mereka. M menunjukkan sebuah id dari tasnya. Kemudian mereka bertiga digiring menuju sebuah mobil mewah dengan pintu geser. Membuat ketiga remaja itu terbengong-bengong.


"Memang tempat acaranya bukan di sini, Pak?" tanya Jimmi ketika si sekuriti menutup pintu mobil.


"Tentu di sini. Di gedung pertunjukan," jawab si sekuriti yang kemudian berbicara dengan seseorang melalui HT.


"Ini terlalu nyaman," bisik Amy pada kakaknya yang duduk di sebelah. "Saking nyamannya hingga membuatku ga nyaman."


M hanya menanggapi adiknya dengan senyuman miring. Ini memang terlihat berlebihan.


Lima menit kemudian, mereka tiba di sebuah gedung yang cukup besar dengan halaman luas dan sebuah panggung di tengahnya.


"Woah, ini benar-benar amazing!“ seru Jimmi.


Sekarang mereka mengerti kenapa si sekuriti mengantar mereka dengan mobil. Jarak lapangan dan gedung ini dari gerbang lebih dari satu kilometer. Yang kurang masuk akal hanyalah mobilnya yang terlalu bagus.


"Apa orang-orang yang akan menonton pagelaran seni kita harus berjalan sejauh ini?“ tanya M. Ia membayangkan betapa repotnya para penonton nanti. "Harusnya diadakan di sekolah kita seperti biasa saja."

__ADS_1


Jimmi mengangguk sementara Amy mengangkat bahu menanggapi kata-kata M barusan.


"Kalau aku, mending ga usah ke sini. Tempatnya jauh, lalu ternyata lebih jauh lagi. Kalian mengerti?“


M dan Jimmi kompak menggelengkan kepala.


"Kita harus naik bus untuk ke pinggir kota ini. Lalu setelah turun bus, ternyata masih jauh dari gerbang yang kau kira itulah lokasinya." Amy mengangkat tangan setinggi kepala.


"Tidak begitu juga. Akan tetap banyak yang datang karena kita mengundang Dexter." Jimmi menarik kaos yang dipakainya yang bergambar band favoritnya itu dengan bangga.


"Hai, kalian dari SMA Elang? Ayo, silakan masuk ke gedung." Seorang gadis dengan rok dan kemeja putih menghampiri ketiga remaja yang baru keluar mobil itu. "Aku salah satu panitia pensi juga. Ayo, masuk. Meeting akan segera mulai."


******


Kali ketiga Amy ke SMA Nuri. Kali ini ia berangkat bersama Zack, Olie, Tata, Lewis, Jimmi dan kakaknya, serta beberapa cowok lain yang Amy kenal wajahnya saja. Hari ini adalah hari pagelaran seni gabungan itu diadakan. Mereka dijemput oleh sekuriti SMA Nuri di sekolah.


Sebenarnya agak menyebalkan karena selain dirinya, tidak ada cewek lain yang jadi panitia dari SMA Elang. Ini karena Aurora meminta agar semua panitia adalah cowok. Amy adalah pengecualian. Aurora bilang dia tidak menganggap Amy seorang cewek.


"Seharusnya yang membawa kamera ini adalah Norah, bukan aku," keluh Amy. Ia bahkan baru belajar cara menjepret gambar dengan kamera DSLR yang diberikan SMA Nuri padanya kemarin. Kamera digital dengan pengaturan yang jauh dari kata simpel. M mengajarinya untuk mengatur setting-an kamera agar hasilnya bagus. Tapi Amy lebih banyak tidak memahami yang diajarkan kakaknya.


"Hei, ini kamera bagus. Kau harus bersyukur bisa menggunakannya," ucap Lewis dari deretan bangku belakang. Ia juga memegang kamera yang sama karena sama-sama mendapatkan tugas untuk mengabadikan momen.


Si sekuriti yang kali ini menjadi sopir agak terkejut mendengar ucapan Amy dan Lewis.


"Tidak apa, Pak. Dia sudah sering dikira cowok bahkan ketika rambutnya panjang." Jimmi menanggapi si sekuriti dari deretan tengah sebelum Amy bisa mengatakan apapun.


"Sejujurnya, aku juga tidak menganggap adikmu itu cewek, M," ujar Zack pada M yang duduk di antara dirinya dan Jimmi.


"Aku bisa dengar itu, Zack. Terima kasih," kata Amy sedikit kesal. "Aku juga tidak menganggapmu cowok."


"Kau tenang saja, Am. Masih ada yang menganggapmu cewek, kok," tukas M.


"Biasanya cowok yang berkata begitu yang suka pada Anda, Nona," ucap si sekuriti sembari tertawa.


"Dia kakakku, Pak."


Si sekuriti melirik M melalui kaca spion dan menyadari kemiripan wajah kakak-adik itu. "Ah, begitu, ya? Haha ...."


"Yang kumaksud adalah orang yang duduk di belakang Bapak." M menyikut Jimmi yang buru-buru membuang muka ke jendela.


"Loh, Jimmi malu? Biasanya ga punya malu!“ ujar Lewis yang langsung mendapat jitakan keras Jimmi.


"Sepertinya dia benar-benar menyukai Anda, Nona," ucap si sekuriti berwajah bulat itu.

__ADS_1


Amy tidak bereaksi apa-apa. Gadis itu hanya membolak-balik kamera di tangannya. Berusaha untuk tidak mengingat bahwa sekarang ada Opheria.


*****


Semakin siang, para pengunjung semakin banyak berdatangan memadati lapangan milik SMA Nuri itu. Pagelaran seni kali ini terbuka untuk umum. Dengan Dexter sebagai bintang tamu, diperkirakan lapangan seluas lapangan sepak bola itu akan penuh.


Sedari pagi para murid dari kedua sekolah telah menunjukkan kebolehan masing-masing. Mulai dari menari, menyanyi, sampai pertunjukan kabaret. Beberapa booth juga disediakan seperti booth makanan dan karya seni yang dikelola oleh para siswa.


Amy berkeliling untuk memotret apa yang sekiranya diperlukan untuk dokumentasi pihak sekolah. Ia menemukan beberapa teman sekelasnya tengah menikmati pertunjukan sembari mengunyah camilan yang dijual di booth yang terletak di pinggir lapangan.


Untuk mendapatkan view luas, Amy mundur melewati booth-booth makanan dan mulai melihat melalui layar di kamera. Tiba-tiba saja jarinya menghentikan gerakan dan tak jadi menekan tombol shutter. Ia menarik napas jengah dan menurunkan kameranya.


"Amy!!!"


Amy membenarkan topinya yang bercorak army. Dipicingkannya mata demi melihat pasangan yang membuatnya sesak napas.


"Kalian ... kenapa di sini?“ tanya Amy berusaha beramah tamah. Ia melihat-lihat hasil jepretan amatirnya.


"Sekarang bagian konsumsi bisa bernapas lega," ujar Opheria.


"Oh, kalian sudah selesai?“ tanya Amy lagi tanpa memalingkan wajah dari layar kamera.


"Kami akan sibuk lagi saat waktu makan siang." Kali ini Jimmi yang menjawab pertanyaan Amy.


Amy hanya mengangguk sambil memajukan bibirnya sedikit. Diliriknya Jimmi yang mengenakan celana taktikal army dengan kaos hitam polos. Cowok itu tengah menatapnya juga sehingga mata mereka sempat bertemu. Amy mengutuk dalam hati demi melihat mata cokelat itu. Mata yang membuatnya ingin melihat si pemiliknya lebih lama.


"Amy, aku boleh minta tolong?" Opheria meraih tangan Amy dan menggenggamnya. "Tolong foto kami berdua, ya?"


Bersambung...


----------------------


Hai, author di sini...!


Dukung author dengan like dan komen setiap chapter, ya ^^


Add to favorite dan vote juga kalau berkenan.


Kalian boleh, lho, rekomendasiin He Is Not My Brother ke teman, saudara atau pacar kamu *biar bisa ngomongin karakternya di luar cerita 😂


Kalian juga boleh gabung grup chat author biar dapat kotak hadiah ^^


See ya' next chapter*!

__ADS_1


__ADS_2