He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Leaving Her


__ADS_3

Setelah Amy membawa koper dan barang-barangnya ke rumah Larry, cewek itu ikut bersama M dan Jimmi untuk ke bandara di kota sebelah. Dua sahabat itu akan segera berangkat meninggalkan kota ini untuk melanjutkan studi.


M dan Jimmi masing-masing membawa sebuah koper. Perasaan mereka galau. Kedua cowok keren itu senang sekaligus sedih. Senang karena apa yang mereka inginkan akhirnya lebih dekat. Sedih karena orang yang mereka sayangi akan berada jauh dari pengawasan.


Di halte, tanpa diduga telah banyak wajah yang menunggu mereka. Zack, Lewis, Olie, Val, Sifa, dan Jason. Anak-anak itu menunggu kehadiran tiga remaja yang kini baru sampai di sana.


"Kalian mau kemana?" tanya Jimmi setelah mengadukan kepalan tangan pada semua cowok yang ada di sana.


"Mengantarmu dan M," jawab Olie seraya menunjukkan beberapa tiket bus. "Kalian tidak usah beli tiket lagi. Sudah ada di sini."


Jimmi mengangguk. Ia meletakkan koper dan duduk di samping Amy. "Hei, Jason!“


Jason yang tengah mengobrol dengan Zack buru-buru menghampiri Jimmi. "Ada apa, Kak?"


"Selama aku pergi, jangan dekati pacarku!“ Jimmi merangkul Amy.


"Memang pacar Kak Jimmi yang mana?“ tanya Jason polos.


"Ini!“ Jimmi mengelus kepala Amy kemudian menariknya ke bahu.


Wajah Jason terlihat pucat. "Se-serius?“ katanya berpegangan pada tiang halte. Tiba-tiba tubuh Jason lemas.


"Sudah kuduga kau belum tahu, makanya kukasih tahu."


"Apa itu benar, Am?" tanya Jason pada Amy.


Amy melepaskan tangan Jimmi dari kepalanya kemudian menegakkan badan dan mengangguk.


"Ah!“ Jason memegangi dadanya yang terasa nyeri. "Hatiku sakit," katanya.


"Heh, masih banyak cewek di sekolah." Zack menepuk bahu Jason pelan. "Nanti kuajari cara mendapatkan salah satuya."


"Oh, itu busnya! Ayo, naik!" seru Lewis membuat semua anak remaja itu menoleh ke arah datangnya bus.


Mereka mulai menaiki bus dan duduk dengan teratur. Jimmi menarik Amy untuk duduk bersamanya. Jika tidak, Amy sudah pasti akan duduk bersama M. Kali ini saja, Jimmi ingin Amy untuk lebih memilihnya daripada kakaknya sendiri.


"Kau gak akan suka sama cowok lain selama aku tidak ada, kan?“ tanya Jimmi. Ia memandang Amy dan menggenggam erat jemari pacarnya.


"Kau tidak percaya padaku?“ tanya Amy balas menatap Jimmi.


"Jawab saja, biar hatiku tenang."


Amy tersenyum. "Siapa pun cowok itu, dia akan kalah dengan seorang cowok yang telah kukenal seumur hidup. Mereka telah kalah dari awal karena kau telah mencuri start."


Jimmi tersenyum dan tertawa di saat bersamaan. "Mencuri start?“


"Ya. Kau bahkan sudah ada di sana, menungguku sebelum aku lahir."


Jimmi mendongak dan mendapati Anne melayang dengan senyuman. Rupanya Anne ikut mengantar M pergi. "Dia benar, Jimm. Dibandingkan M, kau selalu ingin kugendong dan mengelus perutku ketika aku mengandung Amy."


"Begitu, ya?“ gumam Jimmi.


"Bagaimana denganmu? Apa kau yakin tidak akan tebar pesona pada gadis-gadis kota?“ tanya Amy.


"Sudah kubilang, kau tidak akan kehilanganku kalau kau tidak menghilangkan aku dari hidupmu."


"Jawab saja, biar hatiku tenang," ucap Amy persis seperti yang Jimmi katakan sebelumnya.


"Aku tidak akan mendekati cewek lain. Percayalah. Hanya kau yang akan selalu di hatiku," jawab Jimmi dengan serius. Ia menatap dalam mata Amy, membuat adik sahabatnya itu merona merah.


"Cieeee...!!!“


Tiba-tiba saja seluruh bus nyaring. Bahkan, yang tidak mengenal Amy dan Jimmi pun ikut bersuara.


Amy menarik cap topinya hingga menutupi wajah. Malu sekali rasanya dengan seisi bus. Sekilas ia melirik Jimmi yang juga menjadi salah tingkah.


"Am...," ucap Jimmi ketika keadaan sudah kembali tenang. "Kau suka kamarku, kan?“


"He?“ Amy memang pernah bilang kalau kamar Jimmi bagus dan ia menyukainya tetapi kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal itu.


"Aku tidak mengubah kamarku. Kau boleh memindahkan barangku jika kau tidak suka."


Amy memicingkan mata, melihat ekspresi Jimmi ketika ia berbicara. "Dasar pemalas!“ Amy mendaratkan jari-jarinya di kepala Jimmi kemudian mendorongnya. "Bilang saja kau malas memindahkan barangmu!“

__ADS_1


Jimmi tersenyum jahil. "Tapi kau suka barang-barang itu, kan?“


Ya. Sejujurnya Amy memang menyukai desain kamar bercat putih itu dengan pernak-perniknya.


"Aku tahu kau suka, makanya tidak kupindah. Lagipula ...." Jimmi melirik sekeliling, kemudian ia berbisik, "... itu akan jadi kamar kita cepat atau lambat."


Wajah Amy sontak memerah. Segera ia menjauhkan wajah Jimmi dengan telapak tangannya. Kemudian ia berdeham dan bersikap wajar agar orang-orang tidak menyorakinya lagi.


*******


"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu." Weni menyerahkan sebuah bingkisan kecil berwarna hijau pada M. "Kami harus pindah besok karena ayahku dipindahtugaskan."


"Ah, aku mengerti." M tersenyum. Ia tidak ingin menyuarakan kekecewaannya lebih lanjut. "Jadi, kita LDR?“ Taman di tengah kota kecil itu mendadak terasa sangat sepi. M merasa hanya ada dirinya dan Weni di dunia ini. Perlahan, dilihatnya Weni memudar meninggalkannya sendiri di tengah taman yang sunyi itu.


"Aku tidak mau memaksamu. Kalau kau tidak mau, kita bisa putus," ucap Weni setenang malam. Angin sepoi bertiup lembut menerpa rambutnya yang tergerai panjang.


"Apa ... kau tidak mau?“ tanya M dengan perasaan yang tidak karuan. Hatinya was-was. Ia akan jauh dari adiknya, kemudian ia juga harus jauh dari orang yang dicintainya.


Weni tidak menjawab. Ia begitu tenang menghadapi perpisahan mereka. "Sering-seringlah menghubungiku," ucap Weni seraya tersenyum. "Aku menyayangimu."


M merogoh saku jaketnya dan menemukan bingkisan kecil dari Weni yang belum ia buka. Kakak Amy itu melirik adiknya yang tengah bercanda dengan sahabatnya. M tahu mereka juga akan berpisah. Seperti dirinya dan Weni.


Bus terus melaju. Meski Olie terus mengajaknya ngobrol tetap saja M tidak bisa untuk tidak memikirkan Weni. Bahkan lebih sulit melupakan kegelisahannya tentang gadis itu daripada kekhawatirannya pada Amy.


"Apa itu?“ tanya Olie ketika ia melihat bingkisan hijau yang M pegang.


"Kenang-kenangan dari seseorang," jawab M. Digenggamnya erat benda itu.


"Oh, iya, Kak Weni tidak mengantarmu, Kak?“


"Dia sudah lebih dulu pergi. Keluarganya pindah dua hari lalu."


"Jadi ... kalian akan melakukan hubungan jarak jauh seperti Amy dan Jimmi? Mereka pacaran, kan?“


M mengangguk dengan tawa kecil mengalir dari mulutnya.


"Jarak tidak akan menghalangi cinta, Kak," ujar Olie sambil menepuk bahu M.


"Ya, kau benar," sahut M. Padahal di dalam hatinya ia sangsi dengan kalimat Olie itu. M melihat ada keraguan di mata Weni saat mereka terakhir bertemu.


"Orang itu pasti sangat berterima kasih atas momen kebersamaan kalian," ucap Olie yang juga melihat isi bingkisan kecil itu.


"Ya," kata M. Ia menarik napas panjang. M tahu tentang bunga-bunga karena Weni pernah menjelaskan arti masing-masing bunga padanya. Kini M mengerti maksud Weni. Sweet pea itu adalah ucapan terima kasih sekaligus selamat tinggal.


********


Bandara hari itu terlihat sibuk seperti biasa. Sesekali terdengar deru mesin pesawat yang take in atau pun take off di sekitar bandara. Orang-orang berjalan dengan tas dan koper masing-masing. Menuju terminal keberangkatan atau baru saja keluar.


Ketika bus berhenti di tujuan, Amy sangat enggan turun. Ia belum sanggup memasuki waktu yang mencekam itu. Hatinya tidak siap untuk berpisah dengan dua orang kesayangannya.


Namun, Jimmi dengan lembut mengamit lengannya. Bibir Amy bergetar ketika udara di dalam bandara mengisi paru-parunya. Sekali lagi gadis itu menurunkan cap topinya menutupi mata. Ia tak yakin jika matanya tidak memerah.


"Kau tak apa?“ tanya M yang melihat adiknya diam saja sejak memasuki bandara.


Amy menggunakan segenap tenaga dan keberaniannya untuk tersenyum. "Ya, I'm okay."


"Kami tidak bisa mengantar kalian lebih jauh," ucap Olie ketika mereka mendekati pintu masuk keberangkatan.


"Terima kasih banyak kalian semua telah mengantar kami sampai sini," ucap M seraya menyalami teman-temannya satu per satu. Jimmi pun melakukan hal yang sama.


"Am, kami pergi dulu," ucap Jimmi. Berat rasanya untuk melangkahkan kaki mulai dari detik itu. Ia memeluk Amy erat dan mengelus puncak kepalanya.


Amy diam saja menerima perlakuan cowok yang telah menjadi pacarnya itu.


"Jaga dirimu baik-baik." Giliran M yang memeluk Amy. Cowok itu mengecup kening adiknya. "Kami akan sering menghubungimu. Kau harus cepat menyusul kami. Oke?“


Amy mengangguk. Ia sangat ingin mengatakan pada M kalau ia sangat menyayangi kakaknya itu tetapi bibir Amy tak kunjung bisa digerakkan. Badannya mulai gemetar meski sudah berusaha ia tahan sedari tadi.


"Aku harap kalian berteman baik dengan adikku," kata M kepada semua yang mengantarnya. Cowok itu bergerak menjauhi adiknya. Bersama Jimmi, ia melangkah menghampiri seorang petugas yang tengah berjaga.


"Tunggu!“


Kedua cowok itu berbalik mendengar suara derap sepatu dan mendapati Amy memeluk keduanya dengan erat.

__ADS_1


"Aku ... akan merindukan kalian. Akan sangat rindu," ucap gadis itu dengan mata terpejam. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak tumpah detik itu. Namun, getaran tubuh Amy saja sudah mampu memberitahu M dan Jimmi betapa gadis itu sangat tidak ingin berpisah.


Mereka berpelukan cukup lama. Ketiganya berharap waktu berhenti selamanya atau berjalan sangat cepat sehingga tidak perlu merasakan pahitnya perpisahan.


Pada akhirnya Amy melepas pelukannya. "Hubungi aku kalau sudah sampai," ucapnya serak.


Baik M atau pun Jimmi tidak bersuara. Keduanya hanya mengangguk dan melihat gadis kesayangan mereka menjauh dengan lambaian tangan dan bibir tersenyum. Keduanya membalas lambaian Amy kemudian berbalik menjauh.


Setelah kakak dan pacarnya tak terlihat, Amy menghampiri Val dan Sifa kemudian memeluk keduanya. Pertahanannya roboh sudah. Amy mulai terisak di bahu dua sahabatnya.


"It's okay. Kau tidak sendiri, Am. Masih ada kami," ucap Val. Ia dan Sifa balas memeluk Amy.


"Kami juga ada di sini untukmu," ujar Zack.


Jason yang sedari tadi hanya menyaksikan, menggiring Olie, Lewis dan Zack untuk merapat kemudian merangkul tiga gadis yang tengah berpelukan itu.


"Kami adalah sahabatmu," ujar cowok-cowok itu hampir berbarengan.


Amy mendongakkan kepala kemudian mengusap hidungnya. "Terima kasih. Kalian yang terbaik," ujar Amy dengan suara sumbang.


"Two in my heart has left me a while


I stand alone


When they get back—"*


Zack buru-buru mematikan ponselnya yang berdering.


"Hei, pasang nada dering yang benar!“ ucap Val. Ia menggetok kepala Zack kemudian.


"Ah, maaf. Nadanya belum kuganti."


"Dasar kau! Kau harus tanggung jawab kalau Amy sampai menangis lagi!" Val menghampiri Zack dengan mata membulat penuh. "Kubilang pada Kak Jimmi!"


"Apa? Dasar tukang ngadu!“ protes Zack.


"Suruh siapa pakai nada dering itu, ha? Kenapa gak pakai lagu lain? Kenapa pas momen seperti ini?“


Val terus mencereweti Zack, membuat cowok itu terlihat sangat kesal. Namun, tingkah mereka justru membuat senyum Amy mekar.


"Kau sudah baikan?“ tanya Sifa melihat sahabatnya tersenyum.


"Ya. Berkat mereka." Amy menunjuk Val dan Zack yang masih ribut.


"Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang. Kutraktir!“ seru Olie.


"Oh, siap!“ sahut Lewis secepat kilat.


"Kalau soal makanan, Lewis memang bisa menyaingi The Flash kecepatannya," ujar Sifa.


"Hei, mereka gimana?“ tanya Jason yang masih melihat Zack dan Val berdebat.


"Ayo, kita tinggalkan saja!" Amy menarik Sifa dan yang lainnya pergi meninggalkan Val dan Zack diam-diam.


Bersambung...


* 2nd Heartbeat - Avenged Sevenfold


______________


*Hai, Readers...


Terima kasih atas dukungan kalian semua sehingga author bisa melanjutkan cerita ini.


Semoga sehat selalu*~


Find me on:


Ig: @its_rsvka


Fb: Hi Gaez Itz Revka


Wp: @Revka09

__ADS_1


Storial: @Revka09


__ADS_2