He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Believing Faith


__ADS_3

Hal yang mengganjal hati Jimmi dan M terungkap sudah. Sekarang mereka tahu kenapa Amy dengan mudahnya memaafkan mereka. Juga alasan kenapa gadis itu masih giat belajar.


Amy bertekad untuk masuk Universitas Cerdas. Sebuah perguruan tinggi swasta yang memiliki jurusan kriminologi. Namun, letaknya di utara kota kecil mereka, sementara Jimmi dan M berada jauh ke selatan kota ini. Jarak kota X dan Z kurang lebih tiga ratus kilometer. Lebih jauh 70 km dari jarak kota kecil mereka dengan kota X—tempat Universitas Cendekia berada.


Kecemasan dua cowok itu jelas tergambar di wajah mereka. Mereka merencanakan rencana B yang menyenangkan bagi mereka tetapi Amy malah menyodorkan plot twist. Yang lebih menyakitkan, mereka tahu kalau Amy tidak bisa dibujuk.


"Dia seserius itu untuk menjadi kriminolog? Aku tidak percaya," ucap M ketika ia dan Jimmi hendak tidur di kamar bawah.


Jimmi diam saja, terlentang menatap langit-langit kamar. Ia telah berbicara pada Amy. Membujuknya, bahkan memohon agar ia melanjutkan studi di kota X saja. Akan tetapi, pacarnya itu tetap bergeming dengan keputusannya. Membuat cowok itu frustrasi setengah mati.


"Kau tahu dari awal kalau aku akan melakukan ini, kan?“


Mata Jimmi membulat mendengar pertanyaan Amy itu. Mengingatkannya pada peristiwa lama, sebelum ia lulus SMA.


"Ibuku yang memberitahumu, kan?“


"Ba-bagaimana ...." Jimmi terlalu terkejut dengan kata-kata itu. Anne memang memberitahunya kalau suatu hari Amy sendiri yang akan memutuskan untuk hidup mandiri.


"Aku bertemu dengannya, Jimm. Kemarin aku melihat mata hitamnya yang hangat, rambut lurusnya yang tergerai indah serta bibirnya yang manis meski berwarna pucat. Akhirnya aku melihatnya lagi," kata Amy yang memandang Jimmi dengan mata telah basah. "Dia menceritakan semuanya. Dia memelukku. Benar-benar terasa nyata." Amy tersenyum dengan lelehan air mata yang terus mengalir.


Jimmi memeluk gadis itu. Tahu kalau rasa rindu Amy tidak akan terbayar dengan satu pelukan Anne.


"Dia bilang itu yang terakhir. Dia bilang, dia akan pergi selamanya, Jimm." Tubuh Amy mulai bergetar. "Kenapa? Setelah belasan tahun ia muncul hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Harusnya dia tidak usah muncul saja di hadapanku!“ Amy meraung dan mengguncang tubuh Jimmi. Melampiaskan kekecewaan dan kesedihannya pada cowok jangkung itu.


Jimmi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Dadanya juga ikut merasa sesak melihat Amy yang lagi-lagi kehilangan. Ia hanya mampu terus memeluk tubuh kecil Amy hingga gadis itu perlahan tenang.


Langit-langit kamar tiba-tiba menjadi gelap. Jimmi baru menyadari kalau M telah berbaring di sampingnya dan mematikan lampu kamar. Jimmi tiba-tiba penasaran apakah M juga telah melihat Anne. Ibu Amy itu pernah bilang kalau ia akan menghilang selamanya setelah menunjukkan diri pada Amy dan M.


"Marsh, kau sudah tidur?" tanya Jimmi.


"Belum. Kenapa?“ jawab M dengan mata terpejam.


"Apa kau pernah melihat ibumu? Maksudku baru-baru ini."


Tidak ada jawaban dari M. Waktu terasa berhenti dan Jimmi menoleh menatap sahabatnya.


"Aku melihatnya ketika kita berangkat ke kota X pertama kali," ucap M akhirnya. "Apa kau melihatnya lagi?"


Jimmi tahu pasti Anne juga telah menceritakan semuanya. "Tidak," jawabnya.


"Dia bilang akan pergi selamanya."


"Ya."


Kemudian keheningan kembali tercipta. Tidak ada lagi yang berbicara hingga akhirnya keduanya terlelap di bawah cahaya lampu tidur.


*******


Tidak ada yang bisa mencegah hujan turun dari langit. Karena pepohonan bersorak, tanah tertawa-tawa menyambutnya, karena langit tahu kalau awan akan selalu kembali padanya.


Jimmi merelakan Amy pergi hari itu. Setelah kelulusan, Amy berangkat menuju kota Z untuk mengejar cita-citanya. Ia tidak akan menghalangi keinginan orang yang disayanginya. Ia akan selalu mendukungnya, seperti juga Amy melakukan hal yang sama padanya.

__ADS_1


Cinta tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Hal itu yang Jimmi pelajari dari Anne dan Jerome. Keduanya bisa menjaga orang-orang yang mereka sayangi dari jauh dan dari dunia berbeda. Kapan pun dan dimana pun, mereka bisa saling menjaga.


"Kau tidak lupa tiketmu, kan?“ tanya Jimmi ketika mereka tiba di halte bus.


Amy tersenyum dan mengangguk. Adik M itu kini terlihat lebih dewasa. Rambut Amy telah memanjang sebahu, tertiup angin yang melintasi halte dengan santai.


"Aku akan mengantarmu sampai kota Z," kata Jimmi sembari memamerkan sebuah tiket bus.


"Pesawatmu?" tanya Amy dengan satu alis terangkat.


"Aku berangkat besok," jawab cowok yang juga telah tumbuh dewasa itu. Jimmi lebih sering memakai kemeja daripada kaus sekarang.


"Ah ... apa kau tidak capek nanti?“


Angin berembus lebih kencang, menerbangkan daun-daun kering dan membuat rambut Amy berantakan. Jimmi merapikan rambut gadis itu.


"Aku tidak bisa capek kalau dekat denganmu," katanya dengan senyuman yang masih membuat Amy berdebar.


"Kakak lama sekali." Amy berusaha mengusir debaran hangat yang mulai merembet di hatinya.


"Dia menjemput pacar barunya dulu," ujar Jimmi seraya melihat jam tangan.


"Wah, apa ini? Kok, aku belum tahu. Siapa pacar kakak?"


"Adik tingkat kami," jawab Jimmi. "Kau akan tahu sebentar lagi." Jimmi tersenyum geli, membuat Amy curiga.


"Kakak pacaran dengan gadis dari kota ini dan satu kampus dengannya? Ck! Hidup ini memang gak adil!“ gerutu Amy yang iri dengan M yang tak perlu LDR.


Sepercik rasa bersalah muncul di hati Amy. "Aku akan kembali padamu, aku janji," katanya kemudian meraih kedua tangan Jimmi. "Kau salah satu keinginanku, Jimm."


Halte bus terlihat lengang hari itu. Hanya ada Jimmi dan Amy yang tengah menunggu M dan pacar barunya.


Jimmi menatap mata hitam Amy dalam. Ia percaya sepenuhnya pada gadis di hadapannya itu dan ia juga akan menjaga kepercayaan Amy. Seperti beberapa tahun belakangan, mereka pasti bisa menjaga perasaan itu seumur hidup.


"I love you," ucap Jimmi setengah berbisik. Ia mendekatkan wajahnya pada Amy.


"I love you more," balas Amy tak berkedip melihat wajah tampan itu semakin dekat dan dekat dengannya.


"Kami datang!“


Amy bergerak menjauhi Jimmi secara refleks tetapi cowok itu berhasil menggenggam satu tangannya dengan erat. Dilihatnya M datang dengan seseorang yang membuat mulutnya hampir ternganga.


"Oh, apa kami mengganggu? Apa ... tadi kalian mau melakukan hal romantis?"


Anak ini masih saja blak-blakan, pikir Amy.


"Kalau kau tahu, harusnya kalian berhenti dulu di sana dan biarkan kami menyelesaikannya!" seru Jimmi yang tanpa disadarinya membuat pipi Amy bersemu merah.


"Aurora? Jadi, pacar baru kakak sebenarnya bukan pacar barunya tetapi mantannya?" tanya Amy begitu sadar dari perasaan berbunga-bunganya.


M tersenyum lebar sementara Aurora terlihat pura-pura tak peduli.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, huh? Bukankah kakakku bukan lagi seleramu?" goda Amy seraya menyenggol bahu Aurora.


"Nasib gak ada yang tahu. Kau saja yang dulu bilang mati-matian tidak menyukai Jimmi tadi malah hampir berciuman dengannya!" balas Aurora yang tak pelak menusuk Amy tepat di dada.


Wajah Amy lebih memerah dari sebelumnya. Ia bahkan kehilangan kata-kata untuk membalas cewek satu itu.


"Kopermu kemana, Jimm?" tanya M yang hanya melihat satu koper merah milik adiknya.


"Aku pulang besok."


"Ah, iya. Aku lupa kalau kau akan mengawal adikku yang manis ini ke kota Z."


Jimmi mengangguk dan meremas jemari Amy pelan.


"Oh, itu bus kita datang." Jimmi meraih koper Amy.


Amy memeluk M erat dan mengucapkan sampai jumpa. "Selamat atas hubungan kalian!" bisiknya pada M. Kemudian ia memeluk Aurora juga dan pergi bersama Jimmi.


"Hei, kalau kalian mau ciuman lihat sekeliling dulu! Jangan sampai ada orang lihat!" teriak Aurora yang sukses membuat wajah Jimmi dan Amy berubah seperti udang rebus.


Bus pun berlalu meninggalkan M dan Aurora berdua saja di halte.


"Kau menyarankan sesuatu yang belum pernah kau lakukan." M terkekeh geli.


"Memangnya kenapa?" sahut Aurora.


"Sekarang ini sepi. Tidak ada siapa-siapa pula." M mendekatkan wajahnya pada Aurora, membuat cewek itu deg-degan. "Aku mau pipis," ucap M pelan ketika hidungnya telah berada tepat di depan hidung Aurora.


Cewek itu mendorong keras tubuh M. Tahu kalau cowok itu sedang menggodanya.


"Aku serius," kata M yang mendapat pukulan keras di punggung kemudian.


Bersambung...


______________


*Hai, Pembaca setia He Is Not My Brother!


Author sangat berterima kasih atas dukungan kalian selama ini. Berkat kalian, authir bisa terus bersemangat untuk melanjutkan novel ini hingga selesai.


Terima kasih*!!!


Find me on:


Fb: Hi Gaez Itz Revka


Ig: @its_revka


Wp: @Revka09


Storial: @Revka09

__ADS_1


__ADS_2