He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
New Manager


__ADS_3

Amy berjalan ragu-ragu menuju ruang guru. Ia masih tidak yakin dengan jawaban yang akan diberikannya.


Seminggu yang lalu, Mrs.Larry memanggilnya. Dengan cepat Amy berlari menghadap guru konseling itu. Sebenarnya ia heran, ia merasa tak melakukan suatu kesalahan apa pun.


"Anda memanggil saya, Mrs.Larry?"


"Ya, duduklah Amy!" perintah guru berkacamata kotak itu. Penampilannya begitu anggun. Rambut di sanggul, memakai blouse putih yang dibalut blazer hijau tua dengan rok span selutut warna senada. Orang yang pertama kali melihat tak akan mengira perempuan ini sudah menginjak umur 45 tahun.


"Amy ... kau tahu sekolah kita memiliki reputasi baik di bidang olahraga, terutama basket."


"Ya, Ma'am." Amy mengangguk.


Siapa yang tak tahu prestasi tim basket SMA Elang? Sekolah ini menjadi juara Liga Basket Nasional (LBN) tingkat SMA selama 3 kali berturut-turut. Hal ini terutama sejak M dan Jimmi bergabung di tim basket sekolah. Tim basket SMA Elang berhasil menyingkirkan juara bertahan LBN yang di pegang oleh tim SMA Naga. SMA Naga adalah tim kuat yang berhasil menahan piala LBN mendekam di lemari piala mereka selama satu dekade.


"Keberhasilan itu bukan hanya berkat kerja keras para pemain, melainkan juga berkat perjuangan manajemen dan seluruh tim," ucap Mrs.Larry sambil berdiri, "kami membutuhkan manajer yang cakap."


"Martin manajer yang baik, Ma'am." celetuk Amy. Kelepasan. Ia khawatir jika Mrs. Larry marah. Wanita itu terkenal galak.


" Tidak salah ... tapi dia akan pindah ke luar kota." Mrs. Larry mendekati Amy dari belakang, memegang bahunya lalu berbisik,


"Sekolah membutuhkanmu."


Amy menoleh melirik wajah Mrs. Larry seolah meminta kejelasan atas ucapannya barusan. Apa hubungannya denganku?


Mrs. Larry kembali duduk dan merapatkan jarinya di atas meja.


"Aku dengar bahwa kau memiliki kemampuan dalam ilmu manajemen. Kau berpotensi menjadi seorang pemimpin dan cukup mahir dalam strategi. Walaupun terkadang ... ceroboh. Tapi, pelatih Emil merekomendasikanmu." Mrs.Larry menarik wajahnya lebih dekat dengan Amy. "Apa kau bersedia?"


Amy tidak tahu harus mengatakan apa. Haruskah ia senang? Ia menarik napas panjang.


"Boleh saya mempertimbangkannya, Ma'am?"


"Baiklah ... aku tunggu kau besok siang di sini. Kuharap jawabanmu tidak mengecewakan. Kami tak punya calon lain."


"Terima kasih."


***********


Tok ... tok ...

__ADS_1


Amy mengetuk pintu ruangan Mrs.Larry. Seseorang menyuruhnya masuk. Amy menggeser pintu masuk. Tampak ruangan bernuansa hijau itu masih sama seperti ia ke sini minggu lalu. Hanya saja bunga di vas yang ada di tepi meja itu sekarang berwarna putih. Minggu lalu vas itu berisi mawar merah.


Mrs.Larry mempersilakan Amy duduk.


"Jadi, bagaimana Amy?"


" Iya. Aku bersedia," ucap Amy. Ia akhirnya menerima pekerjaan itu. Menjadi manajer tim basket akan menambah uang jajan bulanannya. Memang tidak digaji besar, tapi Amy bisa menabung lebih banyak karenanya.


Lagipula, bergabung dengan tim basket berarti bisa dekat dengan Olie si pangeran tampan. Itu bisa jadi kesempatan bagi Amy lebih mengenal cowok ganteng itu.


"Baiklah... temui Pelatih Emil di ruang klub basket setelah istirahat." Mrs. Larry mempersilakan Amy untuk kembali ke kelasnya dengan senyum yang mekar.


************


Siang itu, tim basket berlatih seperti biasa di lapangan. Tampak M juga sedang bergulat di tengah lapangan. M melemparkan bola pada Jimmi. Kali ini mereka satu tim.


Jimmi men-dribble bola menuju ring. Beberapa lawan berhasil dia kelabui. Jimmi melirik posisi kawannya di mana. Sekilas dia melihat sosok Amy berdiri di samping pelatih Emil, tepat di tepi lapangan. Ia lengah. Seseorang memanfaatkan kelengahan Jimmi dan berhasil merebut bola darinya.


"Ayo ... semangat!" teriak Amy di pinggir lapangan. Sejujurnya teriakan itu hanya Amy tujukan untuk Olie.


Kali ini M memegang bola dan langsung menembak. Three point. Ia memang di juluki The Master of 3 Point. Kakak Amy itu memiliki akurasi penglihatan yang tajam disertai ketepatan dalam membidik. Jimmi bilang, M akan jadi sniper yang hebat kelak.


"Tumben ...," sambut M menangkap handuk.


"Mau tidak mau aku akan mengatur kalian mulai hari ini." Amy tersenyum kecil lalu berlari menghampiri pelatih Emil yang meniup peluit tanda berkumpul.


"Baiklah ... terima kasih atas perhatian kalian semua. Aku akan memperkenalkan manajer kita yang baru, Amy ...."


"Hai, semua! Namaku Amelya. Panggil aku Amy. Mulai sekarang aku akan menjadi manajer kalian. Mohon kerjasamanya." Amy membungkukkan badan beberapa saat.


"Apa sudah cukup perkenalannya, Manis?" kata pelatih.


Amy terkesiap dibilang manis. Ia teringat Jimmi yang suka menggoda cewek dengan kata-kata itu. Termasuk menggodanya. Sedikit canggung ia mengangguk pada pelatih.


"Baiklah ... kalian boleh bubar!"


Para pemain kembali pada aktivitasnya masing-masing. Begitu pula M. Dia memilih duduk sambil menikmati sepotong cokelat pemberian Jimmi. Tentu saja cokelat dari penggemar. Amy menghampiri M.


"Aku mau," Amy melirik cokelat di tangan M.

__ADS_1


"Minta sama Jimmi. Dia dapat banyak."


"Ish ... apa dia mau ngasih?" Amy menjejakkan kakinya.


Jimmi yang mendengar hal itu mendekati Amy.


"Kau mau yang mana?" katanya menunjukkan tiga cokelat berbeda. Satu kotak cokelat impor, satu batang cocholate cashew dan satunya cokelat dengan potongan kulit jeruk.


Wow! Amy menjerit dalam hati.


"Kau pasti takkan menyerahkan semuanya, kan? Kalau hanya satu, aku gak mau!" Amy terlalu yakin Jimmi tak akan memberinya cokelat-cokelat manis berkalori itu.


Di luar dugaan, Jimmi meraih kedua telapak tangan Amy dan menaruh cokelat-cokelat itu digenggaman Amy. Amy sempat tidak percaya sampai tidak berkedip memandang Jimmi beberapa saat sampai cowok tinggi itu menyeringai.


"Semoga kau suka dan bertambah manis dengan itu." Jimmi mencolek dagu Amy kemudian berlalu bersama M.


"Suit ...! Switt! Romantis!" teriak Zack dari seberang lapangan.


Amy tersentak dan menyadari beberapa orang melihat kejadian itu. Pipinya merah. Dimasukkannya cokelat pemberian Jimmi ke dalam tas kemudian berjalan cepat-cepat menjauhi lapangan.


Si Zack itu ... dia selalu memperhatikan orang-orang dan selalu tidak ragu untuk mengeluarkan apa yang ada di kepalanya.


"Sssttt ... kau calon cewek Jimmi berikutnya?“ tanya Zack ketika Amy melewatinya.


Amy berhenti melangkah kemudian melirik anak kepala desa itu. "Jangan ngawur!“ ujar Amy kemudian pergi menjauhi Zack dengan kepala menggeleng.


Bersambung...


-------


*Hai... Hai... Ini author lagi....


Maaf chapter ini pendek. Next chapter bakal lebih panjang.


Mohon dukungan kalian semua dengan like, komen dan add to favorite yah.... <3*


Cerita ini akan up 2x seminggu.


Mohon dukungan kalian*~

__ADS_1


__ADS_2