He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Trying to Move On


__ADS_3

Amy duduk di kursinya. Ia bersantai dan membaringkan kepalanya di meja. Ia masih shock dengan kejadian semalam. Ia bertekad untuk melupakan Olie. Meskipun sulit. Saat latihan basket mau tak mau ia akan melihat cowok itu.


"Woy!"


Amy tersentak dari pikirannya. Zack tahu-tahu sudah duduk di kursi depan tapi menghadap Amy.


"Selamat, yah." Zack mengulurkan tangan.


"Apaan sih?"


"Hmm ..., semalam adalah hari bahagia 3 pasangan."


Amy hanya mengerutkan kening dan bepikir Zack agak sakit. Tiba-tiba datang dan membicarakan hal yang aneh.


"Kenapa, sih? Kau ngomong apa, Zack?"


"Semalam, di pesta, Olie mengumumkan pertunangannya, lalu M jadian dengan Weni dan ...."


"Tunggu!" Amy menutup mulut Zack dengan telapak tangannya. "Kau bilang Olie tunangan?"


Zack menyingkirkan tangan Amy, "Iya ... masa kau gak tahu? Eh ..., aku lupa. Waktu itu kau sedang berpelukan sama Jimmi."


Amy menegakkan badan dan membuka matanya lebar menatap Zack, "Apa katamu, Zack?"


"Hey ... kalian juga jadian, kan?"


"Siapa yang menyebar gosip begitu?" tanpa sadar muka Amy memerah.


"Aku lihat kalian berpelukan di parkiran lalu kalian pulang bareng, kan? Aku pikir cuma dua pasangan yang berbahagia, ternyata tiga." Zack tertawa sambil menggaruk kepalanya.


"Zack, kau jangan sebarkan gosip, ya. Aku tidak ada hubungan dengan Jimmi!"


Zack terdiam sebentar. Ia menarik napas. Memandang Amy beberapa saat lalu berdiri.


"Baiklah ... kalau kalian memutuskan backstreet aku akan menutup mulutku," kata Zack. Ia menggerakkan jarinya horizontal di depan bibir seolah sedang menutup retsleting.


"Hei, bukan begitu!"


Kring!


Kring!


Bel pertanda istirahat selesai berbunyi. Zack buru-buru berlari menuju kelasnya yang berada persis di sebelah kelas ini. Teman-teman sekelas Amy bermunculan dan segera menduduki kursi masing-masing.


Amy lemas. Ia menyandarkan tubuhnya ke belakang. Ia tak mungkin mengejar Zack dan menjelaskan semuanya karena guru sosial sudah duduk manis di meja guru dan mulai berceloteh.


.


§§§

__ADS_1


.


"Amy!"


Amy tersentak dari lamunannya dan segera mencari selembar kertas dari dalam tas selempangnya.


"Ini, Pak!" Amy menyerahkan kertas itu pada pelatih Emil.


"Bukannya ada perubahan?" tanya pelatih dengan suaranya yang berat.


"Sudah aku up date semua jadwal latihan dan pertandingan kali ini, Sir!"


Pelatih Emil menerima kertas dari Amy dengan kening sedikit mengkerut.


"Emm ... boleh aku pulang duluan? Aku ada urusan hari ini."


Pelatih hanya mengangguk. Ia sibuk memperhatikan kertas yang Amy berikan tadi.


Amy berjalan melenggang. Ia lega karena bisa menghindari Olie. Setidaknya kali ini. Terlalu cepat unuk melihat wajahnya. Terlalu cepat pula untuk melupakan peristiwa semalam. Dan Zack? Apa ia akan menceritakan semuanya pada anggota tim? Biarlah, setidaknya sekarang Amy tidak akan melihat wajah Olie.


.


§§§


.


Zack memang salah paham, tapi ia salah paham sendirian. Asal Zack gak bilang, semua aman. Begitu yang Amy pikirkan.


Val dan Lewis sudah ada di kelas saat Amy tiba. Ia memberi salam pada keduanya lalu duduk di dekat kaca. Ia bisa melihat beberapa anak berdatangan dari gerbang.


"Jadi ... sudah berhasil menghilangkan Olie?" tegur Val.


"Mungkin. Aku kan belum pernah ketemu dia lagi."


"Kau harus memastikannya. Sudah dapat penggantinya?"


"Kau gila? Secepat ini?"


"Ayolah ... banyak cowok keren di sekolah ini! Zack, Lewis, Shauwn, bahkan kak Jimmi juga keren. Kau dekat dengannya, kan?"


"Jimmi dekat dengan M. Bukan aku!" Amy cemberut.


"Setidaknya kau harus melirik cowok lain."


"Tidak. Aku tak mau jatuh cinta lagi. Semua cowok sama aja. Mereka memberi harapan kosong pada cewek."


"Tidak semua, Amy. Percayalah padaku!" Val terus mendesak.


Kring!

__ADS_1


Bel masuk. Inilah yang Amy tunggu-tunggu. Hanya dengan ini dia bisa lepas dari desakan Val.


Seorang lelaki berumur tiga puluhan masuk ke kelas. Kumisnya yang lebat menampilkan sosok yang galak. Kepalanya yang agak botak itu tidak membuat para murid terheran-heran karena dialah sang guru fisika. Namun, guru satu ini tak lepas dari bahan olokan para muridnya karena ketiadaan rambut di kepalanya.


"Hmm ... Amelya, kau ditunggu Mrs.Larry diruangannya. Sekarang," kata si guru berkumis sembari menaikkan kacamatanya.


Tanpa diperintah dua kali, Amy segera menuruti instruksi gurunya. Tidak biasanya Mrs.Larry memanggilnya saat jam pelajaran.


Tok ... tok ...


Terdengar jawaban yang mempersilakan Amy masuk. Amy agak kaget ketika melihat Mrs.Larry tidak sendiri. Di salah satu kursi yang berhadapan dengan Mrs.Larry, tengah duduk seorang cowok.


"Kau duduk di sini, Amy!" Mrs. Larry menunjuk bangku kosong di sebelah cowok itu.


"Jadi, Jimmi Gabriel Larry," Mrs.Larry membenarkan posisi kacamatanya lalu menatap Jimmi tajam, "apa alasanmu tidak mengikuti pelajaran Kimia dua kali berturut-turut?"


"Ah ... Ibu, aku sudah bilang kalau aku sakit perut."


"Ini sekolah. Tolong bedakan. Di rumah kau adalah anakku, tapi di sekolah, aku gurumu. Panggil aku Madam."


"Ya, Ma'am. Aku sudah bilang kalau aku sakit perut."


"Keras kepala. Aku beri kau waktu sampai aku selesai becara dengan nona Amy. Dan kau harus mengatakan yang sebenarnya." Mrs. Larry berdehem, merapikan blousenya lalu berbalik menatap Amy.


Amy tahu tatapan itu. Tatapan yang meminta penjelasan. Tapi yang Amy tidak tahu adalah apa yang harus dia jelaskan. Apa aku membuat masalah? Pikirnya. Ataukah mungkin Zack menceritakannya pada semua orang hingga Mrs.Larry tahu? Gawat!


"Amy ...."


Jantung Amy terasa mau copot. Ia mengepalkan tangan kanannya. Bersiap untuk kemungkinan buruk.


"Selama dua bulan ini kau adalah manajer yang baik, sampai kau menyusun jadwal tim."


Amy menarik napas.


"Kacau! Berantakan! Apa sih yang kau pikirkan?" Mrs.Larry berkata dengan nada tinggi hingga Amy agak memejamkan matanya. Berharap gendang telinganya masih utuh.


Amy hanya diam. Mrs. Larry menunjukkan sebuah kertas. Kertas yang sama dengan yang ia berikan pada pelatih. Amy menariknya perlahan, seolah kertas itu adalah lapisan es tipis di tepi kulkas. Amy memajukan bibirnya dan memejamkan mata begitu ia selesai membaca kertas itu. Itu dia masalahnya. Amy salah memberikan kertas. Kertas itu adalah rencana awal sebelum ia melihat jadwal kejuaraan LBN sekolah menengah.


"Perbaiki! Dan kau boleh kembali ke kelas."


Amy meminta diri kemudian meninggalkan ruangan hijau itu. Samar-samar ia mendengar perdebatan ibu dan anak yang masih ada di ruangan itu. Ya, Jimmi adalah anak dari wanita tergalak di sekolah ini. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat ekspresi Jimmi yang dimarahi ibunya tapi ia takut Mrs. Larry lebih marah. Karenanya, Amy terus menjauhi tempat itu dan meremas-remas kertas di tangannya.


Bersambung...


------------


Terima kasih atas semua dukungan kalian...


Semoga kalian suka cerita ini, ya~

__ADS_1


__ADS_2