
Hari setelah Jimmi mengantar Amy pulang dari pergelaran band, cowok itu tidak bisa tidur semalaman. Ia telah melakukan kesalahan besar dan tidak tahu cara untuk memperbaiki kesalahannya. Bagaimana nanti ia berhadapan dengan Jerome dan arwah Anne?
Ia telah berjanji pada dua orang itu—juga pada M—untuk menjaga Amy. Namun, pada malam itu Jimmi malah membuat kesalahan dengan mengecup pipi kiri Amy. How dare he is!
Jimmi tidak pernah sekurang ajar itu pada siapa pun. Termasuk pada barisan mantannya. Ia cukup waras untuk tidak melakukan skinship. Justru ia memutuskan para gadis itu ketika mereka terlihat ingin melakukan skinship seperti pelukan yang berlebihan atau ciuman. Cowok itu tahu kalau skinship berlebih bisa menyebabkan hormon-hormon di tubuhnya tidak seimbang.
"Kau tahu apa yang tidak menyenangkan dari tubuh kita?“ tanya Fohn suatu kali sebelum Jimmi masuk SMA.
"Apa?“ tanya Jimmi yang tidak tahu akan kemana pembicaraan itu arahnya.
"Hormon-hormon di tubuh kita bisa merekayasa kita." Fohn mengunyah keripik kentang dengan nyaring. "Misalnya ketika dopamin berlebihan, kau akan terlalu senang sampai mabuk."
"Memang yang menyebabkan kelebihan dopamin itu makanan apa?"
Fohn tertawa dan hampir tersedak keripik kentang. "Bukan makanan, Bodoh! Asalnya dari perasaan." Fohn menepuk dada ringan. "Meski dari makanan juga ada, sih. Seperti pisang, misalnya. Tapi yang menyebabkan remaja sepertimu kelebihan dopamin biasanya ketika jatuh cinta."
"Apa itu berbahaya?“
"Sangat." Fohn mengangguk. "Kau bisa kehilangan kewarasanmu. Logikamu akan tertutupi oleh kesenangan yang semu." Fohn merapatkan toples keripik kentangnya. "Kau punya pacar?“
"Tidak."
"Nah, kalau kau nanti pacaran, jaga hormon-hormonmu. Jangan sampai kau jadi buta karena cinta. Biar kuberi kau satu tips." Fohn mendekati adiknya yang tengah duduk santai di sofa. "Jangan sekali-sekali berani melakukan skinship," bisik Fohn.
"Kenapa?“ tanya Jimmi. Matanya terus menonton televisi yang tengah menampilkan sebuah acara musik populer.
"Itu akan membuatmu ketagihan, Bodoh!“ Fohn mendorong kepala Jimmi cukup keras. "Itu akan menjadi lingkaran setan. Alami sebenarnya. Tapi pastikan ketika itu terjadi, kau melakukannya dengan orang yang tepat. Yang akan bersamamu selamanya."
Jimmi mengelus kepalanya dan menatap Fohn kesal. "Memang skinship itu apa?“
"Level terendah pegangan tangan, kemudian gandengan tangan. Level selanjutnya berpelukan, ciuman, dan level tertinggi itu ...." Fohn membisikan sesuatu pada adiknya.
"Menjijikan!“ ujar Jimmi sembari mengkerut.
"Sekarang kau bilang gitu. Nanti kalau merasakan kau bakal kecanduan!“
"Kau pernah melakukannya?“ Jimmi menatap Fohn dan mengangkat kacamata kakaknya.
"Tidak. Ayah yang bilang begitu padaku." Fohn membenarkan posisi kacamatanya.
"Jadi intinya apa?“ tanya Jimmi sembari merebut keripik kentang dari tangan Fohn.
"Skinship bisa menyebabkan kecanduan seperti narkoba." Fohn menatap adiknya tak berkedip. "Itu pesan ayah."
Mungkin Jimmi masih terlalu kecil waktu itu untuk mengerti apa yang Fohn maksud. Namun, setelah membaca buku tentang hormon ia mengetahui apa yang Fohn maksudkan.
__ADS_1
Seorang laki-laki harus menedepankan logika. Karenanya ia tidak akan membiarkan hormon-hormon itu menguasainya. Dan Jimmi tidak akan melakukan hal yang bisa membuat hormon itu menguasainya.
Sudah empat gadis yang ia sukai terpaksa ia putuskan. Itu karena mereka telah memeluk dan berusaha mencium pipinya. Yang lainnya putus karena Jimmi memang tidak menyukai mereka, ia hanya tak bisa menolak ketika para gadis itu menembaknya.
Akan tetapi, sekarang telah berbeda. Amy malah membuatnya tidak tahan untuk melakukan skinship. Pertama, pelukannya di pesta Olie. Kedua ia mencium pipi adik sahabatnya itu.
Tentu saja itu bukan kali pertama ia memeluk Amy. Ia sering memeluk gadis itu sejak kecil. Namun, itu adalah kali pertama rasa senang menyelimuti hatinya ketika merengkuh Amy. Meskipun ada rasa sakit karena Amy menangis untuk cowok lain. Jimmi tidak mau melepaskan pelukannya kala itu dan ia tahu kalau hormon-hormon itu menguasainya.
Kali kedua ia tidak bisa menahan diri. Rasanya senang bukan kepalang karena ia bisa mengecup orang yang disukainya. Rasa-rasanya jantungnya mau meledak karena berdebar terlalu kencang. Ia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang malam, seperti orang tak waras.
Namun, dibalik kebahagian yang tak terlukis itu Jimmi merasa bersalah. Bagaimana ia nanti bertemu M, paman Jerome dan arwah bibi Anne?
Lebih jauh, ia memikirkan Amy—tentu saja. Jimmi khawatir jika akibat perbuatannya itu Amy jadi teringat terus dengannya. Sesungguhnya memang itu yang ia harapkan. Namun, Jimmi tidak mau para hormon itu menguasai Amy. Jimmi takut kalau Amy menyukainya bukan karena ia adalah seorang Jimmi.
"Hormon itu berubah-ubah, tapi cinta tidak. Pisahkan itu, Jimm," ucap Paul ketika ia bermain basket bersama anak keduanya itu.
Maka ketika bel istirahat berdering, Jimmi diam-diam menyelinap keluar sekolah dan pergi ke rumah sahabatnya. Sepanjang perjalanan ia gelisah, takut akan dibenci oleh arwah Anne.
Akan tetapi, ketika Jimmi akhirnya mengakui semuanya pada Anne yang tengah duduk di teras rumah, ibu Amy itu tertawa pelan. Padahal Jimmi telah berkeringat sebesar biji jagung dan ia berlutut, bahkan bersujud meminta maaf.
"Apa reaksi Amy?" selidik Anne setelah tawanya berhenti.
"Dia marah besar," jawab Jimmi, masih dengan mata dan wajah yang merah.
"Lalu?"
"Kau pantas dapat itu."
"Ma-maafkan aku, Bi!" Jimmi berlutut seperti seorang ksatria di hadapan sang ratu.
"Kali ini kumaafkan. Aku tidak menyangka kau mau mengakuinya," ujar Anne yang sebenarnya sudah mengetahui hal ini. Daun-daun serta rerumputan telah menyampaikan kabar itu padanya. "Tapi lain kali, bibi akan buat Marsh mengantarmu ke IGD, Jimm!“
Jimmi menelan ludah. Tenggorokannya kering dan sakit mendengar ancaman yang tidak main-main itu. Ia tahu kalau arwah Anne bisa melakukan apa saja untuk melindungi putrinya.
"Katakan semua yang kau katakan padaku pada pamanmu ketika ia pulang."
Dan begitulah ...
Jimmi menceritakan semuanya ketika pulang bersama Jerome dari rumahnya dengan takut-takut.
"Kiri atau kanan?" tanya Jerome setelah Jimmi mengakhiri ceritanya.
"Kiri." Jimmi menjawab dengan suara yang sangat rendah. Tenggorokannya tercekat.
"Kau mau aku apa setelah mendengar semua itu?“ Jerome berhenti melangkah.
__ADS_1
"To-tolong m-maafkan aku, Paman!" Jimmi membungkukkan badan. Tetapi Jerome buru-buru menegakkan kembali badan cowok itu dan menampar pipi kirinya dengan keras.
"Arggghhh!!!" Jimmi mengerang demi merasakan sengatan di pipi kirinya. Ia hendak menyentuh pipi yang terasa panas itu tetapi ia urungkan. Takut akan semakin sakit.
"Kau kumaafkan." Jerome merangkul bahu Jimmi dan menepuknya. "Kau anak pemberani, Jagoan. Jangan diulangi. Kau boleh menyukai anak gadisku tapi tidak boleh menyentuhnya."
Jimmi mengangguk. Sesekali ia meringis menahan cenat-cenut yang menghinggapi pipinya.
"Kau tidak perlu cerita pada Marsh. Yang tadi itu sudah kugandakan kekuatan tamparannya. Dia sudah paman wakilkan."
Jimmi mengangguk lagi. Kali ini ia sudah berani memegangi pipi kirinya yang terasa mengembang.
***
"Bangun, Jimm! Sudah siang!" teriak M sambil menggoyang-goyangkan kasur.
Jimmi menguap, samar ia melihat M yang telah mengenakan kaos biru dengan celana jogger sport warna sama. Kepalanya terasa berat sekali. Ia memimpikan hal-hal di masa lalu. Bahkan pipinya masih terasa sakit seolah memang Jerome menamparnya—lagi.
"Ayo, lari pagi!“
Jimmi bangkit dan duduk di pinggir kasur. "Badanku sakit semua. Kayaknya aku absen hari ini."
"Ha? Aku sendirian, dong." Baru saja M selesai berbicara, terdengar suara hujan turun dengan lebat dari atap rumah.
"Kayaknya ga ada yang lari kalau begini."
M memasang wajah kecewa kemudian ia merebahkan diri di kasur. "Kita lanjut tidur!" seru M kemudian menenggelamkan wajahnya pada bantal.
Bersambung ...
_______________
Hai ... hai ...!
He is not My Brother akan berakhir beberapa episode lagi. Do'akan agar segera selesai biar bisa crazy up, ya ^^
Find me on:
Instagram: @its_revka
Facebook: Hi Gaez Itz Revka
Storial: @Revka09
Wp: @Revka09
__ADS_1
Sankyu minna-san~