He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Menjenguk Amy


__ADS_3

Hari ini kurang seru bagi Val. Kawan karibnya tidak masuk sekolah. Kemarin ia pulang duluan dan hanya mendengar apa yang terjadi dari Lewis tadi pagi. Ia sangat geram pada para kakak kelas yang merisak Amy. Kalau saja mereka sekarang ada, ia akan mengamuk pada mereka. Untungnya, mereka bertiga juga kena skors.


"Lew ... ke rumah Amy, yuk!" ajak Val pada Lewis yang tengah menyandangkan tas sekolahnya ke bahu.


"Ayo! Kebetulan mau main game juga bareng M," ucap Lewis mengiyakan ajakan Val.


"Sif ... ikut?" ajak Val pada Sifa yang tengah membenarkan tali sepatunya.


"Hari ini gak bisa. Aku harus buru-buru pulang bantuin Ibu."


"Oh, sedang banyak pesanan?" tanya Lewis. Semua tahu kalau ibunya Sifa adalah pembuat kue yang terkenal.


"Iya, dari kemarin. Aku sampai capek banget," ujar Sifa sembari meregangkan tubuhnya. "Yang biasa bantuin Ibu sedang sakit, jadi mau ga mau aku yang gantiin. Udah, ya, aku duluan. Salam buat Amy!"


"Oke!" Val melambaikan tangan pada Sifa yang pergi dengan agak tergesa.


"Oh, itu M!" seru Lewis. Ia buru-buru keluar kelas, menarik Val untuk ikut lari bersamanya.


"M! Kami mau jenguk Amy." Lewis mencegat M yang tengah berjalan dengan sahabat karibnya.


"Ah, ayo! Sepertinya memang Amy membutuhkan teman saat ini."


M tersenyum dan berhasil membuat Val setengah terbang. Kalau saja M tidak jadian dengan Weni, ia akan mengejar kakak Amy itu. Sayang sekali, sekarang M ia coret dari daftar calon pacar.


"Kurasa enggak terlalu butuh," sanggah Val. Ia melirik Jimmi, "Sekarang, kan, Amy sudah punya pacar."


"Kami gak jadian," ucap Jimmi datar.


"Ha? Gimana ...? Gimana? Kalian enggak jadian?" Val bergerak ke depan dan menghalangi jalan Jimmi. "Aku pikir kalian ...." Bibir Val bergerak tetapi tidak bersuara. Ia terlalu terkejut.


Jimmi, M dan Lewis melewati Val dan terus berjalan meninggalkan Val yang masih tak bergerak.


"Hei, tunggu!" ucap Val begitu menyadari ketiga cowok itu meninggalkannya.


.


§§§


.


"Kalian beneran gak jadian?" teriak Val, mengagetkan M dan Lewis yang tengah bermain video game.


"Memang kapan aku bilang jadian sama dia?"


"Tapi, Am ... Kak Jimmi itu keren." Val melemparkan bantal ke wajah Amy.


"Terus kalau keren harus jadian, gitu?" Amy melempar balik bantal ke arah Val.


"Ya, iya-lah! Terus kemarin kau tendang si Iren gara-gara apa?"


"Karena aku ingin menendangnya saja."

__ADS_1


"Bohong!" Val menatap Amy, "Pasti karena kesal mereka posesif sama kak Jimmi, kan?"


"Bukan seperti itu." Amy mengerang frustrasi. "Aku benci Jimmi, Val!"


"Kenapa?"


Amy memeluk bantal dan guling bersamaan. "Aku tidak suka aja kalau dia bersikap terlalu manis dan baik padaku. Rasanya tidak nyaman. Belum lagi orang-orang rasanya selalu melihatku sejak foto di mading itu tersebar."


"Maksudmu, kau mau kalian terus bertengkar seperti anak kecil?"


"Kami tidak begitu!" protes Amy.


"Ya. Kalian memang begitu! Semua orang bisa lihat, Am. Dimanapun kak Jimmi selalu menggodamu, kan? Terus pasti kau ngambek dan jitak-jitak dia. Kau lebih nyaman hubungan yang seperti itu?" Val berkacak pinggang.


"Ah, itu kebiasaan. Aku sudah terbiasa seperti itu dengannya. Jadi, kalau tiba-tiba dia baik sekali .... Aku tidak tahu, Val. Rasanya, itu bukan dia." Amy menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.


"Yah, pokoknya jangan lakukan hal bodoh yang akan membuatmu menyesal."


"Maksudmu seperti apa?"


"Jangan tolak dia, okey?" Val mengedipkan matanya genit sembari duduk di sebelah Amy.


"Val!" Amy memukul sahabatnya itu dengan guling. "Dia player! Mantannya banyak. Kau mau aku ada di daftar mainannya?"


"Amy sayang, sahabatku tercinta ... kamu kurang peka, ya?" Val menggeser duduknya, merapatkan tubuh pada Amy. "Selama ini, cewek-cewek yang mengejar si tampan Jimmi. Baru sekarang, nih, dia yang ngejar-ngejar cewek."


"Sok tahu!" Amy menjitak Val pelan.


Amy malah tertawa mendengar ocehan Val. Apalagi bagian akhir. Terdengar lucu.


"Ya, Tuhan. Temanku ini sudah gak waras." Val menepuk dahinya. "Terserah, deh. Yang penting aku sudah memberitahumu."


Val bangkit dan meraih tas."Lewis! Kau mau pulang kapan?" teriaknya.


"Nanti. Ini masih main," jawab Lewis setengah berteriak.


"Yah, aku ga ada teman pulang," ucap Val kecewa.


Val keluar kamar diantar oleh Amy. Ia sedikit terkejut mendapati Zack juga rupanya ada bersama Lewis dan M.


"Eh, ada wakil KM," ejek Val. Ia masih sebal dengan Zack.


"Oh, si cewek gak guna ada di sini," ujar Zack tanpa ragu.


"Apa katamu?" Val buru-buru melepas kaus kaki dan dengan geram melemparnya pada Zack.


"Cewek jorok!" jerit Zack mendapati kaus kaki pink itu mendarat di pangkuannya. Dilemparnya kaus kaki itu sembarang.


Val pun segera mencari kemana kaus kakinya mendarat sambil bersungut-sungut.


Amy tertawa melihat kelakuan temannya itu. Sungguh kocak. Mereka bertengkar seperti anak kecil.

__ADS_1


Tunggu!


Apa aku dan Jimmi terlihat seperti mereka ketika bertengkar?


Amy bersandar di daun pintu yang terbuka. Ia melambaikan tangan pada Val yang baru saja pamit pulang. Setelah tubuh Val menghilang dari pandangan, ia melirik kakaknya yang tengah sibuk bermain game dengan Zack dan Lewis.


Ada yang kurang. Amy merasa sesuatu tidak seperti biasanya. Mereka asik bermain game, tapi rasanya aneh. Tidak ramai seperti biasa meskipun Lewis dan Zack berkali-kali berteriak saat karakter mereka terancam kalah.


"Kau mau main juga?" tawar M.


"Enggak, ah," tolak Amy. Ia duduk di kursi, memperhatikan ketiga cowok yang duduk di karpet menghadap layar televisi itu.


"Amy mana mau main kalau gak ada Jimmi," ujar Zack.


"Sembarangan! Darimana kau dapat kesimpulan itu, Zack? Ah, kenapa sebut nama itu, sih?" Amy bergegas berdiri dan masuk ke kamar.


"Apa, sih? Aku, kan, cuma bilang yang sebenarnya." Zack melirik M yang tengah merebut stick dari Lewis.


"Kalau dipikir memang benar, sih. Dari dulu Amy cuma mau main PS kalau ada Jimmi. Ah, kenapa aku baru sadar?" ucap M.


"Kalian gak tahu alasannya?"


M dan Lewis menggeleng satu sama lain.


"Kalian semua golongan tidak peka. Dasar!" maki Zack. "Itu karena Jimmi mau mengalah sama Amy. Kalian tahu, kan, yang bisa ngalahin Jimmi main game siapa?"


"Siapa?" tanya Lewis, membuat Zack menepuk dahi.


"Amy," ucap M.


"Yep. Benar. Skill Amy padahal standar, kan?"


M menekan tombol pause. Ia memperhatikan Zack saksama. Pun begitu Lewis.


"Jadi, maksudmu ... selama ini Jimmi mengalah pada Amy?" tanya M.


Zack mengangguk mantap. "Seratus persen benar," katanya percaya diri. "Amy mau main kalau ada Jimmi karena kesempatan untuk menangnya besar."


Lewis dan M mengangguk-anggukan kepala tanda mereka percaya dengan perkataan Zack.


"Bravo, Zack! Kau calon detektif hebat!" Lewis bertepuk tangan.


"Makasih, makasih ...." Zack membungkukkan badan seolah berada di antara riuh tepuk tangan banyak orang. "Ya, sudah. Ayo, lanjut lagi!"


Bersambung...


---------


*Terima kasih untuk semua yang membaca Lemon Love sampai bab ini. 💕 untuk kalian...


Jangan sungkan untuk menekan tombol like atau memberikan saran dan kritik di kolom komentar*.

__ADS_1


__ADS_2