
Akhir semester semakin dekat. Ujian akhir sudah dilaksanakan seluruh siswa. Amy terus memandangi kalender yang terpajang di meja belajarnya. Ada satu hari yang ia tandai dengan tinta biru. Hari keberangkatan M dan Jimmi ke kota besar.
Amy menarik napas panjang. Sebentar lagi hari-hari sepi akan menemaninya. Tidak ada lagi M yang bisa ia ajak ngobrol sepanjang waktu atau Jimmi yang menemaninya belajar. Berangkat dan pulang sekolah akan sendiri.
Rasa perih tiba-tiba menusuk matanya, membuat kelenjar air matanya bekerja. Mata hitam itu telah digenangi air mata yang siap tumpah. Namun, Amy segera mengusapnya begitu titik-titik air keluar. Jika M melihatnya menangis seperti ini karena akan ditinggalkan, bisa-bisa kakaknya itu akan membatalkan studinya di kota besar.
Amy membalik halaman kalender. Di sana juga ada satu tanggal yang ia tandai. Hari ini, hari pelepasan murid-murid kelas XII. M dan Jimmi telah pergi dan bersiap di gedung pertunjukan milik pemerintah yang telah disewa sekolah.
Setelah beres menghapus air mata, Amy membersihkan wajah dan mulai memakai base make up. Ia telah meminta Weni mengajarinya untuk memakai riasan natural. Amy telah bisa memakai eyeliner dan eyeshadow dengan benar. Ia memilih warna coral untuk mata dan lipstik. Sebelumnya Amy telah merapikan alisnya yang tak perlu digambar lagi.
Setelah make up selesai, Amy meraih sebuah kemeja putih yang tergantung di lemari, kemudian mengenakannya. Sebuah blazer hitam ia kenakan tanpa mengancingkannya. Terakhir, Amy menggunakan pomade agar rambut pixie-nya terlihat rapi.
"Ah, kenapa seperti berkabung?“ gumam Amy ketika ia selesai memakai sneakers hitam dengan celana body-fit yang juga hitam. Gadis itu buru-buru mengganti sepatunya dengan yang berwarna putih. "Lebih baik," gumamnya.
Sebelum menuju gedung, Amy singgah di sebuah toko bunga. Ia hendak membeli dua rangkaian bunga.
"Ada yang bisa dibantu?“ tanya seseorang yang sepertinya si pemilik toko ketika Amy berjalan memasuki toko dan mulai melihat-lihat.
"Aku mau dua buket bunga," jawab Amy.
"Untuk acara apa?“
"Wisuda."
"Pacar? Teman? Saudara?“
Amy berpikir sejenak. "Ketiganya."
Si pemilik toko mengerutkan dahi. Kemudian ia mengambil sebuket bunga. "Ivy adalah lambang persahabatan."
Amy melirik heran buket yang hanya berisi daun rambat itu. "Mmm, aku mau bunga," kata Amy.
"Ivy akan cantik jika dikombinasikan dengan beberapa mawar." Si pemilik toko memotong beberapa mawar kuning dari pot yang berada di pojok toko. "Ini untuk saudara atau temanmu. Untuk pacarmu, mungkin dia akan suka mawar putih daripada merah."
Amy hanya mengangguk. Ia tidak tahu menahu soal bunga. Sungguh. Ia hanya tahu kalau rangkaian yang dibuat si penjual itu indah tetapi sederhana. Hal yang Amy suka.
Akhirnya gadis itu telah memiliki dua buket bunga. Walaupun dua buket bunga itu menguras uang jajannya sebulan. Harusnya ia mencari tahu harga bunga dan mulai menabung beberapa bulan lalu.
Rupanya acara telah dimulai ketika Amy sampai di gedung pertunjukan. Ia buru-buru menunjukkan undangan pada penjaga dan duduk di kursi yang rata-rata dihuni oleh ibu-ibu dan bapak-bapak.
Segera Amy mengeluarkan smartphone dan merekam prosesi graduation itu. Ia akan mengirimkan video itu pada Jerome melalui e-mail.
Sekali waktu, kepala sekolah memanggil lima orang lulusan terbaik. Amy bangga melihat kakaknya berdiri bersama empat orang lainnya di atas sana. Gadis itu juga tersenyum melihat sahabat kakaknya ada di sana. Semua orang bertepuk tangan meriah. Amy menepuk paha karena sebelah tangannya masih memegang smartphone.
Usai acara, semua murid yang lulus berkumpul dengan keluarga mereka untuk berfoto dan merayakan. Amy menghampiri kakaknya. Ia memberikan buket mawar kuning dan memeluk M erat.
"Selamat, M! Aku bangga padamu. Ayah juga pasti bangga,“ ungkap Amy tanpa melepas pelukan.
"Terima kasih, Am." M menerima buket adiknya dengan senyum merekah. "Satu lagi untuk siapa?“ tanya M melihat Amy masih mengenggam satu buket bunga mawar putih.
"Untuk sahabatmu."
"Dia masih sibuk dengan keluarganya," ucap M sembari menunjuk Jimmi dan Fohn.
"Kemana paman Paul dan bibi Magda?“ tanya Amy mengernyit.
__ADS_1
"Bibi masih sibuk dengan tamu sekolah. Sementara paman Paul sepertinya tidak datang," jawab M. "Ayo, kita ke sana." M menarik Amy menuju Jimmi dan Fohn.
"M! Selamat!“ Fohn memeluk M dan menepuk pundak cowok itu begitu melihat M dan Amy mendekat.
Amy dengan malu-malu mendekati Jimmi. "Untukmu," katanya seraya menyerahkan bunga. "Selamat, kau lulus dengan nilai sangat baik."
Jimmi tersenyum menerima mawar putih dari Amy. "Terima kasih banyak."
"Apa ini? Kenapa kau tidak memeluknya, Am?“ tanya Fohn.
"Mungkin mereka malu karena ada kita," ucap M.
"Tidak. Itu—"
Ah, ingin rasanya Amy menendang dua orang anak pertama itu karena membuatnya malu setengah mati. Belum juga Amy mengeluarkan kata-kata, Jimmi telah memeluknya erat.
"Terima kasih," bisik Jimmi, membuat Amy berdebar hebat.
Fohn melirik M yang juga menyaksikan adegan adik-adiknya. Kemudian tatapan jahil itu dimengerti oleh M.
Debaran Amy semakin kencang ketika dirasakannya dua tangan memeluknya, kemudian ada tangan lain lagi. Rasanya ia mau mati.
M dan Fohn memeluk Amy dan Jimmi yang tengah berpelukan.
"Kalian mengacaukan momenku!“ protes Jimmi.
"Hei, aku cuma mau memeluk adikku ... dan calon adik iparku," kata Fohn.
"Aku juga," tambah M yang melempar senyum nakal pada Fohn.
Hari itu mereka berempat mengambil banyak foto dan diakhiri dengan makan siang bersama.
***********
Val melihat beberapa foto yang baru dicetak terpampang di lemari dan meja belajar sahabatnya. Yang paling menarik bagi Val adalah ketika sahabatnya itu tengah tersenyum dengan dua cowok yang mencium pipinya. Dua cowok paling populer di sekolah, setidaknya sebelum mereka lulus kemarin.
"Siapa yang fotoin ini?“ Val menunjuk foto yang mengundang iri hati para cewek jika melihatnya itu.
"Oh, itu Fohn yang memotret," jawab Amy sembari membereskan baju-bajunya ke koper.
"Fohn?“ Mata Val mengernyit. Ia sepertinya baru mendengar nama itu.
"Iya, Fohn, kakak Jimmi."
"Kau terlihat imut di foto ini," ujar Val tak berkedip memandangi gambar Amy dengan setelan blazer dan celana hitam. "Oh, apakah ini yang namanya Fohn?“ Antusias Val menunjuk seorang cowok dengan jas abu berkacamata di antara M dan Jimmi di foto lain.
Amy melirik arah telunjuk Val sekilas kemudian kembali melipat baju. "Ya, itu dia."
"Wah, dia tampak dewasa dan... ganteng. Apa dia punya pacar?“
"Dia sudah punya calon istri," jawab Amy tanpa basa-basi.
"Ah, sayang sekali." Val mengerucutkan bibir kecewa.
"Heh ... daripada lihat foto terus, lebih baik bantu aku beres-beres!“ seru Amy. Ia selesai dengan pakaian dan kini beralih memasukan buku-buku ke dalam kardus.
__ADS_1
Val mendengkus. Ia menghampiri sahabatnya dan ikut merapikan buku.
"Am, kalau kau tinggal di sana apa aku masih boleh main?“
"Aku belum tahu. Nanti kutanya bibi Magda dulu."
"Ah, masa gak boleh. Apa Mrs. Larry sekejam itu?“ Val sedikit membanting buku ke kardus.
"Kau tahu tidak? Dia lebih menyeramkan di rumah daripada di sekolah."
"Benarkah?“
Alih-alih menjawab, Amy diam seribu bahasa dan terus memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus. Ia akan sangat merindukan kamar ini, rumah ini. Rumah yang penuh dengan kenangan bersama kakaknya. Mereka berdua hidup di rumah itu seumur hidup mereka. Tidak pernah terpisah apapun yang terjadi.
Kini, ketika mereka beranjak dewasa Amy harus melepaskan bodyguard-nya sepanjang hidup itu. Tentu saja di dalam hati yang paling dalam Amy ingin terus bersama kakaknya. Ia tak pernah membayangkan hidup tanpa kakak lelakinya itu. Ia takut setengah mati akan menjalani hari-hari tanpa M.
Namun, Amy harus rela untuk menghadapi ketakutannya seumur hidup agar M bisa meraih cita-citanya. Ia harus melepaskan kakaknya untuk menjadi dirinya sendiri. Amy tidak ingin menjadi beban.
"Kakakmu berangkat kapan?“ Val membuyarkan pikiran Amy.
Amy menghentikan kesibukannya. Ia mulai menggosok mata dengan punggung jari-jarinya. "Besok," katanya menahan isakannya keluar. "Dia berangkat besok. Mereka ... pergi besok ...."
Ya, bukan hanya satu yang akan hilang dari hari-hari Amy tetapi dua. Dua orang yang disayanginya. Dua orang yang selama ini selalu menjaganya. Amy merasa seolah menjadi burung yang kehilangan sepasang sayapnya. Rasanya ia tak akan lagi mampu terbang tanpa dua sayap itu.
Val melihat kesedihan di mata sahabatnya. Ia memeluk Amy yang kini tubuhnya bergetar.
"Aku tidak pernah merasa sesedih ini," gumam Amy masih menahan isakannya. Ia takut M akan mendengar kesedihannya.
"Jangan khawatir. Masih ada aku, Sifa, Lewis." Val membelai punggung Amy tetapi tak urung matanya memerah. Ia mengerti sedikit kesedihan Amy. Sejak umur enam tahun ia kehilangan ibunya, lalu di usia delapan ia hanya hidup berdua dengan kakaknya hingga hari ini karena ayahnya tidak pernah ada di rumah. Besok, ia akan kehilangan satu-satunya orang yang selama ini menemaninya dengan setia. "Kami tidak akan meninggalkanmu," bisik Val sembari mengeratkan pelukan. Ia mendongak menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Ah, aku tidak boleh cengeng. M tidak boleh melihat adegan ini." Amy melepas pelukan Val dan mengusap air matanya.
"It's okey, Am. Sekali ini tidak apa jika kau ingin menangis. Tidak perlu ditahan." ucap Val dengan tangan menggenggam bahu Amy.
Air mata Amy yang surut kembali deras. Gadis itu memeluk Val lagi dan akhirnya sesenggukan di bahu sahabatnya itu.
Bersambung ...
______________
*Hai, Readers...
Bagaimana? Apakah episode ini mengandung bawang? Harusnya iya... tetapi author tidak pandai membuat orang menangis, ehehehe...
Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Love you all*...
Find me on:
Fb: Hi Gaez Itz Revka
Ig: @its_revka
Wp: @Revka09
Storial: @Revka09
__ADS_1