
Di lapangan sepak bola yang hijau itu terlihat anak-anak lelaki bermain bola. Usia mereka sekitar 9 sampai 12 tahun. Anak-anak itu berlarian mengejar si kulit bundar kemudian berlomba memasukkan bola ke gawang lawan.
Amy duduk di pinggir lapangan. Menyaksikan anak-anak lelaki itu di bawah terik matahari dengan mata yang masih sembap. Jumper-nya telah tersampir di bahu. Tangannya lecet akibat bergesekan langsung dengan rumput liar di rumahnya.
Gadis itu berpikir mungkin lebih baik jika ia tinggal lagi di rumahnya selepas SMA nanti. Ia bisa bekerja sebagai pegawai toko atau mengurus ladang orang. Ia cukup ahli berkebun.
Setelah rencana utamanya gagal total, ribuan ide menghadapi masa depan menyerbunya. Amy memang kecewa karena telah gagal tetapi bukan berarti ia tidak bisa menjalani hidup lagi. Ia telah melalui satu setengah tahun hidup paling mengerikan sepanjang hidupnya. Menjalani hari-hari tanpa kakak laki-lakinya.
Jika ia bisa bertahan selama satu setengah tahun, ia bisa saja menjalaninya selamanya. Amy sudah siap dengan hal itu, hanya saja ia belum mau. Masa-masa bersama M terlalu berarti sehingga ia masih berharap bisa kembali bersama kakaknya.
"Kak, maaf ... bisakah bolanya kautendang kemari?“ teriak salah seorang anak lelaki yang tengah bermain bola.
"Ya?" Amy memperhatikan sekeliling dan baru menyadari kalau ada sebuah benda bulat menggelinding lambat kemudian berhenti tepat di depannya.
Amy mengambil bola itu kemudian hendak dilemparnya keras-keras.
"Kak, kau mau bermain bersama kami? Tim kami kurang dua orang."
"Eh?" Amy menatap anak lelaki dengan pakaian yang telah dipenuhi debu dan noda itu. "Bukankah kalian bermain enam orang enam orang?" katanya. Amy memang sempat menghitung jumlah anak-anak itu.
"Tidak. Kami hanya berlima. Dua teman kami tidak datang," jawab anak lelaki berkulit sawo matang itu. "Kalau kami kalah, kami tidak boleh bermain lagi di sini selama satu bulan."
"Kalau aku tidak mau main, bagaimana?" tanya Amy. Ditahannya tangan untuk melemparkan bola yang sedari tadi ia pegang.
"Tidak apa-apa. Kami tidak memaksa. Lagipula, kami punya rencana cadangan." Anak itu merebut bola dari tangan Amy kemudian berlari segera ke tengah lapangan.
Rencana cadangan? Plan B?
Amy merebahkan diri di rerumputan. Direntangkan tangannya kemudian ia menatap langit biru yang luas berhiaskan serabut awan tipis. Ia selalu merasakan sensasi terbang ketika melakukan hal itu. Seolah tubuhnya terangkat dari tanah kemudian terapung di antara langit dan bumi.
Tiba-tiba Amy mendengar suara langkah kaki cepat menuju ke arahnya. Paling anak-anak itu lagi, pikirnya.
"Kau di situ?" Wajah khawatir itu menatap Amy dengan napas pendek-pendek.
Amy meliriknya kemudian kembali menatap langit yang cerah. Matahari bersinar tepat di atas kepala. Jika bukan karena topinya, mata Amy mungkin sudah terbakar.
"Kami mencarimu di rumahmu tetapi tidak ada siapa-siapa," kata orang yang tidak lain adalah Jimmi itu.
Tidak ada sahutan dari gadis itu. Maka Jimmi membaringkan diri di samping Amy. Ia tahu gadis itu masih marah padanya.
"Aku minta maaf," kata Jimmi. Diliriknya Amy yang masih memandang langit. "Harusnya aku pulang semester lalu. Harusnya—"
"Tidak apa. Itu semua sudah lewat," potong Amy. Wajahnya masih lurus memandangi gerakan halus awan di udara.
"Kau memaafkanku?“
Wajah Amy bergerak. Ia memandang Jimmi dan sedikit terkejut mendapati mata cokelat itu tengah memperhatikannya. "Ya," ujarnya setelah bisa menguasai diri dari hipnotis mata itu. "Aku memaafkan kalian. Kau dan M." Senyum merekah dari bibir Amy yang kering.
Angin sepoi meniup rambut keduanya yang tengah berbaring, juga di hati Jimmi. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyuman itu dari wajah Amy. Senyum yang bahkan lebih mempesona dari yang Jimmi ingat.
"Jimm ...."
"Ya?"
__ADS_1
"Ayo kita habiskan waktu bersama sebanyak-banyaknya. Selagi kita bisa."
"Tentu," ucap Jimmi disertai senyuman lebar.
"Aku kangen padamu."
"Aku lebih kangen lagi."
Mereka bertukar senyum kemudian keduanya memandangi langit dengan jemari saling terpaut.
*******
Seperti yang Amy katakan, ia bersama Jimmi dan M menghabiskan waktu bersama lebih banyak. Dua cowok itu bahkan berangkat ke sekolah bersama, istirahat bersama dan pulang bersama Amy.
Jimmi dan M memang akan melakukan apa saja demi Amy selama liburan mereka yang singkat itu. Termasuk kembali mengawal Amy ke sekolah. Mereka pikir dengan begitu bisa menebus waktu-waktu mereka yang terpisah.
"Apa yang sebenarnya kau katakan pada Amy?" tanya M suatu kali di kantin sekolah yang kosong. Bel masuk telah berdering tiga jam lalu. Setelah berkeliling sekolah, M dan Jimmi memutuskan untuk pergi makan.
"Maksudmu?“ Jimmi mengerutkan dahi.
"Sejak kalian pulang tempo hari dari lapangan, Amy tidak marah lagi pada kita. Bahkan, sepertinya dia tidak peduli pada kegagalannya. Apa yang telah kau katakan padanya?"
Jimmi tampak mengingat-ingat kejadian hari itu. Amy memang terlalu mudah memaafkannya. Bukan seperti Amy yang biasanya tetapi dia memang Amy-nya. Tidak ada yang terjadi setelah itu. Mereka benar-benar baik-baik saja.
"Aku hanya meminta maaf dan ... dan bilang kalau aku lebih kangen padanya," jawab Jimmi setelah berpikir beberapa saat.
"Itu saja?“ tanya M sekali lagi. Perasaannya kurang tenang. Mungkin Amy benar telah memaafkan mereka berdua. Namun, alasan dari gadis itu masih belum diketahuinya. Ia tidak bisa tenang sebelum mengetahui alasan itu. Menanyakannya langsung pada adiknya bukanlah ide baik. Amy tidak akan memberitahunya sesuatu yang tidak ingin ia beritahu.
"M, lihat ini!“ Jimmi memperlihatkan layar ponsel pintarnya.
"Ada lima perguruan tinggi di sana. Amy bisa pilih salah satunya."
"Benar." Mata M berbinar membaca nama-nama perguruan tinggi dan alamatnya itu. Ia dan Jimmi telah merencanakan sebuah rencana B untuk Amy. Gadis itu bisa kuliah di kota yang sama dengan mereka.
"Tapi aku penasaran, apakah dia masih mau jadi kriminolog? Semua kampus ini tidak memiliki jurusan kriminologi," kata Jimmi dengan keresahan yang berusaha ia tutupi.
"Kau harus membujuknya, Jimm. Bilang saja kalau jurusan kedokteran atau hukum juga sama menariknya. Kuharap dia mau kuliah jurusan hukum." M membuka minuman kaleng dan meneguknya.
"Kenapa aku? Dia lebih mendengarkanmu, kan?“ Jimmi mengambil kembali ponselnya dan dimasukkannya ke saku jaket.
M tidak menjawab. Sesungguhnya, ia sedikit cemburu pada sahabatnya itu. Ia merasa sekarang Amy lebih menyayangi Jimmi daripada dirinya. M tahu kalau suatu hari hal ini akan terjadi. Dia harus rela melepaskan adiknya. Setidaknya, ia lega jika ia harus melepas Amy pada Jimmi.
Ketika bel istirahat berdering, banyak murid yang menghampiri dua sahabat itu. Terutama angkatan Amy yang dulu adalah fans mereka berdua. Dari sekian banyak murid yang datang, Amy sama sekali tidak terlihat.
"Zack!" Jimmi melambaikan tangan pada Zack yang tengah mengunyah roti lapis di meja pojok.
Dengan mulut penuh dan sisa roti lapis di tangan, Zack menghampiri Jimmi. "Kalian datang setiap hari?" tanya cowok itu setelah duduk di sebelah M.
"Kau tahu Amy kemana?" tanya M sembari melirik kiri dan kanan.
Zack menelan sisa roti lapisnya kemudian berkata, "Oh, hari Rabu biasanya dia istirahat di perpus."
"Dia masih belajar?“ tanya M pada Jimmi setengah bergumam. Ia pikir Amy tidak akan belajar serius lagi.
__ADS_1
"Ayo, kita ke sana!“ ajak Jimmi.
"Kalian berdua gak bisa masuk. Kalian, kan, bukan murid SMA Elang lagi."
"Ah, dia benar juga, Jimm." M yang telah berdiri kembali duduk. "Kita tunggu sekolah bubar."
"Kalian berdua kenapa seposesif ini pada Amy? Kemana pun dia pergi sepertinya kalian mengikutinya." Zack meminum sisa minuman M kemudian bersendawa. "Dia sudah besar, M, Jimm. Dia sudah dapat sabuk hitam. Kalian tak perlu khawatir berlebih."
"Kau tahu dia dapat sabuk hitam?" M menoleh pada Jimmi. Sahabatnya itu menggelengkan kepala perlahan dengan wajah terkejut. "Ternyata kita memang telah melewatkan banyak hal," gumam M.
Dua sahabat itu duduk merenung di kantin. Bahkan sampai sekolah bubar, M dan Jimmi tetap berada di bangku kantin sampai Lewis datang dan memberitahu kalau Amy sudah pulang. "Dia pikir kalian sudah pulang," ucap Lewis.
M dan Jimmi segera pulang ke rumah—rumah Larry. Mereka mendapati Amy tengah duduk selonjoran di sofa ruang depan dengan sebuah buku terbuka di tangan.
"Kalian darimana?" tanya Amy tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman buku.
"Kami dari kantin dulu tadi," jawab Jimmi. Ia segera menduduki sofa yang kosong di samping Amy.
M melakukan hal yang sama dengan Jimmi. Ia membuka jaketnya dan meletakkannya di sandaran sofa. "Am ... kau tahu selain Universitas Cendekia, ada beberapa perguruan tinggi lain di kota X. Kami pikir, lebih baik kalau kau kuliah di salah satu kampus itu."
"Di sana ada jurusan kriminologi?“ Lagi-lagi Amy tidak menolehkan pandangan.
Jimmi menoleh pada M yang kemudian menganggukan kepala sebagai kode.
"Am, kupikir jurusan hukum cocok untukmu," ucap Jimmi.
Amy menatap tajam Jimmi kemudian berganti menatap M tajam. "Jangan bujuk aku untuk masuk hukum!" ujar Amy tegas.
Jimmi menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu tatapan serius itu. Tatapan dari seorang Amy yang keras kepala. Ia hendak membuka mulut lagi tetapi Amy lebih dulu berujar, "Kedokteran juga tidak!"
Jimmi dan M memejamkan mata dan memaki dalam hati. Sepertinya Amy tahu benar rencana mereka.
"Aku akan jadi kriminolog. Aku akan masuk Universitas Cerdas."
M membulatkan mata. Ia tahu universitas itu ada di kota Z, sebuah kota yang berada di utara kota ini. Ini artinya jarak mereka akan lebih jauh dari sekarang. "What?"
"Am, kau serius?" tanya Jimmi yang juga tak percaya dengan apa yang Amy katakan barusan.
"Aku tidak pernah seserius ini. Kalian bilang aku harus punya rencana B, kan? Ini rencana B-ku!" Amy menutup buku dan pergi begitu saja meninggalkan M dan Jimmi yang masih terkejut dengan keputusannya.
Bersambung...
______________
Salam, Pembaca!
Terima kasih atas dukungan kalian untuk He Is Not My Brother selama ini. Berkat kalian, novel ini sebentar lagi berakhir. Terima kasih banyak!
Find me on:
Fb: Hi Gaez Itz Revka
Ig: @its_revka
__ADS_1
Wp: @Revka09
Storial: @Revka09