
Minggu pagi telah datang lagi. Akhir weekend yang pastinya dinantikan oleh semua anak sekolah. Tidur dan bermain sepuasnya.
Amy melakukan itu hampir setiap minggu. Hari ini tak terkecuali. Ia berbaring di kasurnya. Sepasang earphone terpasang di telinganya. Entah sudah berapa lama telinganya itu dimanjakan oleh musik favoritnya.
"Amy!"
M berdiri dan memanggil adiknya dari balik pintu. Tentu saja sang empunya kamar tidak mendengarnya. Amy sedang asyik dengan mp3 player-nya.
"Amy!"
Beberapa kali M memanggil tapi tetap tak ada jawaban. Akhirnya M membuka pintu kamar Amy. Dilihatnya adiknya itu sedang tiduran. Amy menggerakkan tangan dan kakinya seolah sedang memainkan satu set drum kit. M menggeleng lalu mendekati Amy kemudian mencabut salah satu earphone yang terpasang di telinga gadis bermata cokelat gelap itu.
"Apaan, sih?" Amy merebut kembali earphonenya dari tangan M.
"Amy, apa kau tahu Jimm kemana?"
Amy mematikan mp3 player-nya, "Apa?"
"Heh, kau ini! Makanya lepaskan earphone itu!" M agak sewot.
"Ini sudah aku matikan, kok. Ada apa?"
M duduk di samping Amy. "Jimmi menghilang. Apa kau tahu kira-kira dia dimana?"
"Menghilang gimana?"
"Tadi Mrs. Larry menelepon. Dia nanyain Jimmi. Katanya Jimmi gak pulang ke rumah sejak hari Jumat. Dia pikir Jimm menginap di sini."
"Mungkin di rumah yang lain. Rumah Zack, Lewis atau Olie mungkin? Anak itu kan tukang nginap di rumah orang."
"Tidak. Mrs. Lary sudah menghubungi semua teman kami dan Jimmi gak ada dimana-mana."
Amy mengangkat badannya, "Memang kemarin kalian gak ketemu? Kakak, kan, lengket banget dengannya."
"Tidak. Biasanya hari sabtu dia nyamperin ke rumah kita, kan?"
"Hmm ...." Amy mengerutkan kening. Ia ingat peristiwa di ruang konseling. "Kayaknya Jimm punya masalah sama ibunya."
__ADS_1
"Sok tahu. Dia pasti sudah bercerita padaku kalau benar begitu."
"Yah, terserah kakak. Kudengar dia bolos jam Kimia dua kali dan karenanya masuk konseling, kan?"
"Iya, sih."
"Paling-paling nanti sore dia nyamperin ke sini. Seperti biasa." Amy kembali memasang earphone ke telinganya lalu mulai memutar musik. "Gak usah khawatir."
"Ya, tapi ...." M melirik Amy yang sudah kembali larut dengan lagu-lagunya. "Dasar adik yang menyebalkan!" M mengambil sebuah bantal dan melemparkannya kuat-kuat ke arah Amy. Tak ada reaksi, jadi M memutuskan meninggalkan kamar yang berantakan itu.
.
§§§
.
Matahari mulai tenggelam saat Jimmi perlahan memasuki sebuah rumah.
"Wah, lihat ... siapa yang akhirnya datang?"
Jimmi sedikit terkejut dengan suara itu. Ia membalikkan badan dan menemukan Amy tiduran di lantai.
"Mmm, boleh aku numpang mandi?" Jimmi tertawa santai sambil mengusap tengkuknya perlahan.
"Heh!" Amy berdiri dan menghampiri Jimmi. Ia merenggut kerah jaket Jimmi dan berjinjit mendekatkan wajahnya dengan wajah Jimmi. "Kau sudah membuat kami semua khawatir lalu kau mau numpang mandi begitu saja?"
Cowok berambut emo itu malah nyengir dan membuat Amy jengkel. Amy melepaskan cengkraman tangannya. Tiba-tiba saja melihat wajah Jimmi begitu dekat membuat hatinya rusuh. Tak ingin perasaan itu tinggal lama di hatinya, jadi Amy memutuskan untuk duduk di kursi.
"Kau kemana saja, sih? Kami semua panik. Ibumu bahkan menginterogasi semua murid Elang hanya untuk mendapatkan kabar darimu." M mengenakan kaosnya. Masih mengenakan handuk.
"Sebenarnya," Jimmi duduk di samping Amy, "aku ikut Dexter Dearest Tour."
"Kau tidak bercanda, kan? Jadi seminggu ini kau keliling kota?" tanya M tak percaya.
"Yeah ..., kalau Ibu tahu aku ikut tur bersama Dexter, ia pasti gak akan mengijinkan."
"Setidaknya kau harus beri kabar. Seminggu ini aku dan Amy mencarimu kemana-mana. Ke tempat kita biasa nongkrong, ke kota, rumah teman lamamu dan terakhir kali ... kami ke hutan."
__ADS_1
"Benarkah? Si manis ini juga ikut?" Jimmi menunjuk Amy, sementara gadis itu menjulurkan lidahnya.
"Aku tidak bercanda, Jimm."
M menatap tajam pada Jimmi. Jimmi tahu sahabatnya sedang marah.
"Baiklah ... aku minta maaf pada kalian. Sebenarnya aku ingin bilang padamu, M. Hari Jumat aku menunggumu di gerbang, tapi tim Dexter tour sudah menjemputku."
"Kau, kan, bisa telpon."
"Mmm, sebenarnya nomor rumahku sendiri pun aku gak hafal."
"Ish ... kau ini, rumus kimia dan fisika kau hafal tapi kenapa nomor telepon tidak?"
"Aku pikir nomor telepon tidak terlalu penting. Ada buku telepon untuk melihat nomor telepon, kan?"
"Hhh ... aku tidak tahu harus marah karena kau pergi tanpa kabar atau malah senang karena kau telah kembali, Jimm."
"Ya ... umm, aku benar-benar minta maaf karena telah membuat kalian khawatir."
M tersenyum, "Baiklah, kau kumaafkan."
"Boleh aku pinjam handukmu? Aku numpang mandi, ya." Jimmi hendak menarik handuk dari pinggang M.
"Hey ... hentikan! Ada aku di sini. Apa kalian tidak malu? Pakai pakaianmu di kamar, M!" Amy berteriak sambil menutup mata dengan telapak tangannya.
Jimmi dan M saling pandang lalu tertawa.
"Baik, aku ganti di kamar. Kau tunggu di sini, Jimm." M melangkah menuju kamarnya meninggalkan Jimmi dan Amy yang masih menutup mata.
Bersambung...
---------
*Halo pembaca,
Mohon dukungan dari kalian semua dengan baca, like, vote dan beri rating cerita ini.
__ADS_1
Saya berterima kasih atas semua apresiasi yang telah kalian berikan 💕*