He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Confess to Him


__ADS_3

Pagi itu, pukul empat lebih empat puluh menit. Meski ini hari minggu tetapi Amy sudah bangun dan duduk bengong di ruangan depan. Gaun hitam yang semalam ia kenakan masih melekat ditubuhnya, begitu juga dengan make up-nya. Hanya saja sudah luntur kemana-mana. Semalam setelah Jimmi mengantarnya pulang, Amy langsung masuk ke kamar dan terlelap tanpa sempat membersihkan wajah dan mengganti pakaiannya.


"Eh? Tumben sudah bangun? Apa kau lupa ini hari minggu?" tanya M yang juga baru bangun. Ia sedikit kaget mendapati adiknya tengah duduk memeluk lutut masih mengenakan pakaian itu. M menguap, "Hoaaamp ...."


"Semalam aku benar-benar jalan bareng Jimmi, ya?" Amy bertanya dengan suara berbisik.


"Iya."


"Berarti semua itu nyata, bukan mimpi?" Amy menarik rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Tentu saja, eh ... apa yang terjadi?" M menggeser duduknya mendekati Amy.


"Semalam ... semalam itu ... Jimmi, eh? Dia itu, menyebalkan! Sangat menyebalkan!"


"Dia selalu begitu di matamu, kan?"


"Tidak, tidak! Kali ini dia sungguh membuatku keki."


"Apa yang dilakukannya? Mengerjaimu lagi?"


"Ugh ...," Amy mengerang, diraihnya lengan M lalu ditempatkannya di pipi. "Dia bilang ... dia jatuh hati padaku!"


M menegakkan badannya, membuat kepala Amy tersungkur. "Dia bilang apa?" tanyanya cepat.


"Dia bilang mencintaiku."


"Lalu apa yang kau katakan?"


"Aku gak mengatakan apapun. Lagipula apa yang harus kukatakan? Aku hanya tidak mau dia berkata begitu." Amy mengangkat kepalanya dan kali ini ia bermanja dipangkuan kakaknya.


"Kenapa? Jika Jimmi bilang begitu, berarti itu benar." M menatap wajah Amy.


"Kau tahu dia playboy, kan?"


"Seperti aku, maksudnya?"


"Gak ada maksud ke situ ..., tapi kalian berdua memang sebelas dua belas."


"Oke, lanjutkan ...."


"Maksudku, bisa aja ini cuma rayuan dia. Iya, kan?"


"Gak mungkin. Aku dan dia sudah berjanji akan serius dengan seorang cewek kali ini." M mengangkat kakinya, membuat kepala Amy terangkat mendekati wajahnya. "Jadi ..., cewek yang Jimmi taksir itu kau ya, Amy?" M sedikit terkekeh.


Amy mengangkat badannya kemudian duduk agak menjauh. "Ish ... kau menyebalkan!" Ia berdiri dan hendak pergi.


"Hey ... apa jawaban yang kau berikan pada Jimm?"

__ADS_1


"Tidak ada," jawab Amy tanpa menoleh.


"Jadi, kalian sekarang pacaran?"


"Tidak!" jawab Amy ketus.


M terus bertanya dan bertanya tapi Amy hanya menjawab 'tidak' hingga ia kembali masuk ke kamar. M hanya memperhatikan adiknya itu sambil tertawa tanpa henti.


.


§§§


.


"Pagi, Jimm!" M menepuk pundak sahabatnya dari belakang.


"Oh ... hai, M! Pagi juga."


"Kenapa kemarin sore kau tidak ke rumah seperti biasa?" tanya M.


Jimmi menaikkan alisnya dan menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, "Ibu menyuruhku pergi bersama Fohn."


"Oya? Kemarin aku melihat Fohn lewat sendirian."


"Benarkah?"


Bel sekolah berbunyi.


"Tidak. Kau berhutang penjelasan padaku, sepulang sekolah."


Jimmi menghela napas. Ia tahu pasti apa yang ingin M ketahui. Bukan sekadar soal datang ke rumahnya minggu sore, tapi apa yang terjadi malam sebelumnya.


Pelajaran Sejarah Dunia dimulai. Wajah Jimmi nampak serius. Bukan serius mempelajari peristiwa perang salib yang gurunya terangkan tetapi ia memikirkan kata per kata yang akan dia ucapkan pada sahabat yang duduk di sebelahnya ini. Apa M akan marah? Apa persahabatan mereka akan merenggang?


Ah ... sungguh menguras sebagian besar konsentrasinya harus memikirkan hal itu.


"Oke ... jelaskan padaku, Jimm." M menarik Jimmi yang hendak kabur seusai pelajaran terakhir berakhir.


"Oh ... iya, tentu."


Mereka kembali ke kelas dan duduk di bangku paling pojok. M menyandarkan punggungnya ke dinding kelas. Ia menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Jimmi.


"Ehm ... begini," Jimmi mulai berbicara. "Kuharap ini tidak akan mengubah persahabatan kita, M."


"Ya ... teruskan."


"Kau ... umm, maksudku harusnya kuceritakan ini padamu sejak awal."

__ADS_1


"Ya?"


Jimmi menelan ludah. "Cewek yang kusuka itu, ah ... bukan! Cewek yang kucintai itu, dia adalah ... Amy, adikmu."


M tidak bereaksi apa-apa. Ia tetap bersandar ke dinding dan menatap sudut lain ruangan itu.


"Aku ... aku tak menceritakannya padamu karena, karena kukira jika kau tahu itu, kau akan menjauhkan dia dariku."


"Apa? Tentu saja tidak!" M mengalihkan pandangannya pada Jimmi, "Aku akan menghajarmu jika kau menyakitinya, Jimm."


Jimmi mengangguk pelan. Ia tak berani menoleh. Wajah M pasti sangat seram sekali.


"Tapi kau tak akan menyakitinya, kan?"


"Tidak. Tentu tidak. Bahkan sejak kecil pun aku tidak pernah berniat seperti itu padanya. Dia adikmu, maksudku ... sejak kecil aku sudah menganggapnya adikku juga. Dan aku selalu menjaganya. Tapi belakangan aku merasakan hal yang berbeda ketika aku bertemu dengannya. Itu ... itu .... "


"Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata."


"Ya, kau benar."


"Well, kau tahu sesuatu, Jimm?"


"Apa?"


"Harusnya kau bilang dari dulu agar aku bisa membagi tanggung jawabku."


"Maksudmu, tidak apa jika aku mendekati Amy?"


M tertawa, "Tentu saja."


"Kau memang sahabat terbaikku."


"Selalu."


"Jadi, malam ini aku boleh nginap di kamarmu?"


"Tidak!" M berdiri, mengambil tas lalu melangkah ke luar kelas. "Kecuali kau bawa CD Dexter terbaru."


Bibir Jimmi seketika melengkung dan ia buru-buru menyusul M.


Bersambung...


---------


*Terima kasih untuk kalian semua karena telah membaca Lemon Love sampai sejauh ini 😻


Terima kasih banyak.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen agar semangat author di level maksimal 💕*


__ADS_2