He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Awkward Moment


__ADS_3

Pelajaran sudah kembali dimulai sejak satu jam lalu tetapi Amy sama sekali tidak memperhatikan guru. Ia memang melihat ke depan, ke coretan-coretan di papan tulis. Namun pikirannya terbang entah kemana sejak siaran radio sekolah usai.


"... aku sudah menganggap Amy sebagai adikku sendiri. Kami bertiga sudah seperti saudara."


Ada denyut menyakitkan di dada ketika mendengar kata-kata itu. Sialnya lagi, kata-kata itu terus terngiang di kepalanya yang kini berambut tipis.


Amy tidak mengerti situasi terkini. Yang ia tahu, Jimmi mengatakan jatuh hati padanya, tetapi di depan semua orang dia bilang kalau hubungan mereka seperti saudara. Jadi, selama ini memang Jimmi hanya menggodanya.


Sebenarnya itu adalah hal yang Amy inginkan agar hubungan keduanya seperti dulu. Namun, sekarang ketika hal itu terjadi, seperti keinginannya, ia merasa sakit. Rasa-rasanya menarik napas sedalam apapun, paru-parunya tak akan penuh. Sekonyong-konyong ia juga kehilangan tenaga. Untuk sekadar membuka halaman buku pun Amy tak sanggup.


"Am-Amy! Kau tidak pulang?" tanya Val mengetahui Amy tidak membereskan buku-bukunya setelah bel pulang berdering.


"Sebentar lagi. Aku mau di sini sebentar lagi." Amy malah menenggelamkan kepalanya di tangan yang terlipat di meja.


Val yang telah berdiri kembali duduk. "Ada apa?“


"Tidak ada. Hanya malas pulang saja."


"Baiklah aku mengerti. Aku akan pulang bersamamu, menunggu sekolah sepi," kata Val. Gadis itu mengira kalau Amy belum percaya diri dengan penampilan barunya di depan banyak orang.


"Tidak perlu, Val. Lagipula aku mau nengok klub karate. Sepertinya aku mau latihan karate lagi," bohong Amy. Ia memang berniat aktif lagi di klub karate tapi bukan hari ini.


"Ah, aku mengerti. Aku mendukungmu! Kau memang harus banyak kegiatan agar tidak ada waktu mendengar gosip orang-orang." Val tersenyum kemudian gadis itu berdiri dan meninggalkan Amy sendiri di kelas. "Sampai besok!" katanya sebelum menghilang di balik pintu.


Sepeninggal Val, Amy merasa kepalanya pusing. Namun, ia juga seperti kehabisan tenaga untuk beranjak dari kursinya. Perlahan-lahan mata Amy tertutup dan kesadarannya memudar.


.


"Hei, kau di situ rupanya. Bangun!"


Tubuh Amy terguncang. Kesadarannya kembali perlahan. Dibukanya matanya pelan. Kemudian segera saja kepala itu terangkat.


"Apa? Ada apa?" tanya gadis itu kaget. Topinya sampai terjatuh ke lantai.


"Kau kaget? M mencarimu," ucap cowok tinggi itu.


Dengan gerakan malas, Amy bangkit. Kenapa orang yang pertama ia lihat malah Jimmi? Ah, ia tidak mengerti dengan permainan apa yang tengah diberikan takdir untuknya. Ia sedang tidak mau bertemu orang itu.


Amy mengucek mata dan memungut topi hitamnya. Kemudian diliriknya Jimmi yang tiba-tiba saja mematung. Mata cowok itu melebar seperti baru saja melihat makhluk astral.


"I-itu ... itu ...!" Jimmi menunjuk kursi Amy.


"Ha? Ada apa?" Jantung Amy berdebar hebat. Dari ekspresi Jimmi yang tidak dibuat-buat, Amy tahu ada sesuatu yang janggal. Apakah benar-benar ada makhluk astral di dekatnya?


"Itu!" seru Jimmi kemudian memalingkan wajah.


Amy semakin khawatir. Wajahnya bahkan memucat. Diberanikan hatinya untuk menengok kursinya meski jantungnya tak mau menurunkan kecepatan pompaan.


"What the?!!!" Mata Amy membelalak. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Arghhh! Bagaimana ini? Bagaimana, Jimm?" tanya Amy panik. Suaranya bahkan terdengar sangat nyaring. Ia bahkan lupa kalau ia tak ingin melihat Jimmi sekarang.


"Aku gak tahu! Memang aku harus gimana?" Jimmi memutar tubuhnya, tak mau melihat hal itu.

__ADS_1


"Argh!!!" Tubuh Amy mematung, kecuali kedua tangannya yang terus bergerak tak tentu arah. "Aku tidak bisa pulang seperti ini, Jimm!" rengek Amy.


Dilihatnya lagi kursinya yang telah merah, juga diliriknya bokongnya yang juga merah. Itu darahnya! Amy tembus! Dan Jimmi melihatnya dalam keadaan seperti itu. Pipi Amy memerah, begitu juga telinganya. Tak butuh waktu lama wajah pucat itu sudah seperti kepiting rebus.


"Pergi dari sini, Jimm! Aaargh!!! Kenapa kau harus melihatnya?"


Bingung, Jimmi bergerak perlahan menuju pintu. "Kau yakin aku harus pergi?"


"Ya!!!" teriak Amy dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.


Akhirnya Jimmi pergi. Setidaknya Amy bisa bernapas sedikit lega. Tapi gadis itu bingung harus bagaimana. Jika duduk, maka noda darahnya akan menyerap lebih banyak di rok. Jika ia terus berdiri, darahnya akan mengalir ke bawah, menuju kaus kaki dan sepatunya juga lantai.


Gadis itu akhirnya meraih tas dan mengeluarkan seluruh isinya. "Tidak ada," gumamnya kecewa. Tidak ada tisu selembar pun di sana. Apa ia harus menggunakan kertas? Tapi nodanya akan tersisa dan bertahan sampai esok. Teman-temannya akan tahu kalau ia mengalami hal yang memalukan ini.


"Ah ...." Amy melirik jumper-nya. Bahannya tebal dan menyerap cairan dengan baik. Sedikit ragu, Amy membuka jumper dan bersiap menjadikannya lap.


"Am! Kau masih di situ?"


Suara itu menghentikan pergerakan Amy. Gadis itu menoleh ke arah jendela dan mendapati Jimmi tengah mengacungkan tiga gulung tisu toilet. Dibatalkan niatnya menjadikan jumper sebagai lap.


"Tangkap ini!" seru Jimmi seraya melemparkan tiga gulung tisu yang masih utuh itu dari depan pintu kelas.


Tuk!


"Awww!"


Salah satu tisu mengenai kepala Amy yang botak. Gadis itu mengerang dan mengelus kepalanya.


"Sorry!" seru Jimmi.


"Ini ...."


Sebuah tangan mengasongkan sesuatu pada Amy. Lagi-lagi tangan itu. Dengan heran Amy menerimanya. "Dapat dari mana?" Seingatnya, pembalut tidak dijual di kantin sekolah. Toko terdekat pun jaraknya lumayan jauh dari sini.


"Ada lah, hehe...," jawab si cowok agak gugup. Ia tak mungkin jujur kalau ia mendapatkannya dari laci rahasia ibunya.


"Tapi rokku, kan, kotor, Jimm." Amy memandangi roknya yang bagian belakang telah ditutupi jumper.


"Aku bawa seragam basket. Kalau-kau-mau-memakainya," ujar Jimmi kikuk.


Amy tidak pernah melihat ekspresi seperti itu dari Jimmi. Wajah cowok itu terlihat lucu. Wajah Jimmi sedikit memerah, gerakannya agak kaku dan tampak salah tingkah. Dan Amy senang bisa mengenang ekspresi itu kelak.


"Terima kasih," ucap Amy. Buru-buru ia pergi ke toilet untuk berganti pakaian.


.


§§§


.


"Hei ... hei-hei!!!" M tiba-tiba muncul bersama Weni ketika Amy telah selesai berganti celana. "Apa yang terjadi? Apa-yang-telah-kalian-lakukan?" Tanya cowok itu penuh penekanan.

__ADS_1


Wajah Amy merona mengingat peristiwa memalukan tadi. Namun, sepertinya M salah mengartikan. Demi melihat adiknya memakai celana tim basketnya bertuliskan nomor 11 itu, M curiga. Itu adalah celana Jimmi. Cowok itu langsung berdiri di antara Amy dan Jimmi kemudian mendorong keduanya menjauh.


"Kenapa pakaianmu begitu, Am?" tanya Weni yang memakai seragam putih dengan ikat pinggang biru mencolok. Siapa pun tahu kalau Weni anggota klub karate dengan pakaian itu.


"Ah, ini ...." Amy tidak meneruskan kata-katanya. Ia terlalu malu untuk menceritakan semuanya.


"Jimm, apa yang telah terjadi?"


Pertanyaan M juga membuat semburat kemerahan menghiasi pipi Jimmi. Tentu saja ia malu mengakui telah melihat sesuatu yang pribadi dari seorang cewek.


"Tanya Amy saja," jawab Jimmi sambil membuang muka.


"Kenapa kalian berdua? Kalian sudah berbuat yang tidak-tidak?" tanya M akhirnya dengan nada marah.


"Tidak!!!" jawab Amy dan Jimmi serempak, menatap M tidak percaya dengan tuduhan barusan.


"Kalau begitu jelaskan, dong!"


Weni mendekati M dan mengelus pundak cowok itu. "Kita dengar penjelasan mereka dulu."


"A-aku hanya membantunya," ucap Jimmi dengan wajah yang semakin masak.


"Ya. Dia benar," ujar Amy. Ia menginjak ujung sepatu kirinya dengan ujung sepatu yang lain.


"Membantu apa?" M mendekati Jimmi dan mendekatkan wajahnya pada sahabatnya itu. Kedua tangannya telah terkepal.


"Am, kau harus menjelaskannya dengan benar pada kakakmu atau aku bakal mati." Jimmi melangkah menjauhi M yang siap menghajarnya kapanpun.


"Kenapa harus aku? Ah, ini memalukan!" Amy menutup wajahnya. "Kau-saja yang jelaskan, Jimm."


"Apa? Tidak mau! Kau ... kau saja!"


Weni menggeleng pelan. Sedikit pusing melihat kelakuan adik dan sahabat pacarnya. Ia kemudian berbisik pada M. Cowok bermata hitam itu mengangguk.


M mendekati Jimmi, tapi sahabatnya itu malah berlari menjauh.


"Jimm! Jangan kabur! Hei ...!" M akhirnya mengejar Jimmi menuju gerbang sekolah sementara yang dikejar tak ada niat untuk berhenti.


"Nah, Amy," Weni mendekati Amy dan merangkul bahu gadis itu. "Mari pulang. Kalau kau mempercayaiku, kau boleh cerita tentang hal apa pun."


Amy hanya mengangguk dan berjalan beriringan dengan pacar kakaknya itu. Sepertinya membicarakan hal tentang cewek antar cewek tidak akan terlalu sulit.


Bersambung...


-----------


*Hai... Ini author...


Kali ini Amy mengalami kejadian memalukan. Untung aja ketemu Jimmi jadi dibantuin, kan?


Tapi nasib Jimmi gimana, tuh? Tolong bantu jelasin ke M, dong. Hehe...

__ADS_1


Terima kasih banyak ya atas dukungan kalian semua~


Ps: Lemon Love akan up setiap hari sampai akhir bulan. Jadi, pastikan sudah add to favorite, ya* ^^


__ADS_2