He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
First Dinner


__ADS_3

Di kamar sempit itu terlihat Amy bersama seorang lagi gadis manis sedang menghadap cermin. Amy terlihat tidak percaya diri mengamati bayangan yang terbentuk di cermin.



"Kau sangat cantik, Amy. Aku yakin Jimmi akan suka beneran padamu," kata gadis itu sembari tersenyum lembut kepada cermin.


"Apa? Itu gak akan terjadi, Kak Wen."


"Aku serius, lho. Kau benar-benar cantik dan feminin." Weni membelai rambut Amy.


"Apa iya? Menurutku ini aneh. Pakaian ini ... ribet. Rasanya aneh." Amy menyentuh helaian ruffle yang menghiasi bajunya.


Weni tertawa, "Itu karena kau gak terbiasa. Untung aku bawa perlengkapan make up di tas, jadi bisa membantumu dandan, hehe."


Amy kembali memperhatikan dirinya di cermin. Wajahnya yang sehari-hari hanya memakai pelembab itu kini telah ditaburi bedak dan ada sentuhan kemerahan tipis di pipinya. Selain itu, Weni juga memakaikan eyeliner dan sedikit smoky eyeshadow di kelopak mata Amy. Alis Amy juga tampak rapi. Bibirnya pun telah dipoles dengan lipstik nude. Kata Weni, warna bibir alami akan memberikan kesan natural. Lagipula memang bibir Amy sudah merah alami.


"Amy, pangeranmu sudah datang!" M berteriak setelah dilihatnya motor Jimmi sudah terparkir di halaman.


"Dia bukan pangeranku!" Amy balas berteriak.


"Wow, dia ganteng banget, Amy!" M kembali berteriak saat Jimmi turun dari motornya dan mulai melangkah menuju pintu.


"Hai, M!" sapa Jimmi begitu pintu terbuka.


"Kau keren, eh ... tampan malam ini, Jimm." Mereka berdua mengadukan kepalan tangan kanan mereka.


Jimmi tersenyum dan meraih tengkuknya. "Aku merasa biasa aja, M."


"Jadi, kau mau ngajak adikku yang cantik kemana, heh?"


"Mmm ... ke sebuah tempat. Restoran kecil di pinggir kota."


"Okey ... jangan pulang lebih dari jam sembilan malam." M tersenyum. Jimmi tahu kalau sahabatnya itu sedang meledeknya.


"Ayolah, M." Jimmi merajuk.


"Hahaha .... Aku percaya padamu, Jimm. Kau mau aku yang memanggil sang putri?"


"Tidak. Biar aku yang menjemputnya." Jimmi tertawa. Ia berjalan ke arah kamar Amy yang terbuka.


"Oh ... hai, Wen! Kau di sini?" Jimmi menghentikan langkahnya di depan pintu.


"Yeah ... membantu Amy untuk menjadi ... mmh, lebih cantik," ucap Weni sembari mengedipkan sebelah mata. "Baiklah ... kurasa aku harus bicara dengan M sekarang." Weni melepaskan tangannya dari pundak Amy kemudian meninggalkan kamar.


Amy memperhatikan dirinya sekali lagi sebelum berbalik menghadap Jimmi yang kini menyandarkan punggung di pintu dengan kedua tangan terlipat di dada.


Jimmi tertawa saat ia melihat Amy dengan gaun hitam itu dan juga kini garis wajahnya terlihat lebih nyata. Sejujurnya Jimmi terpesona. Ia tertawa membayangkan wajah Amy yang biasa dan polos itu kini menjadi anggun dan terkesan seperti gadis yang dewasa. Meski tertawa tapi matanya tidak terlepas dari wajah Amy.


Amy sendiri merasa kesal karena Jimmi menertawakannya, seperti yang sudah dibayangkannya. Namun entah mengapa bibirnya enggan mengerucut melihat cowok yang tertawa itu. Tidak biasanya pakaian Jimmi serapi ini. Kemeja salur navy itu terlihat keren di matanya. Jam tangan dan celananya juga. Tawa itu juga entah kenapa terlihat keren di wajah yang juga keren. Amy mengepalkan tangan dan menyingkirkan semua pikirannya. Menurutnya semua yang ia pikirkan tidak logis.


"Serius kita mau pergi naik motor ini?" tanya Amy saat Jimmi sudah menstarter motor Rossi-nya.


"Ayolah ... kau mau jalan kaki?"


"Ee-e ... tapi pakaianku seperti ini. Kau lihat?"


Jimmi memperhatikan Amy dari atas hingga bawah. Cantik.


"Kau bisa duduk menyamping, kan?"


Kali ini mulut Amy benar-benar mengerucut ketika akhirnya ia duduk menyamping di belakang Jimmi.


.


§§§


.


"Ayolah!" Jimmi menarik lengan Amy yang hanya diam menatap retoran di depannya.


Amy menurut saja dengan tarikan Jimmi. Mereka memasuki restoran kecil namun sarat dengan nuansa romantis itu. Amy menelan ludah melihat beberapa pasang—sepertinya—kekasih yang tengah makan malam di bawah cahaya lilin. Beberapa tampak tersenyum dan bercanda bahagia dengan pasangannya. Tempat sempurna untuk candle light dinner tapi bukan dengan cowok di sampingnya. Harusnya ia bersama dengan seseorang yang spesial, seseorang yang telah mengambil hatinya, bukan dengan seseorang yang mengalahkannya dalam taruhan KM. Ini gila!


Amy berusaha mengubur dalam-dalam kekecewaannya. Setidaknya di sini tidak ada orang yang ia kenal. Hatinya sedikit tenang. Namun hanya sesaat saja. Ketika ia duduk seusai Jimmi menarik kursi untuknya dan mempersilahkannya duduk, mata Amy melihat seorang yang sudah ia kenal bersama seorang gadis yang juga telah ia kenal.


Adalah Fohn, kakak Jimmi yang sedang duduk di sudut ruangan bersama cewek seksi memakai dress pastel. Mereka tampak sangat akrab. Amy berpikir apa Jimmi mengetahui keberadaan mereka?


"Amy ... Am, kau mau pesan apa?" suara Jimmi membuat Amy sedikit kaget.

__ADS_1


"Mmm ... sama sepertimu," jawab Amy sekenanya.


"Baiklah ... pasta dua porsi dan jus jambu merah dua."


"Eh?" Amy melirik Jimmi seketika mendengar minuman yang dipesan cowok yang sekarang terlihat keren itu.


"Itu kesukaanmu, kan?"


Amy hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Ia kembali melirik Fohn. Berharap kakak Jimmi itu tak melihat keberadaannya. Ia tak mau terlihat konyol dengan gayanya malam ini.


"Kau melihat Fohn terus. Kenapa?"


"Ha? Kau juga melihat kakakmu, ya?" Amy heran mengetahui Jimmi juga melihat Fohn.


"Iya, dari pertama ke sini."


Jimmi memandang lekat kakaknya atau mungkin gadis yang bersama dengannya. Amy lebih berpikir Jimmi melihat gadis yang sedang bersama Fohn itu.


"Mmm ... itu Jane, kan?" tanya Amy sedikit hati-hati.


"Ya," jawab Jimmi singkat. Pandangannya langsung ia lempar ke arah lain.


"Eh ... kau dan dia, itu ... bukannya Jane itu ... pacarmu?"


"Sejak kapan? Dari dulu dia pacar Fohn."


"Eh?"


"Kau pikir aku sama Jane? Enggaklah ... dia calon kakak iparku, lagipula aku gak tertarik sama dia."


Ada semilir angin sepoi berembus di hati Amy. Entah dari mana datangnya. Tiba-tiba saja otaknya memerintahkan syaraf di bibirnya untuk tersenyum. Biarpun ia berusaha menolak perintah itu tapi senyum itu susah dihentikan. Alih-alih tersenyum ia malah mengembungkan kedua pipinya. Melihat pipi Amy yang kembung, Jimmi hanya tertawa kecil. Tawa yang membuat angin di hati Amy semakin kencang.


"Kira-kira M kemana, ya?" tanya Jimmi disela-sela kunyahan pastanya.


"Weni bilang mau ke taman. Ternyata dia baik, gak seperti cewek M yang lain."


"Kakakmu itu gaya pacarannya gak berubah."


"Maksudnya?"


"Dari dulu malam mingguan selalu di taman."


"Tidak juga. Aku sering meminjamkan motorku padanya tapi jarang dipakai untuk membonceng cewek, kecuali kau."


Amy hanya mengangguk kecil. Ia sedang asyik menyeruput minumannya.


"Terus ...." Amy menggigit bibir bawahnya, tidak yakin dengan apa yang akan ia tanyakan. "Tempat ini ... terlalu-formal-romantis, kau tahu?"


"Masa?"


"Yeah ... ini terlalu dewasa. Orang-orang kemari sepertinya hanya untuk melamar pasangannya, atau merayakan hari jadi. Semacam itulah," kata Amy sambil memperhatikan sekeliling. Pasangan-pasangan bahagia yang ada di sana terlihat dewasa. Amy benar-benar merasa seperti bocah ingusan.


"Jadi, kau mau kulamar?"


Hampir saja pasta yang Amy telan keluar lewat hidungnya. Gadis itu terbatuk-batuk kemudian buru-buru menyambar air mineral di samping piringnya.


"Amy ...."


"Ya."


"Aku mau mengatakan sesuatu," Jimmi menatap Amy lurus. Cowok itu bahkan ga peduli kalau yang diajak bicara baru saja tersedak.


Amy berusaha tidak balas menatap Jimmi. Agak risih juga ia ditatap seperti itu. Ada yang aneh di wajah Jimmi. Bahkan gaya bicaranya juga berbeda.


"Mmm ... bicara apa?" tiba-tiba jantung Amy berdetak lebih cepat saat Jimmi meraih jari-jarinya. "Jangan bilang kalau mau melamarku. Kusiram kau pakai jus."


Jimmi tersenyum mendengar nada suara Amy yang sedikit geregetan. Tapi ia menyukai hal seperti itu dari gadis di depannya. "Kau cantik," kata Jimmi akhirnya setelah ia puas tersenyum.


"Te ... terima kasih," Amy merasa panas di seluruh permukaan kulitnya. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Amy ingin marah tetapi senyuman Jimmi menahannya. Namun, Amy sadar mungkin saja Jimmi sedang merayu dan menggodanya. Akan tetapi tak bisa dihindari, ada rasa senang dipuji seperti itu.


"Amy ... kita sudah saling mengenal sejak kecil."


"Ya." Amy berusaha menarik tangannya dari genggaman Jimmi tapi cowok itu malah mengenggamnya lebih erat. Sial!


"Ah ... bagaimana aku harus mengatakannya, ya?" Jimmi mendorong wajahnya ke depan. "Aku menyukaimu sejak kecil. Kupikir aku menyukaimu sebagai adikku ...."


Amy menggigit bibirnya. Rasanya seperti ia harus bersiap karena ada sesuatu yang akan menendang perutnya dengan keras. Ia berharap apa yang akan Jimmi ucapkan selanjutnya berupa gurauan yang bisa membuatnya marah. Sebab dengan marah, Amy bisa keluar dari situasi aneh ini.

__ADS_1


"Tapi kurasa aku salah. Aku jatuh hati padamu."


Amy merasakan tendangan itu. Ia menggigit bibirnya lebih keras. Berharap rasa sakitnya bisa mengusir sesuatu yang kini sedang masuk ke dalam hatinya.


Tidak! Dia hanya sedang menggodamu, dia tidak serius. Dia player!


"Kau bercanda, kan?" akhirnya Amy bisa mengatakannya walaupun dengan susah payah diiringi senyum terpaksa nan canggung.


"Aku tak pernah seserius ini."


Ya, Amy tahu itu. Ia dapat melihatnya dari mata Jimmi. Tidak ada kebohongan di sana. Namun Amy berusaha mengangkat berbagai spekulasi yang ada di pikirannya. Ia menolak untuk percaya pada kejujuran mata Jimmi. Jimmi sering mengerjai dan menggodanya. Lagipula pasti ia sudah mengatakan hal yang sama kepada puluhan gadis sebelum ini, jadi wajar saja ia bisa semeyakinkan itu.


"Ehm ... jangan di situ saja, ayo turun!"


Sebuah suara memecahkan keheningan di antara hati Jimmi dan Amy. Fohn sudah berada di lantai dansa bersama Jane.


Jimmi berdiri dan mengulurkan tangannya pada Amy. Amy menggeleng pelan.


"Ayolah! Sebentar saja," pinta Jimmi.


Amy menyambut tangan hangat itu tapi saat sudah berada di antara beberapa pasangan yang sedang berdansa, termasuk Fohn dan Jane, ia memaki dirinya sendiri yang telah menyambut tangan Jimmi. Ia tak pernah berdansa. Lagipula, apa tadi ia bilang sesuatu pada Jimmi?


"Aku belum pernah berdansa," bisik Amy pada Jimmi.


"Ini mudah." Jimmi melingkarkan tangan Amy di tengkuknya kemudian ia sendiri melingkarkan tangannya di pinggang Amy. Mereka mulai bergerak pelan kiri dan kanan di tengah sebuah lagu romantis.


Amy memberanikan diri mengangkat wajahnya. Dilihatnya Jimmi sedang tersenyum manis. Seperti senyum kemenangan saat cowok tinggi itu berhasil mengerjainya.


"Aku belum mengiyakan pernyataanmu tadi, ya." ucap Amy.


Jimmi menahan tawanya, "Aku tak butuh persetujuanmu untuk mencintaimu, kan? Lagipula kau tak akan menolakku, kan?"


"Kau pikir aku menyukaimu?"


Jimmi menarik tubuh Amy, "Ya."


"Gede rasa!"


"Aku akan memaksamu jika kau tak mau."


"Coba saja kalau bisa!"


Jimmi tersenyum dan semakin menarik tubuh Amy. Amy berusaha untuk melawan tarikan Jimmi tapi sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuat keseimbangannya kacau. Justru kini Amy terjatuh ke tubuh Jimmi.


"Gotcha!" Jimmi memeluk tubuh Amy.


Amy berusaha melepaskan pelukan itu. Setelah bisa berdiri lagi, Amy menjulurkan lidahnya pada Jimmi kemudian kembali menuju tempat duduknya untuk menghabiskan sisa jus Jimmi.


"Hei, itu minumanku! Kau itu serakah banget, ya!" Jimmi merebut gelas dari tangan Amy.


"Aku mau pulang!"


"Tunggu dulu sebentar, ini baru jam sembilan."


"Mau ngapain lagi? Aku mau pulang," ucap Amy. Ia tidak tahan lagi berlama-lama dekat dengan sahabat karib kakaknya itu. Ia malu, marah, dan sedikit senang. Amy takut tak bisa mengendalikan diri.


Jimmi menggaruk kepalanya, membuat rambutnya sedikit berantakan. "Baiklah ... kalau itu yang tuan putri mau."


Akhirnya mereka berdiri. Jimmi menarik Amy menuju Fohn dan Jane. Walau ogah-ogahan, tapi setelah dekat dengan Fohn, Amy berusaha bersikap manis.


"Kak, kami pulang duluan," ucap Jimmi pada Fohn.


"Cepat sekali. Kalian tidak mau dansa lagi?"


"Tidak. Umm ..., Amy sedikit tidak enak badan."


"Baiklah. Jaga pacarmu baik-baik." Fohn tersenyum pada Amy.


Amy berusaha membalas senyum itu meski dalam hati ia tidak terima dengan apa yang Fohn bilang barusan. Ia melangkah menjauhi tempat itu secepatnya. Ia berharap semua peristiwa barusan itu hanyalah sebuah mimpi yang konyol. Mimpi yang tidak nyata. Dan ia bisa bebas dari rasa yang kini sedang membanjiri ruang hatinya. Saking inginnya melupakan semua ini, Amy hampir tertidur di pundak Jimmi dan tidak peduli berapa kecepatan motor yang Jimmi jalankan.


Bersambung...


-----------


*Hai... Saya sangat berterima kasih karena kalian telah membaca Lemon Love sejauh ini.


Saya harap kalian menikmati ceritanya~

__ADS_1


^.^


Dukung author dengan vote, like dan komen setiap chapter, ya*...


__ADS_2