He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Back to Normal


__ADS_3

Setelah beberapa hari, sikap Amy dan Jimmi masih aneh. Bahkan aku sering melihat Jimmi senyum-senyum sendiri. Orang yang sedang fallin love itu mengerikan.


Dan adikku? Meski sudah agak normal, tapi Amy terkadang sering melamun sendiri. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada mereka selain membiarkannya.


Hari ini Jimmi pulang duluan lagi sehabis latihan basket. Aku masih capek. Kuputuskan untuk duduk sebentar di ruang ganti. Tak lama Olie dan Zack masuk. Dua orang bintang baru di sekolah. Zack dengan kemampuan basketnya dan Olie, biarpun kemampuan basketnya biasa aja tapi cowok ramah ini berhasil mengangkat nama SMA Elang dengan medali emas matematikanya.


"Hey, Kak ... belum pulang? Kulihat kak Jimmi sudah pulang tadi," sapa Olie. Bahkan ia memanggilku kakak. Jelas cowok ini sopan.


"Aku masih ingin di sini. Lagipula akhir-akhir ini Jimmi aneh."


"Aneh? Memangnya kenapa?" Zack duduk di sampingku dan mulai melepaskan bajunya.


"Dia sedang jatuh hati."


"Apa? Jatuh hati? Kata dari jaman apa itu? Maksudmu jatuh cinta?" Zack tertawa menampakkan deretan giginya yang rapi.


"Jadi, dia lebih sering tertawa sendiri, lalu lebih ceria dan sering membicarakan seorang gadis?" Olie juga ikut duduk dan menatapku.


"Bukannya dia playboy?" tanya Zack.


"Nggak. Jimmi tidak menggambarkan ciri-ciri yang Olie sebutkan kecuali senyum-senyum sendiri. Lagipula Jimmi juga sering melamun dan tidak konsen."


"Lalu ...?" Zack menyela.


"Aku mengenalnya sejak bayi. Jimmi tidak pernah bilang jatuh hati sebelumnya."


Kami bertiga diam. Entahlah apa yang kedua orang di sampingku ini pikirkan. Aku sendiri jadi berpikir tentang kata-kata Jimmi yang belum ia selesaikan waktu itu.


"Hei ... aku tahu!" Olie hampir menjatuhkan Zack dari bangku. "Mungkin Kak Jimmi sudah menyatakan cintanya tapi gadis itu menolak. Jadi, dia patah hati!"


Aku dan Zack menganggukan kepala.


"Atau mungkin gadis itu mengkhianati Jimmi, atau hubungan keduanya tidak direstui orang tua."


"Ish ... kau kejauhan, Zack."


"Memang tanda patah hati itu seperti apa?"


Olie berpikir sejenak. " Murung, mengucilkan diri, kurang ceria dan tidak peduli apapun."


Apa yang barusan Olie bilang lebih mirip dengan keanehan Amy. Apa iya Amy patah hati?

__ADS_1


"Kalian berdua, besok ke rumahku, ya."


"Ada acara apa, M?" tanya Zack.


"Aku hanya ingin mengundang kalian makan siang. Kalian bisa?"


Kulihat mereka berdua mengangguk. Bagus. Tinggal lihat saja besok akan seperti apa. Kuharap dengan bersama bisa meyakinkan Jimmi dan Amy yang mungkin sedang patah hati itu untuk kembali menjadi mereka yang dulu.


***********


"Kenapa kakak mengundang mereka?" tanya Amy memajukan bibirnya saat Olie, Zack dan Lewis datang. Aku memang meminta Zack mengajak Lewis dan teman-teman Amy yang lain.


"Bukan hanya mereka, mungkin ada tiga orang lagi," jawabku. Kulihat Amy memajukan bibirnya lagi. Aku menghampiri Zack, Olie dan Lewis. Amy mengikutiku.


"Hai, Am!" sapa Lewis.


"Hai juga," balas Amy yang langsung duduk di samping Lewis.


"Jadi, kapan kita bisa makan?" tanya Zack gak sabar.


"Sebentar lagi. Kita sedang menunggu beberapa orang," kali ini Amy yang menjawab. Mukanya masih agak kusut tapi setidaknya dia sudah tidak menyendiri.


Tak berapa lama, Sifa dan Val datang. Kedua sahabat Amy itu terlihat terkejut dengan kehadiran Olie dan Zack. Kurasa mereka salah satu penggemar Olie dan Zack. Mereka berdua menghampiri Amy dan mulai mengobrol hal-hal yang berbau gosip. Ajaib! Kulihat sesekali Amy tertawa.


"Wow ...! Aku pikir hanya aku yang di undang."


Akhirnya dia datang, biarpun cuma pakai kolor dan kaos. Dilihat dari penampilannya, Jimmi baru bangun tidur. Rambutnya masih tidak karuan. Dasar!


Jimmi menebar senyum pada semua. Dia terdiam sesaat, lalu menghampiri Sifa.


"Hai, manis," sapanya pada gadis itu juga pada Val.


"Baiklah kita bisa makan. Amy, bantu aku membawa makanan, ya."


Amy tidak menjawab, hanya berdiri lalu mengikutiku ke dapur.


Hari ini dari pagi aku dan Amy memasak banyak. Amy tidak menanyakan apapun jadi aku tidak bilang anak-anak itu akan datang. Aku memasak rendang, makanan terfavorit di seluruh dunia. Pasti lezat. Aku akui aku lebih pandai memasak dari Amy. Dia itu sedikit pemalas.


"Wah ... enak sekali. Kau yang masak ya, Am?" tanya Val sesaat setelah suapan pertamanya.


"Sebenarnya ... ini masakan M."

__ADS_1


Mata Val dan Sifa membulat.


"Benarkah? Wah ... kak M benar-benar cowok idaman," puji Sifa. Aku hanya tersenyum kecil.


"Aku juga bisa memasak ... Manis," akhirnya Jimmi bicara. Aku menangkap sinyal rayuan dari kata-katanya barusan.


"Kalau begitu kalian seperti saudara saja, ya. Sama-sama ganteng, jago basket dan pandai memasak." Val berkata dengan mulut penuh.


"Kenapa? Kau bingung ya mau pilih yang mana, Val?" Pertanyaan Lewis itu membuat Amy tersedak. Kami semua tertawa, tak terkecuali Jimmi.


"Jelas Val memilih kakakku. M itu baik hati dan rajin. Tidak seperti ...." Amy menghentikan kata-katanya lalu menatap Jimmi tajam.


"Seperti aku maksudmu?" tanya Jimmi. Ia memutar kepalanya melirik Amy.


"Siapa lagi? Kau itu tukang jahil, pemalas pula."


"Darimana kau tahu itu? Aku ini rajin, tahu?" elak Jimmi.


"Kalau kau rajin, kenapa jam segini baru bangun? Kau bahkan masih memakai kolor. Ish ... dasar pemalas!" Amy mencibir.


Zack tertawa sementara yang lain berusaha menahan tawa, termasuk aku.


"Awas, kau ...!" desis Jimmi.


Sepertinya aku berhasil. Mungkin. Jimmi beberapa kali menjahili Lewis dan Zack serta merayu si manis Sifa. Amy sudah kembali cerewet. Ketika Jimmi membuka kulkas dan menemukan jus jambu merah, Amy memukul tangan Jimmi dan merebut jus itu. Biarpun Amy dan Jimmi sering bertengkar tapi ... mereka memang biasa seperti itu. Lebih aneh jika mereka berdua akur.


"Hey, kalian berdua selalu bertengkar. Taruhan! Kalian akan jadi pasangan yang cocok!" seru Zack ketika Amy memukul kepala Jimmi dengan sedotan limun.


"Omong kosong ... aku gak bakal mau jadi pacarnya!" Giliran Zack yang di getok Amy.


Aku hanya tertawa sesekali melihat kelakuan mereka. Setelah itu aku sepenuhnya berkonsentrasi dengan game yang kumainkan bersama Lewis dalam PS2.


Bersambung...


-------


*Halo readers, ini author...


Jangan lupa klik tombol like dan tinggalkan jejak di kolom komentar agar author semangat.


Terima kasih sudah membaca Lemon Love. Semoga kalian terhibur*~

__ADS_1


Cerita ini akan up 2x seminggu.


Mohon dukungan kalian~


__ADS_2