He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Ada Apa Dengan Mereka?


__ADS_3

Sudah setengah sepuluh lewat, tapi Amy belum muncul juga. Seharusnya tak kuijinkan dia. Apalagi di desa sebelah ada pertunjukkan grup band, Dexter. Hampir semua anak muda menyukai grup band itu, termasuk aku. Apa Amy pergi ke sana?


Semoga saja tidak. Orang akan berdesakan ingin melihat Dexter dan itu berbahaya. Banyak juga cowok yang suka menggoda cewek. Argh! Amy, cepatlah pulang!


Dengan gelisah aku duduk di depan rumah sambil memutar mp3 favoritku. Kulihat seseorang berjalan ke arahku. Amy? Bukan. Ternyata cowok yang mengenakan celana selutut, jaket hitam dan kacamata hitam. Buat apa malam-malam pakai kacamata hitam. Orang ini pasti sudah gila. Hey, tunggu dulu! Itu sahabatku, Jimmi. Kacamata itu seperti yang dipakai oleh vokalis Dexter. Apa dia habis nonton Dexter?


"Hai, M!" sapa Jimmi. Napasnya agak terengah-engah.


"Kau kenapa?" aku tertawa melihat tingkahnya yang seperti itu. Dia habis berlari cepat rupanya. Dan kacamatanya itu, tidak cocok dengan suasana malam.


Belum sempat Jimmi menjawab, Amy terlihat berlari ke arah kami. Ia kelihatan begitu marah. Wajahnya yang biasanya putih agak pucat itu terlihat seperti kepiting rebus. Aku pikir itu akibat dia berlari-lari. Amy berdiri tepat di depanku dan Jimmi. Mulutnya perlahan terbuka. Kupikir dia akan mengucapkan sesuatu, tapi ia merapatkan kembali mulutnya. Dia memandang tajam Jimmi, lalu dengan gerakan cepat ia menjambak Jimmi sambil berteriak.


"Aaaargh!"


Aku tentu saja terkejut. Setelah Amy melepaskan rambut Jimmi, ia masuk rumah dan menutup pintu sampai terdengar bunyi yang dahsyat. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Aku melirik Jimmi yang sedang mengusap-usap kepalanya. Pasti sakit.


Jimmi berdiri dan pamit pulang. Aku membiarkannya. Paling-paling Jimmi menggoda Amy lagi. Sudah biasa. Jimmi sering melakukan hal-hal konyol pada adikku. Respon Amy biasanya hanya jitakan. Tapi tadi cukup keras. Tampaknya kesalahan Jimmi cukup besar kali ini.


************


"Aku hanya menggodanya sedikit, M. Dia tidak memberitahumu?" kata Jimmi di sela dribble-an bolanya.


Aku mengambil bola darinya. Jimmi lengah.


"Tidak. Omong-omong, memang kau tak melihat Dexter?"


Shoot!


Yes. Bola masuk. Three point.


"Mmm ... rencananya begitu, tapi sesuatu mengalihkanku dari Dexter." Jimmi melempar bola pada teman satu regunya.


Aku berhenti mengejar bola dan menghampiri Jimmi. "Apa? Pasti sesuatu yang luar biasa."


Wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir. Aku menuju pinggir lapangan, meraih handukku dan langsung membuka sebotol air mineral. Jimmi melakukan hal yang sama dan duduk di dekatku. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu sehingga tak menyadari ada sesuatu di atas tasnya. Kotak kecil berpita merah.


"Hey ... ada sesuatu di tasmu," kataku mengambil kotak itu.


"Apaan lagi?" tanya Jimmi tanpa menoleh.

__ADS_1


"Wow ...! Coklat dengan bentuk hati." Aku meraih kartu yang tertera di bagian bawah kotak dan membacanya. "Semangat ya ... Sherly." Kutatap desain kartu itu. Bunga mawar merah muda dengan hati di pojok bawahnya, tepat di bawah nama pengirim kotak ini. Aku tertawa. Jimmi benar-benar punya banyak fans. Bahkan dikirimi cokelat. Kartunya nuansa love pula.


"Buatmu saja."


"Tidak ... tadi pagi aku juga menemukan dua potong coklat di laci mejaku. Hanya tidak ada kotak dan kartu romantisnya," tolakku.


Reaksi Jimmi datar banget. Ada apa dengan dia? Biasanya jika mendapat sesuatu dari fans baru dia akan mencari fans itu untuk dirayu. Apa dia sudah mengenal orang yang bernama Sherly? Entahlah. Dari pagi dia memang agak aneh. Tidak bersemangat seperti biasanya.


"Kau ada masalah, Jimm?" tanyaku menepuk bahunya.


"Tidak ada. Nanti malam kita selesaikan tugas kimia. Sore ini aku ada janji. Aku pulang duluan, ya!"


"Baiklah ... sampai jumpa!"


Jimmi hanya mengangguk dan tersenyum. Benar-benar aneh. Apapun itu, kuharap Jimmi kembali jadi Jimmi yang dulu. Sekarang ini dia kurang asik.


************


"Aku sudah masak nasi. Kakak ambil saja di rak dapur."


Tumben Amy mau memasak. Ini kan giliranku. Tapi bukannya aku harus bersyukur, ya?


"Amy, apa kau sakit?" tanyaku sedikit berteriak di depan kamarnya. Aku jadi khawatir, jangan-jangan dia beneran sakit.


"Aku baik," sahutnya singkat.


Aku membalikkan badan dan menuju kamarku sendiri. Hari mulai gelap, jadi aku menyalakan semua lampu. Aku merebahkan badan dan mulai mencari novel yang kemarin belum selesai kubaca. Dimana aku meletakkannya kemarin, ya? Aku mencari di setiap sudut kamar.


"Ah ... ternyata kau di situ!" seruku menghampiri sebuah buku yang tertimbun setumpuk kepingan cd musik yang terletak di meja dekat pintu.


"Kau tahu, ya?"


Sebuah suara mengejutkanku. Jimmi sudah ada di ambang pintu. Padahal, kan, aku berkata seperti tadi pada novel yang akan aku ambil di antara cd-cd ini.


Jimmi merebahkan badannya di kasurku.


"M ... kurasa ...."


Jimmi gak melanjutkan kata-katanya. Membuatku penasaran. Apa dia punya masalah?

__ADS_1


"Kurasa aku ... aku jatuh hati."


Aku melompat menghampiri tubuh Jimmi. Aku hampir tidak percaya. Seumur hidup Jimmi tidak pernah mengatakan jatuh hati. Biasanya dia bilang suka seorang gadis. Hanya suka, tidak pernah ada kata lain. Kali ini kayaknya serius.


"Dengan siapa?" tanyaku begitu penasaran.


"Nanti juga kau tahu. Tapi ... bagaimana, ya, menjelaskannya padamu?"


Aku menatap Jimmi. Ia terlihat bingung. Pandangannya terkunci pada langit-langit kamar yang sudah tua ini.


"Baiklah ... nanti saja kau jelaskan," ucapku menepuk pahanya.


"Adikmu kemana?" tanya Jimmi. Ia berdiri dan melongok ke luar kamar.


"Aku tidak tahu, dia mengurung diri di kamar seharian," jawabku. "Ayo, Jimm! Kita selesaikan tugas ini."


Jimmi duduk dan mulai memelototi deretan kombinasi huruf dan angka di bukunya. Aku sendiri sibuk mencari jawaban dari soal-soal ini.


"Aku ambil minum dulu, Jimm."


Aku bergegas menuju dapur. Biasanya Amy yang melakukan ini, atas perintahku tentunya. Namun, karena seharian dia di kamar aku tak bisa memanfaatkan tenaganya lagi. Di saat seperti ini aku merasa beruntung punya adik yang bisa kusuruh di hari biasa. Amy tak pernah membantah perintahku. Tampaknya ia memang menyayangiku.


Kutuangkan jus jambu merah ke dalam dua buah gelas. Kalau Amy melihat pasti langsung ngomel-ngomel. Jus jambu merah adalah kesukaannya dan persediannya sekarang tinggal satu kotak ini saja. Mumpung dia tidak ada. Aku terkikik. Langsung saja kubawa dua gelas jus jambu merah ini menuju kamar.


Aku sempat kaget karena saat aku berada semeter lagi dari pintu kamar, Amy keluar dari kamar. Ia melihatku dan dua gelas jus kesukaannya ini tapi tak ada omelan yang keluar dari mulutnya. Ia cuek sekali. Aku yakin dia melihat jus ini, kok. Aku memutar tubuhku dan memandang punggungnya yang kemudian menghilang di balik pintu kamarnya. Aku hanya menggelengkan kepala.


Belum reda heranku pada adikku, kini kulihat sahabatku menunduk menatap buku kimia di lantai. Tapi aku yakin Jimmi tidak sedang membaca atau mengerjakan soal. Ia memegang bolpen yang terbalik. Lagipula bukunya itu menunjukkan halaman kata pengantar yang membosankan dari penulis. Aku terdiam beberapa saat di pintu. Jimmi belum menyadari keberadaanku.


Ada apa dengan dua orang manusia ini?


Tunggu, Jimmi bilang dia jatuh hati. Oke, mungkin ia selalu terbayang wajah si pencuri hatinya. Lalu, Amy? Ada apa dengan adikku satu-satunya itu? Besok aku akan menanyakannya pada Amy.


Bersambung...


Cerita ini akan up 2x seminggu.


Mohon dukungannya~


Semoga Lemon Love menghibur kalian, ya...

__ADS_1


__ADS_2