He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Posesif


__ADS_3

Malam itu Amy belum juga tidur padahal sudah lewat pukul sebelas. Gadis itu malah senyum-senyum sendiri menatap langit-langit kamar. Rupanya Amy tengah mengingat-ingat pembicarannya dengan Jimmi tadi siang.


Sudah lama ia tidak bisa mengobrol sesantai dan sebebas itu dengan sahabat kakaknya itu. Hari ini mereka berdua berbicara dengan santai dan jujur seperti dulu, sebelum Amy tahu perasaan Jimmi. Gadis itu bisa membicarakan apapun sama seperti ketika ia berbicara dengan kakaknya.


"Kau mau jadi apa sebenarnya, Am?“


"Nanti juga kau tahu."


"Ck! Memang apa bedanya kalau aku tahu sekarang dan nanti?“


"Tidak ada." Amy menaikkan sebelah alis. "Tapi ... akan kuberitahu kalau kau memberitahuku satu hal."


"Apa?" Jimmi mendekatkan wajahnya pada Amy yang langsung didorong kuat dengan tangan si gadis.


"Kau masuk jurusan apa? Di Universitas Cendekia banyak jurusan langka. M jelas akan mengambil jurusan astronomi. Kau?“ tanya Amy setelah memastikan jarak aman antara wajah Jimmi dengannya.


"Teknik ...."


"Apa? Aku gak percaya. Paling tidak kau harus bilang kedokteran. Ibumu ingin kau seperti kakakmu, kan? Apa benar kau mau masuk teknik? Maksudku, harusnya kau pilih yang berbau sains ... kan?“


"Biomedik."


"Eh?“


"Makanya kalau orang belum selesai ngomong jangan dipotong!“ Jimmi menjentikkan jarinya pada dahi Amy.


"Awww!“ Amy mengelus dahinya yang terasa panas. "Teknik biomedik?" Amy berpikir sejenak. "Semacam bikin lengan robot atau kaki robot yang bisa dipasang pada orang berkebutuhan khusus?“


"Itu salah satu pekerjaan orang-orang teknobiomedik. Keren, kan?“ Jimmi nyengir sembari membenarkan kerah kemejanya.


"Dih, sok keren!" cibir Amy. "Bukannya perlu banyak menguasai berbagai disiplin ilmu jurusan itu?“


Jimmi mengangguk. "Kau sendiri mau jadi apa? Perawat? Kasihan nanti pasienmu malah tambah sakit dirawat orang macam ini!“ Jimmi tertawa puas.


"Ugh!“ Amy tak ragu memukul punggung Jimmi hingga cowok itu mengaduh kesakitan. "Aku mau masuk jurusan kriminologi."


Jimmi menoleh pada Amy. "It's suit you."


Sebuah reaksi yang tidak pernah Amy bayangkan. Gadis itu pikir Jimmi akan menertawakannya atau meledeknya atau semacamnya. Cowok itu malah hanya mengatakan satu kalimat dengan sebuah anggukan yang tiba-tiba membuat Amy yakin kalau ia juga harus bisa masuk jalur khusus.


"Tunggu! Kau mau masuk Universitas Cendekia juga?“ Jimmi berhenti melangkah dan menatap adik sahabatnya itu tidak percaya. Ia baru menyadari kalau jurusan itu hanya ada di universitas tempatnya dan M akan belajar nanti.


"Oh? Kau peka kalau urusan begini, ya?“ Entah kenapa Amy mengingat lagi peristiwa di gedung pertunjukan SMA Nuri. Apakah cowok ini sudah mengerti dengan ucapan Amy saat itu? Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tak karuan.


"Maksudnya gimana?“


Amy sedikit gelagapan. "Ya ... m-maksudku... kau tahu hal-hal kecil seperti itu."


"Tentu saja. Aku sudah membaca hampir semua hal tentang Universitas Cendekia. Tapi ... kau punya rencana cadangan, kan?“


Amy diam saja menatap Jimmi dengan sedikit kerutan di dahi.


"Kau harus punya itu. Untuk berjaga-jaga agar tidak depresi."


"Memangnya kau dan M punya rencana cadangan?" tanya Amy tak percaya. Sejak Jimmi dan kakaknya masuk SMA, Amy tidak terlalu peduli dengan hal-hal berbau pelajaran yang seringkali mereka bahas di kamar M.


"Tentu saja. M hampir menggunakannya. Padahal dia lolos seleksi."


Amy cemberut menyadari kalau rencana cadangan M berkaitan dengan dirinya. Tepatnya, rencana itu berpusat padanya. "M bodoh!" gumam Amy.


"He loves you so much."


"Aku tahu itu." Amy tersenyum pada Jimmi. "Dia kakak terbaik yang kupunya. Jadi, aku harus merelakannya pergi jauh supaya cita-citanya tercapai."

__ADS_1


Jimmi mendekati Amy kemudian mengelus kepalanya sedikit kasar. "Good girl. Selama satu semester ini kau harus buktikan kalau kau bisa hidup sendiri dengan baik pada M ... juga padaku." Jimmi memalingkan wajah. "Kau bilang tidak mau kehilanganku, kan?"


Rona merah tiba-tiba menyelimuti pipi Amy. Adik M satu-satunya itu mempercepat langkahnya.


"Am ...." Jimmi tiba-tiba sudah berada di hadapan Amy, membuat gadis itu mengerem langkahnya. "Kau tidak akan pernah kehilanganku jika kau tidak menghilangkan aku dari hidupmu."


Kalimat terakhir yang Jimmi ucapkan itulah yang sukses membuat Amy tidak bisa tidur. Ia terus menerus menggaungkan kata-kata itu di kepalanya. Amy menyukai sensasi debaran hangat yang menyeruak di hatinya ketika ia mengingat kalimat itu.


***********


Zack sangat senang karena ia berhasil merekrut Jason untuk masuk ke klub basket. Ia begitu yakin kalau dengan adanya Jason maka tim basket sekolah akan lebih kuat setelah ditinggal dua pemain andalannya, Jimmi dan M.


"Nah, karena kau bagian tim basket sekarang ... bagaimana kalau kita main game bareng?" Zack merangkul bahu Jason yang lebih tinggi darinya.


"Boleh," jawab Jason. Ia tidak mungkin menolak ajakan Zack yang telah berbaik hati merekrutnya.


Zack berangkat bersama Jason dan Lewis ke rumah M. Tim basket memang sering sekali bermain game bareng di rumah kecil bercat biru itu. Meski relatif kecil, rumah M adalah satu-satunya rumah yang paling aman untuk main game bareng. Di rumah yang lain, mereka akan dimarahi jika terlalu ribut oleh orang tua mereka.


"Rumahmu ke arah sini?" tanya Jason ketika mereka menyeberangi jembatan beton selebar satu setengah meter.


"Oh, kita mau main di rumah M. Bukan rumahku," jawab Zack.


"M? Kak Marshall?" Jason melebarkan matanya.


"Iya, siapa lagi. Kau tahu namanya?" ucap Lewis heran karena anak baru bertubuh kekar itu mengetahui nama asli M.


"Ah, dulu aku pernah sekelas dengan Amy."


"Oh, kau temannya Amy?" tanya Lewis lagi.


Jason mengangguk. Digaruk-garuknya rambutnya yang hitam berkilau.


"Oh, pantas saja," gumam Zack. "Kau pernah ke rumahnya?“


"Hei ... kami datang!" seru Zack ketika memasuki halaman rumah. Ia melihat M dan Jimmi keluar rumah.


"Kenapa kau bawa dia?" bisik Jimmi menghampiri Zack.


"Dia? Oh ... ini penyambutan karena dia bergabung dengan tim basket. Hehe," jawab Zack.


"Lain kali main di rumahku saja," ucap Jimmi. Kemudian cowok itu masuk dan menarik Lewis untuk bermain.


"Ah, apa dia marah?“ ucap Zack pada dirinya sendiri. Zack tahu kalau mantan kapten basket itu tidak menyukai Jason. Ia juga cukup peka untuk mengerti kalau Jimmi cemburu pada cowok yang memiliki badan seorang marinir itu.


"Hai, Jason. Sudah lama sejak kau kemari terakhir kali." M menyapa Jason dan tersenyum hangat.


"Halo, Kak. Amy ada?“


"Ck!" M tertawa. "Kau ke sini mau bermain bersama kami atau Amy?“


"Dia tidak ada, Gendut!“ teriak Jimmi dari dalam.


"Oh, maaf. Aku hanya bertanya." Jason kemudian memasuki rumah berlantai kayu itu dan langsung menonton Lewis yang tengah berduel dengan Jimmi.


"Amy belum pulang," jelas M, melengkapi kata-kata Jimmi.


"Kau mau main apa, Jas?“ tanya Zack.


"Terserah saja. Aku ga biasa bermain PS," jawab Jason yang matanya tak berkedip menatap layar monitor yang sedang Jimmi dan Lewis kuasai.


"Ah, kau ga asik." Zack mengeluarkan PSP-nya dari tas kemudian menyerahkannya pada Jason. "Cobalah ...."


"Gantian, Lew!“ Zack merebut stick dari Lewis yang telah KO oleh Jimmi. Lewis beranjak, ia merebahkan tubuhnya di lantai berlapis karpet kemudian.

__ADS_1


Jason sibuk dengan mainan barunya. Ia baru pertama kali mencoba game elektronik. Cowok ini bukan tipe penggila game. Jason lebih tertarik untuk olahraga dan membaca buku serta komik. Tetapi demi kapten barunya, Jason berusaha untuk memenangkan game battle yang sedang ia mainkan.


"Jimm! Tega sekali, kau! Argh!" teriak Zack melihat karakternya mati dengan cepat dibantai Jimmi untuk ketiga kalinya.


"Kau yang minta, Zack!“ Jimmi menyeringai, melirik Jason yang tengah anteng dengan PSP di tangannya.


"Baik ... baik ... nanti kita main di rumahmu saja," ucap Zack pelan. Zack tahu kalau Jimmi memang marah padanya.


Jimmi melihat jam dinding. Hampir pukul empat sore. Sebentar lagi Amy pulang dari latihan klub karate.


"Ayo, pulang! Sudah sore," ucap Jimmi pada Zack dan Lewis.


"Baru juga sebentar," protes Lewis yang langsung bangkit. "Satu jam lagi, lah ...."


"Hari ini sampai sini saja. Ayo, kita pulang!“ Zack merebut PSP dari Jason dan menarik baju Lewis agar cowok itu juga segera pulang.


"Terima kasih mainannya, Zack," ucap Jason. "Kak, kami pulang dulu." Jason berpamitan pada M.


"Jimm, ayo!" Lewis menarik Jimmi tapi cowok itu bergeming.


"Sebentar lagi. Aku ada tugas," ujar Jimmi.


Lewis mengerti kalau Jimmi dan M memang sering belajar bersama. Maka ia segera menyusul Zack dan Jason yang telah melewati halaman rumah.


"Kenapa kau mengusir mereka?“ tanya M pada Jimmi yang kini tengah bermain sendiri.


"Siapa yang mengusir? Aku cuma mengingatkan mereka kalau sudah sore."


M tertawa, tahu kalau Jimmi memang sengaja menyuruh mereka segera pulang dengan sengaja.


"Aku pulang!“ sebuah suara terdengar dari pintu depan.


"Ah, aku mengerti. Kau takut Jason bertemu Amy, kan?“


Jimmi diam saja. Ia meneruskan game-nya hingga layar monitor menampilkan kata 'YOU WIN!' kemudian melempar stick sembarang. Cowok itu tersenyum pada sahabatnya dan meraih tasnya yang tergeletak di kursi. "Aku pulang. Nanti malam aku kembali!"


"Dasar!" M menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya.


"Hai, Am!" sapa Jimmi pada Amy yang baru saja melepas sepatunya. Cowok itu tersenyum lebar tetapi Jimmi langsung berlalu begitu saja setelahnya.


"Dia kenapa?" tanya Amy sambil melihat Jimmi yang berlari keluar.


M mengangkat bahu. "Sepertinya dia sedang senang."


"Oh," gumam Amy kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.


***********


Bersambung...


______________


Hai pembaca~


Terima kasih sudah membersamai He Is Not My Brother selama ini. Semoga kalian terhibur dengan cerita ini.


Find me on:


Instagram: @its_revka


Facebook: Hi Gaez Itz Revka


Wp: @Revka09

__ADS_1


Storial: @Revka09


__ADS_2