He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Pamer Bakat


__ADS_3

Bel istirahat berdering, Amy langsung diserbu kawan-kawannya. Sifa, Val dan Lewis duduk mengitarinya dengan menggeser kursi orang.


"Kau ... badass!" seru Lewis. Antara percaya atau tidak kalau temannya itu memangkas habis rambutnya.


"Bagaimana kalau wawancaranya kita tunda. Aku lapar," ucap Amy sambil memegangi perutnya yang berbunyi.


"Okey, ayo kita ngobrol di kantin." Val menarik tiga temannya menuju pintu kelas. "Hari ini, Lewis yang traktir!"


"Yayyy!!!" sorak Sifa dan Amy.


"Hei, kenapa aku?" protes Lewis.


"Jangan pelit, Lew!" rayu Val. "Kau, kan, yang terganteng di antara kami."


"Itu sudah pasti," sombong Lewis. Yang lainnya cewek! Kendati begitu, Lewis tidak menolak untuk mentraktir mereka.


"Hei, lihat ...! Kasihan, ya. Rambutnya sampai seperti itu."


"Kenapa gak pakai wig aja, sih?"


"... gara-gara cowok jadi begitu ...."


Bisik-bisik keras terdengar dari kiri dan kanan, juga belakang. Amy mulai terbiasa dengan keadaan itu--dibicarakan di belakang. Lagipula, soal penampilannya kali ini, ia sendiri yang mau.


"Jangan dengarkan mereka, Am!" Sifa merangkul bahu temannya itu.


"Mereka emang hobi bergosip," cibir Val.


"Mereka hanya iri padamu, Am. Sedari awal hanya itu masalahnya," tambah Lewis yang disambut anggukan dari yang lain. "Aku akan mengamankan tempat!" seru Lewis sambil berlari ke arah kantin yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi.


"Amy! Kau adalah cewek terkuat di sekolah ini. Ya, kan, Sif?" ucap Val. Digenggamnya jemari Amy kuat.


"Ya! Dan aku bangga jadi teman si cewek terkuat!" Sifa dan Val tertawa, begitu pun Amy.


"Trim's. Kalian semua adalah sahabatku yang paling berharga." Amy memeluk kedua temannya dengan erat.


"Hei, di sini!" teriak Lewis. Cowok itu melambaikan tangan di sebuah meja kosong dengan beberapa bangku kosong menglilinginya.


"Urusan begini emang kau jago, ya!" ujar Val. Entah memuji atau menyindir.


"Ini strategis, tahu!"


Lewis memang benar. Meja itu berada di pojok dimana itu adalah tempat favorit para murid karena dekat dengan speaker dan juga dekat dengan taman.


"Mau pesan apa?" tanya Sifa. "Biar aku yang pesankan."


"Bola daging!" seru yang lain.


"Ah, uang jajanku ...." Lewis melirik kantongnya. Bola daging adalah menu favorit termahal di kantin. Harganya setara dengan tiga gelas jus jeruk.


"Sabar, yah," ucap Val mengelus punggung Lewis sementara Sifa menuju dapur kantin.


"Eh, kudengar Iren dikeluarkan," celetuk Lewis sembari melirik Amy.


"Itu memang pantas! Sukurin!" ucap Val emosi. Bibirnya bahkan memanjang selama mengucapkan kata terakhir.


Amy membenarkan topinya dan melirik sekeliling. Tampak murid-murid berkerumun di beberapa titik dekat speaker sepanjang lorong kelas. Di kantin ini pun semua bangku penuh.


"Hei, Am. Kau ga mau membicarakan Iren?" tanya Val menyelidik.


"Ah, bukan gitu. Dia memang pantas di-DO. Meskipun sebenarnya aku kasihan padanya." Jemari Amy menyusuri ujung lengan jumpernya. Sejujurnya ia senang jika orang itu tak ada lagi di sekitarnya. Tentu saja, karena yang Iren lakukan padanya sangat jahat.


"Kasihan? Ayolah ..., kita tidak perlu mengasihani orang seperti itu. Bahkan kak Jimmi itu, kan, bukan siapa-siapanya. Masa posesif sama sesuatu yang memang bukan haknya, sih?" ujar Val kesal.


"Aku baru tahu, lho. Cewek bisa seseram itu jika sudah bucin."


"Bucin?" Amy mengernyit pada Lewis, meminta penjelasan tentang arti kata itu.


"Buta karena cinta."


"Oooh...."


"Gitu aja enggak tahu. Kalian ini kuper, ya?" ledek Lewis yang langsung dilempari sendok garpu oleh Amy dan Val.


Bukannya berhati malaikat atau terlalu baik, tapi Amy memang mengasihani Iren. M bilang, kemarin Jimmi memarahi Iren di depan umum. Bahkan Jimmi bersikap kasar padanya. Padahal, Iren sangat menyukai sahabat kakaknya itu. Sudah pasti hati Iren terluka. Bagusnya, kakak kelasnya itu tak perlu menemui Jimmi atau dirinya lagi. Amy pikir itu akan mengurangi rasa malu dan sakit hati Iren.


"Ini pesanan kita!" seru Sifa yang datang dengan sebuah nampan di tangannya. Empat mangkok bola daging panas tersaji di atasnya.


"Minumnya?" tanya Amy. "Oh, biar aku yang ambil. Es teh, kan?" Ketiga temannya mengangguk mantap.


"Hai ...! Hai!!! Balik lagi dengan Shauwn di sini, di rabu yang spesial dalam acara Pamer Bakat! Kalian harus lihat betapa studio yang biasanya seperti kuburan ini menjadi seperti lapangan konser!"


Terdengar siaran radio sekolah dimulai. Oh, ini rabu! Amy baru ingat jika setiap hari rabu ada acara penampilan bakat di radio sekolah. Jam istirahat bahkan lima belas menit lebih lama dari hari biasa setiap rabu.


"Yah, tentu saja karena aku kedatangan dua bintang sekolah. M dan Jimmi. Hai, apa kabar?"

__ADS_1


"*Baik ...."


"Jadi, sekarang kalian mau pamerin bakat apa? Main basket? Merayu para gadis*?"


Amy tertawa mendengar ucapan sang pembawa acara, Shauwn, yang blak-blakan. Orang itu tengah menyindir kakaknya dan Jimmi. Kalau dipikir, memang bakat mereka berdua selain itu apa? Hahaha ....


"Hahaha ... tentu bukan."


"Jadi, karena Jimmi membawa gitar... kutebak kalian mau baca puisi."


Amy terkikik. Diambilnya empat es teh yang dikemas dalam kotak karton kemudian membawanya ke hadapan teman-temannya.


"Enggak. Kami mau nyanyi."


Suara bisik-bisik mulai terdengar dari para murid yang berkerumun.


"M mau nyanyi! Rekam... rekam!" jerit salah satu murid cewek yang berada di lorong seberang taman.


"Gila, ya, kakakmu, Am. Sampai fans-nya seperti itu." Lewis menggeleng-gelengkan kepalanya.


Amy hanya tersenyum dengan alis terangkat. Ia segera meletakkan minuman dan duduk di samping Sifa.


"Hei, Jimmi mau nyanyi. Ayo kita lihat langsung!"


Lima cewek yang duduk di meja belakang segera berlari mengosongkan meja. Sepertinya orang seperti ini tidak puas jika tidak melihat live performance idolanya.


"Fans Jimmi emang garis keras." Val memutar bola mata kemudian membelah bola dagingnya dan langsung melahap potongan paling besar. "Harusnya ada larangan keras di sekolah ini, Dilarang jadi fans hardcore Jimmi."


Sifa dan Lewis tertawa terbahak-bahak. Tak terkecuali Amy. Ia bahkan menunda suapannya demi tertawa lepas.


"Orangnya gila, yang ngefans lebih gila. Kegilaan Jimmi itu menular, ya?" ucap Amy setelah mengunyah bola dagingnya.


Sifa, Lewis dan Val saling menoleh. "Bilang gila, tapi suka!" ucap Lewis kemudian buru-buru bersembunyi di kolong meja untuk menghindari lemparan garpu Amy.


"Siapa bilang aku suka dia?" Amy berdiri hendak menggapai Lewis.


"Sssttt, dengar!" Sifa mencegah Amy untuk bangkit dan memaksa gadis itu duduk kembali.


"... *Wow! Orang spesial? Siapa itu?"


"Kalian akan tahu setelah dengar lagunya."


"Jadi, orang ini spesial untukmu atau Jimmi?"


"Dobel wow! Apakah ini cinta segitiga?"


"Tidak. Hahaha ...."


"Aku penasaran, tapi didesak durasi! Ah, sayang sekali. Jadi, lagu apa yang akan kalian nyanyikan?"


"Ava Max*."


"Woah, kalian nyanyi lagu cewek? Aku jadi makin penasaran. Baiklah ... karena produser di depan sana sudah mendesak untuk mulai, ini dia ... Jimmi dan M!"


Suara riuh dan beberapa tepuk tangan terdengar di kantin dan sekitarnya. M dan Jimmi, duet popularitas.


"Memang M bisa nyanyi?" tanya Val pada Amy yang tengah meneguk minumannya.


"Yeah ...," jawab Amy ragu. "Aku pernah dengar dia nyanyi beberapa kali. Gak terlalu buruk."


"Do you ever feel like a misfit?


Everything inside you is dark and twisted


Oh, but it's okey to be different 'cause baby, so am I ..."


"It's for ya!" bisik Sifa pada Amy.


"Suaranya lumayan," komentar Lewis yang perlahan keluar dari kolong meja dan kembali duduk.


"Can you hear the whispers all across the room?


You feel her eyes all over you like cheap perfume


You're beautiful, but misunderstood


So why you tryna be just like the neighborhood?"


"Benar-benar untukmu, Am!" Val mengguncang tubuh sahabatnya itu.


"I can see it, I know what you're feelin'


So let me tell you 'bout my little secret


I'm a little crazy underneath this

__ADS_1


Underneath this ... "


"Kalian dengar? Dia ngaku gila, tuh," gumam Amy ketika mendengar Jimmi menyanyikan bagian itu. Membuat Val dan Lewis mengangguk penuh arti.


"Ah, aku iri padamu, Am. Kakakmu sangat perhatian. Tidak seperti kakakku." Sifa memerosotkan badannya dan meletakkan dagunya di meja.


"Do you ever feel like a misfit?


Everything inside you is dark and twisted


Oh, but it's okay to be different


'Cause baby, so am I


So am I, so am I, so am I


Do you ever feel like an outcast?


You don't have to fit into the format


Oh, but it's okay to be different


'Cause baby, so am I


So am I, so am I, so am I-I-I-I-I"


Dan reff berikutnya begitu nyaring karena sebagian besar pendengar siaran itu ikut bernyanyi bersama M dan Jimmi. Beberapa bahkan memukul meja dan menepukkan tangan untuk menambahkan musik.


"Kuharap M ga bakal menyebut namaku," ucap Amy dengan telinga yang merah.


"Ngomong apa? Setiap orang yang peka pasti tahu lah, kalau itu untukmu!" ujar Lewis.


"Aku ke kelas duluan!" seru Amy seraya bangkit dan berlari sebelum para murid yang terhipnotis nyanyian itu kembali sadar dan mulai bergunjing tentang untuk siapa M dan Jimmi menyanyikan lagu tersebut. Ia bahkan tidak menghabiskan bola dagingnya terlebih dahulu.


"Amy! Hey ...!“ Val memanggil sahabatnya itu tetapi Amy tidak menghiraukannya.


"Oh, masih ada bola dagingnya. Buatku!" Lewis mengambil mangkok Amy dengan gerakan cepat dan melahap potongan bola daging itu dalam sekejap mata.


"*Yeah, tepuk tangan untuk M dan Jimmi! Itu tadi So am I dari Ava ma-"


"Mad, we're Ava Mad. Hahaha!"


"Hahaha... cocok untukmu, Jimm. Tapi kurang cocok untuk M*."


"*Tidak. Kali ini kami memang gila!"


"Tapi aku masih penasaran dengan 'orang spesial' itu. Tentu lagu ini bukan untuk pacar kalian dong*?"


"Ah, dibahas lagi." Amy menenggelamkan wajahnya di kedua tangan yang terlipat di meja. Ia tidak mau mendengar lanjutan dari siaran itu. Akhirnya ia menutupi telinganya rapat dengan kedua telapak tangannya.


"*Ini untuk adikku."


"Ah, ya. Aku turut menyesal dengan apa yang terjadi. Perisakan dan perundungan itu tidak baik, guys*!"


"Ya, tapi Amy sudah move on."


"Wah, dia cewek kuat! Kami mendukungmu Amy! Jangan takut!“


Sayup, suara Shawn dan M masih dapat telinga Amy tangkap. "Kenapa masih terdengar?"


"*Dan ... Jimm, lagu ini untuk siapa?"


"Untuk orang yang sama."


"Woah, apa... kalian ada sesuatu*?"


"Uh... itu-tidak juga. Kami bertiga sudah berteman sejak kecil. Dan... aku tidak punya adik. Jadi, aku sudah menganggap Amy sebagai adikku sendiri. Kami bertiga sudah seperti saudara."


"Ooo, sepertinya ini sekaligus klarifikasi tentang rumor yang beredar di mading. Ah, baiklah... sayang sekali waktu kita habis. Aku ingin ngobrol lebih banyak dengan kalian di sini tapi apa boleh buat. Kita harus segera masuk kelas atau ... Mrs. Larry akan menghukum kita semua. Ya, kan, Jimm?"


"Tepat sekali. Haha ...."


"Baiklah, Pamer Bakat kita sudahi dulu. Sampai jumpa besok siang di acara Berita Sekolah. Shawn Daniels pamit. Have a nice study!"


Bersambung...


----------


Halo para pembaca,


Semoga kalian menikmati cerita ini, ya...


Terima kasih untuk like, komen dan vote kalian...


Ps: Sampai akhir bulan ini, Lemon Love akan up setiap hari. Pastikan sudah add to favorite, ya ^^

__ADS_1


__ADS_2