He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Failure


__ADS_3

Sedari tadi, Jimmi dan M gelisah menunggu Amy yang tengah berbicara dengan Mrs. Larry di kamar. M bahkan menempelkan kuping di pintu tetapi tidak terdengar apa-apa.


"Gak biasanya ibu berbicara selama ini dengan seseorang. Apalagi di kamarnya sendiri. Apa Amy melakukan kesalahan?“ tanya Jimmi menatap M yang masih menempelkan telinga di pintu.


"Apakah Amy sedang dimarahi, Jimm?“


"Bisa jadi."


Knob pintu bergerak, M menjauhi pintu dan bersikap menunggu bersama Jimmi. Dua cowok itu tertegun melihat Amy dengan wajah tertekuk, mata merah dan ingus keluar dari hidungnya.


Amy sibuk menghapus air mata. Begitu ia menyadari kalau ada dua orang yang tengah menatapnya, ia berlari dan memeluk kakaknya kemudian terisak lagi.


"Kenapa, Am?“ tanya M khawatir.


Mrs. Larry keluar dan terkejut melihat kehadiran Jimmi dan M.


"Ibu apakan dia?“ tanya Jimmi menatap ibunya tak percaya.


"Aih ... kalian memang pulang tepat waktu." Mrs. Larry dengan pakaian tidurnya mengajak ketiga remaja itu duduk di ruang keluarga. Di tangannya terdapat berkas yang ia letakkan kemudian di meja.


"Amy gagal ikut jalur khusus masuk Universitas Cendekia," ujar Mrs. Larry menatap Amy yang masih sesenggukan dalam pelukan kakaknya.


"Apakah nilainya tidak cukup?“ tanya M sembari mengelus rambut adiknya.


"Sayangnya, bukan karena itu. Nilai Amy bagus, Marsh." Mrs. Larry mengembuskan napas panjang.


"Lalu kenapa, Bu?" tanya Jimmi penasaran.


"Karena kasusnya dengan Iren. Itu menjadi catatan hitam. Mereka bilang, mulai tahun ini catatan kelakuan calon mahasiswa juga dipertimbangkan."


"Apa?"


"Ya, sayangnya begitu." Mrs. Larry mengambil berkas dan menyerahkannya pada M.


"Apa tidak ada yang bisa dilakukan, Bu? Meminta surat pernyataan pihak Iren, misalnya," usul Jimmi.


Mrs. Larry menggeleng pelan. "Kalau peraturan ini berlaku sejak dua tahun lalu, kalian berdua juga tidak akan lolos seleksi itu karena pernah terlibat tawuran." Mrs. Larry menatap Amy yang telah berhenti terisak. "Dia tidur, Marsh. Pindahkan adikmu ke kamarnya. Biarkan dia istirahat."


M mengangguk kemudian melakukan apa yang Mrs. Larry katakan.


*****


Matahari belum juga bersinar, M sudah bangun. Ia menguap di sofa ruang keluarga. Semalaman memang ia tidur di sana bersama Jimmi. Ia tak bisa tidur nyenyak setelah melihat adiknya terpukul dengan berita yang Mrs. Larry bawa.


M melihat jarum jam yang menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit. Dua tahun yang lalu, ia tengah bersama Jimmi dan Amy di jalanan pada waktu seperti ini. Melihat matahari mulai bersinar dari balik bukit yang masih dipenuhi pohon jangkung.


Jimmi terlihat masih lelap. Ia memang baru tidur sekitar dini hari. Cowok itu juga khawatir dengan keadaan Amy. Semalaman ia memikirkan sesuatu yang mungkin bisa mengobati hati Amy. Ia terus mencari dan mencari solusi hingga matanya berat dan akhirnya tertutup rapat.


Sementara itu, M masih was-was memikirkan adiknya. M tahu Amy telah berusaha keras untuk mendapatkan nilai tinggi di setiap mata pelajaran. Ia tahu adiknya tak pernah sekeras ini bersungguh-sungguh. Namun, hasil mengkhianati usahanya.


Mungkin kecemasan M berlebihan. Tentu saja karena ia adalah orang yang menyayangi Amy. Dalam kekhawatiran itu, M membuka pintu kamar Amy untuk melihat keadaannya. Mulut M terbuka melihat sosok adiknya tidak ada di ruangan tiga kali tiga meter itu.


Berusaha tidak panik, M mengecek kamar mandi. Kosong. Rasa cemas menyelimuti perasaannya lebih banyak.

__ADS_1


"Amy tidak ada!“


Sekali lagi ia mengecek kamar dan memeriksa apakah Amy benar tidak ada di sana.


"Jimm, bangun! Amy tidak ada!“ M mengguncang keras tubuh Jimmi yang sedang meringkuk di sofa.


"Kenapa?“ Jimmi terbangun dan melihat kecemasan di wajah sahabatnya.


"Amy hilang!“


Jimmi melompat dengan mata yang terbuka sempurna. "Apa?" tanyanya. "Sudah kaucari ke seluruh rumah?“


M menggeleng. Segera mereka bergerak ke arah berbeda dan memeriksa setiap sudut rumah bahkan ke halaman.


"Tidak ada!“ seru M.


Jimmi hanya menggeleng dengan napas yang masih pendek-pendek.


"Lho, Tuan Muda mau olahraga seperti non Amy?“ tanya Merry yang datang dari arah kebun membawa sekeranjang sayuran di tangan.


"Olahraga?“ Jimmi dan M berpandangan. Kemudian keduanya segera berlari menuju jalanan.


*******


Pukul dua malam, Amy terbangun. Ia merasakan air matanya telah mengering, membuat pipinya sedikit kaku. Matanya agak sulit terbuka. Bengkak.


Gadis itu bangkit dan duduk di tepian ranjang. Dilihatnya deretan foto yang selama ini menemaninya. Sepertinya mereka akan menemaninya lebih lama dari yang Amy kira. Kepala Amy menunduk sejenak kemudian ia mengusap wajah hingga rambut seraya mendongak.


"Tidak boleh seperti ini," gumamnya.


Gadis berambut pendek itu perlahan menduduki kursi kemudian menopang dagu dengan kedua tangannya yang bertumpu di meja belajar. Dibukanya sebuah catatan usang berwarna biru yang memudar. Amy membaca kembali catatannya beberapa tahun lalu. Sebuah diary yang ia sendiri tak yakin apakah tulisan-tulisan itu layak disebut diary.


Senyuman-senyuman kecil perlahan terbit dari bibir Amy seiring lembar demi lembar selesai ia baca. Ketika tak ada lembaran lagi yang tersisa, jarum jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.


Amy menyibak jendela. Matahari akan terbit dalam beberapa menit. Siluet pohon dan rumah mulai samar terlihat di kegelapan. Gadis itu mengambil sebuah jumper, topi, dan sepatu kemudian mengenakannya. Pelan, ia membuka pintu. Untungnya kakak dan pacarnya masih tertidur. Amy menyelinap diam-diam keluar rumah.


"Nona mau olahraga?“


Tubuh Amy sontak mundur dan keseimbangannya hampir goyah mendengar pertanyaan itu terlontar dari Merry. Asisten Mrs. Larry itu terlihat membawa keranjang kosong menuju kebun belakang rumah. Ia mengelus dada akhirnya. "Ya," jawabnya setelah detak jantungnya kembali stabil.


Merry hanya mengangguk. Amy buru-buru keluar gerbang dan mulai berlari. Mungkin lelah fisik dapat membuatnya lupa dengan kelelahan psikis yang tengah melandanya.


Terus berjalan tanpa arah, Amy tak tahu akan kemana. Ia tak ingin melewati jalur yang biasa ia lalui. Kemudian sebuah tempat terbersit di pikirannya. Maka ia berbalik , melewati rumah Larry dengan cepat dan berbelok di jalan yang sedikit menurun.


Tempat itu terlihat sedikit kusam. Cat pagar dan rumahnya dilapisi debu. Rumput liar tumbuh di sana-sini. Amy membuka pintu pagar dan masuk dengan perasaan rindu yang tak terbendung. Terakhir kali ia kemari adalah enam bulan lalu, ketika M dan Jimmi tidak pulang saat libur semester. Amy ke sini untuk mencabuti rumput dan membereskan rumah luar dan dalam.


Gadis itu duduk di tangga kayu menuju teras dan melihat berkeliling. Ia kemudian mengambil sebuah pot yang ditumbuhi sebuah pohon bonsai tak terurua.


"Masih ada." Amy meraih kunci yang setengah terkubur di pot. Kunci cadangan yang memang sengaja ditinggalkan di sana. Ia membuka pintu rumah kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.


*******


Lewat jam sembilan pagi, M dan Jimmi belum juga menemukan Amy. Kedua cowok itu telah mencari di sepanjang jalan desa tiga kali. Namun, orang yang dicari tak kunjung ketemu.

__ADS_1


"Apa kau yakin kalau Amy pergi olahraga?" tanya Mrs. Larry yang juga menjadi khawatir pada Merry.


"Yakin, Nyonya. Nona Amy kalau mau lari pagi, kan, pasti pakaiannya seperti itu," jawab Merry.


Mrs. Larry menatap M dan Jimmi yang masih terengah setelah memeriksa jalanan desa. Kedua remaja itu menggeleng pelan.


"Apa dia ke rumah teman-temannya?“ gumam Mrs. Larry. "Biar kutelepon orang tua mereka." Wanita anggun itu segera menuju meja telepon. Ia membuka buku telepon dan mulai memijit tombolnya.


Sementara Mrs. Larry sibuk menelepon, M berpikir keras dimana tempat favorit Amy ketika adiknya itu bersedih. "Rumah!“ seru M. Ia segera berlari keluar di susul Jimmi yang baru mengerti maksud kata yang diucapkan sahabatnya.


Dua cowok itu berlari. Tidak peduli kalau kaus mereka telah basah dan kulit sekujur tubuh lengket. Wajah keduanya bahkan belum dibasuh sama sekali. Mereka berdua berlari seperti ketika dulu mengejar bola di lapangan basket.


Dengan kaki panjangnya, Jimmi sampai lebih dulu di halaman rumah yang tampak bersih. Ia membungkuk, meletakkan tangannya di lutut dan menjadikannya tumpuan. Kemudian ia kembali bergerak ketika M datang dan menyentuh punggungnya.


"Ini pekerjaannya!" seru Jimmi ketika mereka melangkah di lantai kayu yang terlihat bebas debu. Tanaman bonsai di pojok bahkan masih basah pertanda seseorang telah menyiramnya.


M memeriksa bonsai itu dan menemukan sebuah kunci di sana. "Amy sudah pergi, Jimm," ucapnya. Jika adiknya masih di dalam sana, kunci itu pasti tidak ada di pot tanah liat itu.


Jimmi mengitari rumah, berharap akan ada yang ia temui. Bisa saja arwah Anne atau lebih bagus lagi orang yang dicarinya. Tetapi yang ia temui hanya embusan lembut angin yang menerpa wajahnya serta setumpuk rumput yang baru saja dicabuti.


Matahari hampir di atas kepala saat M dan Jimmi selesai bertanya pada tetangga sekitar. Ada yang melihat Amy keluar halaman dan pergi ke arah balai desa.


"Kita harus makan sesuatu dulu," kata M sambil memegangi perutnya yang kosong.


"Kita cari makanan sambil jalan," ucap Jimmi yang sama sekali tidak terlihat kelaparan.


"Baiklah." M melirik sahabatnya diam-diam dengan kagum. Dibandingkan ia, Jimmi terlihat lebih serius mencari Amy. Cowok itu bahkan tidak mengeluh sedari pagi. "Jimm," ucap M menepuk bahu sahabatnya. "Kau benar-benar menyayanginya?"


Jimmi mengangguk. Itu saja sudah cukup membuat M yakin. Semakin sedikit kata-kata yang keluar dari mulut sahabatnya, semakin serius pula jawabannya akan hal-hal seperti itu.


"Kita sudah mengecewakannya setengah tahun," ucap Jimmi. "Sekarang kekecewaannya bertambah. Aku tak yakin dia punya rencana B!"


M menghela napas panjang. "Bagaimana kalau kita buatkan dia rencana B itu?"


Jimmi menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang. "Baiklah," ujarnya. "Sekarang kita beli roti dulu. Perutmu kayaknya sudah berdemo."


Ajakan Jimmi disahuti oleh perut M. Mereka berdua tersenyum kecil sebelum masuk ke toko kecil yang menjual roti dan aneka minuman.


Bersambung...


______________


*Halo, Readers!


Apa kabar? Semoga selalu baik di mana pun kalian berada.


Hari ini saya sepertinya akan sibuk, tetapi doakan agar saya tetap bisa melanjutkan He Is Not My Brother, ya*...


Find me on:


Fb: Hi Gaez Itz Revka


Ig: @its_revka

__ADS_1


Wp: @Revka09


Storial: @Revka09


__ADS_2