He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Dating


__ADS_3

Jimmi membawa Amy ke arah kios-kios kosong yang belum berpenghuni. Ia menatap tajam adik M dengan mata cokelatnya.


"Kau gila, hah?" tanya Jimmi. "Kenapa tiba-tiba bilang seperti itu di depan anak-anak?" Jimmi bukannya tidak senang. Ia terlalu shock untuk bahagia. Kini ia malah mengkhawatirkan Amy. Ia takut gosip cepat menyebar dan hal yang tidak diinginkan terjadi lagi di sekolah.


"Kupikir kau akan senang. Tapi ternyata memang kau cuma main-main aja, ya, selama ini." Amy balas menatap tajam Jimmi dengan sedikit amarah terpancar di mata hitam itu. "Haaa ... aku kepedean, ya?“ Amy membuang muka. Ia menyesal telah mengatakan hal itu sekarang. Tapi setidaknya ia tahu bagaimana reaksi cowok dihadapannya ini.


"A-aku senang, kok." Jimmi meletakkan kedua tangan di bahu Amy. "Aku benar-benar senang, Am," ulang cowok itu. Kemudian ia menarik tubuh Amy ke pelukannya.


"Jangan bohong!" Amy mendorong tubuh Jimmi.


"Aku bahagia sekarang, karena itu berarti kau menyukaiku, kan?" Jimmi tersenyum lebar. "Aku hanya tidak ingin ada rumor di sekolah. Aku mengkhawatirkanmu, kau tahu?"


"Aku sudah siap dengan semua itu. Kita harus melakukan yang terbaik jika kita menginginkan sesuatu, kan?" ucap Amy serius.


Jimmi tersenyum kemudian tertawa mendengar kata-katanya di-copy-paste oleh gadis di hadapannya. "Kau yakin ini yang terbaik?"


Amy mengangguk. "Tiga bulan lagi kalian akan pergi. Aku tidak mau menyesal karena tidak pernah mengatakan aku menyukaimu."


Jimmi menarik tubuh Amy dan merangkul bahu gadia itu. "Kalau begitu mari kita lakukan."


"Apa?" Amy menoleh melihat wajah Jimmi yang terlihat semakin keren dengan senyuman menawan yang tak pernah Amy lihat sebelumnya itu.


Jimmi menatap Amy, membuat gadis itu harus mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap menapakkan kaki di bumi. "First date," katanya.


***********


Sepanjang malam minggu itu terasa damai bagi M. Terlalu damai. Ia bisa tersenyum bebas di hadapan Weni, menonton film aksi yang tengah digemari para remaja kemudian makan malam bersama tiga orang yang disayanginya. Kadang M merasa ganjil malam itu tetapi ia tidak mengerti apa yang salah. Semuanya bahagia dan apa yang salah dengan itu?


Minggu pagi yang dinanti pun tiba. Seperti biasa cowok itu telah siap dengan pakaian olahraganya. Ia menggedor kamar Amy tetapi tidak ada jawaban. Dibukanya pintu kamar pelan-pelan dan terlihat adiknya itu tengah tertidur pulas.


"Amy! Bangun! Kau gak ikut lari? Hei ...." M mengguncang tubuh adiknya pelan.


"Ha? Apa? Masih ngantuk ...." Amy menggeliat kemudian berbalik memunggungi kakaknya.


"Kau gak mau lari bareng aku dan Jimmi?“


Mata Amy terbuka sempurna mendengar nama itu disebut. "Tunggu, aku ganti baju dan cuci muka dulu."


"Jangan lama. Kutunggu lima menit," ucap M tanpa menaruh curiga pada adiknya.


.


Dengan mata yang masih setengah melek, Amy membuntuti kakaknya untuk mulai berlari menyusuri jalan desa. Sepanjang malam, cewek itu tidak bisa tidur memikirkan apa yang terjadi di mall. Ini lebih parah dari ketika Jimmi yang mengatakan menyukainya. Amy yang kini bilang menyukai cowok itu!


Di depan sebuah gerbang rumah, Amy melihatnya. Seorang cowok ganteng bermuka baru bangun tidur dengan jaket oversize putih, celana jogger sport abu dan training shoes putih. Cowok yang tidak keberatan Amy sebut sebagai pacarnya.

__ADS_1


"Pagi Jimm," sapa kakak Amy pada cowok itu. "Kau kelihatan masih ngantuk."


"Pagi," balas Jimmi. "Memang kelihatan, ya?“ tanya cowok itu kemudian mengambil posisi di antara M dan Amy.


"Amy juga gitu, tuh!“


Jimmi melirik Amy dan memperhatikan wajah kurang tidur itu beberapa jeda. "Kau tidur larut?“


Amy mengangguk. "Kau juga?“


Jimmi tersenyum. Bahkan dengan rambut yang tidak dirapikan itu ia tampak begitu indah di mata Amy. "Nanti siang kubantu ngerjain tugas, ya?“ tanya Jimmi yang jika saja ia tidak malu pada M, sudah digenggamnya jemari Amy.


"Oke." Amy balas tersenyum.


"Kalian berdua aneh," gumam M yang masih mencari-cari apa yang salah dengan situasi saat ini.


Jimmi dan Amy tidak menanggapi M. Mereka berdua malah saling melempar senyum diam-diam.


M melirik Jimmi dan Amy bergantian. Sepanjang mereka di mall, bukankah adik dan sahabatnya itu selalu berpegangan tangan seperti yang dilakukannya dengan Weni? Bahkan M tidak melihat tangan itu terlepas. Pertengkaran kecil yang biasa mencemari pendengarannya pun tidak ada hari itu. Malah keduanya lebih sering melempar senyum.


"Hei!" M menghentikan Jimmi dan adiknya dengan berdiri di depan keduanya. "Kalian menyembunyikan sesuatu, ya?“selidik M.


Tidak menjawab, Amy dan Jimmi malah saling tatap. Mulut mereka terkunci, tidak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Jimmi dan Amy tertawa mendengar teriakan M. Ada rasa gugup sekaligus senang yang membuat jantung keduanya berdetak lebih kencang.


"Ini hari minggu, kan?“ Jimmi meraih tangan Amy dan menggenggamnya.


Amy mengangguk dengan sedikit malu yang merayapi hatinya.


"Kalau begitu kita jalan pagi saja, jangan lari," ungkap Jimmi. Rasa senang menyelimutinya. Jimmi tahu pasti hormon kebahagiannya naik. Jadi, ia harus menahan diri untuk tidak melakukan lebih dari ini. Begini saja rasanya sudah bahagia hingga ia tidak bisa mengontrol senyum.


Mereka berdua berjalan pagi itu mengelilingi desa dengan bunga-bunga semu yang keluar dari aura keduanya.


*********


"Nah, akhirnya gadis itu melakukan hal yang seharusnya," gumam Val setelah mendengar gosip yang beredar. Ia melihat sekeliling mencari sahabatnya yang belum juga datang.


Mata Val menangkap tiga sosok yang dikenalnya. Buru-buru ia hampiri cewek satu-satunya di antara tiga orang itu setelah dilihatnya berpisah di dekat tangga.


"Amy! Kenapa kau ga bilang-bilang, huh?“ Val merangkul pinggang Amy dan menyeretnya menuju kelas.


"Bilang apa?“


"Kau jadian dengan kak Jimmi, he?“

__ADS_1


Amy tersenyum. "Baru mau kubilang."


"Dasar gadis ini! Kau harus menceritakannya nanti." Val mengguncang tubuh Amy gemas. Sejak awal semester, sahabatnya itu terlihat sibuk di perpustakaan atau latihan karate. Amy sudah jarang berkumpul di kantin bersama. Gadis itu lebih memilih ke perpustakaan dan makan di sana.


Amy memang sudah berubah dari gadis yang santai menjadi gadis serius. Tapi Val tidak menyangka jika Amy yang serius malah kini jadian dengan si kakak kelas populer. Tentu saja Val tidak heran jika Amy dan Jimmi jadian. Mereka sudah dekat sedari kecil.


Baru saja Val akan mencecar Amy dengan pertanyaan yang memenuhi pikirannya, Val harus kecewa karena bel masuk berdering.


Ketika istirahat pun, Amy lolos dari Val. Cewek itu telah lebih dulu ke perpustakaan, membuat Val sedikit kesal.


"Aku kangen Amy yang dulu," ucap Val pada Lewis dan Sifa di kantin.


"Ya. Minggu ini dia hanya sekali aja nongkrong bareng kita," kata Sifa.


"Ke rumahnya aja. Dia selalu baca buku kalau aku ke sana." Lewis menarik gelas dan menyedot limun di dalamnya.


"Apa tidak akan mengganggunya?“ tanya Val.


"Ditambah sekarang dia punya pacar keren. Apakah kita masih kebagian waktu?“ Sifa mendaratkan kepala di meja.


"Amy itu bukan tipe bucin. Jadi, dia pasti bakal meluangkan waktu untuk teman-temannya," ucap Lewis setelah menghabiskan limun.


Bersambung...


_____________


*Hola... Readers...


Bagaimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja, terutama untuk kamu yang sudah like, komen, dan vote cerita ini ^^


Banyak yang kaget karena mau berakhir, ya? Tenang... Masih beberapa episode yang sepertinya akan panjang. Hahaha...


Yang jelas memang tidak akan sampai ratusan*.


Find me on:


Instagram: @its_revka


Fb: Hi Gaez Itz Revka


Wp: @Revka09


Storial: @Revka09


Sankyu minna-san~

__ADS_1


__ADS_2