
Libur semester telah tiba. Dengan berakhirnya pergelaran seni yang diadakan di SMA Nuri, maka seluruh siswa SMA Elang telah bebas dari jeratan kurikulum pelajaran selama dua pekan.
Tentu saja para murid itu senang. Mereka bisa bermalasan, liburan, dan melakukan hal-hal yang mereka inginkan. Tak terkecuali Amy dan M. Mereka menghabiskan waktu bersama ayah mereka yang sebentar lagi akan kembali pergi.
"Beberapa hari ini Jimmi gak kelihatan, ya?" tanya Amy pada kakaknya yang sedang mengenakan sepatu di depan kamarnya.
"Kenapa? Kau kangen?" tanya M di sela keasikannya menyimpulkan tali sepatu.
"Gak juga, tuh." Amy duduk di kursi kemudian menengok ke arah kamar ayahnya, menunggu si empunya kamar keluar.
"Dia sedang berlibur dengan keluarganya," ucap M. Cowok itu telah selesai menyimpulkan tali sepatunya dan berdiri. "Gak pake topi?"
"Ini!" Amy mengacungkan sebuah topi snapback berwarna putih dengan bordiran huruf A besar di depan.
"Baseball cap army-mu kemana?“ M menghampiri adiknya kemudian merebahkan diri di kursi yang panjang. Ia tahu biasanya Amy akan memakai topi army itu jika akan kemana-mana karena topi itu favoritnya.
"Oh—itu ... sudah kukasih pada seseorang," jawab Amy sedikit gugup.
"Ha?" M mengerutkan kening, tak percaya jika Amy merelakan topi kesayangannya untuk orang lain. "Untuk siapa?" tanya M begitu penasaran. Pikirnya, pasti orang itu spesial bagi Amy.
"Ada deh ...." Amy membuang muka. Cepat atau lambat kakaknya pasti tahu, tetapi Amy tidak mau mengatakannya sekarang.
"Kalian sudah siap?“ Jerome muncul dengan sebuah tas panjang besar. Di tangannya beberapa alat pancing terlihat mencuat panjang. Jerome menyerahkan pancingan pada anak-anaknya masing-masing satu.
"Ayo, kita berangkat memancing!“ seru M riang.
**********
Sebuah tangisan kencang terdengar menggema. Seorang anak lelaki berumur sepuluh tahun menghampiri suara itu. Ia mendapati seorang anak perempuan tengah memeluk lututnya dengan sepeda terguling di sekitar.
"*Hei, kau terjatuh?“ tanya si anak lelaki.
Yang ditanya sama sekali tidak berhenti menangis. Hanya melihat si anak lelaki sekilas kemudian melihat lututnya*.
"*Sini, biar kulihat!“ Dengan hati-hati, si anak lelaki menyingkirkan tangan si anak perempuan yang menutupi lutut kirinya. Ada luka yang menggores kulit sehingga kulit ari si anak perempuan sobek dan dagingnya terlihat merah. "Tidak apa," kata si anak lelaki. "Ini akan cepat sembuh." Ditiupnya luka itu pelan.
Tangisan si anak perempuan pun berhenti. "Terima kasih," ucapnya kemudian menerima uluran tangan si anak lelaki yang membantunya berdiri.
Si anak lelaki tersenyum lalu mengambil sepeda biru yang terguling. Ia menyerahkan sepeda itu pada pemiliknya. "Lain kali kau harus lebih hati-hati."
"Baik, Jimm." Si anak perempuan tersenyum kemudian berlalu dengan sepedanya.
"Hei... sepertinya kau sangat memperhatikan Amy."
Sebuah suara mengejutkan si anak lelaki. Ia melihat sosok yang tak asing lagi baginya. Hanya saja dengan wajah pucat, sedikit tembus pandang dan tubuh melayang.
"Bibi?“ katanya setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya*.
__ADS_1
"*Jangan takut, Jimm. Bibi tak akan melukaimu." Sosok itu melayang mengitari si anak lelaki. "Bibi mau minta tolong."
"Minta tolong apa?“
Wanita cantik yang pucat itu jongkok seolah ia menapaki tanah agar wajahnya setara dengan si anak lelaki." Tolong jaga Amy. Bibi tahu kau bisa diandalkan*."
...
Begitu sampai rumah, hal pertama yang sangat ingin Jimmi lakukan adalah melihat Amy. Sejak pergelaran seni yang diadakan di SMA Nuri, ia tidak pernah melihat lagi gadis itu karena keluarganya langsung liburan ke luar kota selama tiga hari.
Cowok bermata cokelat itu tidak dapat berhenti memikirkan kata-kata Amy padanya hari itu. Jimmi terus memutar memori itu di kepala, membuatnya terkadang tersenyum sendiri seperti orang tidak waras.
Maka tidak ada yang dapat menghalanginya untuk pergi ke rumah itu. Tetapi ia mendapati rumah itu kosong. Tentu saja Jimmi kecewa.
"Mereka pergi memancing, Jimm."
Sebuah suara menahan langkah Jimmi untuk pulang. Ia melihatnya lagi. Itu bibi Anne. Masih mengenakan gaun salem yang sama dengan rambut tergerai sepinggang dan kulit pucat. Wajahnya masih sama seperti dulu Jimmi lihat ketika ia masih hidup.
"Bibi?" tanya Jimmi, lebih tepatnya itu bukan sebuah pertanyaan tetapi ungkapan keheranan. "Kukira Bibi sudah pergi."
Anne melayang menghampiri cowok yang berada di teras rumah itu. "Kenapa kau berpikir seperti itu?“
Jimmi duduk di pagar pembatas yang terbuat dari tembok, diikuti oleh Anne. "Waktu Iren merisak Amy di kamar mandi, Bibi tidak datang memberitahuku untuk mencegah hal itu terjadi."
Anne tersenyum lembut, "Aku tidak memberitahu karena Amy bisa mengatasi hal itu sendiri."
"Tidak. Itu bukan kesalahanmu, Jagoan." Anne menggerakkan tangannya seolah membelai punggung Jimmi. "Itu adalah jalan bagi Amy untuk lebih dewasa. Akhir-akhir ini bibi berpikir bahwa mungkin Amy terlalu mendapatkan banyak perhatian dan perlindungan." Anne berdiri kemudian menatap lurus ke depan.
"Bibi khawatir jika dia tidak bisa lepas dari Marsh. Kau dan Marshall harus pergi jauh untuk meneruskan sekolah. Bibi tidak ingin Amy menghalangi cita-cita kakaknya atau kau. Maka dari itu, lebih baik Amy menghadapi dunianya sendiri. Kita harus percaya bahwa dia bisa."
Jimmi mengangguk menatap Anne. "Ya, aku percaya dia bisa."
"Bagaimana hubungan kalian?" Anne mengalihkan pembicaraan dan sukses membuat wajah Jimmi merah padam.
"Hu-hubungan apa, Bi?“ ucap Jimmi gugup.
"Kalian ini lucu, ya? Tapi sejujurnya, bibi senang karena itu kau. Bukan orang lain." Sekali lagi Anne tersenyum, mengingatkan Jimmi pada senyuman Amy yang sama manisnya. Wajah Amy dan M memang lebih mirip Anne daripada Jerome. "Terima kasih, Jimm. Kau sudah menjaga Amy selama ini."
Sebelum sempat mengatakan apa-apa, Jimmi melihat tubuh Anne menghilang lebih dulu.
"Bi! Bibi Anne! Apa Bibi akan menghilang selamanya?" teriak Jimmi sambil melihat berkeliling. Namun, tidak ada jawaban. Anne telah pergi.
"Siapa yang akan hilang selamanya?"
Jimmi terkejut mendapati M telah berdiri di dekat pagar. Cowok itu tampak membawa ember berisi beberapa ikan besar di tangan kanan dan sebuah pancingan di tangan lain.
"Oh, kau di sini?" tanya Jimmi sambil memikirkan alasan untuk hal yang telah M dengar barusan.
__ADS_1
"Tentu saja. Ini, kan, rumahku." M meletakkan ember di depan pintu kemudian merogoh saku dan mengeluarkan kunci. Dibukanya pintu rumah. "Siapa yang hilang, Jimm?" selidik M. "Kudengar kau menyebut nama ibuku."
"Mungkin kau salah dengar," sergah Jimmi. Otaknya masih belum mampu merangkai alasan fiktif yang masuk akal.
"Aku yakin. Telingaku masih berfungsi normal." M menyilangkan tangan di dada.
"Baiklah ... tadi aku ketiduran dan bermimpi tentang bibi Anne." Jimmi melirik tiga ekor ikan yang napasnya tengah megap-megap di ember.
"Mimpi apa?“
"Aku tidak mau bahas itu," jawab Jimmi. Ekor matanya kini melihat Jerome dan Amy yang sedang berjalan di halaman rumah.
"Anak ini tadi menanyakanmu." M menelengkan kepala pada adiknya yang baru menginjak teras.
"Si-siapa yang menanyakannya?“ elak Amy. Ia terkejut melihat Jimmi dari kejauhan tetapi rasanya ia ingin menyunggingkan senyum.
"Hai, Am. Apa--kabar?“ Kata-kata itu keluar dari pikiran Jimmi yang tiba-tiba buntu melihat Amy dengan celana pendek selutut, kaos putih polos dan topi snapback yang juga putih. Gadis itu tampak bercahaya di matanya.
"Baik. Kau sendiri?" Amy melepaskan topi dan mengipas-ngipas wajahnya yang tiba-tiba terasa panas dengan topi itu.
"Kenapa kalian bertingkah seperti itu?" tanya M heran. Tidak biasanya mereka menanyakan kabar seperti orang normal.
"Hei, lekas bawa ember itu ke belakang. Kenapa malah berkumpul di sini?" Jerome bertanya sambil menenteng satu lagi ember berisi beberapa ikan yang lebih besar.
"Woah ... Paman memang ahli memancing!" puji Jimmi.
"Ayo, Jimm! Kita bakar ikan!“ seru Jerome seraya merangkul Jimmi dan menyusul kedua anaknya masuk rumah.
Bersambung...
-----------------------
Hai Pembaca...
Terima kasih telah setia mengikuti kisah ini.
Kalian bisa mendukung Author dengan menekan tombol like dan hati. Vote dan komen juga, ya ^^
Temukan author di:
Instagram: @its_revka
Facebook: Hi Gaez Itz Revka
*******: @Revka09
Storial: @Revka09
__ADS_1