He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Rival(?)


__ADS_3

"Aku mau mandi dulu!“ M berlari mengambil handuk setelah meletakkan ember di dapur.


"Bantu bersihkan ikan, ya?" tanya Jerome pada Jimmi. Cowok itu mengangguk mantap.


"Di kamar mandi ada siapa?" tanya Amy pada Jerome dan Jimmi yang tengah asik membersihkan ikan-ikan.


"Ada M," jawab Jimmi.


"Kau mau mandi juga?" Jerome bertanya tanpa berhenti menyayat ikan yang dipegangnya.


Amy mengangguk. "Iya. Tapi nanti saja. Aku mau menghubungi seorang teman lama dulu," ujar gadis itu. Ia berlalu menuju kamarnya.


"Paman," ucap Jimmi berbisik. Ia melihat sekeliling memastikan Amy telah pergi dan M belum selesai mandi. "Tadi aku melihat bibi Anne lagi."


"Apa katanya?" Jerome terus membersihkan ikan-ikan dengan cekatan. Terlihat benar ia sering melakukan hal ini.


"Bibi bilang kita harus percaya kalau Amy bisa menghadapi dunianya sendiri." Jimmi membilas tangannya kemudian membuang kotoran ikan ke dalam kantong plastik dan membungkusnya.


Jerome tersenyum. Ia membersihkan pisau dan meletakkannya kembali di tempatnya semula. "Bibi Anne-mu benar. Amy harus bisa mandiri. Kau tidak usah khawatir." Jerome menepuk pundak Jimmi.


"Memang Paman tidak khawatir?“ Jimmi menatap Jerome dengan tatapan tak percaya.


"Tentu saja khawatir. Aku, kan, ayahnya," ucap Jerome dengan kekehan kecil. "Tapi terkadang orang tua harus tega pada anaknya. Aku percaya kalau Amy gadis kuat."


"Siapa yang mau mandi? Aku sudah selesai." M keluar dari kamar mandi. Jimmi dan Jerome pun berhenti mengobrol.


"Sana, panggil adikmu, Marsh. Dia yang mau mandi."


"Oke." M mengangguk dan langsung menuju kamar Amy.


"Pokoknya, kau tidak usah khawatirkan adikmu itu." Jerome mengedipkan mata pada Jimmi.


Kata-kata Jerome terasa menusuk Jimmi. Ia memang sudah menganggap Amy sebagai adiknya sejak dulu. Tapi mendengar pria berjanggut itu mengatakannya membuat denyut menyakitkan hinggap di dada Jimmi.


"Am! Aku sudah selesai!" Terdengar M berteriak dari depan. Tak lama cowok itu berlari ke dapur. Terengah-engah ia mendekati Jimmi. "Jimm, Amy sedang telponan dengan seorang cowok!"


Jimmi mengerutkan kening. "Siapa?"


"Kau pasti cemburu kalau mengetahuinya," goda M.


"Memang siapa?“


"Jason Brant, teman Amy sewaktu SD."


Kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak, membuat Jerome menggelengkan kepala. Jason pernah mengatakan perasaannya pada Amy di hadapan M dan Jimmi pada tahun kelima SD.


"Jason yang—" Jimmi menggembungkan pipi, merentangkan tangan dan berjalan seperti seorang sumo.


"Ya." M dan Jimmi kembali tertawa.


"Kenapa kalian? Senang sekali sepertinya." Amy muncul dengan handuk melilit lehernya.


"Kau barusan berbicara dengan si Jason itu, kan?" M menggembungkan pipinya.


"Ya. Kau menguping? Katanya dia mau pindah ke sekolah kita."


M melebarkan mata. "Serius? Jimm, kau bakal punya saingan, hahaha."


"Apa, sih?" Amy mengibaskan handuknya dan langsung masuk kamar mandi tanpa berkata-kata lagi.


"Bukankah dia bocah gendut yang menyukai Amy?" tanya Jerome. Ia menyerahkan toples yang berisi rempah pada Jimmi agar ditaburkan pada ikan yang telah dibersihkan.


"Wah, bahkan ayah ingat!" seru M. "Sekarang bocah itu punya pesaing."


"Siapa?" tanya Jerome cepat.

__ADS_1


M merangkul Jimmi dan menunjuk cowok itu dengan tangannya yang berada di belakang punggung sahabatnya.


Jerome hanya tersenyum disertai tawa yang lepas. "Berjuanglah!" seru pria hampir paruh baya itu.


***********


"Tidak bisa." Amy mengembalikan dua buah kotak kecil kepada dua gadis yang tengah berada di hadapannya.


"Kumohon, Am. Please! Aku bukan salah satu orang yang membicarakanmu di belakang, kok," ucap salah satu gadis yang memakai seragam begitu ketat.


"Ya, tolong sekali ini saja," tambah gadis satunya. Yang ini seragamnya terlihat sopan, hanya saja rambutnya dicat biru tua. Sebentar lagi pasti dia akan dipanggil Mrs. Larry. "Tolong berikan pada Jimmi. Dia, kan, sudah menganggapmu adiknya. Dia pasti mau nerima kalau itu dari kamu."


Amy menggeleng. Sudah beberapa kali para gadis memintanya untuk mengirimkan beberapa barang pada Jimmi. Namun, Amy selalu menolaknya.


"Kenapa tidak kalian berikan sendiri atau taruh di kolong meja atau di atas tasnya ketika ia bermain basket, seperti biasanya?"


"Ah, apa kau gak tahu? Dia membuang semua barang yang ada di laci atau tasnya ke tempat sampah. Kejam, kan?" Si baju ketat merengut sedih.


"Ya. Ini semua gara-gara Iren!" ujar gadis satunya dengan geram. "Sejak dia merisakmu, Jimmi jadi tidak ramah seperti dulu. Kami juga kena getahnya. Kalau Iren masih di sini, kami sudah akan menjambak-jambaknya."


Amy mengerutkan kening. Pantas saja ia tidak pernah melihat cowok itu berbagi cokelat dengan M lagi. Kakaknya jelas tidak menerima barang apapun dari penggemarnya sejak pacaran dengan Weni. Amy hanya bisa mendapatkan cokelat dari Zack. Sepertinya para gadis yang dulu sering bersedekah cokelat pada M kini mengalihkan budget-nya pada cowok blak-blakan itu.


"Please, Am. Berikan ini pada Jimmi." Gadis berambut biru itu menempatkan dua kotak hitam di tangan Amy kemudian buru-buru berlari sebelum Amy balik mengembalikannya.


"Terima kasih!" teriak dua gadis itu bersamaan sambil terus berlari.


"Hei! Tunggu!" Amy ingin mengejar mereka tapi ia tahu kalau itu akan sia-sia saja. "Argh! Harusnya tadi kucuekan saja."


"Apa yang harus dicuekin?"


Amy mengalihkan pandangannya dan mendapati seorang cowok kekar berseragam sekolahnya telah berdiri sekitar satu meter darinya. Mata abu si cowok menatap Amy lekat dengan bibir tersenyum. Amy mengenali senyum itu.


"Jason?!"


"Amy?"


"Ya. Ini aku. Wah, penampilanmu berubah banget!" Amy menyikut perut cowok sterk itu.


"Kau juga begitu," ucap Jason dengan suaranya yang berat.


"Kau benar Jason si gendut? Jangan-jangan kau orang lain!" Amy memeriksa wajah dan badan cowok itu seperti melakukan penggeledahan.


"Ini aku, Am." Jason memperlihatkan telapak tangannya. Sebuah tanda lahir kecokelatan terlihat di sana.


"Memang benar kau, ya? Kau diet berapa lama untuk bisa memiliki badan seperti ini?“ Amy masih memeriksa bahu lebar Jason.


"Diet ketat bertahun-tahun," ucap Jason diselingi tawa. Amy ikut tertawa.


Sebuah bola hampir mengenai kepala Jason kalau saja ia terlambat menghindar.


Amy memutar tubuh dan meneriaki para murid yang tengah bermain basket. "Hei, hati-hati kalau main!“


Seseorang berjalan ke arah Amy dan gadis itu tahu kalau orang itu yang menyebabkan bola nyasar.


"Maaf," kata cowok itu ketika telah berhadapan dengan Amy. "Aku gak sengaja."


"Yang benar mainnya!“ Amy melempar bola dengan keras pada Jimmi. Ia juga menendang kaki Jimmi yang mengenakan sepatu sama dengannya. Padahal ia bilang akan pakai sepatu itu ke sekolah hari ini dan melarang M dan Jimmi mengenakan sepatu yang sama.


"Siapa dia?“ ucap Jimmi, melirik cowok tinggi besar di samping Amy. Kemudian ia membersihkan celananya yang ditendang Amy.


"Hai, aku murid baru di sini. Namaku Jason Brant." Jason mengulurkan tangan. "Sepertinya kau akrab dengan Amy."


Hampir saja tawa Jimmi meledak. Ia memperhatikan Jason dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemudian ia menoleh pada Amy dengan penuh tanya.


"Ya, dia Jason yang itu," ucap Amy meyakinkan Jimmi. "Dia Jimmi, Jas." Amy menelengkan kepala ke arah Jimmi.

__ADS_1


"Oh, Kakak ipar nomor dua!“ Jason menarik tangan Jimmi dan memeluknya. "Kau tumbuh dengan ganteng, Kak."


Amy menepuk dahinya melihat kelakuan Jason yang tidak berubah. Dulu ia memanggil M dengan kakak ipar dan Jimmi dipanggil kakak ipar nomor dua.


"Lepas, Jason!“ Jimmi menjauhkan tubuh Jason dari dirinya. "Ini memang kau, ya?“


"Tentu saja. Memang siapa lagi, Kak?“


"Jason, jangan gunakan panggilan tadi. Panggil saja dia Jimmi!" protes Amy.


"Ah, maaf. Tadi itu reflek begitu saja."


"Ini!" Amy memberikan dua kotak kecil yang sedari tadi dipegangnya pada Jimmi. "Dari dua gadis yang memaksaku memberikan itu padamu."


Jimmi membuka dua kotak itu. Sebuah pick gitar dan gantungan kunci Dexter. Kemudian ia pergi dan membuangnya di tempat sampah.


"Hei, kenapa kau buang, Jimm?" teriak Amy. Yang diteriaki hanya melambaikan tangan ke udara tanpa menoleh. Jimmi terus melangkah ke tengah lapangan dan kembali melanjutkan permainan bola basketnya.


"Am ... sepatu kalian? Kalian pakai sepatu couple?“ Jason melirik sepatu Amy dan Jimmi bergantian. Sepatu hitam merk Naiki limited edition yang sama.


"Enggak. Kakakku juga punya," bantah Amy.


"Yang benar?“


Amy memutar bola mata. Ini bukan kali pertama seseorang menanyakan hal itu padanya hari ini.


Semua berawal ketika ayahnya akan berangkat lagi minggu lalu. Jerome memberikan oleh-oleh yang mahal pada Amy, M dan Jimmi. Masing-masing sepasang sepatu limited edition dari brand sport terkenal.


"Untuk kalian pakai joging bareng," ucap Jerome kala itu.


Namun, ternyata desain dan warna ketiga sepatu itu sama. Hanya beda nomor.


"Hanya ada seribu di seluruh dunia," jelas Jerome. "Ayah sampai harus mengantre semalaman demi mendapatkannya. Plus ayah menyewa jasa calo karena satu orang hanya boleh membeli satu pasang."


"Kenapa dia juga dibelikan? Anak Ayah , kan, cuma dua," protes Amy yang menuding Jimmi. "Sepatu ini mahal banget, kan, Ayah?"


"Ya. Karena itu kalian bertiga harus jaga baik-baik. Dengar, Amy, Jimmi sudah ayah anggap anak sendiri."


"Ha?“ Amy mengembuskan napas kasar. Ia bukannya protes karena Jimmi dibelikan juga. Tapi kenapa desainnya harus sama? "Aku gak mau pakai barang samaan!“ rajuk Amy.


"Kalau begitu kalian harus kompromi. Suruh Marsh dan Jimmi jangan pakai sepatu itu kalau kau mau memakainya."


Dan begitulah, Amy akhirnya menarik bibirnya yang sedari tadi maju. Tetapi hari ini ia kembali ingin meledak karena Jimmi memakai sepatu yang sama.


"Maaf, aku lupa." Amy masih teringat jelas ekspresi tak berdosa Jimmi ketika ia mendapati cowok itu memakai sepatu pemberian ayahnya tadi pagi di koridor kelas X.


Bersambung...


______________


*Hai Pembaca...


Terima kasih sudah menjadi pembaca setia He is Not My Brother ya ^^


Dukung terus author dengan like, komen dan vote kalian.


Find me on:


Instagram: @its_revka


Facebook: Hi Gaez Itz Revka


*******: @Revka09


Storial: @Revka09*

__ADS_1


__ADS_2