He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Handsome Level


__ADS_3

Sampai di depan kelas, Amy terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang. Peluh menghiasi wajahnya yang kembali suntuk.


"Rajin sekali." Aurora telah berdiri di depan Amy dengan tangan memegang sebuah laptop. "Apa setiap hari kau berlari seperti ini ke sekolah?"


Amy menghiraukan Aurora. Ia mengambil tumbler-nya dan meminum habis sisa infus water. "Aku sedang tidak ingin ngobrol," ucap Amy setelah menutup tumbler. Gadis itu berjalan menuju kelasnya, melewati mantan pacar kakaknya begitu saja.


"Hei, Amelya Way! Kau berani mengacuhkanku?" teriak Aurora kesal.


Namun, Amy benar-benar sedang tidak mood untuk berbincang atau sekadar berbasa-basi. Ia terus menyusuri koridor dan masuk ke dalam kelasnya.


"Matamu kenapa, Am?" Sifa yang berada di meja sebelah melirik Amy yang terlihat kusut.


"Semalam aku begadang." Amy duduk dan merebahkan kepalanya di meja. "Val belum datang?“


"Sudah. Dia sedang ke toilet."


"Aku mau tidur dulu. Masih ada waktu sepuluh menit. Nanti tolong bangunin, ya?“ pinta Amy. Ia segera menenggelamkan wajahnya di balik lengan yang terjulur di meja kayu yang tebal itu.


*****


Aurora bukanlah tipe gadis penyabar dan penurut. Ia merasa sedikit bosan untuk mengadakan rapat dengan organisasi siswa. Meski ia adalah ketua murid, tetapi nyatanya yang melakukan tugas-tugasnya kebanyakan Opheria.


Siang itu ia sangat bosan setelah membicarakan kerjasama SMA Elang dan Nuri. Apalagi rapat selesai jauh sebelum jam istirahat sehingga sekolah sepi. Ketika bel istirahat berdering dan para murid bergegas keluar kelas, Aurora mencari seseorang yang dapat ia ajak bicara. Opheria masih sibuk dengan urusan kesiswaan yang harusnya ia tangani.


"Hei! Aku boleh gabung, kan?“ tanya Aurora menghampiri Amy dan teman-temannya yang duduk di kantin.


Amy hanya mengangguk dengan mulut sibuk mengunyah roti lapis.


"Wah, Kakak KM SMA Nuri?“ tanya Val antusias. Ia memang penasaran dengan anak-anak SMA elit itu.


"Ya. Namaku Aurora. Hello!" Aurora mengulurkan tangan pada Val. Kemudian ia menyalami Sifa dan Lewis juga. "Kalian mau pesan apalagi? Biar aku yang traktir."


Lewis dan Val saling pandang.


" Benar, nih, Kak?"


"Yes, honey. Kalian tidak salah dengar. Pesan saja yang paling mahal," ujar Aurora angkuh.


Amy buru-buru menghabiskan roti lapis dan memesan bola daging dengan dua gelas jus jambu. Lewis, Val dan Sifa pun memesan makanan banyak dengan tidak tahu malunya. Meja seketika penuh dengan makanan. Aurora bahkan harus memegangi gelas lemon tea-nya yang tidak kebagian lapak di meja.


Sialan! Padahal aku yang bayar semua.


"Nah, sekarang mari ngobrol." Aurora meminum lemon tea dengan anggun. "Menurut kalian, siapa cowok terganteng di sekolah ini?“


"Olie!“ Serempak empat orang yang ditraktir itu menjawab.


"Oh, si KM. Memang ... gantengnya S class." Aurora mengibaskan anak rambutnya yang panjang yang tak ikut terikat ke atas.


Lewis tersedak kuah bola daging. "Maksudnya apa itu? Jadi, ada kelas A dan B juga?"


"Tentu. Kalau cowok sepertimu, sih, kelas B," jawab Aurora yang disambut kikikan Amy, Val dan Sifa.


"Menurutku, dia ini B minus," kata Sifa sembari meneruskan tawanya lebih kencang.


"Di sini banyak, kok, cowok ganteng selain Olie. Iya, gak, Am?“ Val menoleh pada sahabatnya yang tengah meneguk jus. Amy hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Siapa? Aku penasaran?" Aurora mendekatkan tubuhnya ke meja.


"Kakak Amy, tuh, dia baik dan ganteng. Jago main basket, otaknya encer, masakannya juga enak," celoteh Sifa.


Amy tertawa melihat ekspresi Aurora yang tidak ingin mendengar nama itu. Jelas saja Aurora ingin nama lain selain M.


"He's underrated. Sorry." Dikibaskan tangannya di depan wajah, kemudian Aurora menambahkan, "Aku tidak tertarik padanya."


"Ada Jimmi, Tata, Firgo, Zack ... siapa lagi, ya?“ Val berpikir sambil menaruh telunjuk di dahi.


"Nah, jika Jimmi itu A, maka kelas cowok-cowok yang kausebut tadi berapa?" tuding Aurora pada Val.


"Kakak kenal Jimmi?" tanya Sifa sedikit terkejut.


"Kasih tahu dia, Am!“


"Mereka dulu satu SMP," jawab Amy singkat.


"Tunggu, Jimmi harusnya lebih dari A, dong, Kak!“ protes Sifa. "Dia juga S class."


"Ya. Aku setuju dengan Sifa," bela Val.


"Menurutmu, bagaimana, Amy?" Lagi-lagi Aurora menatap Amy.


"Dia? B."


"Hei, kau harus objektif, dong!“ Val menyenggol bahu Amy.


"Val benar. Jangan mentang-mentang kau ada masalah dengannya jadi menjatuhkan." Lewis yang sibuk dengan makanannya ikut berkomentar.


"Gak bisa gitu. Kurasa dia tidak bisa kurang dari A." Sifa meraih garpu dan menjejalkan banana split ke mulut.


"Kalau gitu kita ambil rata-rata. Hei, cowok!" Aurora menuding Lewis. "Menurutmu level Jimmi gimana?"


"S. Dia jago basket dan main game apapun. Itu keren!" jawab Lewis berapi-api.


"Jadi, Jimmi memang A plus." Aurora menyimpulkan.


"Woah, kalian membicarakanku, ya?" tanya Jimmi yang baru datang bersama dengan Opheria.


"Heh, kalian berdua dari mana?" Aurora berdiri dan menghampiri Jimmi.


"Am, mereka kelihatannya dekat," bisik Val.


Amy melihatnya, tangan putih bersih itu menggenggam tangan Jimmi dengan erat. Namun, Amy tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Memangnya dia siapa?


"Aku duluan, ya." Amy berdiri, diraihnya gelas jus terakhir lalu diminumnya habis.


"Mau kemana?" tanya Jimmi, berharap bukan kedatangannya yang membuat Amy pergi.


"Ke toilet. Mau ikut?" jawab Amy ketus. Ia mencoba menjadi dirinya yang biasa. Tanpa menunggu tanggapan dari Jimmi dan lainnya, Amy berlalu begitu saja.


Diam-diam, Amy melirik Opheria dan Jimmi dari kejauhan. Keduanya tampak bahagia dengan senyum ceria yang sering terlihat di wajah keduanya. Sama seperti dulu, ketika mereka masih pacaran. Bedanya, dulu Amy biasa saja melihat cowok itu dekat dengan gadis mana pun. Sekarang rasanya menyakitkan.


Hal-hal yang dulu biasa saja kini berubah. Banyak berubah. Dulu ia tak segan untuk berbicara tanpa sensor pada sahabat kakaknya itu. Mereka sering bertengkar tetapi kemudian berbaikan lagi dengan sendirinya. Amy sering melihat Jimmi dengan pacarnya yang berbeda-beda, tapi ia bahagia-bahagia saja ketika itu.

__ADS_1


Sejak makan malam itu, semua berubah. Bukan. Sejak Jimmi bilang menyukainya. Amy berharap kalau pernyataan itu benar adanya, seperti ketulusan yang ia lihat di mata cowok itu saat menyatakan perasaannya.


Di koridor kelas, Amy berhenti. Rasanya terlalu sesak. Ia harus menghirup udara dalam berkali-kali dan bersandar di tiang yang menopang bangunan kelas itu.


Mungkin seharusnya dulu ia mengatakan hal yang sama dengan yang Jimmi katakan padanya. Sekarang, sepertinya sudah terlambat. Opheria hadir lagi. Bisa saja Jimmi memang sangat menyukai Opheria hingga sekarang mereka balikan. Lagipula, Opheria adalah gadis cantik dan lemah lembut meski sedikit manja.


"Kau kenapa?"


Amy hampir melompat mendapati M telah berdiri di sisi kanan tiang. "Astaga! Kau mengagetkanku, Kak!"


"Kau melamun?“


"Bukan. Aku hanya ngantuk," bantah Amy sembari mengucek mata.


"Oh, pantas saja. Hari ini kau harus tidur lebih awal." M memaklumi keadaan adiknya. Semalam mereka memang tidur sangat larut.


Amy mengangguk kemudian bibirnya melengkung ke atas. "Eh, aku lupa! Hari ini ada latihan karate!“ Gadis itu menepuk dahinya keras.


"Kau, kan, bisa ijin dulu."


"Tidak bisa. Ini latihan pertamaku sejak tiga bulan lalu. Kalau bolos, bisa-bisa sensei memarahiku. Bahkan aku bisa tidak diperbolehkan ikut klub karate lagi."


"Wah, kalau begitu terserahmu saja. Jangan memaksakan diri." M perlahan melangkah menuju lapangan, bergabung dengan kawan-kawan lain yang telah meneriakinya beberapa kali.


Amy pun melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kelas. Sejak tadi dia memang tak berniat ke toilet. Itu hanyalah alasan untuk menjauh.


"Amy! Tunggu dulu. Bantu kami!“


Sebuah lengan menyambar Amy dan memaksa gadis itu bergerak ke arah kebalikan dari keinginannya.


"Ada apa, Zack?“


Zack terus menyeret Amy menuju ruang organisasi siswa. "Bantu kami. Libur tinggal beberapa hari lagi. Tolong bantu kami, ya?“


Amy menepis tangan Zack begitu mereka telah sampai di depan pintu. "Bantu apa?“


"Kami kekurangan orang untuk menjadi seksi akomodasi pergelaran seni sekolah. Kau sudah terbiasa dengan itu ketika menjadi manajer basket, kan?"


"Ya ... tapi ...."


Belum selesai ucapan Amy, seseorang menariknya ke dalam ruangan.


"Kami butuh bantuanmu, Am." Olie berbisik sembari menatap Amy serius.


Ketika Amy hendak mengeluarkan kata-kata lagi, matanya bertemu dengan sepasang mata yang menatapnya tajam dan memaksa Amy untuk duduk di kursi terdekat.


Bersambung...


-----------------------


*Hai, pembaca yang baik dan kece~


Author meminta dukungan kalian dengan tekan tombol hati dan like, ya ^^


Jangan lupa komen juga. Kritik dan saran sangat diterima di sini.

__ADS_1


Terima kasih semua* ^^


__ADS_2