He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Ice Cream


__ADS_3

Amy pulang dengan kaki cedera hari itu. Semua terjadi karena kecerobohannya yang melalaikan pemanasan sebelum latihan karate. Kali itu ia terjatuh setelah latih tanding bersama kakak tingkat karatenya.


"Kau kenapa?“ tanya M yang buru-buru menghampiri adiknya yang tengah Jimmi gendong di halaman.


"Hanya cedera ringan. Tidak perlu khawatir," ucap Amy.


"Kau benar tidak apa-apa?“


Jimmi menurunkan Amy di kursi dan meluruskan kaki gadis itu. Segera ia menyibak celana putih Amy dan melihat keadaan betisnya.


"Ya, aku baik saja, M. Ini paling hanya terkilir," kata Amy sambil melihat betisnya.


"Yang kutanyai Jimmi, bukan kau. Apa kau baik saja setelah menggendong Amy sejauh itu?“ tanya M.


"Ish... mengesalkan!“


"Marsh ...." Jimmi tahu kalau M sedang menggoda adiknya.


"Nah, kan, kalau dari dulu kalian jadian, tugasku lebih ringan. Lihat, seperti sekarang. Aku ga perlu menggendongmu dari sekolah karena ada pacarmu yang akan melakukannya." M memeriksa kaki adiknya dan mulai memencet-mencet perlahan hingga Amy berteriak pertanda di situlah letak kaki yang cedera. "Dia berat, kan?“ tanya M pada Jimmi.


"Lumayan," jawab Jimmi.


"Jimm!“ protes Amy.


"Seberat apapun akan kugendong kalau itu kau." Jimmi nyengir, membuat M mual mendengar gombalan murahannya. Yang digombali hanya memutar bola mata.


"Sepertinya gak parah," gumam M setelah memeriksa kaki Amy.


"Memang. Kan, tadi sudah kubilang," ujar Amy cepat.


"Terus kenapa digendong? Dipapah aja masih bisa jalan, kok, ini."


"Mmm ...." Amy tidak tahu harus mengatakan apa. Ia berusaha merangkai kata tetapi kamus di otaknya tiba-tiba kosong melompong.


"Yaaa, kau tahulah ... biar ada kenangan romantis," ucap Jimmi yang baru saja kembali dari mengambil kotak P3K.


"Wah, kalian pikir aku bakal iri dengan gaya pacaran kalian?“ M meletakkan tangannya di dahi. "Ck! Ngeselin."


Jimmi dan Amy menertawakan M. Rasanya menyenangkan berhasil membuat manusia bijak satu itu kesal.


"Am, temanmu datang," ujar M yang seketika menghentikan tawa Jimmi dan Amy.


"Hei, kakimu kenapa?“ Val langsung masuk begitu melihat betis Amy dibebat kasa.


"Tidak apa. Paling hanya cedera otot ringan." Amy menegakkan badannya dan bersandar di kursi. "Hai, Sif, Lew!“


"Sebenarnya kami datang untuk mengajakmu main, tapi kakimu malah cedera," ungkap Sifa dengan bibir mengerucut.


"Benar. Sayang sekali." Lewis menarik napas. "Val bilang mau traktir kita es krim di kedai yang baru buka dekat balai desa." Lewis menggeleng kecewa.


"Ah, maafkan aku," sesal Amy. Padahal ia juga ingin mencicipi es krim yang sedang terkenal itu. "Aku juga mau itu."


"Kalian mau es krim?“ Jimmi berdiri. "Tunggu di sini. Biar kubelikan." Cowok itu keluar dan berlalu tanpa berkata apapun lagi.


"Dia serius mau beli es krim?“ tanya Sifa tak percaya. "Gimana caranya?“


Amy mengangkat bahu. Ia juga tidak tahu bagaimana caranya nanti Jimmi membawa es krim ke rumahnya sebelum meleleh. Ditambah kalau cowok itu beli banyak. Pasti repot.


"Dia pasti balik dengan es krim. Kita tunggu saja," ucap M. "Kalian kenapa berdiri saja? Anggap rumah sendiri." M berlalu ke dapur.


"Pantesan, ya, betah di rumah. Kak Jimmi sering ke sini, sih!" ujar Val.


"Sejak dia SD dia memang sudah sering kemari," bela Amy.


"Kalau sudah pacaran mah dibela, ya," ujar Lewis dengan bibir ditekuk.

__ADS_1


Mereka berempat terus bercengkrama. Membahas hal-hal sepele yang bahkan orang lain tidak mau tahu. Tetapi keempatnya malah nyaman dengan pembahasan itu.


"Sejak awal semester kau jarang ngumpul lagi." Val meraih limun yang tadi M bawa dari dapur.


"Ah, maaf. Aku memang jadi keseringan belajar dan membaca."


"Bukan salahmu. Hanya saja kami tidak terbiasa dengan itu." Lewis mulai menyalakan play station di sudut ruangan.


"Kau benar-benar ingin masuk ke Universitas Cendekia?“ tanya Val.


Amy hanya mengangguk mantap.


"Kami bisa mengerti itu, Am. Kami akan selalu mendukungmu." Sifa menggeser duduknya, menghimpit Val yang berada di tengah dirinya dan Amy. "Apalagi kalau kakak dan pacarmu kuliah di sana. Aku mengerti, kok."


"Ya, tapi sebenarnya tidak seperti itu ...."


Suara raungan motor terdengar di halaman, membuat Amy menoleh dan menghentikan ucapannya. Matanya menangkap Jimmi turun dari motor dan menurunkan sebuah cooler box yang cukup besar dari jok belakang motor.


"Dia benar-benar bawa es krim," gumam Sifa.


"Nah, apa kubilang. Dia akan kembali dengan es krim!" seru M yang baru saja keluar dari kamar.


Lewis berlari meninggalkan game-nya dan membawa cooler box dari tangan Jimmi. "Yes, akhirnya es krim!" teriak Lewis ketika ia telah sampai di ruang depan dan membuka tutup cooler box.


"Ini punya Amy!" Jimmi menepis tangan Lewis yang hendak mengambil es krim sundae terbesar. Kemudian cowok itu juga mengambil dua kotak jus jambu merah yang ia ambil di toko ayahnya.


"Oh, iya. Orang spesial harus dapat yang spesial," ucap Lewis yang mafhum jika Jimmi bersikap seperti itu. Segera ia mengambil salah satu es krim dan menikmatinya di depan monitor yang menampilkan kekalahan.


"Ini untukmu," Jimmi menyodorkan es krim dan jus kesukaan Amy pada pacarnya itu.


"Thanks." Amy mengambil es krim dan meletakkan dua kotak jus di meja.


"Suapin lah!“ suara Val jahil melirik Amy dan Jimmi.


Namun, tanpa Amy duga Jimmi merebut gelas es krim dari tangan Amy kemudian membuka tutupnya.


"Kau mau apa?“ Amy melesakkan badannya ke sandaran kursi.


"Oooh, tutup mata, guys! Aku gak sanggup melihat adegan romantis ini!“ M menutup mata dengan kedua telapak tangan.


"Aku cuma mau ngerasain es krim ini, kok!“ Jimmi menyendok es krim dan memakannya. Kemudian ia memberikan kembali es krim itu pada Amy. "Kenapa? Kau mau kusuapi?“


"Enggak!“ Amy memasukkan es krim ke dalam mulut berkali-kali dengan sedikit kesal.


"Apa benar mereka pacaran?“ bisik Sifa di telinga Val.


***********


Hari itu Mrs. Larry tampak sedikit mengerutkan kening mendengar kabar dari beberapa murid yang tengah berghibah di lorong-lorong kelas. Ia menarik napas panjang kemudian duduk di kursinya.


"Kalian pacaran?“ Mrs. Larry mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam Amy dan Jimmi yang telah duduk di hadapannya.


Amy dan Jimmi berpandangan. Kemudian seperti telah berdiskusi dalam tatapan mata sekian detik itu, mereka kompak menjawab. "Tidak!“


"Kuharap begitu. Kau ingat janjimu, Jimm?“ Mrs. Larry membuka kacamatanya, memijat kening dan menatap anaknya dengan mata melebar.


"Ya, Bu. Aku tidak ... akan ...." Jimmi melirik Amy, meminta maaf pada gadis itu. "... pacaran sebelum lulus SMA."


"Bagus kalau kamu ingat. Nah, kemudian kita akan membahas ...."


Suara ketukan pintu memotong kata-kata Mrs. Larry. Wanita itu mempersilakan masuk seseorang yang tak lain adalah M.


"Marsh ... kau datang di saat yang tepat." Mrs. Larry berdiri kemudian bergerak ke samping Amy. "Geser kursi itu kemari dan duduklah!" perintahnya pada M.


M melakukan apa yang diperintahkan Mrs. Larry. Ia mengambil salah satu kursi kayu yang merapat di dinding ke samping adiknya kemudian duduk. Mra. Larry pun duduk kembali.

__ADS_1


"Mungkin ayah kalian sudah membahas ini. Selama Marsh kuliah di Universitas Cendekia nanti, kamu akan tinggal di rumah kami, Amy."


Ah, ya. Amy melupakan hal itu. Ia terlalu sibuk belajar dan latihan karate demi ganti sabuk.


"Harusnya aku bahas ini di rumah, tapi beberapa hari ke depan akan ada pertemuan di luar kota." Mrs. Larry memijat kembali dahinya. "Maafkan aku. Kita bicara informal saja," katanya kemudian berdeham. "M dan Jimmi akan berangkat sekitar tiga bulan lagi. Minggu depan mereka ujian. Tapi aku harus bilang ini pada kalian bertiga."


Beberapa detik berlalu dengan pertanyaan-pertanyaan berkelebat di pikiran ketiga remaja yang duduk sejajar itu.


"Amy, nanti kau tempati kamar Jimmi."


"Ha? Yang bener saja, Bu! Ada dua kamar kosong di rumah," protes Jimmi.


"Aku juga gak mau nempatin kamarnya, Bi!“ tambah Amy.


"Harus mau. Kamar Jimmi pindah ke bawah."


"Kenapa harus pindah?“ tanya Jimmi cemberut.


"Karena kamarmu paling dekat dengan kamar Ibu. Amy itu anak gadis. Harus dijaga ketat. Kalau ibu lengah, mau bilang apa pada paman Jerome? Lagipula, kau akan lebih jarang lagi ada di rumah."


"Baik. Aku mengerti." Jimmi mengangguk.


"Selain itu, soal kuliah kalian ... kami sudah memutuskan kalian akan tinggal di kosan, bukan asrama sekolah." Mrs. Larry menatap M dan Jimmi bergantian.


"Bi, tidak bisakah aku tinggal dirumah saja?“ tanya Amy. Rasanya akan canggung jika dia tinggal di rumah Larry.


"Tidak!“ Bukan hanya Mrs. Larry yang bersuara, M dan Jimmi pun kompak menolak. Amy mengembuskan napas kasar dan mengerucutkan bibir.


"Lihat ... bukan hanya mereka yang khawatir. Ayahmu juga sangat khawatir. Ibumu juga khawatir ...."


Perkataan Mrs. Larry membuat M dan Amy menatap ibu dari Jimmi itu dengan tatapan bingung dan penasaran.


"Kalau Anne masih hidup," lanjut Mrs. Larry. Wanita itu memejamkan mata sejenak. "Amy, jika kau gak mau membuat kakak dan ayahmu khawatir, jangan tolak keputusan kami. Lagipula, Anne adalah sepupuku. Aku tak bisa membiarkanmu hidup sendirian. Paman Paul juga senang kau akan tinggal di rumah kami. Dia sangat ingin anak perempuan. Kalian tahu, kan?“


Baik Amy, Jimmi dan M sudah mengetahui hal itu. Paul bahkan pernah berkelakar pada Jerome untuk menukar Jimmi dengan Amy. Yang tentu saja ditolak keras oleh Jerome.


"Kau ga perlu khawatir. Lagipula nanti hanya ada aku dan kau. Fohn dan Jimmi kuliah di luar kota. Ayah mereka juga sibuk dengan pekerjaannya di luar kota juga."


"Baik, Bibi Magda. Aku tidak akan protes lagi."


"Baiklah. Kalian boleh kembali," ucap Mrs. Larry seraya mengenakan kembali kacamatanya. "Oh, tunggu Amy, Jimmi!" Mrs. Larry mengambil dua buah kartu dari laci. "Ini denda perpustakaan. Kalian telah mencoret buku perpus, kan? Lain kali seperti itu lagi, kartu perpustakaan kalian akan dicabut!" ancam Mrs. Larry.


Amy mengambil kartu dengan sedikit takut sementara Jimmi malah dengan santai tersenyum pada ibunya.


"Jangan pacaran di perpus!" ucap Mrs. Larry penuh penekanan ketika Amy dan Jimmi membalik badan. Digetoknya kepala dua murid itu dengan buku yang ada di mejanya. Mereka langsung berlari menjauhi ruang konseling demi menghindari amarah Mrs. Larry. Sebenarnya wanita itu tahu apa yang terjadi. Namun, ia juga tidak bisa menolak atau mengubahnya.


Bersambung...


______________


*Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua pada He Is Not My Brother ^^


Semoga kalian sehat selalu*...


Find me on:


Ig: @its_revka


Fb: Hi Gaez Itz Revka


Wp: @Revka09


Storial: @Revka09


Kritik dan saran kalian akan selalu author tunggu, lho...

__ADS_1


__ADS_2