He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
The Way's Future


__ADS_3

Seperti yang telah Jerome katakan, malam itu seluruh desa gelap gulita karena listrik padam. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengamati bintang-bintang. Langit terlihat berkilauan tanpa awan menghalangi.


"Wah, it's amazing!“ Amy menengadah melihat titik-titik cahaya bermunculan setelah matanya beradaptasi dengan kegelapan. "Aku gak tahu kalau bisa terlihat sebanyak ini dengan mata telanjang."


"Tentu bisa. Kita hanya perlu menemukan tempat gelap. Ah, kau tak pernah mau kuajak berkemah bersama para pecinta alam, sih." M berkata sambil memasang sebuah kamera pada tripod. "Di gunung, kita bisa melihat pemandangan ini. Jika cuaca cerah pastinya."


"Dimana Milky way?"


M menunjuk sebuah rasi bintang. "Di sana. Kau tahu itu apa?"


"Antares?" tebak Amy. Ia tahu karena M menunjuk rasi bintang berlogo kalajengking. Dan bintang paling terang di gugus itu dikenal dengan Antares.


"Ya. Lihat ekor kalajengking itu? Bagian Bimasakti ada di sana."


"Oh, kabut itu?“


M mengangguk dan tersenyum. Ia kembali sibuk mengatur posisi kameranya. "Mau kufoto bersama Bimasakti?“


Mata Amy berkilat di kegelapan."Ya! Tentu saja!“


"Baiklah, berdiri di sana!“ perintah M. Ia menunjuk sebuah tempat. "Tunggu! Ini, pakai ini." M menyerahkan sebuah senter pada Amy.


"Untuk apa?“ Amy menaikkan bahu. Wajahnya terlihat kebingungan di dalam cahaya api unggun yang berhasil Jerome nyalakan.


"Nyalakan, kemudian arahkan ke salah satu bintang. Seperti Antares. Kau harus menahan posisimu selama 32 detik. Oke?"



"Baiklah." Amy menuruti instruksi M. Dinyalakannya senter kemudian ia tidak bergerak. Amy tidak menghitung detik. Rasanya ia tak ingin menggoyangkan lutut. "Apa sudah selesai?“


"Tahan. Sepuluh detik lagi."


Amy mengembuskan napas. Sepuluh detik terasa begitu lama. Ia bahkan mulai merasakan pegal di leher karena harus menahan posisi kepalanya yang mendongak. Ia menyesal kenapa tadi tidak menunduk saja atau menatap lurus ke depan.


"Yep. Sudah selesai." M meraih kamera dan melihat hasilnya. "Nanti kuedit," katanya dengan wajah berbinar dan senyum terkembang.


"Kau sungguh menyukainya?" tanya Amy yang kini ikut melihat layar kamera di samping M.


"Menyukai apa?" tanya M tanpa menoleh meski ia tahu adiknya kini tepat di sampingnya.


"Benda-benda langit itu."


M menoleh ke arah Amy dan berkata dengan yakin, "Ya. Mereka bersinar dan penuh misteri."


Amy melihatnya di wajah kakaknya. Keinginan dan ketertarikan yang kuat. Wajah M bahkan sangat sumringah. Wajah paling bersinar yang pernah Amy lihat dari kakaknya.

__ADS_1


"Kau harus masuk jurusan astronomi, M."


"Eh?" M menatap adiknya. "Tidak ada jurusan itu di sini."


"Di Universitas Cendekia ada," bantah Amy.


"Itu ... terlalu jauh."


"Tidak sejauh bintang-bintang itu, kan?" Amy tersenyum. "Apa kau tidak mau lebih dekat dengan mereka?“ Dilihatnya langit yang penuh kerlip.


M tidak bisa berkata-kata. Bibirnya kaku. Ia tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya. Bahwa ia tak ingin membiarkan Amy tinggal sendirian.


"Ayolah, kenapa kakakku diam saja?"


"Dia tidak mau meninggalkanmu, Am." Jerome menghampiri kedua anaknya.


"Yang benar saja. Memangnya aku anak kecil? Aku sudah dewasa, M!“


"Nah, dengarkan adikmu, Marsh." Jerome mengelus bahu anak lelakinya.


"Lagipula, aku juga punya rencana masa depanku sendiri."


Jerome dan M kompak menoleh heran pada Amy. Mereka tidak menyangka kata-kata seperti itu akan keluar dari gadis berambut cepak di hadapan mereka. Selama ini Amy adalah sosok yang spontan dan tidak pernah membicarakan mau jadi apa kelak. Amy hanya selalu bilang ingin menjadi diri sendiri.


"Rencana--masa depan?“ M menaikkan alis. "Seperti ... menikahi sahabat kakaknya dan punya dua anak lucu?“


"Hm, apa rencana putri ayah?“


"Aku akan belajar dengan keras dan masuk Universitas Cendekia juga!“


Jerome dan M saling pandang. Tidak percaya dengan pendengarannya masing-masing.


"Aku mau jadi seorang kriminolog!“ seru Amy percaya diri.


M ternganga, begitu pula sang ayah. Kriminolog? Yang benar saja! Mereka jelas-jelas tersentak dengan pernyataan Amy.


"Kenapa harus kriminolog?" tanya Jerome yang sebenarnya kurang mengetahui apa yang bisa seorang kriminolog lakukan. "Jurusan lain masih banyak. Kau bisa jadi arsitek, dokter, bahkan seorang ahli bahasa."


"Tidak. Aku mau memahami kehidupan sosial dan alasan orang berbuat jahat. Lagipula, banyak tantangan di jurusan kriminologi. Aku mau berurusan dengan itu."


"Apa kau yakin?“ M menatap dalam mata Amy. Adiknya itu mengangguk mantap tanpa berkedip. "Ayah, dia benar-benar sudah dewasa!" pekik M.


Jerome menarik napas panjang, "Mungkin itu memang sesuai dengan sifatmu. Jauh dari kata feminin." Jerome mengangkat bahu.


"Keren, kan? Aku bisa bekerja sebagai bagian dari tim forensik atau jadi jurnalis." Amy membusungkan dada. Sebenarnya ia memutuskan ingin menjadi kriminolog setelah ia berbicara dengan Iren di sekolah tempo hari. Setelah mendengar permintaan maaf tulus dan alasan Iren melakukan hal buruk padanya, Amy jadi mengerti dan memaklumi Iren. Pandangannya pada Iren berubah, berbanding terbalik dengan pandangan orang-orang yang tidak tahu apapun selain kejadian di toilet sekolah itu.

__ADS_1


Sejak itu Amy selalu berpikir bahwa setiap kejahatan memiliki sisi kebenaran yang hanya dapat dilihat dari sisi si pelaku. Dan ia mulai tertarik pada pemikiran orang-orang serta kemungkinan reaksi mereka tentang satu hal.


"Kau yakin--kalau ... nilaimu akan bagus sampai akhir?" M kembali membidik langit.


"Aku akan berusaha!“


"Kalau begitu, selamat berjuang!“


Amy mengangguk dengan penuh semangat dan senyuman lebar. Ia akan berusaha lebih dan lebih lagi.


"Lihat! Sepertinya itu pecahan meteor!" seru Jerome menunjuk beberapa cahaya yang bergerak di gugus orion.


"Ah, benar! Lihat itu!" M mengarahkan kameranya ke arah meteor dan berharap kameranya bisa menangkap momen itu.


Amy memandangi benda angkasa yang terbakar di atmosfer itu dengan takjub. Diam-diam ia berdoa dalam hati agar keinginannya terkabul.


Jerome merangkul bahu kedua anaknya, "Kalian harus ingat ini... keluarga Way selalu menemukan jalan hidup masing-masing."


******


Matahari telah terbit dan Amy berjalan dengan gontai ke sekolah. M telah berangkat lebih dulu hingga sekarang ia berangkat sendirian. Wajah Amy terlihat suntuk. Semalam ia tidur lewat tengah malam. Setelah melihat meteor, ia bersama kakak dan ayahnya mengobrol tentang banyak hal.


Amy menguap. Matanya hampir terpejam ketika berjalan melewati tiang lampu jalanan di trotoar. Ia mengerjap-ngerjapkan mata kemudian meraih sesuatu di saku luar tasnya. Sebuah tumbler berisi infus water. Amy meminumnya sedikit dan mengeluarkan potongan lemon di dalamnya. Setelahnya ia mengernyit karena potongan lemon itu dikunyah dan ditelannya.


Mata Amy kini terbuka sempurna. Segera ia menyimpan sisa potongan lemon yang ada di tumbler kembali ke tas. Dengan mata yang telah kembali segar, ia melanjutkan langkahnya ke sekolah.


Akan tetapi, langkah Amy melambat demi melihat dua orang yang tengah asik bercanda di depan sana. Itu Jimmi, bersama dengan Opheria. Mereka tampak sangat akrab. Keduanya tertawa gembira. Jimmi bahkan merangkul bahu Opheria.


"Mereka ... balikan?“


Kening Amy berkerut. Angin kencang berembus di dadanya. Kepalanya reflek berpaling. Amy mengatur napas, menghirup udara dalam dan mengeluarkannya. Ia tidak mengerti kenapa ada rasa sesak mampir di dadanya.


Amy menatap langit yang biru, berharap matanya bisa terlepas dari panas yang menyerang tiba-tiba. Ia menghentikan langkahnya. Kemudian menggerak-gerakkan kaki dan tangannya secara random.


"Kenapa Amy? Itu bukan apa-apa. Ayo ... tenang," ucap gadis itu pada dirinya sendiri. Ia mengembuskan napas panjang berkali-kali.


"Arggghhh!!! Persetan dengan mereka!“ Amy berlari sangat kencang. Melewati Jimmi dan Opheria yang terheran-heran dengan kecepatan larinya.


Bersambung...


***********


*Halo reader yang budiman,


Authir ingin mengingatkan bulan depan Lemon Love bakal ganti jadi **He is (not) My Brother. ^^

__ADS_1


Jangan lupa, ya!


Add to favorite dengan menekan tombol hati untuk menjadi yang pertama baca update-an cerita ini***.


__ADS_2