
"Kau dapat undangannya, kan?" tanya Val pada Amy.
Mereka duduk di bangku taman sekolah. Amy terlihat bahagia. Val menebak sudah tentu Amy di undang ke pesta ulang tahun Olie.
"Yup! Kau tahu dia bilang apa, Val?" tanya Amy.
"Apa?"
"Dia bilang begini, ehm ... Am, kau tamu spesial jadi kau harus datang."
"Benarkah?" Val tidak yakin dengan apa yang Amy katakan. Sahabatnya itu sangat amatiran jika soal cowok.
"Tentu saja. Apa ini pertanda Olie suka padaku?"
"Mungkin. Satu hal yang pasti, Amy. Kau harus tampil cantik di pesta itu. Tinggalkan kemeja dan celana. Kau harus memakai sesuatu yang lebih girly, kau tahu maksudku?"
Amy berpikir sejenak. Girly? Ia membayangkan rok, renda, pita, pink, bando dan make up. Make up? Dia paling benci dengan berbagai serbuk dan krim warna-warni yang dioleskan ke bagian wajahnya.
"Kau seius, Val? Aku harus memakai renda dan make up?"
"Well ... gak harus berubah total, sih. Setidaknya kau harus pakai rok dan sedikit make up."
Hanya sehari setelah pembicaraannya dengan Val, Amy mulai mengacak-acak lemarinya. Ia hanya menemukan empat rok. Tiga di antaranya adalah rok sekolah.
"Cuma ini ...?" tanyanya pada diri sendiri.
Amy memandang rok kotak-kotak yang kini ia pegang. Kombinasi garis hitam, merah dan dasarnya yang putih menggambarkan kesederhanaan. Begitu simpel. Lipitannya berpangkal di bawah pinggul, sementara ke arah pinggang rok itu ketat. Panjangnya hanya selutut.
Rok itu dibeli tahun lalu saat ia, M dan ayahnya yang sedang libur pergi ke sebuah mall yang besar. Amy melihat sebuah patung yang memakai rok itu. Begitu cantik. Patung itu memakai atasan kaos yang dibalut kardigan merah. Tapi saat itu Amy hanya tertarik dengan roknya saja. Ayah membelikannya dengan senang hati. Tetapi Amy malah hanya memajangnya di lemari tanpa memakainya sampai-sampai ia lupa dengan rok itu.
Amy berjalan menuju kaca dan melihat dirinya yang sudah mengenakan rok itu.
"Tidak buruk," celetuk M dari balik pintu. Ia masuk tanpa dipersilakan lalu duduk di kasur dengan segelas limun di tangan. "Sesekali memang harus pakai rok. Jangan hanya ke sekolah."
"Aku akan memakainya di pesta ultah Olie."
"Kau suka dia, ya?"
"Sepertinya begitu."
"Serius?"
"Aku rasa begitu."
"Kurasa? Kau tak yakin dengan perasaanmu?"
"Aku gak tahu, M. Aku kan belum pernah jatuh hati."
M tersedak minumannya. Kata-kata Amy barusan mengingatkannya pada seseorang yang juga menggunakan istilah 'jatuh hati'.
"Kau kenapa? Hati-hati kalau minum."
"Tidak apa-apa. Semoga kau beruntung."
M beranjak dari kasur lalu pergi menjauh. Ia melangkah ke luar rumah, menuju sebuah sungai kecil yang letaknya hanya sekitar tiga ratus meter dari rumah. Sungai itu airnya jernih dan dangkal. Hanya sebatas lutut orang dewasa. Beberapa bagian memang cukup dalam, tapi tak sampai satu setengah meter. Banyak batu bertaburan di sungai. Dari yang kecil hingga besar sampai seorang dewasa bisa tidur di atas batu itu.
Dari jauh M melihat seseorang sedang duduk di salah satu batu di tengah sungai. Ia mengenali sosok itu. Sangat.
"Sedang apa, Jimm?" M berteriak dan mulai melompati batu ke batu untuk sampai di tengah sungai.
"Sebenarnya aku mau mandi. Tapi aku mengurungkan niatku. Kau sendiri?"
"Aku hanya butuh ketenangan."
Jimmi mengambil beberapa batu kecil di sekitarnya lalu melemparkan batu itu ke bagian sungai yang cukup dalam. Air terpercik ke udara saat batu itu menghantam permukaan sungai.
M menatap wajah sahabatnya. "Jimm ...."
"Ya."
"Apa aku boleh tahu siapa cewek yang berhasil mengambil hatimu?"
Jimmi berhenti melempar batu. Ia ragu-ragu dan menimbang-nimbang akan mengatakan apa pada M.
"Kau mau tahu?"
"Kalau boleh. Aku tidak memaksa."
"Kau akan tahu pada saatnya, M." Jimmi berpaling pada M dan tersenyum. "Kudengar Weni akan datang ke pesta Olie. Sepertinya ini momen yang tepat untukmu."
__ADS_1
M tersenyum. Ia tahu Jimmi sedang mengalihkan pembicaraan. Tapi ia tidak mau memaksa Jimmi soal gadisnya. Ia menarik napas dalam.
"Kukira juga begitu, Jimm."
"Selamat berjuang!"
M tertawa. Ia sudah menceritakan Weni pada Jimmi. Teman sekelas yang berhasil memikat M. Jimmi bilang Weni korban ke dua puluh M. Saat itu M hanya tertawa. Tidak ada yang tidak M ceritakan begitu pula Jimmi. Kecuali gadis yang sekarang Jimmi suka. Jimmi tidak banyak menceritakannya pada M. Bahkan namanya pun M gak tahu. Biarpun begitu M tetap mengharhagai privasi sahabatnya itu.
***********
M sudah berdiri mengenakan kemeja putih dan celana jin hitam di depan pintu. Ia menunggu Amy yang masih dandan di kamarnya. M melihat jam tangannya. Masih ada waktu, tapi mungkin akan sedikit terlambat jika Amy masih belum selesai dalam sepuluh menit.
"Amy! Kita akan telat!"
Tak lama Amy keluar. M memperhatikan adiknya dari kepala sampai kaki. Amy memakai rok yang tempo hari dilihatnya. Amy juga memakai kaos putih ketat yang ditutupi kardigan jins biru yang lengannya digulung sesiku. Dilehernya juga teruntai dua kalung. Berwarna jingga cerah dan kalung satunya menjuntai di perut dengan bandul beberapa batu pink kalem. Amy juga memakai flat shoes berwarna hitam.
"Nice ... ayo!" ajak M menuju jalan desa.
"Apa kita akan naik ini?" tanya Ami. Ia memperhatikan sebuah motor besar yang terparkir dipinggir jalan. Amy kenal benar ini motor siapa. Motor yang serupa bentuknya dengan milik Valentino Rossi si pembalap terkenal. Amy pernah naik motor ini bersama si empunya motor. Motor itu memaksanya untuk berpegangan erat pada orang yang mengendarainya.
"Ya, Jimm bilang aku boleh pakai ini. Ia pakai punya kakaknya."
Amy tidak yakin dengan apa yang dilakukannya saat naik ke atas kendaraan roda dua itu. Beberapa saat kemudian ia sudah memeluk M kencang.
.
Amy sedikit bengong saat memasuki halaman rumah Olie yang sangat luas. Rumahnya juga besar dan bagus. Ia melihat berbagai hiasan di taman. Meja-meja diatur sedemikian rupa dengan kursinya yang menghadap satu meja yang dihiasi taplak meja biru cerah dan kue ulang tahun yang sangat tinggi. Amy segera bergabung dengan teman-teman sekolahnya. Mereka bercanda dan tertawa.
"Amy! Aku tak percaya kau pakai make up." Zack tiba-tiba muncul dengan Lewis dan Olie.
Amy hanya tersipu malu melihat Olie yang begitu tampan dengan kemeja cokelat dan celana putih. Mereka memberi selamat pada Olie satu per satu. Tak terkecuali Amy.
"Nikmati pestanya teman-teman." Olie pun berlalu dari hadapan mereka.
Amy mengembuskan napas panjang.
"Amy ... harusnya kau lebih feminin. Kardiganmu itu ...." Val menarik Amy ke sisi taman.
"Apa? Aku tak punya ide." Amy memajukan bibirnya.
"Kau lihat tadi, Olie bersikap biasa saja padamu."
Val memegang dahinya. Sejujurnya ia ingin Amy terlihat bagai putri agar Olie memperhatikan sahabatnya itu.
"Kau tahu toiletnya dimana? Antar aku, Am. Aku mau pipis," bisik Val pada Amy. Ia segera beranjak dan menarik lengan Amy.
Amy mengekor Val yang mulai berjalan menuju seorang yang membawa nampan berisi kue. Ia menanyakan dimana kamar kecil. Begitu kembali tangannya langsung menarik Amy untuk mengikutinya.
"Kamar mandi ada di dalam. Apa kau mau ikut masuk?" tanya Val saat mereka sudah berada di serambi rumah megah Olie.
"Aku di sini saja, Val."
Amy melihat-lihat sekeliling. Rumah ini benar-benar seperti istana saja. Beberapa lampu mewah di dalam rumah itu terlihat dari luar sini. Perabotannya lengkap dan serba mewah. Amy melirik tanaman yang berjejer sepanjang serambi. Macam-macam bunga ditanam. Mawar, dahlia, melati, anggrek dan masih ada yang lain. Di ujung sana, Amy melihat bunga bougenville. Amy bergerak mendekati bunga kertas berwarna ungu itu. Batangnya sudah setinggi dua meter. Cabangnya menjuntai ke bawah karena beban bunga dan daun yang dibawanya. Bunganya berjatuhan ke rumput yang melapisi tanah.
Tiba-tiba saja Amy melihat pemandangan mengerikan di hadaannya. Ia melihat Olie sedang berciuman dengan seorang cewek.
Deg!
Amy memalingkan wajahnya. Namun ia masih penasaran. Ia menoleh sekali lagi. Setelah memastikan itu adalah benar Olie, Amy berlari dari sana. Dadanya sesak. Terasa ada sebuah anak panah yang menusuk jantungnya dan beribu jarum suntik menyedot darahnya. Matanya mulai terasa panas. Ia melewati tempat tadi Val masuk. Ia menoleh tapi kemudian terus berlari menuju sisi lain rumah itu. Ia tak ingin Val melihatnya menangis.
Setelah yakin tak ada orang, Amy mulai berhenti, kemudian ia terduduk di atas rumput. Perlahan ia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut. Ia ingin seperti itu dulu sejenak, meluapkan kekecewaan dan sakit hatinya hingga puas.
Meskipun baru beberapa bulan saja mengenal Olie, tapi Amy telah berharap terlalu banyak. Ia terlalu larut dalam rasa suka dan kebaikan cowok itu hingga tidak bisa melihat kenyataan. Kenyataan bahwa sesungguhnya Olie memperlakukan semua orang sama baiknya.
Bruggh!
Seseorang menabrak Amy tiba-tiba. Amy meringis menahan beban orang yang menindihnya.
"Maaf, tapi sebaiknya kita segera lari!"
Amy mengenal suara itu. Suara Jimmi. Cowok itu bangkit lalu meraih tangan Amy dan membantunya berdiri.
"Kau ...!"
Guk ... guk ...
Suara gonggongan anji*ng terdengar. Lalu tak lama seekor anji*ng hitam besar tengah berlari ke arah mereka. Jimmi menarik Amy lalu berlari. Amy reflek berlari juga begitu melihat anji*ng yang menyeramkan itu menampakkan gigi-gigi tajamnya.
Mereka terus berlari menjauhi sang anji*ng yang tampak bersemangat untuk menangkap keduanya. Rupanya anji*ng itu berlari sangat cepat. Sekejap saja jarak mereka dengan si anji*ng hanya kurang dari tiga meter.
__ADS_1
"Ya, Tuhan, selamatkan kami!" Amy bergumam.
Jimmi dan Amy terus berlari melewati para tamu Olie dan beberapa kali menabrak kursi. Orang-orang terkejut dengan kehadiran anji*ng hitam itu. Suasana pesta jadi kacau. Para anak perempuan menjerit sementara anak lelaki di sana hanya menonton.
"Hentikan, Brandon!"
Anji*ng itu seketika berhenti berlari dan menghampiri suara itu. Olie mengelus-elus anji*ng hitam yang bernama Brandon itu lalu membawanya ke dalam rumah, menjauhkan pestanya dari kekacauan.
Sementara itu Amy dan Jimmi masih berlari. Mereka kira anji*ng itu masih berlari ke arah mereka. Sampai akhirnya Amy begitu lelah dan ia menghentikan langkahnya.
"Dia sudah tidak ada, Jimm ...." napasnya masih belum teratur.
Jimmi berhenti dan menoleh ke belakang. Ia terengah-engah dan berusaha menormalkan lagi napasnya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan pada anji*ng itu, sih?" tanya Amy berkacak pinggang.
Jimmi diam dan terus bernapas. Ia melihat Amy, lalu duduk di sampingnya. Ia melihat mata Amy yang sedikit sembab. Tapi ia yakin bukan karena dikejar-kejar anjing tadi. Bukankah ia menabrak seseorang yang sedang jongkok?
"Aku tidak sengaja menginjak ekornya."
"Dasar ceroboh!" Amy membentak Jimmi.
"Maaf ... aku gak tahu ada orang jongkok yang menangis."
Amy sedikit terperanjat dan merasa terpergok tengah mencuri jawaban ulangan, "Siapa yang menangis?"
"Memang mata siapa yang sembab?"
Amy terdiam. Ia teringat kembali kejadiaan di balik bunga kertas barusan. Dan ribuan jarum itu terasa semakin menusuk-nusuk pembuluh darahnya. Matanya kembali panas tapi tentu saja ia tak mau menangis di depan Jimmi.
"Kau lihat, M? Aku mau pulang."
"Dia bersama Weni. Kau harus menunggu mereka selesai ngobrol."
"Apa? Tidak mau. Dimana mereka?"
"Jangan mengganggu mereka, Amy. Ini hari yang M tunggu-tunggu."
"Maksudmu?"
"Hari ini M akan menyatakan cintanya. Masa kau tidak tahu?"
Amy melirik Jimmi. Benarkah? Lalu aku harus apa? Aku tak mau lagi berada di tempat ini.
Semua hal di sini membuat Amy sakit. Setidaknya ia ingin menjauh dari kediaman Olie dan hal-hal yang mengingatkannya pada cowok itu.
"Kau tidak suka pesta ini?" tanya Jimmi.
Amy hanya menggeleng.
"Bisa kau antar aku pulang?" kata-kata itu keluar dari mulut kecil Amy. Sedetik kemudian Amy tersadar dan menyesali ucapannya tadi. Ia teringat peristiwa malam ketika ia pulang menyaksikan pertunjukan band.
"Ayo!" Jimmi sudah berdiri dan mengulurkan tangannya.
Amy menyambut tangan itu dengan ragu-ragu. Mereka menuju parkiran.
"Jimmi, kau mau kemana?" tanya seorang gadis yang memakai blouse pink dan rok mini putih. Ia muncul begitu saja entah darimana.
"Maaf, Jane. Aku gak jadi mengantarmu pulang."
"Tapi, Jimm, kau sudah bilang akan mengantarku."
"Maaf, malam ini gak bisa. Aku ada urusan penting."
Gadis yang memakai rok mini itu menatap tajam pada Amy. Amy melihat tatapan tidak suka itu sekilas karena Jimmi menarik lengannya dan membawanya menjauh dari sana.
Bersambung...
---------
Halo...
Semoga kalian sehat selalu. Terima kasih banyak sudah membaca Lemon Love.
Kalau kalian ingin mendukung author, tinggal klik tombol like dan silakan tulis apapun pendapat kalian tentang cerita ini. Trim's <3
Cerita ini akan up 2x seminggu.
Mohon dukungan kalian~
__ADS_1