
Setelah Jane pergi, Jimmi menarik tangan Amy menuju halaman belakang rumah Olie tempat semua kendaraan tamu diparkir.
Mereka berdua berhenti di samping sebuah kendaraan roda dua. Hampir sama seperti kepunyaan Jimmi, hanya saja motor ini bernuansa merah-hitam dengan warna merah mendominasi seluruh bagian motor.
"Mmm ... Jimm, aku rasa ... kau tak perlu mengantarku."
Jimmi menoleh pada Amy. Ia menatap Amy. Menunggu kelanjutan kata-kata yang akan keluar dari gadis di hadapannya itu.
"Maaf," Amy menunduk. Ia menggerak-gerakkan pelan telapak kakinya.
"Kau kenapa, sih?"
"Kau ... emh, kau kan harus mengantar cewek tadi!" Amy meninggikan sedikit nada suaranya.
"Aku tidak mau! Kau mau pulang, kan?"
"Tapi kau sudah bilang lebih dulu padanya. Lagipula ... kalau aku tahu kau akan mengantarnya pulang, aku tak akan memintamu mengantarku."
Jimmi diam, masih menatap wajah Amy. Amy mengangkat kepalanya dan menghindari pandangan Jimmi.
"Aku pulang dengan M saja nanti," ucap Amy pelan.
"Kau sedang main-main, ya?" Jimmi menangkap wajah Amy dengan kedua tangannya lalu memposisikan wajah Amy lurus di depan wajahnya. Wajahnya perlahan mendekati wajah Amy.
Amy gugup. Ia tak tahu apa yang harus dia lakukan. Mungkinkah Jimmi akan melakukan sesuatu? Amy memejamkan mata. Hatinya rusuh. Ia mencoba menarik kepalanya namun sia-sia karena tangan Jimmi memegang pipinya erat.
"Jimm ...."
"Ya."
"Lepaskan aku. Aku akan menunggu M."
__ADS_1
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Aku akan berteriak."
Jimmi melepaskan tangannya dari wajah Amy. Tangannya beralih ke jok motor. Ia mengetuk-ngetukkan tangannya di motor.
"Kembalilah dan tepati janjimu, Jimm ...."
"Aku tidak mengerti. Kau kenapa sih? Menstruasi?"
"Kau takkan tahu perasaan wanita, Jimm. Kau tak akan pernah tahu rasanya jika melihat orang yang kau suka sedang bersama orang lain. Kau tahu ...." Mata Amy mulai memanas. Matanya berkaca-kaca. Ia menundukkan wajahnya lagi. "Kau tahu? Rasanya sakit sekali."
Amy menarik napas dan berusaha mengendalikan emosi dan air matanya. Namun setetes air mata jatuh membasahi sepatu Jimmi.
"Kau ...," Jimmi mendongakkan wajah Amy. Ia melihat butiran air mata menuruni pipinya. Lalu diraihnya tubuh Amy ke dalam pelukannya, "Kau patah hati?" tanya Jimmi persis di depan telinga Amy.
Amy membiarkan Jimmi memeluknya. Rasanya seperti pelukan M. Hangat, nyaman dan menentramkan. Kini ia tak lagi bisa menahan air mata yang kini keluar begitu deras. Ia ingin memeluk M saat ini. Tapi itu tak mungkin. M sedang bahagia dan Amy tak mau merusak kebahagiaan kakaknya.
"Tidak. Kau membutuhkan seseorang."
"Tapi dia, gadis itu ...."
"Ayolah Amy, gadis itu tidak penting. Kau tahu? Aku tidak menyukainya."
Amy mengusap air mata dengan tangannya, bukan dengan punggung tangan. "Kau jahat ...! Harusnya kau tak memberinya harapan jika kau tak menyukainya. Apa lelaki semua seperti itu?"
Jimmi hanya terdiam. Dia menarik napas panjang.
"Ku antar kau pulang."
"Tidak."
__ADS_1
"Ya sudah. Terserah! Kau pulang bersamaku atau tidak, aku akan tetap pulang." Jimmi menaiki motornya. Tanpa menoleh ia menstater kendaraan roda dua itu.
"Tunggu!" ucap Amy. Ia menatap Jimmi. Setelah dipikir lagi, ia tidak mau berlama-lama di tempat ini.
"Apa lagi?"
"A-aku ... ikut pulang saja."
Jimmi mengulurkan tangan, membantu Amy naik di belakang motornya.
"Jimm ...."
"Huh?"
"Jangan beri tahu M."
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan."
"Ya sudah, kalau itu maumu."
Motor pun melaju meninggalkan rumah Olie yang megah. Sepanjang perjalanan, Jimm dan Amy tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Bersambung...
----------------
*Maafkan karena chapter ini singkat banget m(__)m
Jangan khawatir karena author akan memperpanjang chapter berikutnya.
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti buat author newbi ini. Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah membaca Lemon Love ini. <3*