He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Tiga Bersaudara dan Hujan


__ADS_3

Langit yang mendung tidak menyurutkan semangat Amy pagi itu. Ia menyiapkan sarapan untuk empat orang di meja makan. Entah kenapa, hatinya ceria sekali pagi itu.


"Wah, harum sekali. Dari baunya enak," ucap Jerome yang segera menarik kursi dan mendudukinya.


"Tiga piring aja, Am. Jimm sudah pulang," kata M sambil mengembalikan satu piring ke rak.


"Hooo... tumben dia gak ikut sarapan di sini." Amy menyendok nasi goreng untuk ayahnya, kemudian mengambilkannya untuk M.


"Tumben diambilin," celetuk M. Memang biasanya Amy tidak berbuat sebaik ini padanya.


"Kalau tidak mau ya, sudah. Sini buatku saja!" seru Amy seraya merebut piring di hadapan M.


"Hei! Aku cuma bercanda," protes M. Direbutnya kembali piring berisi nasi goreng sosis itu dari Amy.


"Amy, Marsh... kalian, kan, bukan anak kecil lagi." Jerome menggeleng melihat kelakuan dua anak remajanya.


"Ya, maaf, Yah...," ucap M kemudian menyendok sesuap nasi.


"Magda bilang, kau diterima di Universitas Cendekia, Marsh...?" Jerome mulai berbicara serius. Diperhatikannya wajah anak lelakinya.


"Ah, iya," jawab M singkat.


"Serius?" Amy berhenti mengunyah. Beberapa butir nasi keluar dari mulutnya ketika ia bicara. "Kok, kakak gak bilang padaku?"


"Telan dulu makananmu! Jorok!" M menggeser kursinya menjauh dari Amy.


"Kau mau kuliah di sana?" tanya Jerome.


M menghentikan kunyahannya kemudian diam sesaat sebelum berkata, "Aku... belum tahu, Yah."


"Woah... kenapa? Itu adalah hal yang diinginkan semua murid! Kau harus mengambil kesempatan itu, Kak!"


M melirik Jerome tanpa bicara apapun. Ia tidak ingin membicarakan alasannya sekarang. Tidak di depan adiknya.


"Mungkin kakakmu butuh waktu untuk berpikir, Am," ujar Jerome yang mengerti dengan bahasa tubuh M dengan baik. "Oh, bukankah kalian harus bergegas?"


Amy dan M melirik jam dinding yang berada di dapur. Kemudian mereka segera menghabiskan makanannya.


"Hati-hati di jalan!" seru Jerome pada anaknya yang kini seperti anak kembar. Ia mengekor dua saudara itu hingga menghilang dari titik perspektif.


"Ah, aku lupa mengingatkan mereka bawa payung! Semoga mereka tidak kehujanan di jalan," gumam Jerome sambil menepuk dahi.


"Jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja."


Jerome melirik arah suara itu dan mendapati Anne tengah berada di sampingnya.


§§§


"Jimm, bawa payungmu!" Mrs. Larry berteriak sembari melemparkan sebuah payung ke arah anaknya.


Mrs. Larry memang terkenal galak di sekolah, tetapi lebih galak lagi jika di rumah. Ia sering meneriaki anak bungsunya yang seringkali melanggar perintah dan aturannya.


"Oke, Bu!" Jimmi menangkap payung berwarna merah jambu itu dengan tangkas. Ia ingin protes perihal warna payungnya tetapi ada hal yang baginya lebih penting untuk dilakukan sekarang.


Beberapa meter di depannya, ia melihat kakak-adik yang selama ini selalu menjadi temannya. Jimmi berlari dan menyergap bahu keduanya.


"Pagi!" sapanya.

__ADS_1


"Hai!" M tidak terlalu terkejut karena hal itu hampir terjadi setiap pagi.


Tidak seperti kakaknya, Amy malah menepis tangan Jimmi dari bahunya dan menjauh, menjaga jarak.


"Singkirkan tanganmu dariku!“


"Tolong bilang adikmu, tidak usah sekasar itu. Nanti tidak ada yang mau!" ujar Jimmi sambil tertawa pada M.


"Kukira bakal ada yang mau walaupun terus disiksa, tuh! Kau tahu, Jimm ... cowok ini bodohnya keterlaluan!" M terkekeh, mengamati Jimmi dan Amy bergantian.


"Memang! Bodoh banget!“ timpal Amy kesal. Ia berjalan dua langkah ke depan.


"A-ku ti-dak bo ...." Jimmi menggaruk kepalanya. Malu untuk mengakui yang sebenarnya.


M mengulas senyum. Sementara Amy dan Jimmi tidak berbicara sepatah kata pun. Keadaan menjadi sedikit canggung.


Sementara mereka berdiam diri, langit yang mendung rupanya sudah tidak kuasa menahan beban. Air mulai turun dari langit.


"Ha? Hujan!" seru M. "Oh, aku ga bawa payung. Kau bawa payung, Am?"


"Tidak," jawab Amy dengan wajah menyesal karena ia lupa membawa payung.


Jimmi diam-diam tersenyum. Tidak sia-sia dia membawa payung merah jambu. Segera dikembangkannya payung. Kemudian ditariknya Amy yang berjalan di depan.


"Oh, kau bawa payung?" tanya Amy yang kini diapit oleh M dan Jimmi. "Payungmu centil banget."


"Jangan lihat warnanya," ucap Jimmi.


"Oh, makin deras!" M bergerak ke tengah, menghimpit adiknya.


"Kurasa kita harus berlari. Siap?" Jimmi memandang Amy dan M. "Satu ... dua ... tiga!"


Amy dengan sengaja mendorong baik M maupun Jimmi ke pinggir sehingga dua cowok itu kebasahan. Namun, tak disangka dua sahabat itu malah mendorong Amy ke depan sehingga Amy pun mencicipi dinginnya air yang turun dari langit.


"Oh, gosh!!!“ gerutu Amy, kemudian ia kembali di antara bahu Jimmi dan kakaknya. Dilihatnya dua cowok itu tengah tersenyum puas dan tertawa.


"Kau yang mulai," ucap M memperingatkan adiknya untuk tidak mencubit atau menggetoknya dan Jimmi.


Amy hanya diam saja. Gerbang sekolah sudah di depan mata. Tanpa komando, ia merebut gagang payung yang tengah M pegang kemudian berlari sendiri dengan payung itu.


"Hei! Itu payungku!" protes Jimmi yang kemudian berlari juga bersama M.


Amy berdiri menatap M dan Jimmi yang yang masih berlari menuju gedung sekolah. Bibirnya tiba-tiba saja tersenyum melihat kedua cowok itu berlarian menghindari hujan.


"Dua kakak? Tidak buruk," gumam Amy. Ia melipat payung dan menyeka wajahnya yang basah. Ia hendak berlari tetapi dua tangan menghentikan langkahnya.


Amy terlambat untuk menghindari Jimmi dan M yang kini berebut berusaha mencekiknya gemas.


"Rasakan ini, cewek bar-bar!“ seru M sembari mengunci leher Amy.


Jimmi merebut payung dari tangan Amy. "Ah, kau selamat karena sekarang enggak punya rambut," kata Jimmi sambil menjitak kepala Amy pelan.


"Baik ... baik ... aku menyerah!“ ucap Amy yang berusaha melepaskan tangan M dari lehernya.


"Amy...."


Ketiga remaja yang tengah bercanda itu membeku mendengar suara yang menyebut Amy dengan sedikit gemetar. M melepaskan kunciannya di leher Amy dan bergerak maju. Begitu pun Jimmi. Kedua cowok itu sengaja menghalagi Amy.

__ADS_1


"Bolehkah aku berbicara dengan saudari kalian?" tanya suara itu gugup. Dari gestur kedua cowok terkenal di sekolah itu, sudah pasti akan sulit melakukan hal yang ia tanyakan.


"Kau mau apa lagi?" tanya M ketus. Ia tidak pernah seketus itu pada seorang lawan jenis.


"Aku... hanya ingin minta maaf padanya," ucap cewek itu takut-takut. Namun, di dalam lubuk hatinya ia sangat menyesali apa yang terjadi.


"Sudah kubilang urusanmu dengan Amy sudah selesai, Iren. Jangan pernah ganggu siapa pun yang dekat denganku lagi." Jimmi menyilangkan kedua tangan di dada. Ia menatap tajam Iren.


Wajah Iren merah, air menggenangi dua bola matanya yang biru. Ia menunduk, berusaha menahan isakannya keluar.


"Biarkan kami bicara." Amy menepuk bahu kakaknya dan Jimmi kemudian keluar dari balik dua cowok yang lebih tinggi darinya itu.


"Tidak. Kita gak tahu cewek ini mau berbuat apa lagi." M mencegah Amy maju. Ditahannya tubuh Amy dengan lengannya.


Air mata Iren tumpah seketika. Ia tidak menyangka kalau M sampai berpikir seburuk itu tentangnya. Kedua tangannya mulai sibuk mengusap air yang tumpah ke pipi.


"Percaya padaku, Kak. Biarkan kami bicara, antara sesama cewek." Amy menatap mata kakaknya sungguh-sungguh sehingga M mau tak mau membiarkan adiknya dan Iren pergi beberapa langkah darinya.


"Apa di sana gak kejauhan?" bisik Jimmi yang melihat Amy dan Iren berhenti sekitar sepuluh meter darinya dan M.


"Terlalu jauh!" jawab M sedikit geram. Nyatanya sekarang ia jauh lebih protektif pada Amy jika menyangkut Iren.


"Ayo, dekati mereka." Jimmi mengangguk pada M dan perlahan mereka merayap di lorong kelas mendekati Amy yang tengah berbicara pada Iren.


Belum bergerak tiga meter, kedua cowok itu melihat hal yang membuat keduanya terperangah. Amy dan Iren berpelukan. Jimmi dan M saling pandang dengan perasaan tidak mengerti masing-masing.


"Dunia cewek penuh misteri, Jimm," ujar M setelah melihat Iren pergi selepas memeluk Amy dan melambaikan tangan.


Jimmi hanya mengangguk. Ia tidak memalingkan pandangannya dari adik sahabatnya yang kini tengah berlari ke arah mereka berdua dengan senyuman manis.


"Apa yang terjadi?" tanya M penasaran. "Apa itu tadi?"


"Kami hanya... mencoba saling memahami," jawab Amy sembari menggedikkan bahu.


"Jadi, artinya damai?“ Jimmi melangkah mendahului Amy kemudian membalikkan badan. Ia berjalan mundur sekarang. "Aku memarahinya habis-habisan untuk membelamu tapi kau malah memeluknya begitu saja?"


Amy hanya tersenyum kecil. Baginya perbuatan Iren memang sangat jahat. Tetapi membiarkan Iren pergi dengan rasa bersalah tanpa maaf jauh lebih jahat. Lagipula Iren sudah mendapatkan hukuman.


"Heh... kau mengerti tidak apa maksud Jimmi tadi?" M menyenggol bahu adiknya.


"Ha? Apa? Ya, kami berdamai."


"Bukan. Bukan itu. Dia protes kenapa Iren yang jahat saja kau peluk, masa dia yang membelamu mati-matian enggak?"


Sebelum M menyelesaikan kalimatnya, Jimmi sudah berlari kencang dan menaiki tangga.


"Kakak!"


M segera berlari menyusul Jimmi. Tak perlu waktu lama, Amy mengejar kakaknya itu. Namun suara bel memaksanya untuk berlari menuju kelasnya.


********


Bersambung...


Halo readers yang budiman~


Author mau memberi sedikit pemberitahuan.

__ADS_1


Mulai bulan depan Lemon Love akan berganti judul menjadi He is (not) My Brother. Jadi, pastikan kalian ingat, ya...


Untuk lebih mudah, klik saja tanda hati agar cerita ini tersimpan dan kalian tidak perlu repot search lagi. ^^


__ADS_2