He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Study Hard


__ADS_3

Sepanjang latihan sore itu, Amy dimarahi sensei terus-menerus karena gadis itu tidak konsentrasi. Berkali-kali ia terjatuh terkena serangan lawan.


"Kalau begini terus, kau tak akan pernah ganti sabuk, Am!“ ucap sensei pada Amy ketika ia membantu gadis itu bangkit setelah terkena tendangan Weni. "Hari ini cukup untukmu! Kau istirahat dan latih konsentrasimu saja!“


"Yosh!“


Amy duduk di tepi lapangan. Segera ia mengambil air dan meneguknya tak sabar. Hari ini konsentrasinya memang kacau. Ini semua karena pelajaran fisika dan kimia yang lagi-lagi gagal ia pahami. Belum tentang tugas matematika. Amy tidak bisa untuk cuek sekarang. Tidak setelah ia memutuskan akan masuk Universitas Cendekia juga.


Ia tak menyangka akan sesulit itu untuk bisa menggapai keinginannya. Padahal, M dan Jimmi terlihat santai sepanjang masa SMA. Mereka berdua bahkan bisa berprestasi di klub basket. Kakaknya bahkan mengemban tugas sebagai KM dengan baik. Sekarang, Amy baru menyadari kalau dua orang itu memang patut diacungi jempol.


Semua pelajaran yang mengharuskannya mendapat nilai tinggi membuat Amy pusing dan tertekan. Tidak tahan, Amy membaringkan diri. Ia meletakkan lengannya menutupi mata kemudian mengembuskan napas berkali-kali.


"Kau kenapa, Am?" Weni duduk bersila di samping Amy.


"Aku hanya sedang tidak fokus. Ilmu eksak menghantuiku."


Weni tertawa mendengar jawaban Amy. "Kau dapat nilai jelek?“


Amy menurunkan lengan dari matanya. "Tidak. Jangan sampai itu terjadi. Sekarang nilai-nilaiku harus bagus semua." Amy bangkit dan duduk memeluk lutut. "Apa aku saja yang terlalu bodoh dan tidak bisa memahami pelajaran?“


"Yang benar saja!" Weni mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Tidak ada orang bodoh. Yang ada hanya orang malas."


Amy melirik wajah pacar kakaknya yang cantik dengan rambut terikat itu. "Berarti aku malas?"


"Bukan malas. Hanya kurang rajin!" Weni bangkit. Gadis itu tersenyum kemudian kembali berlatih dengan seorang gadis bertubuh kecil.


Amy menatap pacar kakaknya itu dengan kagum. Weni adalah cewek terbijak yang pernah ia ajak bicara. Tidak salah kalau M menyukainya.


"Baik. Sekarang fokus latihan. Lupakan sains untuk satu jam ke depan!“ Amy mulai bersila dan meletakkan tangannya di paha. Ia mulai menarik napas dan merapalkan prinsip-prinsip karate di dalam hati.


*********


M sedang asik membaca buku di dalam kamar ketika Amy pulang. Cowok itu melihat kelelahan di wajah Amy. Adiknya bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun ketika memasuki rumah.


Amy langsung memasuki kamar tetapi tak lama ia keluar lagi membawa selembar handuk. Gadis itu menuju kamar mandi dengan langkah seperti diseret.


"Am, kau baik saja?“ tanya M ketika Amy melintasi pintu kamarnya.


"Aku gak apa-apa. Hanya saja lelah. Sangat sangat lelah," ucap Amy sambil terus melangkah menuju kamar mandi.


M meneruskan membaca. Sepertinya memang Amy hanya kelelahan. Ia tidak perlu mengkhawatirkannya.


Belum lagi setengah jam berlalu, Amy telah keluar kamar mandi. Aroma teh hijau menguar begitu ia membuka pintu kamar mandi. Buru-buru ia ganti baju kemudian menyendok nasi dan lauknya. Amy makan dengan lahap di ruang depan. Ia bahkan menambah satu piring lagi sore itu, membuat M percaya bahwa adiknya itu benar-benar telah mengeluarkan banyak tenaga ketika latihan karate.

__ADS_1


"Kak, bisa ajari aku sains?“ tanya Amy di depan kamar M dengan tangan yang masih memegang piring yang telah kosong.


"Memang apa yang tak kau mengerti?“ M menutup buku dan menatap adiknya heran. Amy tidak pernah mau belajar dengannya. Terakhir kali ia mengajari adiknya ialah ketika mereka masih sekolah dasar.


"Soal elektronika," kata Amy. Ia masuk ke dalam kamar M dan meletakkan piring di meja belajar.


"Hei, bereskan itu dulu, Jorok!“ tunjuk M pada piring kotor yang baru saja mendarat di mejanya.


Amy nyengir kemudian buru-buru pergi untuk mencuci piring itu. Ketika Amy kembali ke kamar M, kembaran kakaknya rupanya telah datang. Dua cowok itu menatap tajam pada Amy yang telah memegang sebuah buku teks fisika.


"Oh, kau di sini?“ tanya Amy pada Jimmi yang tengah bermain game di ponsel pintarnya.


"Ya. Malam ini jadwal belajarku dengan M."


Bagus! batin Amy. Sekalian saja ia ikut.


"Mana elektronika-mu?“ tanya M yang sudah duduk di depan meja belajar.


Amy menghampiri kakaknya, sedikit melirik Jimmi yang terlihat serius dengan permainannya. Kemudian ia duduk di kursi sebelah M. Meja belajar M memang memiliki dua kursi. Tentu saja yang satunya untuk Jimmi, siapa lagi?


"Apa yang tidak kau mengerti?"


Amy membuka halaman buku kemudian menunjuk sebuah gambar rangkaian listrik. "Ini, aku tidak mengerti kenapa rangkaian ini lampunya tidak menyala."


M tertawa kencang, membuat Jimmi penasaran dan ikut nimbrung. "Lihat, Jimm! Kau tahu kenapa lampu ini mati?“


Amy merebut buku dan memperhatikan gambar dengan saksama. Memang benar kalau rangkaian itu masih terbuka, tetapi ada kotoran yang menghalangi bagian itu. "Ck! Pantas saja. Sudah, tidak usah dijelaskan lagi!" Amy melipat bukunya.


"Nanti malam kau mau belajar bersama kami tidak?“ tawar M. "Kami mau belajar fisika kuantum."


Amy langsung teringat E\=mc², Einstein, hukum kekekalan energi dan banyak tanda tanya di kepalanya. "Apa aku bakal mengerti?"


"Coba saja. Teori relativitas itu menyenangkan," gumam M. "Lagipula, cepat atau lambat kau pasti akan mempelajarinya."


"Benar. Tapi aku bahkan belum paham tentang hukum gaya."


"Nanti kau tanyakan saja kalau ada yang tak kau pahami," ujar Jimmi.


"Baiklah." Amy menyetujuinya. Lagipula ia memang harus belajar dengan orang-orang cerdas macam mereka. Siapa tahu ketularan.


Malam itu mereka bertiga belajar di ruang depan. Ketiganya duduk di lantai dengan tangan dan buku-buku di atas meja tamu.


Amy berkali-kali bertanya tentang bahasan mereka dan memijat dahi karena pusing. M menjelaskan pada Amy dengan sabar awalnya tetapi lama-lama ia makin emosi sehingga Jimmi yang harus sabar menjelaskan semua pada Amy. Ajaibnya, dengan sekali penjelasan dari Jimmi, Amy tidak bertanya lagi.

__ADS_1


M bertanya-tanya pada diri sendiri apakah ia memang tidak ahli dalam hal menjelaskan sesuatu pada orang lain atau Amy memang sengaja mengerjainya.


"Bahasamu kurang umum untuk orang awam!“ keluh Amy ketika M telah menjelaskan tetapi ia masih belum paham.


"Kau saja yang miskin diksi!“ kilah M. "Jimm, jelaskan padanya!" M menyenggol bahu sahabatnya kemudian meneguk segelas susu hangat yang baru saja ia buat.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jimmi melihat kakak-adik itu bersitegang. Diam-diam ia merasa geli. Akhirnya ia melakukan apa yang M perintahkan, menjelaskan pada Amy dengan bahasa yang mudah dimengerti.


Ketika Jimmi selesai menjelaskan, ia mendapati dua orang di sebelahnya telah terlelap. Jimmi menatap jam dinding yang hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Ia menguap. Kemudian ia bimbang antara membangunkan Amy dan M atau membiarkan mereka saja.


Jimmi akhirnya masuk ke kamar M dan mengambil selimut. Diselimutinya kakak-beradik itu. Kemudian ia ikut merebahkan kepalanya di meja.


.


Esok harinya mereka bertiga bangun ketika kokok ayam terdengar nyaring bersahutan.


Amy bangun pertama kali dan menggeliat. "Badanku ... sakit semua!“


M terbangun mendengar suara Amy, begitu juga Jimmi.


"Ugh ... kenapa kita tidur di sini?“ tanya M menyadari kalau mereka masih di ruang tengah.


"Awww ... punggungku ... rasanya tidak enak," keluh Jimmi. Ia bangkit untuk kemudian duduk di kursi yang empuk.


"Aku juga," ujar M dan Amy berbarengan. Mereka berdua menyusul Jimmi menempatkan diri di kursi.


Ketiganya hanya berdiam diri merasakan tubuh mereka yang pegal sampai matahari terbit. Tidak ada satu pun dari mereka yang lari pagi hari itu.


Bersambung...


***


Hai ... hai ...!


He is not My Brother akan berakhir beberapa episode lagi. Do'akan agar segera selesai biar bisa crazy up, ya ^^


Find me on:


Instagram: @its_revka


Facebook: Hi Gaez Itz Revka


Storial: @Revka09

__ADS_1


Wp: @Revka09


Sankyu minna-san~


__ADS_2