
"Haduh! Aku harus bagaimana ini, kak?" Amy menarik-narik ujung kemeja M yang sedang bercermin.
"Ya, sudah ... terima saja dia. Jadi gosip itu akan jadi kebenaran dan bukan gosip lagi, kan?" M membuka kancing terakhir kemejanya lalu membiarkan Amy menarik kemeja itu lepas dari tubuhnya.
"Apa?" Amy mengucek kemeja M, "I ... itu ... bukan begitu maksudku!"
"Lalu maumu seperti apa Am? Kembali ke masa lalu dan mencegah seseorang menulis itu?"
Amy diam mendengar ucapan kakaknya. Ia tahu benar itu tak mungkin. Lalu ia harus apa? Membiarkan teman-teman sekolahnya tetap memandang sinis padanya? Rasanya ia tak tahan berhadapan dengan para pengagum Jimmi yang selalu memberi cowok itu coklat.
"Kenapa?" Amy menjambak rambutnya sendiri, "Kenapa Jimmi suka padaku? Jelas-jelas banyak yang lebih cantik dan pintar di sekolah. Cindy dan Norah jelas-jelas menyukainya."
"Amy ... kita tak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Seperti kau menyukai Olie. Apa kau memilihnya?"
Amy terdiam.
"Nggak, kan? Ini bukan salah Jimmi. Lagipula ...," M mendekatkan wajahnya nyaris menempel pada wajah Amy, "... apa benar kau gak menyukai Jimmi?"
Amy merasakan panas di kulit wajahnya. Menyadari kemungkinan wajahnya memerah, Amy membuang muka.
"Tiiiidak."
"Em ... entah kenapa aku gak percaya ucapanmu barusan," M melangkah dengan handuk di bahu meninggalkan Amy yang masih tidak menyadari kakaknya sudah tak ada di situ.
Setelah lama memalingkan wajah, Amy berbalik dan bernapas lega karena ia tak melihat M di sana.
"Ke-kenapa ...?" gumam Amy terbata menyadari ada perasaan aneh yang timbul ketika M bertanya tadi. Harusnya ia bersikap normal, kan? Kenapa tiba-tiba perasaannya memuai dan pipinya terasa terus menghangat hingga panas. Diembuskan napasnya kemudian dihirupnya kembali dalam-dalam sebelum ia masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri.
"Jimm ...." Amy menatap sepasang sepatu yang berada di sudut kamar, "... bagaimana jika aku tidak menyukaimu? Apakah perasaanmu akan sama sepertiku ketika Olie mencium tunangannya?"
Amy memejamkan matanya. Di kepalanya kembali berputar semua kenangan masa kecilnya.
Ketika M pergi mengikuti berbagai lomba, Jimmi selalu menemaninya. Bermain ular tangga atau hanya sekedar memutarkan film-film kartun superhero yang Jimmi bawa dari rumah. Ketika hari ibu, hanya dia yang tidak membicarakan sosok ibu. Bahkan hari itu M selalu menceritakan padanya betapa baiknya ibu mereka.
Kemudian peristiwa demi peristiwa berputar. Saat Amy hampir dikeroyok murid sekolah lain, saat menemukan soal kimia dan matematika yang sulit dan ketika ia menangis di pesta Olie, Jimmi lah yang ada didekatnya selain M. Dia selalu ada.
"Seperti M, kurasa kau kakakku ...." Amy merapatkan selimut sebelum akhirnya terlelap dalam mimpi singkat yang tak dapat diingat.
.
§§§
.
"Cieee ..., yang udah pacaran."
Val melompat, merangkul bahu Amy yang tengah berjalan memasuki gerbang sekolah.
__ADS_1
"Siapa yang pacaran?" Amy terus berjalan, tidak memedulikan keberadaan Val.
"Udah, ga usah ngelak lagi. Tuh, ditunggu pacar baru!" Val menunjuk Jimmi yang tengah ngobrol dengan Lewis di koridor kelas X.
Ngapain itu orang di sini?
Amy berusaha untuk tidak melihat Jimmi. Ia berjalan agak miring melihat taman sekolah yang tidak lebih dari dua meter lebarnya itu.
Sayang, usahanya sia-sia karena Val mendorong Amy hingga tubuh gadis berambut sebahu itu menabrak Jimmi.
"Ciiieee ...!"
Entah kenapa, orang-orang menjadi kompak melihat adegan itu dan mengucapkan suara ledekan dengan nyaring.
"Mm-ma-maaf ...," ucap Amy sebelum berlari ke kelasnya. Ia tak berani menatap Jimmi atau Val atau semua orang yang ada di sana.
"Pagi, Kak. Pagi Lewis," sapa Val sambil tersenyum riang. "Makasih, ya, Kak Jimmi. Udah buat temanku move on. Hehe," katanya pelan sambil melenggang melewati Jimmi dan Lewis yang masih belum mengerti situasi.
"Jadi, gosip itu benar?" tanya Lewis menepuk bahu Jimmi.
Jimmi hanya mengangkat bahu. Kemudian ia berlari menuju kelasnya di lantai atas karena mendengar bel masuk berdering.
.
§§§
.
Amy menoleh ke sumber suara. Seorang kakak kelas tengah menatapnya tajam dengan satu tangan menyilang di dada dan jari tangan yang lain di dagu.
Awalnya Amy hendak meneruskan langkahnya karena ia tak ingin meladeni cewek itu. Ia tidak mau ada masalah dengan siapa pun di sekolah.
"Hei, Amy!"
Suara itu memanggilnya dan mau tak mau Amy berhenti. Si cewek yang memanggilnya kini berada di hadapan Amy. Didampingi oleh dua orang yang sepertinya sahabatnya.
"Gimana rasanya? Senang bisa jalan sama Jimmi?"
"Maksud Kakak apa?" tanya Amy. Ia benar-benar tak ingin meladeni hal semacam ini. Ia sudah sering mendengar cibiran dari teman-temannya tentang kabar hubungannya dengan Jimmi. Padahal hubungan itu ga pernah terjadi.
"Semua orang juga tahu, banyak yang lebih cantik, pintar dan populer dibanding kamu. Kalau kamu bukan adik M, kamu bukan siapa-siapa di sini."
Tangan Amy terkepal, refleks. mendengar kata-kata dari cewek berbando ungu di hadapannya itu. "Aku ga ada hubungan apa-apa dengan Jimmi, Kak. Tolong jangan salah paham."
"Terus kenapa kamu bisa jalan sama Jimmi? Ke restoran romantis pula?" Kali ini cewek yang memakai gelang warna-warni di kedua lengannya yang berbicara.
Amy menarik napas. Ia rasa akan terlalu rumit menjelaskan semuanya pada orang lain. "Itu kebetulan."
__ADS_1
"Ha? Jawaban apa itu?" tanya si cewek berbando ungu.
"Udah jelaslah, dia manfaatin pengaruh kakaknya," ujar cewek satu lagi yang dikuncir kuda.
"Aku tidak seperti itu, Kak ...."
"Kasihan, ya. Kalau ga punya ibu emang bisa jadi anak yang caper dan gak tahu diri," kata si kuncir kuda.
Emosi Amy naik. Apa hubungannya semua ini dengan ibunya yang tiada? Ia benar-benar tak habis pikir.
"Memang kalau ada yang suka sama gadis piatu kenapa, Kak? Apa salahnya?"
"Woah ..., dia berkata seolah Jimmi yang menyukainya!" Si bando ungu maju dan tanpa diduga menjambak rambut Amy yang tergerai sebahu.
"Aaahk!" Kulit kepala Amy berdenyut seiring tarikan di rambutnya.
"Dengar, ya. Jangan sok kecakepan. Jangan mentang-mentang kamu adiknya M, jadi bisa seenaknya." Si bando ungu menarik rambut Amy.
"Lepasin, Kak."
"Kenapa? Sakit? Mau ngadu sama kakakmu yang ganteng itu?"
Amy muak. Ia paling tidak suka jika dibilang seperti itu. Selama ini ia berusaha keras untuk diakui oleh orang-orang. Ia telah berusaha menjadi dirinya sendiri. Dan ia juga tak pernah memanfaatkan kepopuleran kakaknya--selain menikmati cokelat-cokelat yang dikirimi para gadis.
Ketika Amy merasakan tarikan berikutnya di kepalanya, ia meraih tangan si bando ungu yang bebas kemudian memelintirnya.
"Kalian boleh cemburu buta atau apapun itu. Tapi jangan pernah sangkut pautkan itu dengan ibuku atau kakakku."
Si bando ungu meringis, ia melepas jambakkannya. Sementara dua temannya berusaha menjegal Amy.
Ketika dua temannya berhasil memegangi Amy, si bando ungu menampar pipi Amy dengan leluasa.
"Kalian ini kenapa?" tanya Amy sebelum akhirnya ia menjadikan dua orang yang memeganginya sebagai tumpuan dan mendaratkan tendangan tepat di perut si bando ungu hingga ia terjatuh dan menjerit kesakitan.
"Iren!" Kedua gadis yang memegangi Amy akhirnya kompak menolong temannya yang sepertinya tidak bisa bangun.
"Amy! Ke ruangan saya, sekarang!" Teriakan Mrs. Larry membuat para gadis tersentak. Rupanya beberapa siswa yang melihat kegaduhan itu melapor pada sang guru BK.
"Hukum dia, Mom," ujar si kuncir kuda.
"Diam kamu! Kalian juga ikut ke ruangan saya!"
Amy melangkah mengikuti Mrs. Larry setelah merapikan baju dan rambutnya. Ia melirik ketiga kakak kelasnya di belakang.
"Kalian tahu kenapa bukan kalian yang Jimmi sukai? Karena meskipun punya ibu, kalian tetap caper dan ga tahu diri!" ujar Amy yang kemudian berjalan cepat mengekor Mrs. Larry sembari mengusap kulit kepalanya yang perih
Bersambung...
__ADS_1
---------
Terima kasih banyak karena telah membaca Lemon Love sejauh ini 💕💕💕